
"Kalian mendengarnya?" Tanyaku.
"Ya, seperti suara pak BaekHyun," Jawab Sowon. Aku pikir juga begitu. Berarti bukan aku yang salah dengar.
"Kenapa kalian menatap kesana seperti habis melihat hantu?" Tanya pak BaekHyun.
Eh?!
Aku melihat ke belakang Sowon. Kenapa pak BaekHyun tiba-tiba sudah ada di belakang Sowon?
"Bapak? Kok bapak juga di sini?" Tanya Sowon.
"Saya habis nganter bu TaeYeon, kebetulan aja melihat kalian di sini," Jawabnya. Sowon hanya tersenyum, dia menatapku.
"Bapak mau ketemu?" Sowon melihat ke arahku. Pak BaekHyun menggaruk hidungnya dengan satu jari tangan mengangguk kecil.
"Apa kalian masih lama? Saya ingin bicara dengan Yerin sebentar." Ucapnya.
"Pak, ini kan bukan jam sekolah." Sahut Taehyung tidak terima. Sowon menahan TaeHyung.
"Tae, Temenin aku beli minum bentar, haus nih." Sowon menarik TaeHyung pergi dariku dan pak BaekHyun. Aku masih menatap nya doank. Dia sudah melanggar perjanjiannya.
"Kenapa bapak di sini? Perjanjian kita masih berlaku." Ucapku.
"Papa minta saya jemput kamu sekarang, restorannya cukup jauh dan juga jalanan sedang macet, kita harus pergi sekarang." Ucapnya.
"Saya akan sedikit terlambat untuk makan malamnya, bapak pergi saja duluan." Ucapku. Aku berniat pergi darinya tapi Pak BaekHyun menahan tanganku.
"Jangan buat saya dalam masalah, ikut saja," pintanya. Aku tidak tahu kenapa dia menjadi seperti ini. Memangnya papanya pak BaekHyun segalak itu? Dia terlihat sangat baik kepadaku.
"Cepatlah,"
Aku melihat sekelilingku. "Di mana bu TaeYeon?" tanyaku.
"Tentu saja di rumahnya," Jawab pak BaekHyun dengan penuh kekesalan. Aku mengangguk. Dia langsung menarik tanganku tapi aku menghempaskannya. "Bukan artinya bapak bisa seenaknya juga." Ucapku. Aku berjalan meninggalkan pak BaekHyun. Setidaknya aku harus bilang dulu pada Sowon dan TaeHyung sebelum aku pergi. Mereka akan mencariku jika tidak.
"Won, Tae, aku pergi dulu papa, mama telepon nih katanya makan malam nya cukup jauh jadi aku di jemput seseorang." Ucapku. TaeHyung menatapku. Mungkin dia pikir ini aneh dan janggal, tapi dia tetap mengangguk dan tersenyum.
"Hati-hati di jalan Yer, titip salam ya sama orang tua kamu." Ucap Sowon. Aku mengangguk.
__ADS_1
Aku berjalan menjauh dari mereka berdua, untung saja di sini sedikit ramai jadi mereka tidak akan tahu kalau aku akan pergi dengan pak BaekHyun. Pak BaekHyun membawaku ke dalam mobil nya.
"Kata Sehun, nilai Biologi mu 98, nilai matematika kamu hari ini 95, tugas Fisika kamu mendapat 100 kata Irene," Ucap pak BaekHyun sambil menyalakan mobilnya. Aku diam. Ini seperti bukan nilai-nilaiku.
"Baiklah." Ucapku. Aku memakai sabuk pengaman dan memakai earphone di kedua telingaku. Bukannya aku tidak tahu sopan santun atau apa, tapi aku tidak ingin banyak bicara dengan Pak BaekHyun.
Pak BaekHyun menyenggol tanganku dengan sebuah botol minum. "Kamu belum minum kan, nanti kamu batuk, ini minum dulu." Ucapnya. Aku melihat botol itu masih disegel. Aku mengambilnya dan meminumnya. Dia berjalan keluar dari tempat bazar itu.
"Dari mana bapak tahu saya ada di sini?" Tanyaku.
"Orang tuamu menghubungi saya," Jawabnya. Pantas saja. Sepertinya lain kali aku tidak akan memberitahu detail tentang kemana aku pergi ke mama.
"Bisa kita ke apartemen saya dulu? Saya tidak mungkin ke sana dengan pakaian seperti ini." Ucap ku. Pak BaekHyun melihatku.
"Menurut saya sama saja, kamu mau pakai apa juga ujung-ujungnya begini juga."
Yang benar saja. Bagaimana bu TaeYeon bisa bertahan dengan pak BaekHyun yang bersikap seperti ini. Pak BaekHyun tidak mengajakku ngomong lagi sejak tadi. Aku ingin tidur. Rasanya sepertinya enak jika sekarang aku sedang berbaring diatas ranjang, di kamar, AC. Surga dunia.
"Kamu mau es krim?" Tanya pak BaekHyun secara tiba-tiba. Aku mengangkat kepalaku dari sandaran.
"Ya?"
"Bapak mau?" Tanyaku.
"Enggak, saya cuma tawarin kamu. Di dalam mobil, sudah semua AC nya ke kamu, masih aja keringatan." Dia menarik satu lembar tissue dan memberikannya kepadaku. Aku mengelap keringatku.
"Yer, jawaban kamu itu tadi beneran?" Tanyanya.
"Iya lah, pelajaran bapak kan jawabannya pasti, kalau pelajaran bahasa Indonesia baru mengarang indah dah tuh." Jawabku. Dia terkekeh.
"Jawaban pasti aja kalian masih sering ngarang, buat rumus sendiri, jawabannya di cap cip cup kalau udah cape-cape hitung terus ga dapat jawabannya. Kalau mepet dicari yang paling dekat kalau jauh di cap cip cup. Di kira saya ga tahu apa." Ucapnya. Aku tersenyum sendiri. Itu memang benar. Aku menatap keluar mobil.
"Ini pertama kali saya lihat kamu senyum kayak begitu." Ucapnya. Sekarang aku menatapnya.
"Bapak, kita hanya menikah untuk sebentar kan?" Tanyaku. Entah kenapa aku tidak yakin tentang ini. Firasatku mengatakan hal sebaliknya akan terjadi.
"Tentu saja, setelah itu kita akan hidup secara terpisah," Jawabnya.
"Lalu kenapa harus ada pernikahan ini jika ujung-ujungnya juga kita harus bercerai, bagaimana jika saya tidak mau datang di hari pernikahannya? Itu bisa membatalkan semuanya kan." Ucapku.
__ADS_1
"Jangan lakukan itu,"
"Kenapa?" Tanyaku. Aku tidak tahu kenapa aku merasa seperti pak BaekHyun seperti mau melakukan pernikahan ini.
"Hanya saja bukan seperti itu caranya, kamu tahu sendiri kedua orang tua kita sangat menginginkannya, saya hanya ingin membuat mereka senang saja," Jawabnya.
"Sudah lah pak, saya tidak ingin membicarakan nya lagi, jika di lanjutkan saya bisa membenci bapak," Ucap ku. Aku bersandar ke kaca mobil. Rasanya aku ingin kembali menangis setiap kali aku membahas ini.
"Kalau begitu berusahalah untuk benci saya, itu akan lebih mudah saat proses perceraian kita nanti, tolong jangan menaruh perasaan apa pun pada hubungan ini, saya tidak mau menyakiti perasaanmu, tapi jangan mempersulit keadaan nanti, saya mengatakan ini dari awal." Ucapnya.
"Kalau begitu, lebih baik bapak jangan bersikap manis seolah-olah bapak memberi saya harapan," ucapku.
"Maaf jika 2-3 hari ini kamu berpikir begitu, saya melakukannya agar kita tidak ketahuan orang tua kita." Ucapnya.
"Itu urusan bapak, sudah pak saya mau tidur dulu, cape." Aku memundurkan kursiku dan berusaha tidur disana. Kali ini aku tidur menyamping. Posisiku memunggungi pak Baekhyun.
"Tidur saja dulu, saya akan membangunkan kami ketika sudah dekat." Ucapnya. Aku hanya berdehem menjawabnya.
Aku berusaha menutup mataku dan tertidur di sana. Tapi rasanya sangat sulit ketika aku bisa mencium wangi parfum perempuan lain di sini. Aku yakin bu Taeyeon memakai parfumnya di dalam mobil pak Baekhyun. Ini bukan seperti bau yang menempel dari baju seseorang, tapi seperti jok mobilnya ikut tersemprot parfum.
Aku yang tadinya mengantuk menjadi tidak ngantuk lagi karena mencium bau parfum yang menyegat itu. Aku kembali menarik bangkuku hingga ke posisi semula.
"Ga jadi tidur? Katanya ngantuk." Tanya pak Baekhyun. Aku tidak menjawabnya. Aku melepas sabuk pengamanku dan pindah ke kursi belakang.
"Kenapa pindah?" Tanyanya.
"Bapak coba saja tiduran di sana." Jawabku kesal, mungkin terdengar seperti aku sedang marah. Aku mengambil sebuah bantal kecil disana dan aku jadikan bantal pala. Ini lebih baik. Aku yakin bu Taeyeon ga pernah duduk di sini karena baunya jauh lebih baik dari di depan.
"Coba saja kalau ini di sekolah Yer, bisa saya suruh kamu bersihin satu sekolah, ditanya baik-baik bukan nya di jawab yang bener malah dia yang marah." Pak Baekhyun menggaruk kepala sendiri.
"Bapak diam aja, fokus nyetir, saya mau tidur." Ucapku semakin kesal.
"Udah kurang ajar, nyuruh lagi, kamu pikir saya sopir kamu apa." Sekarang dia juga tidak mau kalah.
"Kalau begitu turunkan saja saya di sini, biar saja naik taxi." Ucapku datar.
"Sudah sana tidur." Ucap pak Baekhyun kesal. "Ini pertama kalinya saya lebih suka liat murid saya tidur daripada aktif ngejawab." Gumam nya.
Batinku tertawa dengan keras karena aku berhasil membuat pak BaekHyun kesal. Secara tidak langsung pak Baekhyun sudah kalah dariku. Dia terpaksa melakukan ini, dan jika tidak kedua orang tua kami akan marah kepada BaekHyun. Sedangkan semuanya sudah berada di pihakku.
__ADS_1