
Pagi ini aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Pak BaekHyun masih tidur di ranjang sebelah. Aku bisa melihatnya tertidur dengan sangat tenang. Aku rasa pak BaekHyun sangat kelelahan. Mungkin dia bergadang semalaman. Laptopnya masih menyala di atas ranjangnya. Pak BaekHyun pasti ketiduran saat sedang membuat soal.
Aku bangun dan menarik tiang infusku ke dekat ranjang pak BaekHyun. Aku mematikan laptopnya dan menutup buku-buku yang berserakan di atas ranjang ini. Semuanya aku masukkan ke dalam tasnya. Setelah ini pak BaekHyun harus berangkat ke sekolah. Dia seharusnya ada kelas hari ini, salah satunya kelasku sendiri. Ada pelajaran matematika hari ini di kelasku.
"Siapa suruh kamu kesini?" Aku terkejut ketika pak BaekHyun sudah menatapku sejak tadi.
"Bapak kapan bangunnya? Jangan kagetin saya gitu." Ocehku. Pak BaekHyun bangun dan menggendongku kembali ke ranjangku. Aku beneran terkejut.
"Jangan turun dari ranjang," Perintahnya.
"Saya cuma beresin barang bapak doank, saya ga buka-buka laptop bapak kok." Belaku. Aku takut dia berpikir aku tidak sopan dan membuka-buka privasi miliknya.
"Bukan itu, saya tidak mau kamu memindahkan infusmu sendiri, biarkan tetap disana," Ucap pak BaekHyun. Aku mengangguk saja.
"Pak, sudah jam 6, bapak ga mau siap-siap?" Tanyaku.
Pak BaekHyun menatap ke arah jam di ponsel nya. "Tidak, saya akan bolos hari ini, kamu sudah boleh pulang setelah ini, saya ingin mengantar kamu pulang." Jawabnya
"Memangnya boleh bolos? Bapak jangan ikut-ikutan murid dah pakai acara bolos-bolos segala."
"Saya baru putus sama TaeYeon, kamu pikir saya ga sakit hati apa, masuk ke sekolah hari ini terus ketemu dia? Mending sama kamu dulu aja, lagian saya pengen makan masakan kamu," ucap pak Baekhyun.
Apa aku yang baru sadar, atau memang pak BaekHyun orangnya bucin banget? Dia memelukku dari belakang lagi.
Cklekkk...
"Eh anak mama dah akur sama calon mantu mama," Ucap mama Byun.
"Ma, anak mama ini, suruh jangan bolos sekolah gih, masa dia mau bolos ngajar cuma gara-gara ga mau ketemu bu TaeYeon," Laporku. Pak BaekHyun cemberut karena aku memberitahu mamanya.
"Baek, bukan anak kecil lagi, jangan bolos-bolos mulu, ga sekolah ga ngajar tetap aja sama demen bolos nya." Omel mama Byun.
Entah kenapa aku senang setiap kali pak BaekHyun diomelin sama orang tuanya. Rasanya tuh aku puas gitu lihatnya.
"Ma, aku tuh ada tujuannya bolos, nantikan mama sama papa, kalian semua kerja, nanti kalau Yerin boleh pulang, siapa yang mau anter dia pulang? Masa dia pulang sendiri naik bus, kan bahaya ma. Jadi aku mau nganterin dia pulang hari ini, memang ga boleh ma?" Tanya Pak BaekHyun.
__ADS_1
Mama menatap kami berdua. "Kalian itu, mama gemas tahu ga liat kalian, terserah kalian aja mau gimana, atur ajalah, mau BaekHyun ngajar atau enggak suka-suka dia," Ucap mama. Aku cemberut karena kalah dari pak BaekHyun.
Pak BaekHyun sendiri tersenyum lebar karena berhasil menang dariku.
Mama Byun mengeluarkan sesuatu dari tasnya. "Ini sarapan buat kalian, tadi mama dengar sebentar lagi Yerin mau ambil darah, kalau sudah sembuh dia boleh pulang hari ini," Ucap mama Byun. Aku yang tadinya cemberut, sekarang tersenyum lebar mendengarnya. Akhirnya aku bisa keluar dari sini.
"Ma, Mama setuju ga kalau Yerin tinggal di rumah Baek aja?" Tanya pak BaekHyun.
Aku menepak kepalanya. "Jangan aneh-aneh deh, saya punya apartemen sendiri." Ucap u. Aku tidak peduli lagi pak BaekHyun itu guruku atau tunanganku.
"Yerin, jangan kasar-kasar donk, boleh aja mama mah, coba kamu tanya mama papanya juga, jangan anak orang kamu main bawa ke rumah aja," Ucap mama Byun.
"Entar Baek coba tanya ke mereka, tapi Yerin mau kan?" Tanya pak BaekHyun.
"Ga," Jawabku dengan cukup nge-gas.
"Ih, parah banget, murid-murid di sekolah pada mengejar-ngejar saya loh, kamu udah dapat malah di giniin." Ucap pak BaekHyun dengan nada tidak terima. Aku hanya tersenyum sambil terus memakan sarapan yang dibawakan mama Byun.
"Kalian gini aja mama udah senang, setidaknya kalian udah mulai bisa menerima satu sama lain." Ucap mama Byun.
"Saya punya nama Yerin," Sahut pak BaekHyun cepat.
"Biarin aja dia sok galak di sekolah, aslinya mah ga ada galak-galaknya." Ucap mama. Aku tertawa. Jadi selama ini pak BaekHyun hanya pura-pura galak biar murid-murid takut, padalah aslinya ga bisa galak.
"Akting bapak bagus di sekolah pak." Bisikku.
Cklekk...
"Permisi, boleh di ambil sampel darahnya sebentar?" Seorang suster masuk ke kamarku. Ini sudah waktunya ambil darah ternyata.
Mama Byun keluar sebentar, pak BaekHyun masih meneman ku di sini. Sebenarnya aku tidak masalah jika di infus, tapi aku takut kalau melihat darah. Awalnya pak BaekHyun juga berniat keluar. Tapi aku menahannya. Jadi dia tetap di sini menemaniku.
"Kamu takut jarum?" Tanya pak BaekHyun. Aku menggeleng.
"Saya takut darah." Ucapku pelan. Pak BaekHyun tersenyum dan menggenggam tanganku. Dia duduk di sebelahku. Tangan nya mengelus pipiku.
__ADS_1
"Jangan lihat ke sana," Ucapnya. Aku menghadap ke sana saat jarum suntik itu mulai menembus kulitku. Rasanya tidak seperti digigit semut. Pak BaekHyun menahan kepalaku agar tidak melihat kesana. Dia yang melihat ke sana. Setelah beberapa detik, aku bisa merasa jarum suntik itu sudah keluar dari kulitku.
"Sudah, ga sakit kan?" Tanya pak BaekHyun. Apanya yang ga sakit, ya sakit lah.
"Sakit." Gumamku.
"Kalau kamu kayak gini waktu imunisasi di sekolah gimana? Kok saya ga liat sih, kan harus nya ada dokumentasinya." Tanya pak BaekHyun. Aku sangat bersyukur aku tidak ada di dalam video itu. Kalau tidak aku bisa malu seumur hidup.
Aku bangun dan duduk di atas ranjang setelah perawat itu keluar. "Gurita sialan, nyusahin aja." Gumamku pada diriku sendiri.
"Ga boleh kasar Yerin." Tegur pak BaekHyun.
"Saya sebenarnya penasaran sama TaeHyung, dia yang beli, dia bilang itu cumi, jadi saya makan, tapi seharusnya TaeHyung tahu kalau saya alergi gurita, kenapa dia malah memberikan saya gurita?" Tanyaku. Dengan bodohnya aku bertanya pada pak BaekHyun, ya pasti dia tidak tahu lah.
"Kalian bukan beli sendiri?" Tanya pak BaekHyun bingung.
Aku menggeleng. "TaeHyung membelikan untuk saya dan Sowon, Sowon bilang punya dia cumi, pas dia coba punya saya juga dia bilang cumi, punya TaeHyung juga, apa jangan-jangan punya saya sudah di campur? Maksud saya, Sowon tidak mungkin sebodoh itu," Ucapku.
"Ya sudah, pokoknya semua sudah terjadi, kalau kamu mau apa minta sama saya saja," Ucap pak BaekHyun.
"Kenapa harus minta sama bapak? saya kan bisa beli sendiri." balasku.
"Kamu alergi apa aja? Saya catat dulu, jadi kalau makan saya pastiin dulu aman buat tubuh kamu." Ucap nya kesal. Aku tersenyum.
"Segitunya pak," Ucap ku. Dia mengangguk.
"Saya ga mau repot di rumah sakit lagi, kamu pikir enak apa disini jagain kamu 3 hari." Ocehnya.
"Kalau bapak ga mau jagain saya ya pergi aja sana, saya bisa jaga diri sendiri." Ucapku judes.
"Udah kamu diem di sini, saya mau urus administrasi kamu keluar dari sini, jangan kabur-kaburan, bentar lagi mungkin suster bakal masuk buat cabut infus kamu," Ucap pak BaekHyun. Aku mengangguk saja. Toh aku tidak bisa melakukan apa pun lagi sekarang.
Aku tadi juga sudah mendapatkan pesan dari mama dan papaku, mereka bilang aku akan langsung pindah ke rumah baruku dengan pak BaekHyun. Mereka sudah berada disana dan sedang mengurus barang-barang disana agar aku dan pak BaekHyun bisa langsung tinggal disana.
Untung saja pak BaekHyun sudah memutuskan Bu TaeYeon, kalau tidak pasti aku akan merasa sangat tidak nyaman tinggal serumah dengan wali kelasku yang masih berpacaran dengan guru BK ku. Membayangkannya saja sudah membuatku merinding.
__ADS_1