
Aku sudah bosan seharian di sini, tadi papa dan mama sempat mampir ke sini untuk membawakanku makanan dan handuk baru. Aku mengatakan pada mereka kalau handukku dipakai pak BaekHyun tadi. Jadi mereka membawakanku handuk yang baru. Tapi karena mereka ada rapat lagi, mereka harus pergi meninggalkan aku lagi.
Aku tidak tahu apa yang membuat pak BaekHyun dan Sowon membutuhkan waktu yang sangat lama. Ini sudah setengah jam setelah pulang sekolah. Seharusnya mereka sudah sampai sekarang. Memangnya buku dan laptopku sangat sulit dicari ya sampai lama begini.
Aku berbaring menatap ponselku. Kegiatanku dari pagi hanya menonton Youtube dan membaca novel online. Tapi itu semua membosankan hari ini, aku tidak bisa mengerjakan apa pun, dan aku tidak memiliki teman mengobrol. Bahkan tadi aku sempat mendownload aplikasi bot untuk chatingan. Tapi bukannya enak ada teman ngobrol, bot-nya malah bikin emosi, ditanya apa di jawab apa, ga ada nyambungnya. Bikin emosi jiwa dan fisik.
Cklekkk...
"Yer," Aku tersenyum melihat Sowon masuk ke ruanganku. Kali ini dia tidak berteriak seperti biasa. Dia itu anak pintar, pasti masih punya akhlaklah. Kemudian aku melihat pak BaekHyun masuk, di belakangnya ada bu TaeYeon. Kenapa jadi ada bu TaeYeon di sini?
Aku tersenyum menyapa mereka semua. Pak BaekHyun memberikan tas milikku yang dia bawa.
"Sudah kan," Tanyanya. Aku mengangguk. "Makasih pak." Ucapku. Aku membuka tasku.
"Ada pelajaran apa aja hari ini?" Tanyaku pada Sowon.
"Banyak, banget, ada quiz dadakan lagi tadi buat kimia, sama ada ambil nilai olahraga, terus musik minggu depan bakal ada ulangan berkelompok, kamu belum ada kelompok Yer." Ucap Sowon. Aku mengangguk saja. Itu sudah biasa kalau orang yang tidak masuk sekolah akan tertinggal banyak pelajaran.
"Mulai dari kimia, ada quiz apa?" Tanyaku.
"Menyetarakan reaksi," Jawabnya. Oke, aku tidak begitu buruk di sana.
"Olahraga?" tanyaku sambil membuka buku kimia untuk melihat-lihat.
"Ada di buku, Bab 4, Evaluasi, no 1 sampai habis." Jawab Sowon. Aku membuka buku olahraga. Dan ada 50 nomor, bagus banget.
"Musik apa ada kelompok yang masih kurang orang?" Tanyaku. Sowon menggeleng.
"Aku akan bilang ke pak ChanYeol nanti," Jawabku. Dia mengangguk. Sowon duduk di dekat kakiku dan mengeluarkan setumpuk kertas.
"Catatan hari ini." Ucap nya. Aku melotot tidak percaya.
"Catatan? Itu catatan pelajaran apa catatan sejarah perang dunia sih, banyak banget." Ucapku kesal.
"Apa kami akan terus di abaikan di sini?" Tanya bu Taeyeon. Aku bahkan lupa kalau mereka juga ada di sini.
"Bapak dan ibu kalau sudah mau pergi juga tidak masalah, saya bisa di temani Sowon di sini." Ucapku dengan sopan.
"Saya doakan saja kamu cepat sembuh Yer," Ucap bu TaeYeon. Aku yakin pak BaekHyun sudah menceritakan semuanya kepada bu TaeYeon.
"Makasih banyak bu," Ucapku dengan senyum palsu. Pak BaekHyun hanya duduk di ranjang tempat dia tidur semalam.
"Kamu masih ada urusan?" Tanya pak BaekHyun.
"Ya, Kamu mau mengantarku dulu?" tanya bu TaeYeon.
"Aku antar ke depan," Jawab pak BaekHyun. Aku dan Sowon hanya menonton drama percintaan kedua guru itu. Jadi nyamuk lagi. Mereka berdua menghilang di balik pintu, sekarang sisa aku dan Sowon berdua di kamarku.
"Sabar ya, lagian kok bisa sih orang tua kamu jodohin kamu sama pak BaekHyun yang sudah punya pacar sendiri? Kan harusnya bisa bilang donk kalau dia dan punya pasangan," Tanya Sowon.
"Orang tuanya juga ga suka sama bu TaeYeon itu, lagian, kok dia bisa nyasar sampe sini sih?" Tanyaku.
__ADS_1
"Katanya sih dulu dia kabur, makanya bisa sampe ke sini." Jawab Sowon.
Cklekkkk...
Aku dan Sowon melihat ke arah pintu. "Kenapa kalian lihat saya begitu?" Tanya pak BaekHyun. Aku menggeleng.
"Won, udah bantuin ini dulu," Aku menunjukkan satu reaksi kimia kepada Sowon.
"Setrain dulu, entar baru tentuin reaktannya sama produknya."
Aku mencobanya, Oke, ketemu ada di pilihan nya.
"Kalian biasa belajar juga gitu?" Tanya pak BaekHyun.
"Iya lah pak, memang gimana lagi?" Tanya Sowon. "Ngerti kan Yer? Tapi aku saranin sih kamu istirahat dulu aja, guru-guru juga pasti ngertilah, tapi, yang kamu makan kemarin beneran gurita?" Tanya Sowon. Aku mengangguk.
"TaeHyung bukannya tahu kamu alergi gurita?" tanya Sowon lagi. Aku mengangguk.
"Yer, aku mau tanya deh, kenapa kalian putus waktu itu?" Tanya Sowon. Aku menatap pak BaekHyun.
"Jangan bahas ini sekarang." Ucapku.
"Yer, jawab saja, kenapa? Ada pak BaekHyun di sini?" Tanya Sowon. Aku meremas bukuku sendiri.
"Aku yang meminta putus dengan dia, aku tidak ingin berpacaran dulu, aku pikir waktu itu pacaran itu enak, taunya ga ada enaknya, jadi aku putusin dia gitu aja, tapi kita putus nya baik-baik kok, makanya kita masih temenan sampe sekarang, dan mungkin aja kemarin dia ga tahu juga kalau itu gurita." Ucapku.
"Kamu ngebela dia?" Tanya Sowon.
"Kamu tahu ga sih, TaeHyung tuh cinta mati sama kamu, pas kamu putusin dia, dia gonta-ganti cewek sampe sekarang," Ucap Sowon.
"Terus apa hubungannya sama aku?" Tanyaku.
"Yer," Tegur Sowon.
"Sowon, cukup, aku ga mau bahas ini lagi lebih jauh, ayo kita selesaiin ini." Ucap ku. Sowon menarik buku ku.
"Apa kamu tidak bisa bilang ke orang tua kamu kalau kamu sudah punya pacar sendiri? Mungkin mereka akan berubah pikiran, jika kamu sampai menikah dengan pak BaekHyun, menurut kamu apa yang akan di lakukan TaeHyung?" tanya Sowon.
"Kenapa dia harus peduli tentang hal itu? Aku bukan pacarnya lagi, bukankah kalau begitu bagus aku memutuskan hubungan lebih awal?" tanyaku.
"Astaga Yer, ya sudah deh, terserah kamu saja, tapi yang perlu kamu waspada itu bukan sama bu TaeYeon, tapi sama TaeHyung, aku takut dia berniat jahat sama kamu." Ucap Sowon. Aku mengangguk saja. Aku tidak akan percaya jika TaeHyung bisa melakukan hal seperti itu.
Cklekkk....
Aku melihat mama pak BaekHyun masuk ke ruangan ini.
"Halo Yerin, eh ada Sowon," Sapa mama nya.
"Halo tante." Sapa Sowon.
"Mama kok kenal semua murid aku sih? Jangan-jangan semua murid satu sekolah itu anak teman mama?" Tanya pak BaekHyun kesal.
__ADS_1
"Eh, kamu tuh, udah diem aja, Sowon, gimana kabar mama? Baik? Bilangin mama, kita mau ada reuni nanti, suruh ikut, sama mamanya Yerin juga, nanti ada banyak teman-teman satu kuliah di sana." Ucap mama Byun.
"Ya ma, nanti aku sampaikan." Jawab Sowon. Pak BaekHyun terlihat cemberut di sana.
"Baek, kamu sudah mandi?" tanya mama.
"Udah lah ma, memang aku anak kecil, jangan gitu di depan mereka." Ucapnya datar. Sowon berusaha menahan tawanya.
"Tante, masa pak BaekHyun nyuruh-nyuruh di sekolah, dia tuh paling sering kasih ulangan dadakan, paling seneng bikin muridnya menderita," Ucap Sowon. Pak BaekHyun menatap tajam ke arah Sowon.
"Bener tuh ma, baru aja kemarin, masa dia udah kasih ulangan dadakan, malah soalnya ga jelas banget lagi." Lanjutku. Aku sengaja memanaskan suasana disana. Pak BaekHyun berbaring di sana sambil menutup semua tubuhnya dengan selimut.
"Baek, mama udah bilang berapa kali. JANGAN. KASIH. ULANGAN DADAKAN." Mama Byun terus memukuli pak BaekHyun. Aku dan Sowon hanya tertawa terbahak-bahak melihatnya.
"Awww... Ma.. Aduu.. Ampun maa.. Udah.. Udah.. Aduhh. Sakit ma.." Mama Byun terus saja memukul pantat pak Baekhyun seperti anak kecil.
"Ma, udah kasihan BaekHyun tuh." Ucapku. Mama nya berhenti dan tersenyum ke arahku. Pak BaekHyun sendiri. Aku ingin sekali tertawa melihatnya.
"Mama ah, aku udah bukan anak kecil lagi, mentang-mentang anak terakhir gini amat sih nasibnya." Gumam pak BaekHyun.
"Apa kalian? Seneng gitu liatnya," ucap pak Baekhyun sewot. Aku dan Sowon mengangguk puas.
"Ini, mama ada bawain makan siang buat kalian, untung mama bawa banyak, jadi Sowon juga bisa ikut makan." Ucap mama Byun.
"Eh tante, ga usah, aku udah dibawain makan kok sama mama." Tolak Sowon.
"Ga apa-apa, makan aja kalau laper, ini mama tinggal disini ya, kalian baik-baik jangan berantem mulu, mama ga suka, Sowon jagain dua anak itu, kalau BaekHyun nakal lapor aja ke tante." Ucap mama Byun.
"Siap tante." Jawab Sowon dengan semangat.
"Ma, satu juga cukup kali ma." Pak BaekHyun terdengar sangat kesal.
"Biarin, kamu tuh nakal banget dari kecil, biarin aja." Mama keluar dari ruangan ini tanpa banyak komentar lagi. Aku dan Sowon masih tertawa melihat pak BaekHyun.
"Udah jangan ada yang ketemu sama mama lagi dah, pusing saya, setiap ketemu, CCTV saya tambah, udah ga usah. Pensiun bentar lagi jadi guru, malu saya." Gumam pak BaekHyun.
Aku terkekeh.
"Ayo makan dulu, kalian dan makan?" Tanyaku.
"Belum, Kalian makan itu saja, aku masih ada makanan." Ucap Sowon. Aku membuka makanan yang di bawakan oleh mama Byun. Ada 4 kotak, nasi 2 kotak dan sisanya lauk.
"Pak Baek." Aku memanggilnya agar dia mengambil satu kotak.
"Bapak ga anterin bu Taeyeon?" tanyaku.
"Enggak, dia bilang ada janji sama teman-teman SMA nya, Untung saja dia udah pergi dulu, gimana kalau ketahuan mama saya." Ucapnya. Pak BaekHyun menarik kursi dan meja yang bisa digeser dan menaruhnya di antara aku dan Sowon. Sowon duduk berhadapan denganku dan pak BaekHyun di antara kami. Dia membuka kotak makannya dan langsung mengambil lauknya lebih dulu.
"Selamat makan." Ucap Sowon.
"Selamat makan. juga." Balas pak BaekHyun. Aku mengangguk dan mengambil lauk itu juga. Aku sudah tidak asing lagi dengan masakan mama Byun. Kami bertiga makan dengan tenang tanpa ada obrolan ataupun perdebatan apa pun. Ini lebih baik daripada aku dan pak BaekHyun terus saja berdebat masalah hal yang tidak penting.
__ADS_1