
Aku berbaring masih menikmati angin di atap. Walaupun sedikit dingin, tapi itu berhasil membuatku sedikit tenang di sini.
"Kamu belum makan? Ini sudah istirahat."
Aku mengenali suara itu.
"Tae, kenapa kamu di sini?" Tanyaku.
Dia tersenyum dan memberikan kotak makannya. "Itu makanan kantin, tadi aku bawa kotak makan lebih," jelasnya. Aku mengangguk.
"Makasih Tae," Ucapku. Dia duduk di sebelahku.
"Yer, aku mau ngomong boleh?" Tanyanya.
"Tentu saja," Jawabku dengan sangat yakin.
"Aku mau minta maaf, waktu disana, aku rasa punyamu dan punya Sowon tertukar, seharusnya punyamu yang tidak ada guritanya, dan punya Sowon ada, maaf kan aku, itu kecerobohanku kamu sampai berakhir di rumah sakit," Ucapnya sambil menunduk.
Aku rasa dia memang tidak sengaja. Tidak mungkin dia sengaja melakukan itu.
"Tidak apa Tae. Sekarang aku juga sudah baik-baik saja," Ucapku. Dia mengangguk.
"Um.. Dan satu lagi Yer," Sambungnya. Dia menggantungkan kalimatnya lagi.
"Apa?" Tanyaku. Aku tidak suka ketika ada orang yang menggantung kan ucapannya ketika berbicara denganku.
"Aku ingin kita balikan," ucapnya.
Aku berusaha setenang mungkin sekarang, aku sadar kalau dia tidak tahu apapun tentang hubunganku debgan pak Baekhyun. Ya jadi wajar saja kalau dia pikir aku masih belum punya pacar. Tapi sekarang, aku benar-benar harus menolaknya, berhenti memberinya harapan seakan-akan dia punya peluang untuk memiliku lagi seperti dulu.
__ADS_1
"Maaf Tae, aku tidak bisa," Jawabku.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Aku sudah memiliki penggantimu Tae." Jawabku dengan suara bergetar.
"Siapa?" Tanyanya.
"Aku tidak bisa balikan lagi, maaf, tapi kita masih bisa berteman kok." Ucapku. Dia mengangguk. "Selama kalian hanya pacaran, aku akan berusaha mendapatkanmu kembali, aku akan mengalahkan dia untuk mendapatkan dirimu." Sambungnya dengan sangat yakin.
Aku menghela nafasku secara perlahan. Kapan aku harus mengatakannya untuk move on dariku? Dia tidak bisa terus-terusan mengejarku. Itu tidak mungkin. Aku akan menikah besok.
"Carilah perempuan lain, pasti banyak yang may sama kamu Tae," ucapku.
"Tidak, aku tidak akan menyerah sampai akhir untuk merebut dirimu, aku yakin aku bisa mendapatkan dirimu lagi, sama seperti dulu." Balasnya dengan sangat yakin dia memegang tanganku dan menatap mataku. Aku semakin merasa bersalah disini.
Ekhm... Ekhm...
"Kita ga pacaran pak." Ucap TaeHyung..
"Kalian ga pacaran tapi pegang-pegang tangan, cepat masuk kelas, udah mau mulai." Ucap pak Baekhyun. TaeHyung bangun.
"Ayo," Ajaknya.
"Entar, aku menyusul." Ucapku. Dia tersenyum dan mengangguk. TaeHyung pergi meninggalkanku disini bersama pak BaekHyun. Aku masih mau disini.
"Jaga sikapmu di sekolah Yerin." Pak BaekHyun memperingatiku. Aku mengangguk saja.
"Kamu sudah sarapan?" Tanyanya. Aku mengangguk lagi. Aku sama sekali tidak melihat ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu marah?" Tanyanya. Aku menggeleng. Aku membuka kotak makan yang di berikan TaeHyung tadi. Aku sudah merasa sedikit lapar sekarang.
"Lalu kenapa kamu membolos kelas saya?" tanyanya lagi. Aku mengangkat kedua bahuku sebagai jawaban untuknya. Pak BaekHyun berjalan mendekatiku dan duduk di sebelahku.
"TaeHyung yang memberikannya?" tanya pak BaekHyun. Aku hanya memakannya.
"Kamu kenapa? Sikapmu tidak pernah seperti ini." Ucap pak BaekHyun dengan lembut.
"Bapak sendiri kenapa menemui dia tanpa memberitahu saya? Apa saya tidak penting untuk tahu itu?" Tanyaku.
"Dia mengirim pesan pada saya setelah kamu tidur, saya tidak mau membangunkan kamu." Jawabnya.
"Lalu? Apa yang bapak lakukan dengannya? Dia mabuk, jaket bapak bau alkohol, apa bapak yakin tidak melakukan apa pun dengan bu TaeYeon?" tanyaku.
"Astaga Yerin, kamu memikirkan itu?" Tanyanya.
"Bapak tidak perlu berpura-pura tidak terjadi apapun, saya yakin bapak sudah melakukannya, kita akan menikah besok, saya tidak akan menghindar lagi, tapi jika seseorang mengandung anak bapak, saya akan segera meminta perceraian dengan bapak, setuju?" tanyaku. Keputusanku sudah benar-benar bulat. Aku dan pak BaekHyun tidak akan melakukan apapun selama kami menikah, jadi aku tidak akan memiliki ikatan apapun dengan ya.
Pak BaekHyun hanya diam menatapku. "Kenapa? Apa bapak sudah tahu itu akan terjadi? Bukannya seharusnya bapak senang jika itu terjadi? Memang itu kan yang bapak inginkan sejak dulu, menikahi saya lalu menceraikan saya untuk bu TaeYeon, jika bapak tidak mau melakukannya, saya yang akan melakukannya, permisi pak." Aku mengambil tasku dan pergi dari sana.
Sejak pagi aku tidak mau melihat wajah pak BaekHyun lama-lama. Itu benar-benar membuatku ilfeel. Pak BaekHyun menahan tanganku dan membalik tubuhku.
"Jangan lakukan itu, saya sudah tidak mau bersamanya lagi, saya mau bersama kamu," Ucap pak BaekHyun. Tangannya memegang pipiku. "Saya tidak melakukan itu dengan dia, saya masih sadar, hanya dia yang memeluk saya karena hampir terjatuh, jangan berpikir macam-macam Yerin." Lanjutnya. Aku menepis tangannya dari wajahku dan melepaskan tangan yang lainnya dari lenganku.
"Ini di sekolah, bersikaplah seperti seorang guru pak." Ucapku. Aku melangkah pergi meninggalkannya lagi. Aku tidak tahu kenapa dia begitu egois. Seharusnya dia bisa memilih yang mana jadi tujuannya, bukan ingin memiliki keduanya. Dia bisa saja menyuruh guru lain untuk menjemputnya, kenapa harus pak BaekHyun sendiri? Dia masih sadar? Ha? Jelas-jelas dia teler kemarin malam. Aku yakin dia juga ikut minum. Aku tidak sebodoh itu. Dan jika sampai bu TaeYeon bisa hamil anak pak Baekhyun, aku akan lebih kagum lagi, karena dia bilang dia masih sangat sadar, itu artinya dia memang sengajakan?
Pergi tanpa mengatakan apapun padaku adalah satu kesalahan, pergi menemui bu TaeYeon tengah malam di sebuah club, itu kesalahan kedua, berhasil menghamili bu TaeYeon, akan menjadi kesalahan ketiga.
Kesalahan ketiga akan cukup fatal dan akan menjadi bukti beserta alasan yang kuat untuk menceraikan pak BaekHyun. Tapi aku harap itu semua tidak terjadi. Aku tidak ingin rumah tanggaku hancur karena kejadian ini. Aku berjalan kembali ke dalam kelasku. Sekarang pelajaran olahraga. Semua murid pasti sedang sibuk mengganti pakaian. Aku menaruh tasku dan mengambil baju olahragaku.
__ADS_1
Aku menggantinya di ruang ganti dan kembali ke kelas untuk mengambil botol minumku. Semua anak mungkin sudah berada di lapangan. Aku segera berlari ke sana saja. Di kelas aku sendirian.