Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 85 - Pulang ke Korea


__ADS_3

[BaekHyun POV]


"Baek, Ayo cepatlah, kenapa kamu sangat lama." Panggil Yerin sambil terus menggedor pintu kamar mandi.


Aku tahu dia sangat bersemangat untuk segera kembali ke Korea, tapi apa dia benar-benar tidak bisa sabar? Aku sedang buang air tapi dia terus menggedor-gedor pintu kamar mandi nya. Aku benar-benar sedang sakit perut. Gimana ceritanya nanti kalau di jalan nanti aku malah buang air di celana. Kan ribet.


"SABAR YERIN, PERUT KU MASIH SAKIT." Balas ku sedikit berteriak dari dalam.


"Ih, tahan aja, kamu tahan aja nanti di Korea juga bisa lanjut." Ucap nya.


"PESAWAT KITA 14 JAM YERIN!!!" Bentak ku dari dalam. Yang benar saja dia, masa aku harus menahan sakit perut ku selama 14 jam. Masalahnya kalau aku buang air di pesawat, aku takutnya nanti ada yang mengantri sedangkan aku buang air kan cukup lama.


"Nanti kita ketinggalan pesawat Baek, aku mau pulang hari ini." Ucap nya.


"KALAU KETINGGALAN NANTI AKU PESAN TIKET LAGI, KALAU GA ADA AKU PESEN PESAWAT PRIBADI, UDAH TENANG AJA, KITA BAKAL PUL-."


PLUNGGG!!. PLUNG!! PLUNGG!!


"AH.. ENAK.. AKHIRNYA.."


"IH PARAH BANGET SIH SAMPAI KEDENGERAN GITU." Teriak Yerin dari luar. Dia menjauh sedikit dari pintu kamar mandi saat aku membuka pintu nya dan keluar dari sana.


Dia menutup hidung nya dan menjauh dari ku. "Jangan dekat-dekat, cari parfum dulu sana," Ucap nya.


"Makanya, gimana ceritanya aku buang air di pesawat, mau taro di mana muka aku abis itu?" Balasku. Dia menunjuk ke arah kamar.


Ya aku tau maksudnya. Aku masuk ke kamar dan memakai parfum dulu. Setelah itu aku keluar dari sana.


"Udah kan?" Tanya ku. Dia mengangguk sambil duduk di atas koper.


"Ayo berangkat sekarang." Ucap nya.


"Iya, kamu itu ga sabaran banget, aku kasian nanti sama pasien kamu, orang sakit perut aja di suruh tunggu, jangan-jangan ada orang kecelakaan, kamu lagi makan di suruh tunggu lagi." Ucap ku.


"Ga gitu lah, Nyawa orang nomor 1, perut nomor 2, nah kamu kan tadi itu urusan perut, jadi nomor 2," Ucap nya.


"Yang bener aja Yer, kalau ada orang usus buntu gimana? Itu kan perut." Ucap ku.


"Usus buntu? Ya operasi lah, itu kan nyawa bukan perut doank, kalau kamu nahan juga ga bakal mati Baek, Aku belum pernah baca ada orang yang mati karena nahan berak," Ucap ku.


"Bukan ga pernah baca, tapi memang ga ada orang yang mau nahan berak 14 jam." Ucap ku kesal.


"Sok tau," Gumam nya.


GUKK GUUKKK...


Hani sudah terus menggonggong ke padaku, Aku langsung menarik koper itu walaupun Yerin sedang duduk di atasnya sambil memeluk Hani. "Ih Baek, aduh, nanti aku jatuh." Ucap nya sambil berpegangan dengan tangan ku.


"Siapa suruh duduk di sana, turun jalan sebelah aku sini." Ucap ku.


Dia menggeleng. "Ga mau jalan, Yaudah gini aja, aku pegangan biar ga jato." Ucap nya.


"Terserah kamu aja Yerin. Udah gede masih aja kayak anak kecil." Gumam ku. Aku membawa koper itu masuk ke dalam lift. Yerin masih setia duduk di atas koper itu.


"Biarin aja, aku cape tau." Ucap nya.


"Iya. Iya, terserah kamu deh." Balas ku.


Aku kembali mendorong koper itu keluar dari lift ketika sudah sampai di lantai paling bawah.

__ADS_1


"Yey.. Lebih cepet Baek." Ucap nya.


Untung aja mereka semua ga ngerti apa yang Yerin omongin. "Diamlah Yerin, jangan malu-maluin, udah gede kamu itu." ucap ku.


Dia langsung menekuk bibirnya. Cemberut lagi dah. Salah mulu Baek. Serba salah memang.


Harus sabar.


Sabar.


"Yer, ayo masuk mobil," Ucap ku. Dia menggeleng.


"Kamu mau aku tinggal di sini? Ayo bangun, kopernya mau aku taruh di belakang." Ucap ku. Dia menggeleng lagi.


"Terus?" Tanya ku.


Dia membuka lebar tangannya. "Gendong."


Astaga.


Aku melihat sekeliling. Ini sedang ramai. Dia minta gendong?


"Yer, ramai, ayo jangan malu-maluin, turun masuk mobil, kita ke bandara." Ucap ku.


"Kamu malu sama aku?" Tanyanya. Mata nya mulai berair. Dia akan menangis sebentar lagi. Haduh Baek. Masa kerjaannya bikin Yerin nangis mulu sih. Entah yang salah siapa. Aku yang terlalu jahat atau dia yang terlalu cengeng belakangan ini.


Aku menggendong nya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Seketika aku dan Yerin menjadi pusat perhatian di sana.


"Cowok nya sangat tampan dan romantis, aku jadi iri,"


"Aku juga ingin memiliki pacar seperti itu, perempuan tadi sangat beruntung."


Itu lah yang aku dengar.


Aku membawa masuk koper dan menaruhnya di belakang. Ray yang mengemudi. Jadi aku bisa bersantai dengan Yerin di belakang.


Setelah selesai menaruh koper kami, aku duduk di sebelah Yerin.


"Ray, bandara." Perintah ku.


"Baik bos." Jawabnya.


"Ray? Itu namanya?" Tanya nya. Aku mengangguk.


"Kamu tidak tahu? Dia sudah mengantar mu bolak balik hampir setiap hari selama 6 tahun Yerin,"


"Nama mu Ray? Kenapa kalau aku bertanya kamu tidak pernah menjawabnya?"


"Maaf Miss, Perintah langsung dari bos." Jawabnya.


Dia menatap tajam ke arah ku. "Kamu membuat ku terlihat seperti manusia kejam Baek." Gumam nya.


Aku memeluknya. "Sudah lah, yang penting kamu sudah mengetahui namanya sekarang." Ucap ku.


"Akh." Ringis ku pelan ketika dia memukul dada ku.


"Ga sopan kamu sama suami sendiri, masa aku di pukulin mulu sih." Ucap ku.


"Biarin, kamu nyebelin sih." Jawabnya. Aku mengelus kepalanya. "Ya sudah, sini, maaf ya aku nyebelin, tapi sayang kan?" Tanya ku.

__ADS_1


"Ya sayang lah, orang kamu suami aku, gimana sih, kalau ga sayang udah di tinggalin dari dulu." Ucap nya.


"Senyum donk." Ucap ku.


Dia tersenyum. Hani tidur di atas pangkuan Yerin. "Apa kita berniat mencarikan pasangan untuk Hani?" Tanya ku.


"Pasangan? Memang nya dia mau?" tanyanya.


"Hei, Hani, apa kamu mau pacar?" Tanya nya. Aku tertawa pelan melihat interaksinya dengan anjing peliharaan yang aku belikan untuk nya.


GUKKK!! GUKKK!!!.


"Aku rasa dia tidak mau dicarikan jodoh." Jawab ku.


"Mungkin iya, Kamu lebih suka single ya Hani?" Tanyanya.


"Apa kamu hanya akan mengajak ngobrol dia? Ada aku di sini. Aku merasa di abaikan tau." Tegur ku.


"Apa kamu cemburu dengan Hani?" Tanya nya.


"Enggak, ya masa aku cemburu sama seekor anjing sih."


"Tapi kelihatannya begitu." Balasnya.


"Apa kamu ingin membuat ku marah lagi? Aku akan memukul pantat mu lagi seperti waktu itu," Ucap ku.


Pipi nya memerah. "Ga mau, sakit tahu, aku ga bisa duduk," Ucap nya.


"Makanya jangan bikin aku marah mulu, aku punya batas kesabaran, sekarang, aku mau kamu perhatiin aku dari pada Hani." Ucap ku.


Dia menaruh Hani di sebelahnya. "Baiklah, sekarang, hanya kamu, puas?" Tanyanya. Aku tersenyum.


"Sangat puas istri ku." Ucap ku. Aku memeluknya.


******


Aku dan Yerin sudah sampai di bandara, sebentar lagi aku dan dia harus masuk ke dalam pesawat. Hani sekarang berada di dalam tas ku. Dia minta aku gendong juga di dalam tas, tapi tasnya tidak aku tutup. Sangat enak menjadi Hani, bayangkan saja, di bawa ke salon seminggu 2 kali, di kasih makan makanan yang lebih mahal dari pada makanan ku dengan Yerin sehari-hari. Dan sekarang dia hanya perlu diam di dalam tas ku dan melihat sekeliling nya.


Setelah pemberitahuan pesawat kami sudah bisa di masuki, aku mengajak Yerin masuk ke dalam pesawat. Seperti biasa, kelas VIP. Ini penerbangan yang panjang. Akan sangat melelahkan kalau tempatnya tidak nyaman.


Yerin langsung duduk di sebelah ku. Sebenarnya ini keinginan Yerin untuk memesankan satu kursi VIP lagi untuk Hani. Awalnya aku tidak mau, tapi Yerin mogok makan karena aku tidak menyetujui nya. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku membuang uang ku membeli tempat duduk VIP, untuk seekor anjing.


Pesawat sudah mengudara sekarang. Yerin terlihat cukup lelah.


"Baek, Aku ngantuk." Gumam nya. Aku sudah menduganya.


"Tidurlah, perjalanan 14 jam, kamu bisa tidur dengan nyenyak dulu, aku akan membangunkan mu kalau sudah hampir sampai." Ucap ku.


Dia mengangguk. Aku menaikkan sandaran kaki nya agar dia bisa tidur dengan nyaman.


"Selamat tidur Yerin, Mimpi indah." Bisik ku. Dia mengangguk dan perlahan mulai masuk ke alam mimpinya.


Bagaimana dengan ku sendiri? Aku memesan makan pada pramugarinya. Aku lapar. Sejak siang aku belum makan apa-apa. Aku membeli 2 kotak makanan, tapi Yerin menghabiskan keduanya. Tadinya aku mau minta Yerin memasakkan sesuatu, tapi aku lihat dia sudah sangat sibuk membereskan semuanya, jadi aku tidak tega menambah pekerjaannya lagi. Sekarang saja dia sepertinya benar-benar sangat kelelahan. Aku bisa memaklumi nya kalau dia mau makan banyak tadi. Itu sebanding dengan tenaga yang dia keluarkan untuk beres-beres satu apartemen sendirian.


"Permisi Pak, ini makanannya." Ucap pramugari itu.


"Terima kasih." Ucap ku


Oke. Makanan ku sudah datang. Sekarang waktunya aku mengisi perut.

__ADS_1


[BaekHyun POV END]


__ADS_2