Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 29 - Truth or Dare


__ADS_3

Selesai makan, pak BaekHyun yang membereskan semuanya. Awalnya aku mau membereskannya, tapi infusanku tidak sampai, jadi pak BaekHyunlah yang membersihkannya.


"Pak, Yer, kapan kalian akan menikah?" Tanya Sowon.


"Entah lah, aku tidak ingin cepat-cepat." Gumamku.


"Kata mama minggu ini, hari Sabtu." Jawab pak Baekhyun. Aku melotot.


"Ya itu seharusnya menjadi bahan obrolan makan malam kemarin, tapi karena Yerin masuk rumah sakit, jadi mereka menetapkannya tanpa kami." Jawab pak BaekHyun.


"Kalian sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Sowon. Aku dan Pak BaekHyun mengangguk


"Yer, butuh pengapit ga?" Bisik Sowon. Aku menepak kepalanya.


"Ga usah aneh-aneh, kamu aja ga bakal aku undang nanti." Balasku. Dia cemberut.


"Eh padalah aku ngarepin sesuatu loh, kali aja pak Baek khilaf terus nanti ada ponakan unyu gitu." Bisik Sowon.


"Sowon yang pinter, cantik, baik hati dan tidak sombong, PIKIRANNYA TOLONG JANGAN MESUM!!!." Aku menarik pipinya itu.


"Aw.. Ih lepas, kan maksudnya kali aja bablas, ga sengaja gitu. Aku pengen liat perpaduan antara seorang pak BaekHyun dengan Yerin." Ucap Sowon sambil membayangkannya.


Aku menggelengkan kepalanya. "Saya lebih suka kamu yang di sekolah." Potong pak BaekHyun. Aku tertawa. "Setuju pak, kali ini kita sependapat." Balasku.


"Jadi nanti kalian bakal tidur satu kamar gitu?" Tanya Sowon.


"Enggak, kita pisah kamar." Jawab pak BaekHyun dengan cepat. Sowon hanya mengangguk.


Aku mengeluarkan laptopku. "Masih tulis Yer?" Tanya Sowon.


"Ya, kamu?" Tanyaku.


"Enggak, dan males, ga ada ide lagi." Jawabnya.


"Kalian tulis? Tulis apaan?" Tanya pak BaekHyun.


"Novel gitu," Jawabku. Aku mulai membuka aplikasinya dan melihat jumlah pembacaku. Pertambahan yang cukup banyak. Aku menutupnya lagi. Biasanya ide-ideku muncul saat malam hari. Jadi aku tidak akan membuang waktu untuk berpikir mencari ide di siang hari.


"Yer, bosen." Gumam Sowon.


"Ayo main TOD yuk, dah lama ga main," Ajakku.


"Pak BaekHyun mau ikut?" Tanyaku.


"Pak ikut aja biar seru." Ajak Sowon. Pak BaekHyun menggeleng. "Saya bukan bocah lagi, kalian main aja berdua." Jawab pak BaekHyun.


"Ih bapak mah ga seru, ya sudah saya telepon papa bilang pak BaekHyun ga mau temenin saya main." Ancamku. Pak BaekHyun terlihat tidak percaya dengan ucapanku. Aku mengambil ponselku dan menelepon papa.


Untung saja di angkat. "Pa, BaekHyun ga mau temenin aku main," 'Oke nanti papa bilangin, kamu sudah makan,' "Sudah pa, oke deh, makasih pa."


Aku menutup teleponnya.

__ADS_1


"Saya ga bodoh Yerin, Saya bukan anak kecil kayak kalian yang bisa diancem begitu," Pak BaekHyun merasakan ponsel nya bergetar.


Dia melotot melihat layar ponselnya. "Iya. Iya saya ikut, ih cepu banget sih. Nih kamu jawab, bilang ke papa." pak BaekHyun memberikan ponselnya di tanganku.


"Halo pa, udah kok, makasih ya pa." Papa menjawabnya dan mematikan teleponnya. Aku mengembalikan ponsel itu ke pak BaekHyun.


"Nyebelin banget sih," Gumam pak BaekHyun.


"Ayo kita mulai." Sowon mengeluarkan Ipadnya.


"Kita pakai aplikasi saja ya biar ga curang." Ucap Sowon. Aku mengangguk setuju, pak BaekHyunpun setuju-setuju saja. Sowon memasukkan namaku, namanya dan nama pak BaekHyun.


"Di sini sistemnya random, jadi kita ga bisa milih siapa yang mulai duluan siapa yang bakal dapat truth atau dare." Sowon menjelaskannya ke pak BaekHyun. Dia mengangguk saja.


"Ayo siapa yang muter duluan?" Tanya Sowon.


"Pak BaekHyun saja, sesekali gitu, guru duluan." Ucapku sambil tersenyum.


Pak BaekHyun menatap ku kesal. Dia memutarnya. Dan jarum nya mengarah ke arah nama pak BaekHyun sendiri. "Senjata makan tuan." Gumamku sambil terkekeh.


"Jangan ketawa. Sekarang gimana?" tanya pak BaekHyun.


"Muter lagi pak, buat liat bapak dapat truth atau dare." Jawab Sowon. Pak BaekHyun memutarnya. Dia hanya mendapat truth, aku sedikit kecewa. Pak BaekHyun memutarnya sekali lagi untuk melihat pertanyaannya.


"Truth, Apakah kamu pernah melakukan masturbasi?" Pak BaekHyun membacakan pertanyaannya. Aku dan Sowon tidak bisa menahan tawa kami berdua lagi.


"Ini permainan umur berapa Sowon? Astaga saya tidak menyangka kalian memainkan permainan seperti ini." Pak BaekHyun melihat kami berdua secara bergantian.


"Ya, pernah, kalian puas?" Jawab pak BaekHyun dengan sangat kesal. Aku dan Sowon tertawa terbahak-bahak.


"Aduh Won, sakit perut aku, pak BaekHyun **** gimana ya?" Tanyaku.


"Ga tau Yer, udah. Udah, Sama nih, sakit perut juga." Balas Sowon. Pak BaekHyun tiba-tiba menjewer kupingku dan Sowon


"Udah kalian jangan aneh-aneh, Seneng banget ya kerjain guru nya."


"Adu pak, lepas, sakit." Ucap Sowon. Pak BaekHyun melepasnya.


"Kamu dulu Yer." Ucap Sowon. Aku memutarnya dan kenanya di aku juga. "Wah Won, ini ga beres nih, masa semua ke yang muter sih." Protesku.


"Ga bisa protes, saya aja ga protes tadi," Balas Pak BaekHyun. Aku menekannya lagi. Aku bernafas lega ketika jarum itu menunjuk ke tulisan TRUTH. Aku menekan sekali lagi untuk melihat pertanyaannya. "Seberapa sering kamu membolos sekolah?"


"Waduh, Won, berapa kali?" Tanyaku.


"Banyak Yer, ga keitung." Jawab Sowon. Aku tahu pak BaekHyun pasti sedang kesal. Untung saja Sowon bisa di ajak kerja sama.


"Bercanda kali pak, serius amat, bolos sekolah di tahun ini baru 2x," Jawabku dengan santai. Pak BaekHyun menggelengkan kepalanya.


"Sekarang kamu Won." Aku memberikannya kepada Sowon. Sowon memutarnya, dan seperti yang lainnya, senjata makan tuan.


"Kayak nya beneran ga bener nih aplikasi, tapi Yaudah lah," Sowon memencet sekali lagi. Dewi fortuna sedang tidak berpihak pada Sowon ternyata. Dia mendapatkan Dare. Aku tersenyum senang.

__ADS_1


"Ayo Dare, wah seru nih." Ucapku. Sowon terlihat kesal tapi dia tetap melanjutkannya.


"Pemain tidak boleh berpindah tempat duduk dan posisi duduk hingga putaran berikutnya., Seharusnya itu mudah." Ucap Sowon. Aku hanya tersenyum. Dia belum pernah mengalaminya kan. Aku sudah pernah, rasanya semuanya tuh jadi Pegel.


"Sekarang bapak lagi." Ucapku. Pak BaekHyun menekannya lagi, sudah pasti kenanya di diri kita sendiri. Dia memencet sekali lagi, kali ini dia mendapat Dare, aku tersenyum ke arahnya. Dia langsung memencetnya lagi.


"Pemain harus melepaskan satu lapis atasannya. Kalian serius? Ini permainan untuk umur berapa sih? Kalian ga seharusnya main dare kayak ginian." Ucap pak BaekHyun.


"Ini masuk kategori 18-22 tahun pak, bapakkan sudah jauh lebih tua, jari ga apa-apa donk," Balasku. Pak BaekHyun menggelengkan kepalanya.


"Untung yang kena saya, kalau kalian gimana? Memang kalian mau buka baju di depan saya?" Tanya pak BaekHyun dengan marah. Aku menatap pak BaekHyun serius. Dia membuka kemejanya dan menyisakan kaos polos di tubuhnya.


Pak BaekHyun tidak banyak bicara dan memberikannya kepadaku. Aku memencetnya dua kali langsung. Aku masih mendapat Truth di giliranku kali ini. Hoki-ku sedang sangat bagus hari ini.


"Siapa lawan jenis yang sedang kamu sukai detik ini." Aku melihat wajah Sowon. Dia terlihat ingin tahu. Pandangan ku beralih ke pak BaekHyun. Dia menatapku dengan tatapan datar.


"Menurutmu siapa Won?" Tanya ku.


"Entah lah, Sepertinya tidak mungkin TaeHyung, pak BaekHyun?" Tebaknya. Pak BaekHyun menatap tajam Sowon.


"Itu tidak benar, tapi tidak salah juga." Ucapku. Pak BaekHyun menatapku sekarang.


"Jangan memiliki perasaan apapun pada saya Yerin, hubungan itu tidak akan berlangsung lama." Ucapnya.


"Kalau gitu biarkan saya yang memilih untuk itu, saya juga tidak akan mengganggu bapak dengan perasaan saya," Ucapku. Pak BaekHyun menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya.


"Jangan, pokoknya jangan, saya tidak mau kamu sakit hati nanti." Ucap pak BaekHyun.


"Yer, kamu serius? Masih banyak cowok lain, kenapa pak BaekHyun?" tanya Sowon.


"Aku tidak tahu, sudahlah, giliran kamu, aku sudah menjawab milikku." Aku mengoper nya ke Sowon.


Oke, Sowon sekarang mendapatkan Truth, "Siapa orang yang paling kamu benci di dunia ini?" Sowon melihatku. "Apa boleh disebutkan namanya?" Tanyanya.


"Tentu saja, sebutkan saja." Ucapku.


Sowon membuka mulutnya dan berusaha menjawabnya tanpa suara. Aku tahu mulutnya menyebut kata TaeYeon. Tapi aku rasa pak BaekHyun tidak mendengarnya atau pun melihatnya.


"Baiklah, Oke selanjutnya." Ucapku. Pak Baekhyun menatap Sowon dengan tatapan aneh. "Dare, lagi." Gumam pak BaekHyun.


"Cium siapa saja yang ada di ruangan itu," Pak BaekHyun menaruh Ipad itu kembali ke Sowon.


"Saya tidak mau main lagi, ini sudah kelewatan." Ucapnya. Untung saja pak BaekHyun tidak mau melakukannya.


Tokkk... Tokkk.. Tokkk...


"Permisi, saya akan mengganti infusnya." Ucap seorang suster.


"Clar," Gumam Pak BaekHyun.


"Hai," Balas suster itu. Sowon dan aku hanya melihatnya. Mereka saling kenal itu adalah sebuah pertanyaan. Suster itu mengganti infusku tanpa banyak bicara.

__ADS_1


__ADS_2