Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 30 - Berdua dengan BaekHyun


__ADS_3

Setelah selesai, suster itu langsung keluar tanpa bicara apa-apa lagi. "Bapak kenal dengan dia?" Tanyaku.


"Bukan apa-apa," Balas pak BaekHyun.


"Pak, Yerin akan menjadi istri bapak, bapak ga mau kasih tahu dia?" Tanya Sowon.


Pak BaekHyun menatapku dalam. "Itu Clarisa, Pacar pertama saya di SMA dulu, sebelum bu TaeYeon." Jawab pak BaekHyun. Aku menunduk. Seharusnya aku tidak bertanya.


"Lalu kenapa bapak bisa berakhir dengan bu TaeYeon?" Tanya Sowon.


"Dia pindah ke Amerika dan memutus hubungan dengan saya, lalu saya berpacaran dengan TaeYeon." Jawab pak BaekHyun. Aku semakin tidak ingin mendengar apapun lagi.


"Itu artinya bapak dan dia-."


"Won, cukup." Aku memotongnya. Dia diam.


"Kamu ga mau pulang? Nanti kamu di cariin loh." Ucapku. Sowon melihat ke arah ponselnya.


"Iya, aku lupa, kalau gitu aku pulang dulu deh, besok aku kesini lagi ya." Ucap Sowon. Aku mengangguk. Dia memelukku.


"Cepat sembuh Yer." Ucapnya.


"Ya, makasih Won, hati-hati di jalan ya." Balasku. Dia mengangguk.


"Pak, Saya duluan ya." Ucapnya. Pak BaekHyun hanya mengangguk. Sekarang aku kembali hanya berdua dengan pak BaekHyun.


"Bapak juga ga mau pulang? Perut saya sudah tidak sakit, bapak tidak perlu menunggu saya disini." Ucapku.


"Tidak masalah jika saya disini semalaman, Saya sudah membawa baju dan keperluan lainnya di mobil." Jawabnya. Kenapa dia mempersiapkannya, padalah aku tidak memintanya.


"Terserah bapak saja," Ucapku. Aku mengambil buku Kimia dan mengerjakan soal-soal disana. Sebenarnya aku bukannya mendapat jelek karena bodoh, hanya saja kadang aku malas mengerjakan ulangannya, jadi aku jawab asal.


Aku mengambil ponselku dan membuka video-video pembelajaran yang ada di internet. Setidaknya aku bisa lebih mengerti jika sedikit dijelaskan. "Jangan memaksakan dirimu untuk belajar dulu, kamu butuh istirahat yang banyak." Ucap Pak BaekHyun. Dia mengambil bukuku dan memasukkan semuanya ke dalam tasku.


"Jangan bersikap baik kalau bapak tidak ingin saya menumbuhkan perasaan itu." Ucapku dengan nada datar.


"Kamu ingin saya bersifat kejam gitu?" Tanya pak BaekHyun. Aku mengangguk. "Ya, seperti yang bapak lakukan di dalam kelas," Jawabku. Dia menggeleng.


"Tidak bisa," Balasnya.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Apa kamu menginginkan pernikahan ini?" Tanya pak BaekHyun.


"Awalnya tidak, tapi sekarang saya bisa menerimanya, dan ya saya bisa menerima bapak, saya menginginkan pernikahan ini, lalu apa yang harus saya lakukan? Membiarkan bapak terus berpacaran dengan bu TaeYeon sementara bapak sudah memiliki istri?" Tanyaku.


"Memang itu perjanjian kita di awal." Jawabnya.


"Gini pak, bapak milih perjodohan ini dengan saya, atau bapak milih tetap berpacaran dengan bu Taeyeon? Setiap jawaban bapak akan ada dampak di balik itu, baik atau buruk nya." Ucapku.


"Kenapa? Kamu mau mengancam saya lagi akan melaporkan ini ke orang tua saya?" Tanya pak BaekHyun.


"Tidak, mereka tetap tidak akan tahu, tapi ini mungkin akan berpengaruh dengan kedepannya," Ucapku. Pak BaekHyun mengacak-acak rambutnya sendiri dengan perasaan frustrasi.


"Gini maksud saya, kalau bapak pilih bu TaeYeon, bapak bisa pergi dari sana, tidak usah memikirkan perjodohan ini, saya akan bilang ke orang tua saya dan orang tua bapak kalau saya sudah memiliki pacar sendiri dan saya tetap tidak menginginkan pernikahan ini, tapi jika bapak memilih pernikahan ini, bapak harus merelakan bu TaeYeon. Pilihan ada di tangan bapak." Ucap ku.


"Yerin, pernikahan kita Sabtu ini, jangan mempersulit keadaan."

__ADS_1


"Bapak sendiri yang mempersulit ini semua, seharusnya bapak sudah mempersiapkan ini sejak lama, bukan seperti anak kecil yang tidak bisa memilih keputusan. Bapak sendiri sudah dewasa, lebih dewasa dari saya, seharusnya memilih itu tidak sesulit melakukannya, tapi jika bapak tidak memilih, saya yang akan melakukan ini sendiri." Ucapku.


"Apa sebenarnya mau kamu?" Tanya pak BaekHyun.


"Saya ingin pernikahan yang serius, bukan hanya sekedar permainan semata, tolong bapak jangan berpikir kalau anak SMA itu belum dewasa, tidak semua anak seperti itu, orang tua saya sudah mendidik saya seperti ini sejak kecil, saya bukan seperti bocah-bocah lain yang masih suka berkeliaran membuat masalah, menurut bapak kenapa mereka menjodohkan saya?"


Pak BaekHyun hanya diam. "Itu karena mereka berpikir saya tidak akan mencari pacar untuk kedepannya karena terlalu fokus dengan apa yang saya kerjakan sekarang." Lanjutku.


"Berikan saya waktu berpikir." Pinta pak BaekHyun. Aku mengangguk. "Waktu bapak 24 jam, lebih dari itu saya akan melakukannya." Ucapku. Dia mengangguk. Oke kita sepakat melakukan ini sekarang.


Aku mengambil ponselku saat mendengar sebuah notifikasi dari ponselku.


Drttt... Drttt...


"Ya?" Jawab ku.


'Selamat sore Non, saya baru saja memeriksa, ada satu perusahaan, dia sedang menjual sahamnya dengan harga rendah, kemungkinan besar sahamnya akan kembali naik dalam beberapa minggu.'


"Seberapa banyak?"


'Sekitar 10%,'


"Pastikan Saham itu akan naik dalam beberapa minggu baru beli saham itu 10%, jika ada perkembangan harap segera kabari."


'Baik non, semoga lekas sembuh.'


"Baiklah, terima kasih."


Aku mematikan sambungan telepon itu.


"Ya," Jawabku singkat sambil memeriksa ponselku.


"Tidak banyak anak sekolah yang mengerti tentang saham." Sambungnya.


"Sudah saya bilang saya tidak fokus di sekolah bukan berarti saya tidak bisa apa-apa." Jawabku. Aku sudah selesai melihat itu. Ini kesempatan yang bagus. Apa lagi jika saham nya berhasil naik.


"Sejak kapan kamu melakukan itu semua?" Tanyanya.


"Menurut bapak dari mana saya bisa membeli apartemen sendiri? Papa mengajari saya saat saya SMP, jadi sekarang saham saya sudah lumayan." Ucapku. Pak BaekHyun mengangguk.


"Saham nya turun saja harganya masih segini," Gumamku. Aku menyalakan laptopku dan mencari tahu tentang perusahaan yang baru saja menjual sahamnya itu. Pak BaekHyun duduk di atas ranjang itu dan melihatku sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya.


Aku cukup terkejut karena perusahaan itu milik keluarga bu TaeYeon. Aku tersenyum senang. Apa seharusnya aku membeli lebih dari itu? Ini akan menguntungkan buat ku. Aku terus membaca sambil tersenyum senang.


Aku menelepon papa.


"Halo pa."


'Halo Yerin, Kenapa?'


"Pa, aku mau beli saham di sebuah perusahaan, 10% nya, apa papa juga mau beli di sana? Saham nya akan naik dalam beberapa minggu ke depan." Ucapku.


'Bisa kirimkan ke email papa?'


"Sebentar, aku kirim email." Ucapku. Aku menjepit ponselku di antara telinga dan bahuku lalu membuka email. Aku mengirimkan data-data itu kepada papa.


"Sudah masuk pa?"

__ADS_1


'Sudah Yer, Dari mana kamu mendapatkan ini?'


"Orang suruhan ku pa, itu gimana?" tanyaku.


'Papa juga sudah mencari informasi tentang ini, tapi kalau bisa jangan terburu-buru membelinya, memang sahamnya akan naik dalam beberapa minggu, tapi dalam hitungan bulan, sahamnya bisa anjlok dengan sangat parah, kamu tahu kan itu milik siapa.'


"Tahu pa, aku pikir jika papa mengambil 10%, mama 10%, Aku 10% dan Kak Farrel 10%, mereka tidak akan bisa melakukan apa pun lagi kan."


'Itu belum sampai 50% Yerin, mereka masih memiliki saham 50% nya'


"Memangnya pemegang sahamnya hanya kita? Enggak kan, Menurutku ini rencana yang bagus, kalau papa masih ingin melanjutkan ini." Ucapku.


'Baiklah, akan papa pikirkan, jika kamu mau membelinya papa tidak akan melarang, bahkan jika kamu sudah memegang 10% dari sahamnya itu sudah akan sangat menekan keluarga mereka kan.'


"Itu dia tujuanku pa, ya sudah, papa pikirkan dulu saja, aku akan membeli saham itu nanti."


'Baiklah anak papa yang pintar, papa sayang kamu, cepat sembuh ya.'


"Iya pa, aku juga sayang papa,"


Aku menutup laptop ku. Pak BaekHyun menatap ku. "Bahkan pembicaraanmu dengan papa mu lebih berkualitas daripada saya." Ucap pak BaekHyun.


Aku memutar kedua bola mata ku dengan malas. "Saya itu berbeda dengan anak SMA lainnya, jangan samakan saja dengan yang lain." Ucapku sekali lagi. Aku berbaring diatas ranjangku. Aku sudah cukup lelah.


"Sepuluh persen harga saham nya akan naik hingga 7% dalam waktu 3 minggu, jika dalam 2 bulan akan turun drastis, kemungkinan turun terburuk nya... -5%,. Kemungkinan kerugian.."


"Kamu ga bisa matematika tapi hitung saham bisa, Aneh kamu Yerin." Potong pak BaekHyun.


"Ih bapak diem, jangan ganggu saya, nanti saya salah hitung lagi." Gumamku.


"Kayaknya kamu lebih cocok masuk ekonomi dari pada IPA." Ucap pak BaekHyun.


"Ah bapak, udahlah, malah ga dapat-dapat angkanya, Ya udah lah Yer, kamu udah beli juga," Gumamku pada diriku sendiri. Aku bangun dan melihat makanan di atas meja. Perutku lapar.


"Pak BaekHyun, bisa tolong ambilkan roti itu, saya lapar." Pintaku. Pak BaekHyun bangun dan memberikannya padaku.


"Makasih pak." Aku membukanya lalu memakannya.


"Yerin," panggil pak BaekHyun.


"Ya?" Jawabku.


"Kamu bisa ajarin saya tentang saham?" Tanyanya. Apa aku tidak salah dengar?


"Ya pak?" Tanyaku sekali lagi.


"Saya bilang, apa kamu bisa ajarin saya tenang saham? Papa tidak pernah mengajari saya tentang itu, dia bilang saya tidak akan mengerti, tapi jika kamu saja bisa mengerti kenapa saya tidak?" Ucapnya.


"Saya sendiri juga ga gitu ngerti banget, kenapa ga tanya sama guru ekonomi aja pak? Dia kan lebih ngerti." Ucapku.


"Kamu tahu guru ekonomi nya siapa?" Tanyanya. Aku menggeleng.


"Pak Xiumin tuh, saya bisa tidur kalau dengerin dia ngomong, ga tau apa kabar sama anak IPS dah tuh." Ucap pak BaekHyun. Aku terkekeh. "Memangnya bapak ga gitu? Saya juga pengen tidur terus di pelajaran bapak." Balasku. Dia menggelengkan kepalanya. Aku tertawa di susul dengan suara terkekeh pak BaekHyun.


Cklekkk....


Seseorang masuk ke kamar ini...

__ADS_1


__ADS_2