Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 18 - Pagi yang Baik


__ADS_3

Jam alarmku berbunyi cukup keras hingga berhasil membangunkan aku dari tidurku. Mataku tertuju ke arah jendelaku yang masih gelap. Biasanya saat aku bangun matahari juga sudah bersinar cukup terang. Aku melihat jam di ponselku. Jam 5. 30? Kenapa alarmku bunyi jam segini? Aku selalu memasang alarmku jam 6 pagi kok.


Ya sudahlah. Aku tidak pernah bisa tidur lagi jika sudah bangun. Aku mengambil seragamku dan membawanya masuk ke kamar mandi. Mungkin lain kali aku juga harus bangun lebih pagi. Rasanya aku tidak perlu terburu-buru dan masih memiliki banyak waktu untuk bersiap-siap. Aku keluar dari kamar mandi dengan seragam lengkapku.


Kenapa tasku ada di atas meja? Aku berniat menurunkannya tapi ada tulisan di sana.


'Kamu lupa mengerjakan PR fisika mu, sudah saya kerjakan, untuk kali ini saja, jangan lupa di salin ke buku tulis mu besok pagi sebelum sekolah atau saat jam istirahat kalau tidak mau di marahi bu Irene.'


Aku merutuki diriku sendiri. Bagaimana aku bisa lupa mengerjakannya? Lalu apa ini tulisan tangan pak BaekHyun? Tulisannya sangat bagus. Aku buru-buru membuka buku fisikaku. Aku melihat selembar kertas.


Pak BaekHyun yang mengerjakan ini? Sepertinya ini bukan kunci jawaban karena banyak coretan di sana. Semalam pak BaekHyun mengerjakan PR-ku? Ya Tuhan. Dia membuatku terlihat seperti orang yang jahat. Aku bahkan lupa memberinya minum setelah makan. Aku menyalin semua nya ke buku tulisku. Mungkin yang memasang alarmku lebih pagi juga pak BaekHyun.


Aku membuka ponselku. "Pagi pak BaekHyun, Terima Kasih sudah mengerjakan PR saya pak, Saya minta maaf untuk semalam." Aku menekan tombol enter.


Aku kembali menyalin PR fisikaku. Cara pak BaekHyun memang jauh lebih simpel dari pada di buku bahkan dia memberikan penjelasannya juga. Mungkin Pak BaekHyun memang pintar dalam hitung-hitungan dan hanya sengaja memperpanjang cara agar saat ujian tidak ada yang selesai terlalu cepat. Untung saja soalnya PG, jadi aku tidak perlu menulis semua caranya. Hanya yang penting saja.


Mengerjakan 50 soal dengan jawaban yang sudah ada tidak membutuhkan banyak waktu. Aku sudah selesai hanya dalam waktu 15 menit. Ini semua berkat pak BaekHyun. Aku beres-beres dan memasukkan semuanya di dalam tasku. Aku masih punya waktu setengah jam untuk sarapan.


Drttt... Drttt..


"Tunggu saya di apartemen kamu, kita berangkat bareng."


Aku membaca pesan itu. Aku dan pak BaekHyun berangkat bareng? Apa dia tidak takut ada yang melihat kami?


Aku mengambil roti dan membuat sandwich. Aku membuatnya lalu memakan satu dan menyimpan satu lagi di dalam kotak makan. Siapa tahu nanti aku bisa memakannya lagi di sekolah. Aku mengisi minumku di botol minum dan memasukkannya juga ke dalam tas.


"Saya di basement, cepat turun,"


Kenapa dia sangat bossy? Aku mengambil jaket, ponsel dan tasku lalu turun ke bawah. Di sana aku melihat mobil pak BaekHyun. Aku masuk melihat di sebelah pak BaekHyun ada bu TaeYeon. Apa aku harus pergi bersama mereka? Rasanya aku lebih baik berangkat sendiri dengan bus ke sekolah dari pada berangkat satu mobil dengan mereka.


Aku berjalan ke arah pintu pak BaekHyun. "Pagi pak, Pagi bu, Saya naik bus saja pak, terima kasih atas tawarannya." Ucapku. Aku baru berjalan beberapa langkah dia sudah keluar dari mobilnya.

__ADS_1


"Saya tidak memberikan tawaran, saya menyuruh kamu ikut, cepat masuk." Ucapnya. Aku menatap ke arah bu TaeYeon. Dia terlihat tidak ingin aku ikut dengan mereka.


"Saya tidak mau pak, tolong jangan memaksa saya, permisi." Aku berlari keluar dari basement ke halte bus yang biasa aku datangi. Aku melihat jam di ponselku. Seharusnya 2 menit lagi bus pertama akan sampai. Hari ini akan menjadi lebih baik. Aku tidak datang terlambat.


Dugaanku benar. Tidak lama kemudian busku datang. Aku naik ke dalamnya. Masih sepi. Ini mungkin bisa menjadi rekor terpagiku pergi sekolah. Aku duduk dengan tenang di dalam bus. Jarak nya dari halte bus ke sekolahku hanya satu kali pemberhentian. Jadi tidak sampai 5 menit juga sudah sampai. Aku turun dari bus dan masuk ke dalam kelas.


Aku bukan sekertaris lagi, jadi aku tidak perlu melakukan apapun lagi. Aku duduk di tempatku dan membuka kotak makanku lagi. Aku menunggu disini sambil memakan sandwichku. Kelas ku baru 4 orang yang sampai. 2 perempuan dan 2 laki-laki. Mereka semua sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Aku membuka ponselku, mencari kontak Sowon dan Taehyung. Setelah menemukannya aku menyuruh Sowon dan TaeHyung datang lebih pagi hari ini untuk menemaniku sekarang. Rasanya juga tidak enak sendirian di kelas seperti ini. Walaupun ada orang tapi aku tetap saja merasa sendirian.


"YERIN!!!."


Aku menatap ke arah pintu. Bukan aku saja yang kaget, tapi semua yang ada di dalam kelas juga terkejut. Sowon masuk dengan bar-bar. Di belakangnya ada TaeHyung yang sedang melihat pintu yang di tendang Sowon.


"Untung pintu nya ga apa-apa." Ucap TaeHyung sambil mengelus pintunya. Sowon menatap tajam ke arah TaeHyung.


"Tumben teman kita yang satu ini datang pagi, kesambet apa Yer?" Ledek TaeHyung.


"Ga tahu nih, hari ini lagi pengen aja datang pagi." Jawabku. Mereka berdua menggeleng.


"Sudah?" Tanya Sowon sekali lagi. Aku memutar kedua bola mataku. Jika dia tidak percaya dengan omonganku, aku rasa dia akan percaya dengan bukti tertulis. Aku memberikan buku ku pada Sowon. Dia ternganga melihat bukuku yang sudahku jawab semua soal dengan sangat rapi.


"Gimana? Kan sudah aku bilang, aku juga bisa rajin Sowon." Ucapku. Aku tersenyum bangga pada diriku sendiri. Padalah aslinya Pak BaekHyun yang mengerjakan semuanya. Hihihi... Gapapa lah. Sesekali doank, yang penting nyawa selamat.


"Tae, cek berita, malam ini bakal ada bencana alam apa ga? Gempa atau tsunami atau topan atau Hujan deras 7 hari 7 malam gitu?"


Aku tertawa dengan sikap Sowon. "Kenapa kalian itu kalau aku rajin sekali tuh kayak sesuatu yang mustahil banget ya." Ucapku. Memang kenyataan nya begitu. Seorang Yerin, Menjadi rajin. Itu adalah sesuatu yang mustahil. Kecuali ada faktor pemicunya.


Cklekkk...


"Selamat pagi anak-anak."


Aku menatap ke depan. Pak BaekHyun sudah masuk ke dalam kelas. Aku dan Sowon tidak perlu berlari ke sana-kemari lagi untuk pindah ke tempat duduk karena tempat duduk ku dan Sowon memang bersebelahan.

__ADS_1


"Sekarang silahkan kumpul PR matematika kalian dulu, baru kita akan memulai tes dadakan hari ini. Silahkan siapkan alat tulis kalian dan jangan ada contekkan dalam bentuk apa pun atau saya akan memberikan nilai 0 kepada kalian di rapot kelulusan." Ucap pak BaekHyun. Aku melotot ke arahnya. Kenapa semalam dia tidak bilang kalau hari ini akan ada tes dadakan?


Sowon menatap ke arahku. "Kamu tidak membocorkan ini padaku." Ucapnya.


"Aku sendiri tidak tahu, Dia tidak membicarakan apapun tentang ulangan, dia hanya bilang jawaban no 2 ku salah," Balas ku.


"Kamu ga tanya gitu? Ada apa lagi ga besok." Sowon terlihat sangat kesal sekaligus frustrasi.


"Tentu saja tidak, aku bukan tipe anak seperti itu," Jawabku.


"Yerin, Sowon, berhenti mengobrol dan kumpulkan PR kalian sekarang, atau kalian tidak boleh ikut tes hari ini. Jika kalian mengerjakan PR yang saya berikan kemarin, seharusnya kalian bisa mengerjakan ulangan ini." Ucap pak BaekHyun. Aku menatap nya tidak percaya.


"Kenapa Yer?" Tanya Sowon.


"Kemarin pak BaekHyun sudah menyuruhku untuk belajar bersamanya, dia bilang ingin membantu PR ku, tapi aku menolaknya dan memilih ke rumahmu." Jawab ku. Sowon meremas-remas sebuah kertas di depannya dan melemparkannya ke arahku.


"Dasar bodoh Yerin." Sowon bangun dengan kesal dan berjalan ke arah meja pak BaekHyun untuk menaruh bukunya. Aku pun melakukan yang sama. "Yerin," Bisik pak BaekHyun.


"Kamu mengerjakannya sendiri?" Tanya pak BaekHyun.


"Iya pak, lihat saja jawaban saya dan Sowon beda." Ucap ku. Pak BaekHyun mengangguk.


"Soal jebakan di nomor 5 jawabannya E." Bisik pak BaekHyun.


"Ya pak?" Tanyaku.


"Shtt.. jangan keras-keras, Soal jebakan no 5 jawabannya E, caramu di buku salah," Bisik pak BaekHyun pelan sambil membolak-balik bukuku seakan-akan dia sedang memeriksanya.


"Bagus, Sudah sana balik," Ucapnya dengan nada biasa. Aku tersenyum. Lumayan dapat jawaban 1 nomor. Aku sedikit berlari ke arah tempat dudukku.


"Jangan tersenyum begitu kalau cuma di puji." Ucap Sowon. Aku berusaha menghilangkan senyumanku tapi rasanya sangat sulit. Dia tidak tahu apa yang aku dapatkan barusan.

__ADS_1


__ADS_2