
Aku dan pak Baekhyun sudah di dalam mobil. Kami akan kembali ke rumah sekarang. Jujur saja, tubuhku sudah sangat lelah seharian acara.
Pak Baekhyun terlihat biasa saja. Aku tidak tahu apa dia tidak lelah? Kami duduk di belakang, bersebelahan. Orang tua kami tidak membiarkan kami mengemudi sendiri untuk hari ini, jadi aku dan pak BaekHyun akan di antar pulang oleh sopir papa Byun.
"Selamat tuan muda, nona muda atas pernikahannya." Ucap sopir itu.
"Terima kasih, kita bisa jalan sekarang." Suruh pak BaekHyun.
"Baik, tuan muda." Jawabnya. Dia berhenti menatap aku dan pak Baekhyun dari kaca mobil.
"Lelah?" Tanyanya.
Untuk apa dia bertanya kalau sudah tahu jawabannya. Aku memalingkan wajah darinya, tapi tangannya dengan cepat menarikku ke pelukannya.
"Tidurlah dulu," bisiknya. Kepalaku ada di sebelah pundaknya.
"Tidak perlu." Jawabku.
Aku bergeser dari pelukannya, tapi aku tidak tahu kalau dia akan menarikku lagi dan membaringkan kepalaku di pahanya.
"Tidur, jangan melawan saya, di sekolah saya guru kamu, di rumah saya suami kamu, kamu tidak bisa terus membantah ucapan saya Yerin, sekarang tidur, saya tahu kamu lelah, jangan sampai sakit." Ucapnya dengan tegas tapi juga
Aku yang tadinya menghadap ke atas berbalik hingga membelakangi pak BaekHyun, aku tidak mau menghadap ke arahnya. Aku akan menghadap sesuatu yang tidak ingin aku lihat nanti. Aku juga tidak sepolos itu.
Aku bisa merasakan pak BaekHyun terus bergerak entah sedang melakukan apa. Tiba-tiba pak BaekHyun memakaikan selimut untukku. Tangannya masih di dekat lenganku, di atas selimut. Dia sedikit meremas tanganku sambil mengelusnya.
"Kamu istri saya sekarang, saya akan berusaha mencintai kamu, jangan khawatir, semua akan berubah seiring berjalannya waktu," Bisiknya. Aku sangat senang mendengarnya, walaupun itu hanya sekedar ucapan dan belum ada bukti nyata. Tapi menurutku, setidaknya dia sudah memiliki rencana dan niat untuk melakukan itu.
"Baiklah, saya akan menunggunya." Balasku dengan berbisik juga.
"Sekarang tidur Byun Yerin." Ucapnya.
Aku tersenyum. "Byun?" Tanyaku.
"Saya yakin kamu tahu. Shttt... Sekarang tidur, harus berapa kali saya katakan lagi?" Bisiknya.
Aku berusaha mencari posisi yang enak dan menutup mataku. Pak BaekHyun menahan tubu ku dengan memegang tanganku, jadi jika tiba-tiba mobilnya mengerem mendadak aku tidak akan langsung terpental ke depan. Perlahan aku mulai nyaman dan aku rasa aku akan tidur sekarang.
...*****...
...[ BaekHyun POV ]...
Tadinya aku pikir dia bisa tidur di pundakku, tapi dia sepertinya tidak mau. Aku jadi teringat dengan TaeYeon, dia selalu suka tidur di pundakku, tapi dia lebih suka lagi tidur di pahaku, katanya lebih nyaman dan tidak keras. Tapi aku dengar dari Sehun, Irene juga sama, mungkin kebanyakan perempuan memang seperti itu, jadi aku mencobanya dengan Yerin.
Aku tidak tahu apa dia sudah benar-benar tertidur atau belum. Tapi aku tidak ingin mengganggunya, jika dia sedang berpura-pura tidur juga lama-lama dia akan tertidur dengan sendirinya.
Aku juga sebenarnya tahu, kalau sejak tadi sopir papa ini terus memerhatikanku dan Yerin. Aku tidak tahu maksud dari tatapannya.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Tidak tuan, Maaf jika tuan merasa terganggu." Jawabnya.
"Baiklah kalau memang tidak ada apa-apa fokus saja dengan jalanan." Balasku dengan suara tegas. Aku terbiasa mengatur bawahan papa sejak kecil, aku tahu papa memberikan ku semua ini agar aku mau meneruskan perusahaannya.
Ya aku memang berencana meneruskan perusahaan papa, karena kakak ku sudah punya perusahaan sendiri di luar negeri dan aku hanya seorang guru. Aku sendiri punya alasan kenapa aku ingin menjadi guru terlebih dahulu. Aku tidak ingin teman-teman kuliahku menganggap aku mendapatkan jabatan itu dengan sangat mudah. Hanya karena aku anaknya dan aku bebas melakukan apa pun dan tetap mendapatkan jabatan itu. Sedangkan mereka? Mereka harus melewati semua kesulitan itu. Jadi aku pikir aku bisa bekerja seperti ini dulu baru melanjutkan perusahaan papa nantinya.
Dan sebenarnya ada beberapa hal yang aku bohong kepada Yerin. Aku mengerti saham, aku juga mengerti bisnis, papa mengajariku sejak kecil, tapi aku sengaja berbohong kepadanya agar tidak tidak terus memaksaku untuk melanjutkan perusahaan papa. Aku akan mengatur waktunya sendiri.
"Tuan muda, kita sudah sampai." Ucapnya. Dia keluar dan membukakan pintu untuk u.
"Baiklah, terima kasih." Ucapku. Aku berusaha tidak membuat banyak guncangan saat menggendong Yerin. Aku tidak ingin membangunkannya.
Aku segera membawanya ke dalam kamarnya. Walaupun status kami sudah resmi sebagai suami istri, aku tidak ingin melakukan kesalahan konyol dan menghancurkan kehidupan Yerin untuk kedepannya. Lebih baik kita tidur di kamar yang terpisah.
Aku membaringkan dia dengan sangat hati-hati.
"Kenapa bapak tidak membangunkan saya?" Tanyanya.
__ADS_1
Aku pikir dia tidak akan terbangun, tetap saja dia bangun.
"Kamu kelelahan Yerin, kembalilah tidur," Ucapku.
"Saya lapar," Gumamnya.
"Kamu mau makan apa?" Tanyaku.
Dia bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk. "Bapak lapar?" Tanyanya.
"Tidak terlalu," Jawabku.
"Saya akan masak mie instan." Ucapnya. Aku berhasil menahannya sebelum dia berdiri.
"Biar saya yang masak, kamu cuci muka dan ganti baju tidur dulu, baru ke ruang makan," Ucapku. Dia mengangguk. Aku membantunya berdiri karena dia baru bangun.
"Bisa sendiri ya?" tanyaku. Dia mengangguk lagi.
Aku keluar untuk memasak mie instan, sebenarnya aku tidak ingat pernah membeli mie instan di rumah. Tapi coba saja cari dulu, siapa tahu mama atau papa ada yang beli. Atau mungkin Yerin yang beli.
Oke. Benar saja. Sama sekali tidak ada mie instan di rumah. Aku lagi lemari makanannya, ada bihun dan kwetiau. Mungkin dia tidak akan keberatan kalau aku masak kwetiau kuah untuknya saja.
"Pak,"
Itu suara Yerin.
"Ya Yerin?" Jawabku.
"Mienya sudah?" Tanyanya. Suara nya seperti dia sudah ada di ruang makan.
"Sebentar lagi." Jawab u.
"Tidak ada mie ya?" Tanyanya. Dia tiba-tiba sudah di sebelahku.
"Ya, saya tidak pernah membeli mie untuk di rumah," Jawabku. Dia mengangguk. Dan kwetiau kuahnya sudah jadi.
"Makasih pak," Ucapnya.
"Ya sama-sama, kamu makanlah dulu, saya mau ganti baju," Ucapku. Dia mengangguk.
Aku tersenyum sebentar ke arahnya lalu aku kembali ke kamarku. Hari yang melelahkan tapi mungkin ini bisa jadi awal yang baik? Yerin cukup menurut dan tidak menyusahkan hari ini.
Tubuhku ini sangat gerah dan ingin segera mandi, tapi tertunda karena harus membuatkan makan untuk Yerin. Karena urusan makanan Yerin sudah selesai, sekarang tinggal diriku saja yang belum mandi.
Aku mengambil baju tidurku dan segera mandi. Ini sudah malam aku tidak bisa mandi lama-lama.
Setelah mandi, aku keluar lagi untuk mengecek Yerin. Dia sedang mencuci mangkoknya.
"Biar saya saja." Ucapku.
"Tidak usah pak, sebentar lagi selesai." Jawabnya.
"Ya sudah, kamu segera tidur setelah ini, mengerti? Jangan bergadang lagi, nanti sakit." Ucapku.
"Iya pak, saya bukan anak kecil." Ucapnya dengan kesal.
Aku tertawa pelan mendengar kekesalannya. "Baiklah, selamat malam," Ucapku.
"Selamat malam juga pak," Balasnya.
Aku kembali ke kamarku. Hari yang melelahkan. Aku tidak tahu apa besok Yerin ingin jalan-jalan atau tidak.
Tinggg... Tongggg.. Tingg. Tonggg...
Astaga. Siapa lagi yang datang malam-malam begini?
Aku harus bangun lagi untuk membuka pintunya. Saat di luar kamar, aku melihat Yerin yang berlari ke arah pintu. Siapa yang datang sampai dia begitu bersemangat.
__ADS_1
"YERIN JANGAN LARI-LARI, KAMU BARU HABIS MAKAN!!." Teriakku.
"IYA PAK."
Dia menjawab iya tapi tetap saja berlari. Dasar bandel.
Aku berjalan ke arah pintu.
"SOWON!!!."
"YERIN!!!.."
Kenapa dia datang malam-malam begini?
"Kenapa kamu datang malam-malam?" Tanyaku.
"Yer, bantu aku," Ucapnya.
"Kamu kenapa sih Won?" Tanya Yerin.
"Kita ngomong di dalam aja," Ucapnya. Yerin mengangguk.
"Pak, boleh ya?" Tanya Yerin. Aku mengangguk.
Yerin membawanya ke ruang tamu. "Kamu kenapa Won?" tanya Yerin sekali lagi.
"Aku kabur dari rumah," jawabnya.
Aku dan Yerin kaget mendengar jawaban Sowon.
"Kamu? Kabur dari rumah? Kenapa?" Tanya Yerin.
"Aku juga di jodohin," Ucapnya. Aku tidak tahu kenapa orang tua sekarang senang banget menjodohkan anaknya.
"Sama?" tanya Yerin.
"Aku tidak tahu, mereka bilang nanti akan mempertemukanku dengan dia, tapi aku kabur duluan." Jawabnya.
"Kamu curang Won, setidaknya di kasih tahu dulu, lah aku di jebak ikut." Ucap Yerin kesal sambil melihat ke arahku. Kenapa aku? Kan aku juga jadi korban perjodohan di sini.
"Kenapa kamu kaburnya ke sini?" Tanyaku kesal.
"Kenapa? Apa aku mengganggu kalian? Kalian ingin membuat keponakanku ya?" Tanya Sowon kepada Yerin. Yerin langsung menampol pelan kepala Sowon.
"Ga ada ponakan, Ya udah, terus kamu mau gimana sekarang?" Tanya Yerin.
"Izinin aku nginep disini semalam, besok aku cari apartemen juga." Ucapnya.
"Tidak perlu, kamu pinjam saja apartemenku, aku juga tidak akan menggunakannya beberapa bulan ini." Ucap Yerin.
"Kalau gitu nanti aku bayar biaya sewanya aja ya, ga enak Yer tinggal disana gratis." Ucap Sowon.
"Siapa bilang gratis, orang kamu harus bantuin aku juga sebagai bayarannya,"
Aku masih memperhatikan mereka berbisik entah tentang apa.
"Setuju?" Tanya Yerin.
Sowon terlihat senang. "Setuju banget, makasih Yer," Sowon memeluk Yerin.
"Hahhh.. Sudah drama nya? Ini sudah malam, Sowon pilih saja satu kamar yang ada di sini, kecuali kamar saya, sudah dulu, saya mau tidur," Ucapku.
"Makasih pak Baekhyun, selamat malam." Ucap Sowon dengan sangat senang.
"Selamat malam juga kalian." Balasku.
...[ BaekHyun POV END ]...
__ADS_1