Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 34 - Makanan Penyelamat


__ADS_3

"Yerin, maaf aku tidak bisa menjengukmu hari ini, ada rapat OSIS dan sekarang aku masih terjebak di sekolah, apa kamu baik-baik saja? Jangan marah karena aku tidak bisa ke sana, apa Pak BaekHyun juga masih disana? Kabari aku jika kamu sudah membuka pesan suara ini."


Aku memencet kontak Sowon dan meneleponnya.


"Yer, speaker phone," Suruh pak BaekHyun. Aku membesarkan volumenya agar pak BaekHyun bisa mendengarnya juga. Aku yakin pak BaekHyun ingin memarahi ketua OSIS nya karena membiarkan anggotanya terus bekerja hingga jam segini. Tadi aku memutar pesan suara Sowon dengan volume yang cukup keras, jadi pak BaekHyun bisa mendengarnya juga tadi.


"Halo?" Tanya Sowon.


"Sowon, kamu masih di sekolah?" Tanyaku.


"Iya, Ini semua masih d sini, guru-guru juga masih di sini, aku ga tahu ini ada acara apaan sih?"


"Sowon, bisa dengar saya?" Tanya pak BaekHyun.


"Eh pak, bisa pak, kenapa?" Tanya Sowon.


"Kamu keluar saja dari sana, saya akan bilang nanti, ini sudah bukan jam sekolah, pulang saja, saya sudah beri izin." Ucap pak BaekHyun dengan tegas.


"Beneran pak? Saya udah cape banget, Ya sudah saya kesana sekarang." Ucap Sowon lalu mematikan ponselnya.


"Apa-apaan mereka, peraturan sekolah, OSIS hanya boleh bekerja sampai jam 3 jika ada izin khusus bisa sampai jam 4, Tapi ini, jam 5 lewat," Ucap Pak BaekHyun marah. Aku tahu pak BaekHyun selalu sensitif jika murid nya di suruh-suruh melewati aturan. Seperti ini. Seharusnya semua OSIS sudah di perbolehkan pulang, kecuali kalau mereka memang masih ingin mengerjakannya, tapi tidak boleh di paksa.


"Pak. Ayo kita makan malam, apa bapak ga lapar?" Ajakku.


Pak BaekHyun melihat ke arahku. "Kamu lapar?" Tanyanya. Aku mengangguk. "Saya juga lapar sih, seharusnya makanan rumah sakit sebentar lagi diantar," Ucap pak BaekHyun.


"Saya pengen makan yang lain, masakan rumah sakit ga enak." Kataku.


"Tetap harus di makan Yerin." Ucap pak BaekHyun memaksaku. Aku mengangguk.


"Tapi bapak beneran suka masakan saya? Padalah kemarin itu saya kehabisan bahan, jadi saya campur aja semua yang ada di kulkas." Ucapku.


"Enak kok, bener deh, Enak kriteria saya yang penting rasanya pas aja, dan ga aneh dimulut saya." Ucapnya. Aku senang kalau ternyata masakanku memang cocok dimulut pak BaekHyun. "Tapi." Aku menengok ke arahnya. "Tapi apa?" Tanyaku.


"Saya pengen makan masakan kamu lagi." Lanjutnya. Aku tersenyum.


"Saya bukan memaksa bapak ya, tapi kalau bapak memilih bu TaeYeon, itu mungkin akan menjadi masakan saya pertama dan terakhir yang bapak makan." Ucapku. Itu memang benar. Jika pak BaekHyun bukan suamiku, untuk apa aku memasakkan makanan untuk pacar orang lain?


"Saya tahu itu," Ucapnya.


"2 setengah jam pak, bapak harus berikan jawabannya," Ucapku. Pak BaekHyun melihat jam dan mengangguk.


"Saya serasa lagi dapat quiz aja," Ucapnya sambil tertawa.


"Quiz kehidupan pak," Sambungku. Aku dan dia sama-sama tertawa.


Cklekkk...


"Yerin, aku membawakan pasta dari mamaku," Sowon masuk dan langsung memberikan sebuah kotak makan untukku.

__ADS_1


"Makasih Won... Kamu tahu aja aku lagi lapar." Ucapku. Aku membukanya dan langsung memakannya. Pak BaekHyun menatapku dengan tatapan pengen.


Sowon melihatnya. "Yer, tuh tunangan kamu juga kelaparan ya?" Tanya Sowon. Aku mengangguk.


"Miris liatnya." Ucapku. Tawaku dan Sowon pecah saat itu juga. Pak Baekhyun terlihat sangat kesal karena aku dan Sowon meledeknya.


"Bapak ayo sini," Ucapku.


"Mau ngapain?" Tanyanya.


"Bikin anak." Jawabku cepat. Dia melotot.


"Ya bapak lapar ga? Sini saya bagi." Ucapku. Sowon menahan senyumannya. "Kayaknya pak BaekHyun pengen juga ya, sampai segitu kagetnya." Ucap Sowon. "Udah sana bucin," Ucapnya. Aku sudah makan berapa sendok, aku memberikannya kepada pak BaekHyun. Dia juga pasti lapar.


Aku memberikan dia satu sendok. "Buka mulut pak." Ucapku. Pak BaekHyun membuka mulutnya, anehnya dia tidak keberatan makan satu sendok bekas mulutku. Aku menyuapinya. Sowon terlihat biasa saja, mungkin karena dia sudah sangat biasa melihat pemandangan seperti ini sampai terbiasa.


"Enak? Bapak makan saja, jangan di habiskan, saya masih lapar." Ucapku. Pak BaekHyun menerimanya dengan wajah senang.


"Eh Won, ada kabar baik deh." Ucapku.


"Apa? Kalian beneran jadian? Atau apa nih?" Tanya Sowon.


"Enggak, Ish, NOVEL AKU DI TERIMA!!!." Jawabku dengan sangat semangat. Sowon melotot dan menutup mulutnya. Dia terkejut, begitu juga dengan aku saat aku pertama kali mendengarnya.


"Ha? Serius??" tanya Sowon. Aku mengangguk dengan semangat.


"Makasih Won, eh aku butuh editor nih, kamu mau ga?" Tanyaku.


"Editor? Berapa?" Tanyanya.


"Persenan aja nanti, mau ga?" Tanyaku.


"Ya berapa persen?" Tanya Sowon.


"Ah bantuinnya ga ikhlas, ga jadi deh," Ucap ku. Sowon cemberut. "Iya. Iya ga usah, aku bantuin." Ucapnya cemberut.


"Canda doank Sowon ku sayang, 20% mau?" Tanyaku.


"Bolehlah, buat tambah-tambah uang jajan." Jawabnya senang.


"Kalian itu ya, Sekolah yang bener bukan mikirin duit mulu, yang satu main saham yang satu minta persenan, bingung saya sama kalian." Ucap pak BaekHyun tiba-tiba.


"Bapak BaekHyun, gini loh pak, kan uang itu bukan segala-galanya, tapi segala-galanya butuh uang pak, jadi kita harus rasional pak." Ucap Sowon.


"Setuju banget Won." Aku mengangkat tangannya untuk tos dengan Sowon. Untung saja Sowon kompak, kalau ga aku malu sendiri.


"Udah Deal ya? Buat surat nya nanti," Ucap Sowon.


Aku mengangguk. "Tanda tangan di atas materai lagi nih?" Tanyaku sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya lah, entar aku ga di bayar lagi." Ucap Sowon kesal. Aku tertawa mengingat kejadian dulu, aku pernah membuat surat perjanjian, tapi karena Sowon salah menandatanganinya, aku jadi tidak membayar nya. Terus dia kesal dan marah padaku berhari-hari sampai akhirnya kita berbaikan karena dia mau pinjam album yang baru aku beli buat pamer ke teman-teman sosmednya. Memang ga berakhlak dia.


"Jangan salah lagi." Ledekku.


"Ga akan." Jawabnya dengan cepat dan tatapannya serius.


"Iya. Iya," Balasku. Dia mengangguk.


"Pak, balikin makanannya, saya masih lapar." Ucapku kesal. Pak BaekHyun terus saja makan, kalau aku ga minta balik bisa sampai habis kali.


Pak BaekHyun memberikan kembali. "Won, pinjam sendok lagi." Ucapku. Sowon memberikan u sendok baru. Pak BaekHyun melihat ke arahku.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Kenapa ga bilang ada sendok lain, saya ga usah makan bekas mulut kamu donk." Ucap Pak BaekHyun sewot. Aku hanya tersenyum Aku sengaja melakukannya. Aku tahu Sowon selalu membawa sendok cadangan.


Cklekkk....


"BaekHyun, bisa kita bicara?"


Aku menatap bu TaeYeon yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan inapku tanpa mengetuk. Aku dan Sowon hanya menatapnya. Pak BaekHyun bangun dan keluar bersama bu Taeyeon. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan aku juga tidak ingin tahu.


"Yer," Panggil Sowon.


"Ya?" Aku menyahut.


"Bu TaeYeon sudah tahu masalah hubungan kalian?" Tanya Sowon. Aku mengangguk. "Pak BaekHyun pasti menceritakannya," Jawabku.


"Terus, bu TaeYeon ga benci sama kamu kan?" Tanya Sowon lagi.


"Masalah itu aku ga gitu yakin juga, dari sikapnya sih, memang dia ga pernah suka kan sama aku dari kelas 10, ya jadi dia benci atau enggak ya ga gitu pengaruh juga sih, orang cuma guru BK." Ucapku santai.


"Ga takut berita kalian disebar di sekolah?" Tanya Sowon lagi. Aku tahu Sowon selalu khawatir padaku. Aku menggeleng.


"Aku yakin papa pak Baekhyun akan membereskan masalah itu," Jawabku santai. Sowon mengangguk.


"Om Byun adalah donatur sekolah, dia pasti akan melindungimu dan juga reputasi pak BaekHyun." Ucap Sowon.


"Itu sudah pasti." Jawabku.


"Eh Yer, udah malam nih, aku pulang dulu ya? Bahaya kalau pulang ke maleman banget." Ucapnya. Iya udah hampir jam 7.


"Hati-hati di jalan, lusa aku udah masuk sekolah kok," Ucapku.


"Besok aku kesini lagi, menjenguk sahabatku ini." Ucapnya.


"Dah," Aku melambai ke arah nya. Dia membalasnya.


"Cepat sembuh Yer." Dia keluar dari kamarku dan sekarang aku sendirian. Pak BaekHyun belum kembali dari sana.

__ADS_1


__ADS_2