
Aku sudah sampai di apartemenku. Aku baru saja selesai memarkirkan mobilku di basement apartemenku. Akhirnya aku kembali kesini.
Aku masuk ke apartemenku. Perasaanku sangat senang sekarang. Aku membuka pintu apartemenku dengan sidik jari dan menutup pintunya. Sebenarnya aku sempat berpikir hari ini aku akan mengajak Sowon ke sini. Aku ingin menceritakan banyak hal padanya.
"Dari mana saja kamu?"
Aku mencari asal suara itu. Aku tahu aku baru saja mendengar suara pak BaekHyun di sini, di dalam apartemenku ini.
"Saya lagi ga mau bercanda sama bapak, cepat keluar atau saya akan pergi lagi." Ancamku.
"Kamu terus mengancam saya, kamu pikir saya akan takut dengan ancamanmu ha?" Balasnya. Pak Baekhyun menyalakan lampu ruangan ini.
"TaeYeon sudah pulang, dan aku mencarimu kemana-mana, dari mana saja kamu?" Tanyanya sekali lagi. Dia berjalan mendekati ku.
"Pak, ayolah, saya juga butuh kehidupan saya sendiri," Ucapku. Aku melewatinya begitu saja.
"Ya tapi kamu juga jangan keluar begitu saja," Balasnya
"Baiklah, saya hanya ke Navel Comp tadi, hanya menandatangani kontrak sementara dan membahas kontrak jangka panjang untuk buku saya, tolong bapak jangan halangi saya untuk melakukan apa yang saya ingin kan," Ucapku.
"Baiklah, saya mengerti, tapi setidaknya kamu bisa beritahu saya tadi, jadi saya tidak akan khawatir mencari kamu kemana-mana, bahkan saya sudah ke rumah mama dan papa untuk bertanya apa kamu disana." Ucap pak BaekHyun. Dia bersandar di tembok.
"Maaf jika saya membuat bapak khawatir, tapi saya memang emosi tadi, saya tidak ingin membuat keributan dan saya harus segera menemui bu Kim, CEO Navel Comp, saya sudah telat setengah jam tadi janji yang kami buat." Ucapku.
"Ayo kita pulang, besok hari pernikahan kita Yer," Ucapnya. Dia berjalan ke dekatku dan mengelus rambutku. Aku tidak ingin dia menyentuhku. Aku menepis tangannya.
"Jangan ada sentuhan, tolong," Bisikku. Dia menarik tangannya.
"Baiklah, tapi ayo kita pulang, saya tidak tahu harus bilang apa kalau di tanya papa dan mama kita." Ucapnya.
Aku berjalan menjauh ke arahnya. "Yer," Panggilnya. Aku menghela nafasku. Apa aku tidak bisa tenang.
"Bapak tenang saja, besok pagi saya akan pulang, mereka tidak akan tahu, bapak pergilah lebih dulu." Ucapku. Aku melangkahkan kakiku ke dalam kamarku sendiri. Ada beberapa barang yang perlu aku ambil, setelah ini juga aku mau makan diluar dulu. Perutku sedang lapar dan mulutku sedang ingin makan makanan restoran.
Aku mengambil USB-ku, disana berisi buku-buku yang sudah pernah aku tulis hingga selesai, aku membawa tasku lagi dan berjalan ke luar. Pak BaekHyun masih menungguku di ruang tamu tanpa melakukan apapun.
"Yer, ayo kita pulang." Ajaknya lagi.
"Bapak bawa mobil?" Tanyaku. Dia mengangguk.
"Kita jalan masing-masing," Ucapku. Aku berjalan melewatinya begitu saja. Beberapa kali aku mendengar pak BaekHyun meneriaki namaku dan memanggilku, aku benar-benar mengabaikannya. Kakiku masuk ke dalam lift dan meninggalkan pak BaekHyun disana. Aku benar-benar tidak akan mau masuk ke mobil itu lagi. Sudah cukup untuk beberapa kali merasakannya. Jadi aku akan mengendarai mobilku sendiri. Aku masuk ke mobilku dan menyalakan mesin mobilku.
Baru saja mesin mobilku menyala, pak BaekHyun sudah turun dan berlari ke arah mobilku. Aku sudah mengunci pintu mobilku dari dalam jadi dia tidak akan bisa ikut masuk ke mobilku.
Pak BaekHyun terus saja mengetuk-ngetuk kaca mobilku. Aku menunjuk ke arah mobilnya. Karena dia tidak mengerti juga, aku menekan klakson agar pak BaekHyun mundur. Untung saja itu berhasil.
__ADS_1
Aku menginjak gas. Pak BaekHyun berlari masuk ke mobilnya dan mengejarku. Aku sebenarnya tidak ingin berhenti, tapi lampu merah memaksaku untuk berhenti. Pak BaekHyun berhenti di sebelahku. Dia meneleponku. Aku menolaknya. Dia kembali meneleponku. Aku mengambil earphone Bluetoothku dan memakainya di salah satu telingaku.
Aku mengangkatnya. Aku benar-benar tidak berniat melihat ke arahnya.
"Yerin, kamu itu apa-apaan sih? Kamu mau kemana? Ini bukan arah pulang."
"Terserah saya mau ke mana, saya ga suruh bapak ikutin saya," Balasku.
"Yerin, jangan kurang ajar kamu, jangan aneh-aneh, cepat putar balik, banyak polisi di depan." Ucapnya.
"Saya cuma mau makan," balasku.
Aku menatapnya. "Kalau gitu pulang, biar saya masakkan sesuatu untuk kamu." Ucapnya.
"Saya sedang ingin makan di luar, sudah ya pak, saya sudah cukup baik mau berbicara dengan bapak baik-baik." Ucapku. Aku mematikan panggilan itu dan kebetulan saja lampu sudah berubah hijau. Aku kembali menginjak pedal gasnya dan melajukan mobilku. Pak BaekHyun masih mengikutiku.
Aku berhenti di depan sebuah restoran langgananku. Memang makanannya mahal, tapi ada harga ada barang. Menurutku makanan disini benar-benar enak. Seminggu sekali aku selalu kesini.
Aku keluar dari mobil dan mengunci mobilku. Pak BaekHyun baru sampai dia langsung keluar mengejarku. Aku duduk di salah satu meja dan mengabaikan pak BaekHyun yang sedang mencariku. Moodku masih bisa di bilang cukup bagus, aku tidak ingin merusaknya. Tapi terlambat. Pak BaekHyun sudah duduk di hadapanku.
"Kamu kenapa Yer? Apa karena saya mengajak TaeYeon ke rumah?" Tanyanya.
Aku memanggil seorang pelayan di sana. "Mas, saya mau pesan steak tenderloin 1 dan minumnya jus mangga tolong." Ucapku. Dia menatap ke arah pak BaekHyun. "Saya akan pesan nanti." Ucapnya. Pelayan itu pergi meninggalkan kami.
"Yer, saya tidak-,"
"Bapak tidak usah membayar untuk makanan saya, saya akan bayar sendiri," Potongku.
"Yer, tolonglah," Mohonnya.
"Bapak pesan saja, biar saya yang bayar." Ucapku. Dia menggeleng. "Kamu makan saja, saya akan makan di rumah nanti." Ucapnya. Aku hanya dam saja. Itu terserah dia. Tidak lama kemudian, pelayan datang membawakan pesananku.
"Makasih." Ucapku.
Aku mulai memotong steakku dan memakannya. Aku tidak peduli jika pak BaekHyun lapar karena melihatku makan. Aku tidak berniat berbagi dengannya, seharian dialah penyebab moodku hancur, dan kontrak ini lah yang berhasil membuat moodku kembali bagus.
"Apa kamu benar-benar membaca kontrakmu dengan benar?" Tanyanya.
"Itu bukan urusan bapak, saya akan menanggungnya sendiri kalau memang saya salah baca." Jawabku.
"Yer, kamu tidak menghargai saya sama sekali disini, katakan, apa salah saya?" Tanyanya. Aku menaruh garpu dan pisauku di samping piringku. Aku berhenti makan sebentar dan menatapnya.
"Salah bapak? Pergi tanpa izin, pulang dengan bau alkohol dan rokok, menjemput bu TaeYeon di tengah malam, tidur dengannya, berbohong dengan saya, mengajak bu TaeYeon satu mobil dengan saya, membawa bu TaeYeon ke rumah kita, mengabaikan saya, tidak mendengarkan saya, terus menyalahkan saya, kurang apa lagi?" Tanyaku.
Dia menatap tajam ke arahku. "Kamu tidak berhak menyalahkan bu TaeYeon, Yerin, dia hanya ingin meluruskan semuanya." Ucapnya.
__ADS_1
"Bela saja terus bu TaeYeon, bapak menikah saya dengan dia, tidak perlu sama saya, saya tidak akan datang besok, terserah bapak mau gimana, saya tidak peduli, jika bapak di habisipun, bukan urusan saya, minta saja bantuan dengan bu TaeYeon, saya yakin dia bisa membantu dan menyelamatkan bapak dari keluarga bapak sendiri, atau minimal bisa menemani bapak menderita disana." Ucapku. Aku kembali mengambil garpuku dan memakan salad yang ada di pinggiran steakku.
"Yer,"
"Berhenti memanggil nama saya," Potongku.
Dia mengusap seluruh wajahnya lagi. Aku tahu dia frustrasi. "Besok kita menikah," Ucapnya lagi. Aku hanya fokus dengan makananku.
"Saya akan menunggumu selesai makan, lalu kita bicara, oke? Hanya bicara." Ucapnya. Aku mengangguk. Percuma juga menolaknya dalam situasi seperti ini.
Aku selesai makan. "Bill nya please." Ucapku. Pelayan itu segera mengambilkan tagihanku. Aku menyiapkan uang cash untuknya. Sekarang aku hanya tinggal menghabiskan jusku.
"Bicaralah, jika tidak ada saya akan pergi, saya tidak ingin membuang waktu saya dengan bapak seperti ini," Ucapku.
"Baiklah, ayo pulang, saya minta maaf tentang semuanya, jangan marah lagi, kamu bukan anak kecil lagi, pernikahan bukan sesuatu yang main-main, besok kita akan menikah, jadi ayo selesaikan ini baik-baik, apa yang kamu ingin saya lakukan sekarang?" Tanya pak BaekHyun.
"Saya ingin bapak pergi jauh dari saya." Jawabku.
"Tidak, tidak bisa, maksud saya jalan keluarnya Yerin, bukan menambah masalah." Sambungnya.
"Bapak masih mau jadi guru?" Tanyaku.
"Tentu saja, memang nya kenapa?" Tanyanya.
"Lebih baik bapak keluar dari sekolah secepatnya dan meneruskan perusahaan papa Byun," Ucapku sambil meminum jusku.
"Itu pekerjaan saya, kenapa kamu yang mengaturnya?" Tanyanya dengan kesal.
"Saya merasa tidak nyaman jika bapak masih di sekolah, dan saya adalah murid bapak di sekolah dan istri bapak di rumah, dan juga, bu TaeYeon akan segera merebut bapak kembali ke pelukannya, dia bukan perempuan yang mudah menyerah," Ucapku.
"Tidak akan, saya tidak akan kembali ke bu TaeYeon Yerin, sampai kapanpun," Ucapnya.
Aku tertawa pelan. "Benarkah? Saya tidak memiliki jaminan untuk itu, begini saja, saya akan memaafkan bapak dalam 2 minggu, kita menikah besok, jika selama 2 minggu atau lebih saya tidak melihat interaksi lebih bapak dengan bu TaeYeon, ya mungkin saya bisa berbaik hati melupakan masalah ini, tapi kalau saya melihat bapak bersama bu TaeYeon seperti itu lagi, saya mungkin akan langsung membuat surat cerai untuk kita berdua," Ucapku.
"Kamu tidak akan bisa hidup tanpa saya diluar sana Yerin, orang tuamu akan lepas tangan tentang biayamu setelah kita menikah nanti." Ucapnya.
Aku terkekeh. "Itu sebabnya saya menandatangani kontrak itu, saya tidak akan mempertaruhkan segalanya dan menyerahkan semuanya di tangan bapak, saya akan berdiri sendiri dengan kedua kaki saya, bapak tidak perlu khawatir," ucapku.
Dia benar-benar sangat kesal. "Kamu tidak menghargai saya sebagai suami kamu namanya Yerin." Ucapnya.
"Tolong bapak ingat baik-baik, saya bukan bocah yang marah tanpa alasan, setiap perbuatan saya selalu ada alasannya, dan saya seperti ini karena bapak sendiri, bapak sudah keterlaluan untuk hari ini, kita belum menikah saja bapak sudah seperti ini, bagaimana dengan selanjutnya? Mungkin mantan-mantan bapak akan bapak bawa ke rumah semua." Ucapku.
"Yerin, sudah cukup, Ayo pulang, kita lanjutkan di rumah." Ucapnya. Dia menarik tanganku. Aku menepisnya. Jusku juga sudah habis. Aku berjalan ke arah mobilku.
"Kita pulang bareng." Ucapnya. Aku tidak memedulikannya. Aku masuk ke mobilku dan dia masuk ke mobilnya. Kali ini aku mengikuti perkataannya. Kita pulang ke rumah.
__ADS_1