Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 11 - Pembicaraan didalam Mobil


__ADS_3

Semalaman aku tidur lebih nyenyak dari pada biasanya. Mungkin efek seharian aku kelelahan kali ya. Saat aku membuka ponselku, ada banyak sekali pesan masuk.


Mama : Yerin, cepat bangun, BaekHyun akan segera menjemputmu. Jangan malu-malu in mama ya sayang.


Tante Byun : Yerin, BaekHyun sudah dalam perjalanan ke tempat kamu ya.


Papa : Jaga diri baik-baik ya sama BaekHyun, papa ada meeting jadi ga bisa ikut temenin kamu ke sana. Papa sayang kamu ♥️.


Pak BaekHyun : Saya dalam perjalanan ke sana sekarang, cepat mandi dulu, saya tidak mau kamu masuk ke mobil saya jika belum mandi.


Sowon : Waiting for your explanation soon...


Taehyung : Apa kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak menjawab ponsel mu? Aku khawatir, kabari aku segera.


Aku tidak tahu kenapa hari ini mereka semua mencari ku pagi-pagi seperti ini. Ini masih jam 8 pagi.


Cklekkk...


"Bukannya saya sudah suruh kamu mandi?" Aku melihat ke arah pintu kamarku. Pak BaekHyun sudah berdiri di sana.


"Bapak ini guru tapi ga punya sopan santun, masuk tempat orang ga minta izin," Ucapku kesal, Aku turun dari ranjang dan mengambil bajuku. Aku berusaha mengabaikan pak BaekHyun yang masih berdiri di ambang pintuku. Aku berusaha mandi secepat mungkin lalu menggosok gigiku. Setelah selesai, aku keluar dan melihat pak BaekHyun sedang duduk di meja belajarku.


"Kamu suka menulis juga?" tanyanya. Aku menutup laptopku.


"Bapak apa-apaan sih, masuk ke apartemen orang ga bilang-bilang, buka-buka barang orang, bapak hargai privasi saya donk, bapak keluar dulu deh," Ucapku kesal. Dia terus saja membuka-buka dan melihat barang-barangku tanpa izin. Tapi dia tetap tidak mau keluar. Sudahlah aku abaikan saja. Aku mengambil make up ku dari dalam tas dan memakai nya tipis.


"Ke sekolah kamu juga pakai makeup?" Tanya pak BaekHyun. Aku tidak menghiraukannya. Aku segera menyelesaikan ini. Terakhir aku memakai liptint-ku.


"Saya sebenarnya tidak masalah jika murid memakai makeup tipis di sekolah, selama tidak mengangguk." Ucapnya.


Aku hari ini tidak membawa tas sama sekali. Aku hanya membawa debitku di selipkan bagian belakang casing ponselku. Ponselku aku masukkan ke dalam satu jaketku.


"Sudah? Kamu ga bawa apa-apa lagi?" tanya pak BaekHyun bingung.


"Ya," Jawabku singkat. Aku memasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaketku dan berjalan melewati pak BaekHyun.


Aku menutup pintu apartemenku dan berjalan ke arah mobil pak BaekHyun. Entah aku yang tidak sadar atau memang mobil pak BaekHyun sudah ganti lagi?


"Bapak ganti mobil?" Tanyaku.


Dia tidak menjawab dan hanya masuk ke dalamnya. "Sepertinya ini mobil yang berbeda dari yang kemarin." Gumamku.


"Ini mobil untukmu nanti, dari papa, dia menyuruh saya untuk memberikan mobil ini untuk kamu." Ucapnya. Aku menganga tidak percaya. Ini bukan mobil yang murah.

__ADS_1


"Itu artinya saya boleh mengemudi ya kan?" Tanyaku antusias.


"Saya sudah mendengarnya dari orang tua kamu, kamu memang bisa bawa mobil tapi kamu belum punya SIM, jadi mobil ini boleh kamu kendarai setelah kamu punya SIM." Ucap pak BaekHyun. Moodku yang baru saja naik kembali turun lagi. Aku pikir aku sudah boleh mengendarai mobil ini.


Aku menarik sabuk pengaman dengan satu tanganku dan memakainya. Aku mengeluarkan ponselku dan juga earphone. Aku ingin tidur lagi. Aku memejamkan mataku dan tertidur dengan musik di telingaku. Aku bisa merasakan pak BaekHyun sudah menjalankan mobil ini. Sudahlah. Aku masih merasa sangat lelah.


Tiba-tiba aku merasa pak BaekHyun menurunkan sandaran kursi nya ke belakang dan memberiku bantal kepala kecil di mobil itu. Aku menatap nya. Jujur saja aku terkejut.


"Tidur saja, butik nya cukup jauh." Ucapnya. Aku mengangguk dan berusaha tidur di mobil. Ini tidak terlalu sulit karena pak BaekHyun tidak banyak menggangguku di mobil. Dia hanya fokus dengan jalanan.


Drtttt.... Drttt...


Getaran ponselku memaksaku kembali membuka mataku. Aku melihat ke arah layar ponselku. Aku mengangkat teleponnya walaupun mataku tetap tertutup.


"Apa?" Tanyaku datar. Aku sedang tidak ada semangat untuk melakukan apa pun sekarang.


'Yer, ada berita penting.'


"Berita penting apaan?" Tanyaku.


'TaeHyung kecelakaan.'


Aku membuka mata ku mendengarnya. "Ha? Di mana? Sekarang di mana?" Tanyaku panik.


Kenapa sekarang Tae.


"Bisa aku bicara sebentar dengan dia?" Tanyaku.


'Halo Yer, kamu di mana sih?'


"Kamu itu ga usah macam-macam deh, ga usah aneh-aneh, ga usah bikin aku khawatir, bisa ga sih hidup tuh tenang-tenang aja, sehari aja jangan bikin aku panik," Aku malah mengoceh sekarang.


'Sowon lebay tahu ga, orang cuma jatuh dari ranjang aja segitunya.' Jawab TaeHyung. Aku diam.


"Sialan lu Sowon." Aku menutup telepon itu setelah mendengar mereka berdua tertawa.


Aku tahu mereka baru saja mengerjaiku. Aku membaringkan kepalaku kembali ke sandaran kursi. Aku kembali menyalakan lagu nya dan berniat melanjutkan tidurku. Tapi Pak BaekHyun melepas satu earphone dari telingaku.


"Kamu kenapa?" Tanya pak BaekHyun. Aku kembali memasang earphoneku tapi tidak menyalakan lagu nya.


"Tidak apa-apa." Jawabku dingin. Aku tidak ingin membahasnya dengan dia.


"Yerin, bicara Yerin, jangan buat saya gila juga, kamu tahu, bu TaeYeon selalu menjawab seperti itu saat saya bertanya, tidak apa-apa, enggak, aku baik-baik aja, ga ada apa-apa. Saya masih ga ngerti sama kalian, Walaupun saya sudah berpacaran 5 tahun dengan bu TaeYeon, tapi tetap saja saya ga paham sama kayak begituan."

__ADS_1


"Jika perempuan berbicara seperti itu artinya kebalikan dari apa yang dia katakan," Ucapku.


Pak BaekHyun terkejut ketika aku menjawabnya. "Kamu mendengarnya?" Tanyanya. Aku mengangguk dan berdehem.


"Saya tidak menyalakan lagunya," Aku memberitahunya.


"Jangan di sebarkan apa yang saya katakan di mobil ini," pinta pak BaekHyun.


"Saya tidak bermulut besar." Jawabku.


"Tapi maksudmu, artinya kebalikan dengan apa yang di katakan? Jadi kalau dia bilang ya, artinya tidak? Begitu?" Tanya pak BaekHyun. Aku menegakkan kembali kursi ku dan melempar bantal kepala itu ke kursi belakang. Aku sudah tidak mengantuk lagi berkat pak BaekHyun.


"Di kelas bapak adalah raja nya membuat saya tertidur, tapi di luar, bapak selalu membuat saya tidak bisa tidur." Ucapku sambil membenarkan posisi dudukku.


Dia terkekeh. "Itu karena saya hanya membahas pelajaran di kelas."


Drtttt.. Drttt..


"PR matematika halaman 101, Latihan 3.1, no 1-30, di kumpulkan besok." Aku membaca pesan dari Sowon dengan suara keras lalu aku menatap pak BaekHyun.


"Pak, bapak serius?" Aku menunjukkan pesan yang di kirimkan Sowon. Dia mengerutkan dahnya.


"Itu hanya latihan buat ulangan, jika tidak selesai besok bisa di lanjut di sekolah, tidak di kumpul, katakan itu pada satu kelas, kesannya saya jahat banget kasih tugas 30 nomor matematika di hari minggu kumpul Senin." Ucap pak BaekHyun.


"Kalau saya bilang, nanti saya ketahuan donk lagi sama bapak, saya kan murid paling males satu kelas." Ucapku.


"Itu sadar, kenapa ga berubah." sahut pak BaekHyun pelan.


"Saya tidak akan mengerjakannya," Ucap ku.


"Kenapa?" tanya pak BaekHyun.


"Ga ngerti satupun, jangankan bisa kerjainnya, bukunya aja ketinggalan di sekolah." Jawab ku santai. Pak BaekHyun menggaruk kepalanya.


"Saya ga tahu gimana kamu bisa terus naik sampai kelas 12 Yer, Saya ga ngerti gimana cara hitungan nilai wali kelas kamu yang dulu." Ucap pak BaekHyun.


"Saya memang tidak bisa matematika dan hitungan, tapi bukan berarti saya tidak punya masa depan juga, jika saya ingin menjadi penulis, kimia tidak mungkin di pakai juga, jika saya mau menjadi dokter, pelajaran Fisika tidak mungkin terpakai, saya sudah tahu tujuan saya, jadi saya hanya memfokuskannya pada satu pelajaran." Ucapku. Pak BaekHyun diam.


"Tapi setidaknya kamu tahu bisa lolos di semua pelajaran, tidak perlu bagus, yang penting lolos Yer" Ucap pak BaekHyun.


"Saya berusaha." Ya itu memang benar. Aku sudah berusaha belajar hingga menyontek. Tetap saja hasilnya jelek.


"Setelah makan siang, saya akan bantu kamu kerjain PR itu di apartemen kamu, saya punya buku cadangan di rumah." Ucapnya. Bahkan di hari minggu aku jadi harus belajar. Kenapa aku harus seperti ini? Kenapa aku harus di jodohkan dengan guruku sendiri. Rasanya ini sangat sulit. Belum lagi aku harus menjaga rahasia pernikahan ini nantinya.

__ADS_1


__ADS_2