
"Sowon, bantu saya hitung dan beritahu saya siapa yang tidak mengumpulkan PR nya," Ucap pak BaekHyun. Sowon maju untuk menghitungnya.
"Sudah semua pak." Ucapnya.
"Kalau begitu, saya akan bagikan kertas ulangannya. Kalian tidak bisa menyontek karena saya membedakan angka-angkanya dan soalnya juga sudah saya acak." Ucap pak BaekHyun sebelum membagikan soalnya.
"Kalian mengerti?"
"Ya pak." Jawab satu kelas kompak.
Pak BaekHyun mulai membagikan soal-soal ulangannya. Saat pak BaekHyun sampai di depan mejaku. Aku menatapnya sebentar. "Bapak yakin saya dapat soal yang itu?" Tanyaku.
Dia tidak membagikanku secara urut. Dia memberikanku kertas yang sudah ada namaku. Pantas saja dia bisa yakin jawabannya itu. Aku tersenyum melihatnya. Pak BaekHyun hanya memasang wajah datarnya. Dia lanjut membagikan soalnya.
Aku mengambil pen dan mulai mengerjakannya. Ya ulanganku kali ini akan jauh lebih baik. Aku sudah mengerti semua cara-cara cepatnya. Dan juga hitungannya aku dapat satu bonus soal.
No 1-5 aku masih hafal cara dan jawabannya. Punya ku sama persis seperti yang aku kerjakan kemarin. Aku menuliskan cara beserta jawabannya. Kecuali nomor 5. Aku tidak tahu caranya tapi aku tetap menulis yang menurut ku masuk akal caranya.
Aku membalik halamannya.
'SOAL BONUS'
Satu soal bernilai 10 poin! Jika kamu kosongkan, nilai akan di minus sebanyak 20 poin.
1. Apa kamu sudah sarapan?
2. Apa kamu menyesal menerima perjodohan kita?
3. Apa kamu masih marah dengan saya?
4. Apa kamu membenci bu TaeYeon sebesar itu?
5. Apa kamu sudah mengerjakan PR Fisika mu?
6. Siapa nama Kakak mu?
7. Bagaimana perasaan hari ini?
__ADS_1
8. Apa kamu benar-benar hanya menganggap saya hanya sebagai wali kelas dan guru kamu? Tidak lebih?
Aku menatap ke arah pak BaekHyun yang terlihat cuek di kelas. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan memberikan tes dadakan seperti ini. Apa-apaan dia? Ini bukan tes dadakan. Dia memaksaku mengisi semua ini? Aku tidak percaya dengan apa yang dia lakukan dengan tes ini. Sebenarnya aku juga ingin bertanya balik kepadanya beberapa hal, seperti dari mana dia tahu aku punya seorang kakak? Dia melihat ke arahku. Aku rasa dia merasa aku memerhatikannya.
"Ada apa Yerin?" Tanya pak BaekHyun dengan suara yang cukup lantang. Aku menundukkan kepalaku dan kembali melihat soal-soal ini.
"Tidak ada pak." Jawabku cepat. Aku mengambil penku dan mulai mengisinya.
Nomor satu, Apa kamu sudah sarapan? Ya saya sudah sarapan.
Nomor dua, Apa kamu menyesal menerima perjodohan kita? Ya dan tidak, ya karena saya harus merelakan masa depan saya demi perjodohan ini, dan tidak, saya yakin saya akan memiliki pengalaman untuk itu.
Nomor tiga, Apa kamu masih marah dengan saya? Saya tidak pernah marah dengan bapak, tidak kemarin, tidak sekarang.
Nomor empat, Apa kamu membenci bu TaeYeon sebesar itu? Sekarang tidak, saya tidak punya alasan untuk membenci bu TaeYeon, tapi mungkin ya jika kita sudah resmi menikah nanti.
Nomor lima, Apa kamu sudah mengerjakan PR Fisika-mu? Ya, dan terima kasih untuk bantuannya pak. Saya sangat terbantu.
Nomor enam, Siapa nama Kakakmu? Nama nya Farrel, dan dari mana bapak tahu saya punya kakak? Bapak harus menjawab ini memalui chat saya.
Nomor tujuh, Bagaimana perasaan hari ini? Lebih baik dari biasanya, saya cukup senang karena ini pertama kalinya saya bisa mengejakan ulangan tanpa menyontek dan juga karena bapak sudah membantu saya. Saya bangun lebih awal hari ini dan mengerjakan semua nya dengan baik tanpa terburu-buru. Itu semua berkat bapak semalam. Saya tahu bapak yang mengganti alarm ponsel saja. Tapi tidak masalah pak, saya akan merubah semua harinya menjadi jam 5.30.
Aku merapikan semua kertas ulanganku dan membaliknya agar yang lain tidak bisa melihat soal dan jawabanku. Aku menaruh kepalaku di atas meja. Waktu masih panjang tapi aku sudah selesai. Ini karena yang lain mendapat soal hitungan sedangkan aku mendapat soal yang tidak masuk akal ini.
"Yerin,"
Aku mendongakkan kepalaku ketika pak BaekHyun memanggilku.
"Kamu sudah selesai?" Tanyanya.
"Sudah pak," Jawabku.
"Bawa ke sini." Ucapnya. Aku bangun dan membawa kertas ulanganku ke depan. Satu kelas melihat ke arahku. Mungkin ini jadi fenomena yang sangat aneh. Murid dengan nilai paling rendah di kelas menyelesaikan ulangan dadakan paling pertama. Sowon saja menatapku dengan tatapan tidak percaya.
Aku memberikannya kepada pak BaekHyun. Dia tidak melihat jawabanku di lembar pertama dan langsung membaliknya. "Jangan pergi sebelum saya menyuruh kamu kembali duduk." Ucapnya. Baru saja aku berniat kembali ke tempat duduk ku.
Dia menatapku.
__ADS_1
Dia menulis sesuatu di kertasku. "Kerjakan lagi, jangan menjawab asal-asalan Yerin." Dia memberikan kembali kertasku. Aku tidak mengerti. Aku membawa kertasku kembali ke tempat dudukku. Semuanya kembali mengerjakan ulangannya masing-masing.
Aku melihat ada tulisan dengan pulpen merah.
'Tidak, saya akan menjawabnya di sini, kenapa kemarin malam kamu menangis? Saya mengetahuinya saat kamu menangis ketika sedang video call dengan kakak kamu, dan jangan mengerjakannya terlalu cepat, satu kelas akan curiga.'
Aku membalasnya. 'Saya menangis karena saya tidak tahu harus bagaimana lagi dengan perjodohan ini. Saya ingin menolaknya tapi tidak bisa, semua sia-sia. Saya ingin meminta bantuan kakak saya untuk membatalkan pernikahan kita pak.'
Aku menatap Sowon, Sowon menatapku. "Pak, apa boleh dikumpul jika sudah selesai?" Tanya Sowon.
"Boleh Sowon." Jawab pak BaekHyun. Sowon berdiri dan mengumpulkan kertas ulangannya. Aku yakin dia bisa mengerjakan semua soal itu dengan sangat mudah.
"Bagi yang sudah selesai boleh langsung mengumpulkan ulangannya dan mengejakan tugas lainnya." Ucap pak BaekHyun. Aku berjalan ke arahnya dan memberikan kertasku lagi.
"Saya nyerah pak, kalau memang masih salah ya sudah salahin saja pak." Ucap ku. Pak BaekHyun membaca tulisan di kertasku.
"Kalau begitu kamu ke kantor guru sepulang sekolah nanti." Ucap pak BaekHyun. Aku mengangguk, "Pak, saya izin ke toilet sebentar." Ucapku. Pak BaekHyun mengangguk sambil terus melihat jawaban ulangan murid lain.
"Pak, saya juga izin ke toilet sebentar pak, kebelet." Ucap Sowon.
Pak BaekHyun menatapnya. "Pengecualian untuk kamu Sowon, sana cepat." Ucap pak BaekHyun. Sowon berlari ke arahku dan menarikku ke toilet.
"Hei Yerin, kamu mendapat soal apaan?" Tanya Sowon.
"Memang nya kenapa?" Tanyaku.
"Jangan pikir aku bodoh Yer, itu matematika, bukan bahasa Indonesia yang jawabannya mengarang indah panjang bener kayak buat novel. Jawabannya kan cuma angka doank." Ucap Sowon.
"Jangan beritahu siapa pun ya? Pak BaekHyun memberiku pertanyaan dari pada soal." Bisikku.
"Maksudmu?" Sowon berbisik kembali ke padaku.
"Maksudku, dia bertanya mengenai apa aku menerima perjodohan ini, bagaimana dengan perasaanku, lalu dia bertanya apa aku membenci bu TaeYeon." Bisikku. Sowon mengerutkan dahinya.
"Yer, kayaknya kamu harus hati-hati deh, aku cuma takut aja pak BaekHyun beneran suka sama kamu terus kamu malah di celaka in sama Bu TaeYeon, kamu tahu sendiri kan dia dan keluarganya tuh kayak gimana." Bisik Sowon.
"Ya aku tahu Won, doain aja semuanya cepet selesai, aku cape." Ucapku. Sowon mengangguk. "Pasti, jika kamu mau menginap atau apa di tempatku silahkan saja."
__ADS_1
Aku mengangguk. "Kamu yang terbaik." Ucapku.
"Ayo kembali ke kelas, nanti calon suami kamu ngamuk lagi." Ledeknya. Aku mendorong nya pelan. Dia malah terkekeh. Beginilah persahabatanku dengan Sowon. Semua rahasiaku akan aman bersamanya. Dia satu-satunya tempat aku bercerita tentang masalah-masalahku.