
"Yerin, kamu mau gulali?" tanya BaekHyun.
"Boleh," Jawabku. Dia membeli satu untukku.
"Mau juga?" Aku menyodorkannya. Dia menggeleng. "Aku ga suka, terlalu manis."
Aku menyobek sedikiti dan memasukkannya ke dalam mulut BaekHyun. "Ih. Yer, jangan gitu ah."
"Ga mau. Ga mau, tapi di makan juga." Aku menggodanya.
"Kamu yang maksa," Belanya.
"Biarin aja, suka-suka aku lah," Ucapku sambil memakan gulaliku lagi.
"Baek,"
Aku melihat ke arah suara itu, begitu juga dengan BaekHyun.
"Eh pak ChanYeol," Sapaku.
"Kenapa kalian di sini?" Tanyanya.
Aku menyenggol kaki BaekHyun dengan kakiku. Tolong peka. Aku tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu sendiri ngapain ke sini?" Tanya BaekHyun.
"Jangan mengalihkan pembicaraan Baek, Kamu putus sama TaeYeon, ga pacaran sama Yerin kan?" Tanyanya dan menatap curiga ke arahku.
"Kenapa saya yang kena? Ih pak ChanYeol aneh-aneh aja," Ucapku kesal.
"Jahat banget Yeol, anak kecil di tuduh, kasihan murid kesayangan saya," Ucap BaekHyun. Aku menghela nafasku.
"Bapak jangan aneh-aneh ah, udah saya duluan," Ucapku. Aku pergi dari sana dan meninggalkan mereka berdua. Aku tidak tahu harus kemana, tapi aku pikir aku akan duduk dulu di tempat duduk kosong sambil menunggu BaekHyun menemukanku di sini.
*****
[ BaekHyun POV ]
"Baek, serius, kalian ada hubungan apa sih? Kamu udah pacaran sama TaeYeon 5 tahun kan? Kenapa tiba-tiba putus gitu aja? Aneh banget sih." Tanya ChanYeol.
"Yeol, aku ga bisa ngomong kalau kamu bakal menyebarkan berita ini." Ucapku.
"Kenapa? TaeYeon berkali-kali menghubungiku dan mengajakku minum, kenapa aku harus terseret ke masalah ini juga? Apa sebenarnya masalah kalian sampai kamu meninggalkan TaeYeon dengan begitu mudah?" Tanyanya.
"Kamu tahu kan papa Yerin itu siapa?" Tanyaku.
"Tahu, memang nya kenapa?" Tanyanya.
"Janji dulu, jangan menyebarkannya lagi," Ucapku. Dia mengangguk.
"Aku dan Yerin sudah menikah kemarin, aku di jodohkan dengan Yerin, kalau aku tetap bersama TaeYeon, Yerin tidak akan mau menikah denganku, dan kalau aku tidak menikah dengannya, papa bakal ngebunuh aku di tempat," Bisikku.
"Lah, itu Yerin pergi gitu aja napa ga dikejar? Kalau dia di culik gimana?" Tanya ChanYeol.
Eh iya. Yerin. Anak itu. Dia kabur ke mana? Aku pikir dia pergi tidak jauh dari sini. Aku melihat sekelilingku tapi aku tidak bisa menemukannya.
"Mending kamu cepetan cari dia, kalau ilang nanti ga ada yang bisa aku kerjain lagi di sekolah," Ucapnya. Aku mengerti maksudnya. Dia bukan khawatir kalau Yerin hilang, tapi dia lebih khawatir kalau aku di habisi papaku sendiri sehingga dia ga punya teman berantem di sekolah lagi.
"Lagian pake dateng segala sih," Ucapku kesal.
"Yaelah, tempat umum," Ucapnya.
"Telepon aja deh." Aku mengeluarkan ponsel u.
"Halo Yer, kamu di mana?" Tanyaku.
"Di mobil, tadi aku lihat ada TaeHyung, kamu bisa cepat kembali ke mobil aja? Kita bisa jalan-jalan lagi kapan-kapan." Ucapnya.
"Oke, aku ke sana," Balasku.
"Yeol, mau ikut nebeng pulang ga? Yerin udah di mobil duluan." Tawarku.
__ADS_1
"Boleh, lumayan gratisan, tadi ke sini naik bus," Ucapnya.
Aku menggelengkan kepala karena sikap nya itu. Dia punya mobil ga pernah di pake. Heran sendiri kadang. Aku mengajaknya ke mobil di parkiran. Yerin sudah berada di kursi pengemudi. Seharusnya aku tidak mengembalikan kunci mobilnya tadi.
"Yer, tuker tempat," Ucapku. Dia menatap ke arah ChanYeol.
"Ga," Jawabnya.
"Yerin, ayolah, kamu masih belum punya SIM kan." Ucapku lagi.
"Mau naik atau aku tinggal?" Tanyanya.
Aku langsung masuk ke dalam mobil.
"Ada yang nebeng tuh." Ucapku. Dia melihat ke ChanYeol. Si ChanYeol malah tersenyum seperti orang bodoh.
"Yerin, ikut ya," Ucapnya.
"Iya. iya, masuk aja." Suruhnya. ChanYeol masuk dan duduk di belakang.
[ BaekHyun POV END ]
*******
Drttt... Drtttt..
Aku mengangkat teleponnya.
"Ya?" Ucapku.
'Yerin, sahamnya naik lebih tinggi dari yang kita bayangkan'
"Serius?"
'Ya, dan sekarang masih terus naik.'
"Oke, terus kabari saya, dan kalau ada penurunan segera kirim laporan ke papa,"
"ya, Makasih."
Aku menutup teleponnya.
"Kenapa Yer?" Tanya BaekHyun. Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku.
"Ada yang lapar? Sepertinya makan di restoran enak nih." Tanyaku sambil tersenyum.
"Kamu kenapa sih? Ini gara-gara saham atau buku kamu?" tanyanya. Dia ternyata sudah mengerti.
"Sahamnya naik seperti yang di prediksi," Ucapku.
"Saham apa? Apa yang kalian bicarakan sih?" Tanya pak ChanYeol. Aku lupa ada pak ChanYeol di belakang.
"Pak ChanYeol mau makan apa? Saya yang traktir" Ucapku, aku harap ini mengalihkannya.
"Boleh Yer, makasih ba-."
"Yeol, dia cewek, masih SMA, ga malu apa?" Potong BaekHyun.
"Baek, udah lah, aku yakin kamu dah ngomong ke dia juga kan, ayo lah, eh iya, Baek, jemput Sowon dulu ga apa-apa ya, sekalian mau ngajak dia makan juga," Ucapku.
Dia mengangguk. "Ya sudah, biar si tiang itu ga jadi nyamuk." Ucap ya.
"Tiang?" Tanyaku.
Dia mengangguk lagi. "Tuh yang di belakang." Ucapnya lagi.
"Ngeledek terus, lanjutin terus." Aku tertawa melihat wajah kesal pak ChanYeol. Oke sekarang kita harus keluar dari sini, aku menginjak pedal gas dan keluar dari taman hiburan ini. "Pak ChanYeol kenapa ga cari pacar aja?" Tanyaku.
"Saya ga pacaran, tapi langsung nikah nanti." Jawabnya dengan sangat percaya diri.
Aku tersenyum sambil menggeleng. Ini sudah dekat apartemenku, Aku mengambil earphonenya dan memasang satu di telinganya.
__ADS_1
"Sowon, cepat turun, aku hampir sampai."
'Sudah sampai?'
"Ya, cepatlah,"
Aku melepas earphonenya.
"Ini apartemen Sowon?" Tanya ChanYeol.
"Bukan, ini apartemen Yerin, tapi di pinjemin ke Sowon, ekhm.. maksudnya di pinjem tapi bayar sewa." Dia mewakili ku menjawabnya. Baguslah jadi aku tidak perlu menjawabnya lagi. Tapi kenapa kayaknya nyindir banget dah?
Aku menatapnya tajam. Mulutnya menyebutkan kata maaf tanpa suara.
Kali ini aku masuk ke basement dan di sana Sowon sudah menunggunya di dekat lift. Sowon membuka pintunya.
"Yer-" Dia terdiam. Aku yakin dia kaget dan bingung.
"Sowon, masuk aja," Suruhku.
"Pak Baekhyun, tukeran donk, saya mau di depan sama Yerin." Ucap Sowon.
"Ga mau, kenapa kamu nyuruh saya, sana duduk di belakang." Jawab BaekHyun.
Aku menatapnya. "Baek, tukeran aja, ga usah ribet." Ucapku.
"Kenapa kamu juga jadi nyuruh-nyuruh?" Tanyanya kesal.
"Biar cepet Baek, aku laper, nanti aku emosian loh." Ucapku sambil tersenyum. BaekHyun keluar dengan kesal dan berpindah ke belakangku. Sowon duduk di sebelahku dan di belakang Sowon ada pak ChanYeol.
"Makan di mana kita?" Tanya Sowon.
"Mau di mana?" Tanyaku.
"Yer, mama kita bukannya baru kerja sama bareng restoran yang baru buka itu?" Tanya Sowon.
Aku baru ingat. "Iya ya, mau ke sana?" Tanyaku.
"Pak Baek tahu ga?" Tanya Sowon.
"Restoran yang di mana? Dekat kantor papa Yerin?" Tanya BaekHyun.
"Iya, yang itu," Jawab Sowon dengan cepat.
"Bukan mama kalian doank, mama saya juga tahu," Ucap BaekHyun. Aku terkekeh karena jawabnya.
"Adu kalian punya hubungan apaan sih? Saya ngerasa kayak terpojokkan di mobil ini." Ucap pak ChanYeol.
"Makanya, punya RE-LA-SI." Balas BaekHyun sambil menekankan kata RELASI.
"Ayo kita jalan." Ucapku. Aku menginjak pedal gas dan menjalankan mobilku. Aku cukup terkejut karena BaekHyun malah menyelipkan rambutku dan memainkannya di belakang.
"Yer, kamu abis dari mana?" Tanya Sowon.
"Taman hiburan, kenapa?" tanyaku.
"Enggak, maksudnya kok kamu bisa nemu pak ChanYeol gitu," Bisiknya.
"Aku juga ga tahu, eh Won, ambilin kartu flash sama debit donk di depan kamu." Ucapku. Dia membukanya.
"Buat apa?" Tanyanya.
"Parkir sama makanlah, memang makan ga bayar." jawabku kesal.
"Memang ada saldonya?" Tanya BaekHyun.
"Jangan terkejut melihat nominalnya." Jawabku dengan bangga. Aku melihat ke BaekHyun dan pak ChanYeol sekilas. Mereka manyun mendengarku mengatakan itu.
Akhirnya sampai juga di depan restorannya. Restoran ini memang aneh, bayar parkirnya saat masuk bukan keluar. Aku menempelkan kartu flashku agar palangnya terbuka.
Setelah terbuka baru aku masuk dan mencari tempat parkir.
__ADS_1