
...[ BaekHyun POV ]...
Gak Taeyeon, gak Yerin. Sama aja. Cewek memang susah banget ditebak. Lagi mau tidur aja bisa tiba-tiba marah ga jelas. Memang aku ada salah? Salah dimana coba? Orang lagi nyetir doank.
Kalau ada kuliah jurusan psikologi perempuan kayaknya aku harus masuk ke sana deh buat belajar memahami makhluk ciptaan Tuhan yang bernama 'perempuan' ini.
Pertama, kenapa mereka tuh bisa beda banget sama laki-laki. Kalau kenapa tinggal bilang aja. Kan gampang. Kenapa membuat laki-laki tuh berpikir lagi dari awal dia ngomong. Ada salah ngomong apa enggak? Kan tinggal bilang aja. Aku tuh ga suka kamu kayak gini atau ga kamu salahnya tuh di sini. Susah banget kayaknya. Kedua, kenapa bisa perempuan selalu benar dan laki-laki selalu salah. Memangnya kenapa kita selalu salah? Masa lahir ke dunia cuma buat di salahin sama cewek sih.
Yang jadi masalahnya bukan cuma Yerin aja yang begini, TaeYeon juga suka begini tiba-tiba. Lagi di sekolah, dia bisa tiba-tiba marah, lah? Memang aku bisa ngapain di sekolah? Terus lagi makan siang, dia tiba-tiba bete tanpa alasan. Terus ga lama ngambek. Pas pulang dia marah, bilang nya kenapa ga temuin dia. Ya kan aku pikir mau kasih dia waktu buat tenangin diri. Tapi tetap aja salah terus.
Kalau TaeYeon, Oke lah, kita seumuran, lah ini, aku masih bisa menerimanya, tapi ini Yerin. Yang notabel nya muridku sendiri. Bisa-bisanya dia kesal dan marah seperti itu. Perasaan aku ga ngomong yang aneh-aneh deh ke dia. Cuma tawar in es krim doank. Memang salah nawarin es krim? Heran dah.
Dia tidak mungkin memikirkan hal yang aneh-aneh kan? es krim? Sepertinya tidak mungkin. Aku rasa tidak mungkin yang itu. Dia bukan tipe perempuan murahan atau perempuan nakal yang berpikir tentang itu.
Aku ingin bertanya padanya, tapi aku juga takut dia akan semakin marah jika aku banyak bicara. Anehnya kenapa aku harus takut pada dia. Dia kan masih bocah. Aku lebih tua darinya. Kenapa jadi seperti ini. Di mana harga dirimu Byun BaekHyun. Papa pasti akan sangat malu mengetahuinya.
Aku sesekali melihat Yerin yang sedang tertidur pulas dari kaca. Aku lebih suka melihatnya tidur dari pada terus marah-marah kepadaku. Tapi tidak di dalam kelasku. Aku sangat tidak suka ada murid yang tertidur di dalam kelasku disaat aku sedang mengajar. Jika sedangĀ free class, ya aku bisa memakluminya lah.
Untung saja Yerin bukan tipe anak yang selalu tidur di dalam kelas. Walaupun nilainya tidak terlalu bagus tapi setidaknya dia tidak banyak berulah dan membuat guru marah. Paling dia hanya datang terlambat, atau lupa mengerjakan sesuatu, lupa membawa buku.
Tidak. Tidak.
Aku menarik kembali perkataanku. Dia sangat sering membuat guru emosi dengan sikap dan kelakuannya.
Aku melihatnya lagi. Aku tidak berani rem mendadak karena takut Yerin akan terguling ke depan dan terjatuh. Jika Yerin terluka, sudah bisa di pastikan namaku akan tercoret dari kartu keluarga. Jadi aku harus ekstra hati-hati dengan Yerin. Dia tidak boleh tergores sedikitpun karena itu akan ditukar dengan nyawaku sendiri jika berhadapan dengan papa.
Bayangkan, aku meninggalkannya dirumah Sowon saja aku sudah di gampar 2 kali. Gimana kalau Yerin luka secara fisik atau berdarah. Mungkin papa akan menghabisiku di tempat. Membayangkannya saja sudah membuat aku merinding.
Jika aku pikir-pikir lagi, sebenarnya anak papa ini siapa sih? Aku atau Yerin. Heran aku. Papa belakangan ini jadi lebih menyayangi Yerin dari pada anaknya sendiri. Mama juga. Mereka jarang mengoceh padaku lagi. Biasanya mereka akan sangat bawel dan menyuruhku pulang ke rumah di setiap akhir pekan. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Mereka lebih bawel jika berhubungan dengan Yerin.
Sejujurnya aku masih tidak tahu kenapa mereka bisa sampai berpikir menjodohkan aku dengan Yerin. Entah ini hanya kebetulan karena aku dan dia adalah guru dan murid di sekolah, atau kebetulan karena orang tua kami memang bersahabat baik?
Sepertinya yang kebetulan adalah aku dan Yerin tidak tahu selama ini kalau orang tua kami berteman. Mereka mungkin sudah berteman sebelum kami saling mengenal. Atau bahkan sebelum aku dan Yerin lahir. Seingat ku, mama pernah bilang kalau mereka itu dulu sahabat SMP. Aku benar-benar salut dengan mama, mereka masih berteman dengan baik bahkan setelah mereka memiliki anak seusiaku dan Yerin.
"Akhhh." Aku melihat ke belakang karena Yerin terdengar meringis kesakitan.
__ADS_1
"Yer, kenapa?" tanyaku. Dia meringkuk di belakang memegang perutnya.
"Sakit pak, hiksss.. Sakitt.." Yerin mulai menangis. Ada apa dengan perutnya? Apa dia salah makan?
"Sebentar Yer, saya antar ke rumah sakit." Ucapku. Aku langsung menancap gas ke rumah sakit. Kenapa dia sakit tiba-tiba, tadi tidak apa-apa kok. Makannya juga teratur hari ini.
Untung saja di dekat sini ada sebuah rumah sakit. Aku langsung membawanya masuk. Mereka membawa Yerin ke IGD karena wajah Yerin semakin pucat. Sekarang dokter sedang memeriksanya.
Aku sudah menghubungi orang tua ku, dan orang tua Yerin. Mereka sedang dalam perjalanan ke sini. Aku harap dia baik-baik saja. Kumohon. Aku masih ingin hidup lebih lama.
Cklekkk....
"Apa anda keluarganya?" Tanya dokter itu. Dia perempuan.
"Ya dok, ada apa dengan Yerin?" Tanyaku.
"Dia mengalami keracunan makanan dan juga alergi makanan, sebenarnya bukan keracunan yang parah, tapi karena dia tubuhnya sedang stress, imun tubuhnya menjadi lemah lalu pasien memakan makanan yang kurang higienis, lalu apa pasien ada memakan makanan yang memicu alerginya?" Tanya Dokter itu. Aku menggaruk kepalaku. "Saya kurang tahu dok," Jawabku. Tentu saja aku tidak tahu apa yang dia makan.
Tapi apa dia benar-benar sebodoh itu. Apa dia tidak tahu dia punya alergi? Kenapa dia masih memakannya? Seperti tidak pernah di kasih makan saja.
"BaekHyun!."
Sial. Itu suara papa. Aku melihat ke belakang ku. Mereka semua berjalan ke arahku. Semoga aku masih hidup setelah ini.
"Ma, Pa," Ucapku.
"Dok, Yerin kenapa?" Tanya papa Yerin.
"Dia keracunan makanan dan alergi." Jawab dokter itu.
"Yerin memakan bumbu Gurita?" Tanya mamanya dan melihat ke arah ku.
"Saya tidak tahu ma, beneran." Aku membuat tangan ku berbentuk V. "Tadi saya hanya menjemputnya dan dia sedang makan sesuatu yang digoreng dengan mayones." Jelasku.
"Yerin, astaga kamu ini. Dia pasti memakan Gurita." Gumam mamanya.
__ADS_1
"Ibu bapak bisa tenang saja, saya sudah memberikan pereda sakit dan obat untuk alerginya," Ucap Dokter itu.
"Terima kasih banyak dok." Ucap kami semua. Dokter itu tersenyum dan pergi dari sana. Mati lah aku. BaekHyun. Apa kamu tidak bisa mengetahui itu gurita.
Mama dan papa nya langsung masuk ke dalam melihat Yerin. Sedangkan mama dan papa ku masih menatap ku dengan tatapan mengerikan.
"Kamu itu ya Baek, bikin papa malu saja, masa kamu jadi guru tapi ga bisa bedain itu makanan apaan." Papa menjitak kepalaku. Tentu saja aku meringis kesakitan.
"Aw.. Pa, hentikan. Ampun pa, Baek kan ga tau itu gurita, soalnya udah ga berbentuk, bentuk nya kayak di cincang gitu." Ucapku.
"Pa, sudah pa, malu jangan gitu disini." Ucap mama. Untung saja mama ada di pihakku.
"Sekarang ayo kita masuk," Mama menarikku dan papa masuk ke dalam sana.
Yerin sudah tidak meringis kesakitan lagi. "Yerin, kamu baik-baik saja?" Tanya mama dengan khawatir.
"Ya ma, cuma masih agak sakit aja perutnya." Jawabnya sambil tersenyum. Papa berjalan ke dekat ranjangnya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja, lain kali jangan makan sembarangan, kalau mau makan apa, bilang aja ke BaekHyun biar dia beliin makanan yang higienis di restoran, jangan makan pinggir jalan lagi." Ucap papa. Aku tidak pernah melihat sisi baik papa seperti itu. Aku jadi semakin yakin aku bukan anak kandung papa.
Yerin tersenyum dan mengangguk. Dia bangun dan duduk di ranjang nya Dia menatapku. "Maaf jika aku merepotkan." Ucapnya. Aku tahu dia bicara kepadaku.
"Hey, jangan begitu, tidak kok, itu sudah tugas BaekHyun, lagi pulakan kalian akan segera menikah," Ucap mamaku. Tidak ada yang membelaku di sini. Padalah dia tidak tahu seberapa susah menggendongnya hingga ke sini disaat dia terus memberontak di gendonganku.
"Kenapa kamu makan gurita Yerin?" Tanya mamanya khawatir.
"Gurita? Aku pikir itu cumi." Jawabnya dengan tatapan polos. Rasanya aku sangat ingin mencubit pipinya itu. Dia terlihat sangat menggemaskan ketika dia menjawab sesuatu dengan wajah lugunya itu.
"Itu Gurita sayang, kenapa kamu makan, memangnya kamu tidak bisa membedakan gurita dengan cumi-cumi?" Tanya mama. Yerin menggeleng.
"Ma, mungkin dia bukan tidak bisa membedakannya, tapi tadi guritanya sudah di potong kecil-kecil jadi tidak terlihat seperti gurita." Ucapku. Aku tidak tega melihat Yerin dimarahi orang tuanya disaat dia sedang kesakitan. Walaupun aku tidak menerima perjodohan ini tetap saja aku masih memiliki hati untuk membantu Yerin.
"BaekHyun, diam saja kamu, duduk di sana." Ucap papa.
"Ya pa." Jawabku. Hilang sudah harga diriku di depan Yerin. Aku duduk di sofa dekat sana. Aku bisa melihat kalau Yerin sedang menertawaiku sekarang ini.
__ADS_1