Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 5 - Tumpangan Pulang


__ADS_3

Pak BaekHyun terus saja bolak balik pergi ke kantor guru untuk mengambil kertas ulangan yang harus dia koreksi dan kembali lagi ke UKS. Seharian ini aku hanya di UKS dengan pak BaekHyun. Aku sudah sangat muak dengan bau ruangan UKS ini. Sudah cukup hari ini aku seharian ada di UKS.


Cklekkk..


"Pak, itu sudah yang ketiga kali nya," Ucap ku.


Pak BaekHyun menaruh tumpukan kertas itu di satu meja yang sama denganku. "Kamu pikir saya hanya ngajar kelas kamu, ini ulangan kelas lain juga."


"Terus kenapa bapak bawa ke sini terus?" Tanya ku.


"Ya itung-itung ada yang temenin koreksi ulangan-ulangannya, di kantor guru lagi pada sibuk bikin soal buat ujian nanti, kalau di sini masih ada kamu yang bisa saya gangguin." Jawab pak Baekhyun.


"Pak," Panggilku.


"Ya?" Jawab nya.


"Kenapa saya merasa ada yang beda dengan bapak sekarang? Kemarin bapak sangat marah dengan saya, tapi sekarang kenapa saya merasa kita jadi dekat." Tanyaku.


"Maaf kalau kemarin malam sikap saya seperti itu, kemarin saya sedang ada masalah, jadi saya lupa hingga meluapkannya ke kamu juga." Jawabnya. Aku ber'o ria.


"Yerin." Sekarang gantian, pak BaekHyun yang memanggilku. Padalah aku baru saja memegang pen lagi.


"Ada apa pak?" Tanyaku. Aku sambil menulis saja, kertasku ini tidak akan terisi dengan sendirinya.


"Apa kamu punya pacar?" Tanya Pak BaekHyun.


"Kenapa bapak ingin tahu hal itu?" Tanyaku balik. Aku rasa itu bukanlah hal yang harus di bahas.


"Maksud saya, bisa saja jika kamu memiliki pacar, dia bisa membantumu belajar," Jawab Pak BaekHyun.


Aku harus ingat untuk tidak terbawa suasana, diriku sendiri seharusnya sudah tau Pak BaekHyun itu seperti apa. Harus sabar Yerin. Tahan. "Tidak ada sih pak, untuk sekarang." Jawabku.


"Untuk sekarang? Dulu kamu pernah punya pacar?" Tanya pak BaekHyun. Aku mengangkat kedua bahuku.


"Pak, saya rasa kita tidak perlu membahasnya, saya tidak begitu suka membahas masalah itu." Ucapku.


"Baiklah, tidak akan saya bahas lagi." Ucapnya.


Sebenarnya aku ingin bertanya tentang hubungan pak BaekHyun dengan Bu TaeYeon, tapi aku tidak mau menjawab pertanyaan pak BaekHyun jadi aku tidak yakin dia juga akan menjawab itu.


"Pak, bapak beneran pacaran sama Bu TaeYeon?" Tanya ku. Pak BaekHyun tersenyum tipis ke arah kertas koreksiannya.


"Kamu tidak mau menjawab pertanyaan saya tapi kamu bertanya hal yang sama." Dia masih tidak menatap ke arahku.


"Maaf pak, tidak perlu di jawab." Ucapku. Aku kembali menulis hukumanku. Tanganku mati rasa sekarang. Ini sudah lembaran ke 5 halaman terakhir. Aku melepas penku dan memijat tangan ku sendiri. Aku bahkan sudah tidak bisa merasakan apa pun lagi.


Pak BaekHyun melirik ke arah ku. "Pegel?" Tanyanya. Aku hanya tersenyum tipis. Dia seharusnya mengerti maksudnya.

__ADS_1


"Itu akan mengingatkan kamu, sekali lagi kamu ketahuan menyontek, saya akan gandakan hukuman kamu." Ucapnya. Aku tidak bisa membayangkan jika ini saja tanganku sudah mati rasa, bagaimana jika di gandakan, Mungkin aku akan kehilangan tanganku.


Aku kembali menulis lagi. Tapi tiba-tiba pak BaekHyun menarik kertasku.


"Sudah cukup." Aku terdiam. Dia tidak marah kan?


"Sudah? Saya belum selesai." Ucapku.


"Kamu mau menulis semua nya? Saya sedang baik, kamu tidak perlu selesaikan, sudah cukup, saya yakin kamu tidak akan mengulangi nya lagi." Ucap Pak BaekHyun sambil mengambil sisa-sisa kertas yang ada di dekatku.


"Lepaskan itu." Ucap pak BaekHyun sambil menunjuk sarung tanganku dengan pen milik nya. Aku segera melepasnya.


"Gunakan itu kalau kamu harus menulis banyak, setidaknya itu bisa mengurangi sakitnya." Ucap Pak BaekHyun. Aku mengangguk. Tapi aku benar-benar berpikir. Apa perasaan ku saja atau pak BaekHyun sangat baik padaku hari ini?


Aku melihat ke arah jam di ruang UKS. "Pak, apa saya sudah boleh pulang? Ini sudah jam pulang sekolah." ucapku.


Pak BaekHyun melihat ke arah infusanku. Ini adalah kantong infus keduaku.


"Tunggu itu habis baru kamu boleh pulang." Ucap pak BaekHyun.


"Pak, tapi nanti bus nya sudah lewat lagi." rengekku.


"Saya antar." Ucap nya dengan sangat mudah.


Ukhhh!!!


Minum.


Aku meminum minuman ku dengan cepat.


Sekarang lebih baik. Aku mengambil tasku. Pak BaekHyun tadi sekalian mengambilkan tasku di kelas. Sebentar, sepertinya ada yang kurang lagi.


"Pak, apa bapak mengambil sesuatu lagi dari tas saya?" Tanyaku.


Pak BaekHyun seperti berpikir sebentar. "Maksudmu ini?" Tanyanya.


Kenapa pak BaekHyun mengambil tas makeupku. "Kenapa di ambil pak?" Ucapku kesal.


"Peraturan sekolah melarang murid memakai ataupun membawa peralatan make up, jadi ini akan saya sita." Ucap nya. Aku menganga tidak percaya. Hari ini harusku catat dalam sejarah kehidupan seorang jung Yerin. Hari paling sial dalam hidupku.


"Sekarang pilih, ponsel atau make up? Saya akan mengembalikan salah satu." Ucapnya.


Aku berbaring di atas ranjang UKS sebentar. Aku menutup wajahku dengan bantal sekeras mungkin. Aku pasti sudah gila sekarang.


"ARGHHH!!!!!"


Aku berusaha meredam suara teriakanku dengan bantal tapi sepertinya masih terdengar sangat jelas hingga ke seluruh ruangan UKS. Aku melempar bantal itu ke samping dan mengambil satu buku tulisku.

__ADS_1


Aku melepas satu lembar dari bagian tengahnya dan meremas-remas nya hingga tidak berbentuk. Aku sangat kesal hari ini. Demi apa. Aku sudah tidak tahu bagaimana harus mengungkapkannya lagi. Aku tidak peduli kalau Pak BaekHyun terus melihatku dengan tatapan aneh dan bingung. Intinya aku sangat kesal hari ini. Jika dia bukan wali kelasku, sudah aku cekik dari tadi.


Aku meremas kertas itu dah menyobek nya menjadi dua dengan menarik nya. "Kamu ngeri juga ya kalau lagi kesel." Ucap pak BaekHyun sambil terkekeh. Aku tidak peduli. Sekarang kekesalanku sudah sampai ke ubun-ubun.


"Saya sarankan kamu mengambil makeup mu dulu, siapa tahu Sabtu Minggu kamu ada acara, Ya tapi itu terserah kamu sih." Ucap pak BaekHyun dengan santai.


Aku menatap pak BaekHyun. "Bapak buka ponsel saya ya? Kok bapak tahu saya bakal ada acara?" Tanyaku.


"Kan saya bilang siapa tahu," Balas pak BaekHyun. Aku menghela nafasku.


"Kalau begitu saya minta mak- up saya balik dulu pak, Senin saya bakal ambil ponsel saja." Ucapku. Aku melepas ikat rambutku dan mengikatnya lagi. Pak BaekHyun mengembalikan satu set lengkap tas make-upku.


Sekarang aku ingat kenapa aku membenci nya.


"Pak, infus nya sudah habis, apa saya boleh pulang sekarang?" Tanya ku.


"Tunggu sebentar, saya panggil kan perawat nya," Pak BaekHyun keluar dan tidak lama kemudian kembali dengan perawat yang tadi memasangkan infusku.


"Saya akan pulang, terima kasih pak, selamat siang." Ucap ku. Aku berjalan ke luar dari ruang UKS hingga ke gerbang parkiran. Aku yakin jam segini bus nya akan tiba lagi dalam 1 jam. Yang benar saja.


Seharian aku tidak belajar dan hanya mengerjakan hukuman ku, lalu pulang juga aku harus jalan kaki. Aku baru tahu diriku ini sangat sabar.


TINNN... TINNN...


Aku terkejut ketika mobil di belakang ku mengklaksoni ku. Perasaan aku jalan di tempat yang benar kok.


"Yerin, masuklah, saya akan mengantar kamu pulang."


Aku baru sadar kalau itu adalah mobil pak BaekHyun.


"Tidak usah pak, apartemen saya hampir sampai." Aku menolak nya. Ini masih di lingkungan sekolah, aku tidak mau ada guru ataupun murid lain yang melihat ku masuk ke mobil Pak BaekHyun. Mereka akan berpikir yang macam-macam.


"Cepat masuk saja, atau ponsel kamu tidak akan saya kembalikan." Ancamnya. Aku segera masuk dan duduk di kursi kedua. Tidak di sebelah pak BaekHyun.


"Kenapa duduk di sana?" tanyanya.


"Bapak tidak bilang saya harus duduk mana, ya terserah saya donk." Jawabku kesal.


"Saya jadi kayak sopir kamu." Dia menginjak pedal gas dan menjalankan mobil nya. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang dia katakan di luar sekolah.


"Hari ini saya baik saja kamu karena saya merasa bersalah kamu sampai pingsan di lapangan, jangan salah paham, dan untuk pertanyaan kamu tadi, saya benar-benar pacaran dengan bu TaeYeon, tolong jangan di sebarkan lagi tentang ini, sebenarnya saya sendiri tidak tahu siapa yang membocorkannya, tapi beberapa anak di sekolah memang sudah tahu tentang ini." Ucap pak BaekHyun.


Aku hanya melihat keluar tanpa berniat untuk membalas ucapan pak BaekHyun.


"Kamu mau di antar sampai mana?" Tanya pak BaekHyun.


"Apartemen Bloom saja," Jawabku singkat. Tidak sampai 10 menit, mobil Pak BaekHyun sudah sampai di depan gedung apartemen ku.

__ADS_1


"Terima kasih atas tumpangan nya pak, saya duluan." Aku keluar dari mobil pak BaekHyun dan langsung masuk ke dalam gedung apartemenku. Aku tidak menunggu pak BaekHyun membalas ucapanku. Aku juga tidak peduli.


__ADS_2