
Aku keluar dari mobilku. Aku sudah sampai di rumah. Pak BaekHyun memarkirkan mobilnya di belakang mobilku. Aku memasukkan kunci mobilku ke saku celanaku dan masuk ke dalam rumah.
Pak BaekHyun mengikutiku masuk ke dalam rumah.
"Yerin, berhenti bersikap seperti ini, kamu mengabaikan saya seharian, saya juga lelah terus mengejarmu seharian," Ucapnya.
"Saya tidak memintanya, bapak sendiri yang melakukannya." Jawabku.
"Saya bisa gila Yerin." Dia menjambak rambutnya sendiri. Aku hanya terus berjalan ke arah dapur. Aku butuh air, kerongkonganku terasa kering karena terus berdebat dengan pak BaekHyun sejak tadi. Pak BaekHyun tiba-tiba memelukku dari belakang.
"Apa yang harus saya lakukan agar kamu memaafkan saya?" Tanyanya. Aku menepis tangan nya.
"Bermimpilah dulu pak, saya tidak akan dengan mudahnya percaya dengan bapak," Jawabku.
"Kenapa sikapmu jadi gini?" Tanya pak BaekHyun.
"Maksud bapak? Saya lebih dingin, lebih dewasa, lebih mandiri?" Tanyaku.
"Bisa dikatakan begitu, kamu berubah hanya dalam semalam," Balasnya.
"Sudah saya bilang, saya tidak bisa segampang itu percaya lagi kepada bapak, TaeHyung saja tidak pernah melakukan hal seperti bapak, kalian sama-sama memiliki pacar, sayang nya TaeHyung tidak pernah membicarakannya di depan saya, atau membandingkan kami berdua, dia benar-benar menghargai perasaan saya, dan sedangkan bapak? Sudah berapa kali bapak membandingkan saya dengan bu TaeYeon, bu TaeYeon ada di hati bapak, tapi bapak di jodohkan dengan saya, bapak terpaksa dan berusaha agar saya nyaman dengan bapak, tapi itu tidak akan pernah berhasil selama bapak masih melakukan semua itu, saya tidak pernah membandingkan siapapun, ini yang pertama kali saya membandingkan seseorang, walaupun saya sebenar tidak mau." Ucapku. Aku menaruh gelas itu di atas meja dan duduk di meja makan.
"Kenapa kamu mengatakan itu semua kalau kamu tidak mau membandingkan saya dengan TaeHyung?" Tanyanya.
"Bagaimana rasanya? Apa enak dibandingkan dengan seseorang yang jelas berbeda dari diri kita sendiri? Itu lah yang saya rasakan. Bapak terus berusaha menyamakan saya dengan bu TaeYeon agar bisa menerima saya," Ucapku
"Kita tidak akan tahu jika kita belum mencobanya, dan saya sedang berusaha mencobanya." balasnya.
"Tidak akan berhasil, kalau begini lebih baik bapak bicara dengan orang tua kita untuk membatalkannya saja, saya pikir saya bisa menerima bapak jika bapak mau menerima saya apa adanya, ternyata tidak, bapak hanya menginginkan sosok bu TaeYeon di sini, bukan saya. Jika bapak tidak mau melakukannya, biar saya yang lakukan sendiri." Ucapku.
Pak BaekHyun menahan tanganku. "Jangan, jangan. Jangan, Tolong jangan lakukan itu."
__ADS_1
"Tapi saya tidak mau melakukan semua ini jika caranya seperti ini, di awal saja sudah berantakan, bapak mengharapkan apa untuk kedepannya?" Tanyaku.
"Yerin, ayo kita coba dulu, saya berusaha melupakan dia, tapi tidak semudah itu, tidak secepat itu untuk melakukannya, semua butuh waktu dan proses, saya ingin kamu tahu itu," Ucapnya.
"Baiklah, kesempatan kedua untuk bapak, dan ini adalah kesempatan terakhir, saya melakukannya bukan karena saya memang mau sama bapak, tapi karena alasan bapak masuk akal, saya juga belum memiliki perasaan lebih jauh dengan bapak, jadi kalau memang bapak tidak bisa, saya juga tidak akan jatuh terlalu dalam di dalam hubungan ini." Ucapku.
"Makasih Yer," Ucapnya. Dia berjalan mendekatiku. Aku menahan tubuhnya agar tidak semakin mendekatiku.
"Harus ada batasan di antara kita." Ucap ku. Dia mengangguk.
"Baiklah, untuk sekarang, kita akan buat jarak. Tidurlah, besok kita akan sibuk seharian," Ucapnya. Aku berjalan kembali ke arah kamarku.
...********...
...[ BaekHyun POV ]...
"JANGAN BERCANDA BAEKHYUN!! DI MANA YERIN?!" Bentak papa.
Aku bahkan tidak berani menatapnya, aku sama sekali tidak tahu di mana Yerin sejak dia keluar dari rumah tanpa mengatakan tujuannya. Aku sudah mencarinya di lingkungan sekolah, di rumah Sowon, di rumah orang tuanya dan di rumah orang tuaku. Aku belum melihat ke apartemennya. Tapi aku tidak akan bisa keluar dari rumahku secepat itu. Aku harus meyakinkan papa dulu baru aku bisa keluar dari sini.
"Harus, sana pergi, jangan kembali ke rumah ini sebelum kamu menemukan Yerin." Ucap papa.
"Ya pa," Aku melangkahkan kakiku keluar dari sana.
Aku harus mencarinya ke apartemen. Dia tidak mungkin pulang ke rumah. Aku melajukan mobilku ke apartemennya. Setelah sampai di basementnya, aku masih belum melihat mobil yang di bawa Yerin. Aku masuk ke apartemennya. Benar saja dia tidak ada disini.
Aku juga tidak tahu kapan dia akan pulang. Aku duduk di meja makan dan cukup terkejut ketika aku menemukan ada beberapa bir di kulkasnya. Dia tidak seharusnya meminum ini kan. Aku mengambil satu dan membukanya.
Ini juga bukan bir ringan, kenapa dia meminum bir? Memang nya dia punya masalah apa sampai-sampai dia mau mabuk. Aku meminumnya sedikit. Tapi aku baru ingat. Aku kan bawa mobil.
Dengan terpaksa aku membuang bir itu ke tempat cucian dan kaleng nya ke tempat sampah.
__ADS_1
Cklekkk...
Ah. Akhirnya dia pulang. Aku yakin dia tidak tahu seberapa banyak masalah yang aku hadapi karena dirinya kabur begitu saja dari rumah. Aku berjalan keluar dari ruang makannya. Ruang tamunya masih gelap karena aku belum menyalakan lampu tadi.
"Dari mana saja kamu?" Tanyaku.
Aku bisa melihatnya membawa sebuah map. Aku tidak tahu map apa lagi itu. Aku tidak tahan terus menerus berdebat dengan dia. Aku menyalakan lampu ruangan itu.
"Taeyeon sudah pulang, dan aku mencarimu kemana-mana, dari mana saja kamu?" Tanyaku sekali lagi.
"Pak, ayolah, saya juga butuh kehidupan saya sendiri," Jawabnya.
"Ya, tapi kamu juga jangan keluar begitu saja." Balasku.
"Baiklah, saya hanya ke Navel Comp tadi, hanya menandatangani kontrak sementara dan membahas kontrak jangka panjang untuk buku saya, tolong bapak jangan halangi saya untuk melakukan apa yang saya inginkan." Ucapnya.
Perdebatan kami masih terus berlangsung sampai dia masuk ke kamar nya dan keluar dari sana dengan cepat. Dia masih terlihat sangat marah. Aku hanya mengikutinya. Aku tidak tahu kemana tujuannya tapi dia berhenti di depan sebuah restoran. Sial. Aku tidak membawa dompet.
Aku tetap mengikuti dia masuk. Untung saja dia bilang akan membayarnya sendiri. Aku tidak memesan apa pun. Perutku tidak lapar.
Setelah selesai makan, aku mengajak nya pulang, dia masih tetap tidak mau pulang bersamaku. Aku tahu aku membaut kesalahan dengan membawa TaeYeon ke rumah, tapi apa dia harus sampai mengabaikanku seharian? Kenapa ini harus terjadi sehari sebelum hari pernikahan kami?
Aku pikir kita akan baik-baik saja karena dia sudah mau pulang ke rumah. Tapi dugaanku salah. Dia masih marah dan masih terus melanjutkan masalah ini. Dia bahkan menjabarkan seluruh kesalahanku selama 24 jam ini.
"Baiklah, kesempatan kedua untuk bapak, dan ini adalah kesempatan terakhir, saya melakukannya bukan karena saya memang mau sama bapak, tapi karena alasan bapak masuk akal, saya juga belum memiliki perasaan lebih jauh dengan bapak, jadi kalau memang bapak tidak bisa, saya juga tidak akan jatuh terlalu dalam di dalam hubungan ini." Ucap nya. Aku sangat senang mendengarnya. Setidaknya aku tidak akan langsung di habisi papa.
Dia masuk ke kamar ya, aku sebenarnya ingin memeluknya tapi dia tidak memperbolehkan itu. Dia ingin jarak, aku akan menghargai keputusannya. Tidak ada sentuhan. Baiklah.
Aku sendiri masuk ke kamarku dan membuka ponselku.
"Baek, menurutmu apa aku masih punya harapan?" - TaeYeon.
__ADS_1
Kenapa dia masih mengirim pesan kepada ku? Aku tidak membukanya, aku juga tidak membalasnya. Aku tidak ingin kesalahpahaman ini terus berlanjut. Aku harus melupakan TaeYeon dan belajar menerima Yerin sebagai istriku. Dia akan resmi menjadi istriku besok. Oke BaekHyun. Kamu bisa. Sekarang kamu juga harus tidur, ayo kita tidur. Besok akan menjadi hari yang melelahkan.
...[ BaekHyun POV END ]...