
Aku sudah sampai di sini. Ternyata BaekHyun juga sudah menyiapkan seorang sopir untuk mengantar ku. Dia benar-benar menyiapkan semua nya dengan baik. Termasuk apartemennya. Apartemennya cukup besar untuk di tinggali satu orang. Aku rasa aku harus berterima kasih kepada BaekHyun.
Berbicara tentang BaekHyun, aku belum mengabari nya kalau aku sudah sampai dengan selamat di sini. Di sini sekarang pukul 3 siang waktu di Amerika. Tapi, penerbangan ku 18 jam, aku berangkat jam 7 tadi, itu artinya sekarang sudah jam 1 tengah malam di Seoul. Aku tidak yakin apa dia masih terjaga jam segini.
Ya sudah, aku akan mengirim pesan saja padanya. Dia mungkin akan membacanya ketika besok dia bangun tidur. Aku yakin dia sangat lelah di sana. Ponselnya sedang tidak aktif. Ya sudah lah, aku merapikan barang-barang ku dulu. Aku harus mengeluarkan baju-baju ku dari koper dan memindahkannya ke lemari.
Aku menarik koper ku masuk ke dalam kamar tidur nya. Ini sama nyaman dan bagusnya seperti rumah ku dan BaekHyun, hanya saja lebih kecil karena ini hanya sebuah apartemen, berbeda dengan rumah.
Lemarinya mirip seperti lemari ku di kamar yang lama. Mungkin dia ingin aku merasa seperti di rumah walaupun aku sekarang jauh dari nya. Seharusnya sekarang waktunya aku tidur, untung saja aku sudah tidur di pesawat tadi, jadi aku tidak begitu merasa mengantuk sekarang.
Sebenarnya aku tidak begitu ingat kalau aku membawa barang-barang ini, seperti beberapa buku favorit ku, USB yang berisi cerita-cerita ku. Mungkin BaekHyun yang memasukkan nya.
Baru saja di tinggal 20 jam, aku sudah merasa sangat merindukan dia. Kenapa aku sangat bucin dengan nya, padalah kalau di pikir-pikir kan aneh juga. Bucin sama guru sendiri. Tapi kan dia sudah menjadi suami ku ya. Ya sudah lah. Biarin aja bucin sama suami sendiri. Ga dosa kok. Malah bagus kan?
Aku selesai memasukkan semuanya ke dalam lemari. Sekarang aku pikir waktunya mengecek dapur. Apa ada sesuatu? Perutku lumayan lapar.
Dapurnya masih kosong. Aku rasa aku akan membeli bahan makanan dulu di supermarket di lantai paling bawah. Semua yang BaekHyun siapkan benar-benar lengkap. Di lantai bawah ada supermarket dan ada cafe. Di dekat apartemen ku ada toko buku yang cukup lengkap. Dan Harvard benar-benar dekat dari sini. Mungkin aku bisa jalan kaki saja ke kampus untuk menghemat ongkos.
Aku mencari jaket ku dan turun ke bawa dengan dompet ku.
Aku hanya membeli bahan-bahan penting saja. Uang ku terbatas di sini. BaekHyun juga tidak ada di sini untuk membayarkan belanjaan ku. Dia memang memberikan uang belanja, tapi tidak banyak. Aku membeli mie instan, beberapa sayuran, telur, dan daging. Untuk beras, aku rasa mereka jarang memakan nasi di sini. Aku pikir sesekali mungkin aku ingin makan pasta.
Aku berjalan ke lorong pasta. Keberuntungan sedang berada di pihak ku. Aku berhasil menemukan pasta kesukaan ku di sini. Aku berjinjit untuk mengambil nya. Tangan ku hampir sampai. Tapi seseorang mengambilkannya untuk ku.
"Here." Ucapnya.
"Thanks," Jawab ku.
"No problem." Balas nya.
Aku pergi dari sana dan mengantri di kasir.
"92 dollars all." Ucap kasirnya.
Aku memberikan uang cash. Sekarang waktunya aku kembali ke atas untuk memasukkan semua ini.
*****
__ADS_1
Oke.
Akhirnya aku membereskan semuanya. Tapi untuk makan, sepertinya aku akan mencoba makanan di Cafe bawah dulu nanti. Hari ini aku tidak berniat masak sama sekali. Aku sudah cukup lelah, dan mungkin aku akan mencari kerja sampingan.
Aku tahu BaekHyun tidak memperbolehkannya, tapi dia tidak akan tahu kan. Kerja sampingan ku paling hanya kerja di kafe bawah atau kasir di supermarket di bawah. Siapa tahu mereka butuh karyawan.
Sekarang waktunya aku untuk istirahat sebentar. Sekarang sudah hampir jam 6. Jam 6 nanti aku akan pergi membeli makan di bawah.
Baru saja aku menutup mata ku. Ponsel ku sudah bergetar lagi. Aku melihat pesan masuk dari BaekHyun.
"Bagaimana keadaan mu di sana? Semua nya sudah beres? Aku akan mentransfer uang transport mu setiap minggu, jangan khawatir, dan uang makan, gunakan saja dulu kartu kredit yang aku berikan, aku akan membayarnya dari sini."
"Baek, bolehkah aku bekerja? Selama sebulan ini saja, saat mulai kuliah nanti aku akan berhenti kerja."
Drtttt.... Drttttt.. Drtttt...
Oh tidak. Tamat lah aku. BaekHyun menelepon ku. Dia mungkin akan marah karena aku mengungkit nya lagi.
Tapi kalau aku tidak mengangkatnya dia mungkin akan mengamuk.
"Halo?" Ucap ku.
"Aku tidak punya kegiatan Baek di sini, aku tidak bisa hanya diam di sini tanpa melakukan apa pun, aku bosan di sini Baek, dan juga aku belum memiliki teman karena aku belum mulai kuliah, maksud ku aku berniat untuk bekerja di cafe bawah Apartemen, itu tidak jauh sama sekali dan banyak juga karyawan perempuan di sana, siapa tahu aku bisa berteman dengan mereka sekaligus mencari pengalaman kerja, aku janji tidak akan kelelahan, aku juga akan menjaga kesehatan ku di sini, aku hanya perlu izin dari mu," Ucap ku panjang kali lebar.
"Alasan lain kamu harus bekerja?" Tanyanya. Aku berpikir sebentar.
"Bukankah sudah aku katakan semua?" Balas ku.
"Aku yakin kamu punya alasan lain kenapa kamu memaksa untuk bekerja, kita sudah sepakat tentang hal ini Yerin." Ucap nya dengan geram. Aku tahu dia marah karena aku mengungkit ini lagi.
"Aku butuh uang tambahan untuk diri ku sendiri di sini, kamu jauh di sana, aku harus bisa mengurus diri ku sendiri di sini, Kamu juga butuh uang di sana untuk bertahan hidup kan, aku juga, jadi aku meminta izin mu untuk bekerja paruh waktu." Ucap ku.
"Yerin, kamu butuh uang? Aku akan mengambil jabatan CEO itu, aku akan mengambil perusahaan papa kalau perlu jika yang kamu butuh kan hanya uang, Apa kamu tidak tahu seberapa banyak laki-laki berbahaya di sana yang siap menjadikan mu sebagai mangsanya? Di sana tidak seperti di Korea Yer, di sana perempuan yang tidak perawan sudah biasa, aku tidak ingin kamu menyesal jika terjadi sesuatu pada diri mu sendiri, dengar kan aku, tidak usah bekerja, katakan saja apa yang kamu mau dan aku akan mentransfer uang nya untuk mu."
Aku tidak berani berbicara apa-apa lagi. Aku selalu takut kalau dia marah.
"Sekarang apa kamu masih mau bekerja? Aku akan mengambil ahli perusahaan papa dan menjadi CEO di sana, jangan khawatirkan masalah uang, aku akan mengurus nya, Mengerti?" Tanyanya.
__ADS_1
"Ya, aku mengerti, maaf membuat mu marah karena mengungkit ini lagi, aku hanya tidak ingin terus merepotkan mu" Ucap ku pelan.
"Sudah lah, aku akan segera berangkat ke kantor papa, dia sudah menyuruhku datang ke kantornya untuk melihat-lihat perusahaan, mungkin besok aku akan mulai bekerja di sana dan ingat satu hal, kamu tidak merepotkan, itu sudah kewajiban ku untuk memenuhi semua kebutuhan mu, jadi jangan pernah berpikir kamu hanya membebani ku, itu tidak benar, buang pikiran itu jauh-jauh dari kepala mu," Ucap nya.
"Aku mengerti, tapi apa sekarang kamu sedang di rumah?" Tanya ku
"Ya, kenapa?" Tanya nya.
"Apa kita bisa video call sebentar? Aku ingin melihat Hani." Ucap ku.
Dia langsung mengganti mode telepon menjadi video call.
"Dia sedang makan dengan lahap." BaekHyun mengarahkan kameranya ke arah Hani yang sedang asyik makan.
BaekHyun sudah rapi dengan kemeja biru yang biasa dia gunakan untuk mengajar. Aku tidak tahu kenapa, BaekHyun selalu menggulung lengan baju nya sampai ke siku. Sepertinya itu sebuah kebiasaan.
"Hati-hati di jalan pak calon CEO," Ucap ku.
Dia tertawa pelan. "Dasar kamu Yerin, coba saja kamu di sini, sudah aku gigit kamu."
Bleee... "Aku jauh," Ucap ku meledeknya. Dia terlihat kesal.
"Ya sudah, apa kamu sudah makan malam? Di sana sedang malam hari kan?" Tanyanya. Aku mengangguk.
"Aku akan mencari makan di bawah, aku sudah mengisi persediaan makanan, tapi aku ingin mencoba makanan di bawah,": Ucap ku. Dia mengangguk.
"Gunakan kartu kredit mu, simpan uang cash mu untuk darurat saja." Ucap nya. Aku mengangguk lagi.
"Iya. Iya, Sudah sana, nanti kamu terlambat," Ucap ku. Dia mengangguk.
"Dah, selamat makan istri ku," Ucap nya.
"Hati-hati di jalan Baek, aku mencintai mu.," balasku.
"Aku juga mencintai mu Byun Yerin," Ucap nya.
Aku menutup video call itu. Sekarang setidaknya aku tahu BaekHyun masih baik-baik saja. Yang aku khawatirkan adalah dia bertengkar dengan Sowon ketika aku tidak ada di sana. Malah rumah Sowon dekat lagi dengan ku.
__ADS_1
Terkadang aku tidak tahu entah aku dan Sowon yang bersahabat terlalu dekat sehingga sama-sama jadi bodoh atau gimana. Aku sering mengatakan hati-hati di jalan kepada Sowon, begitu juga sebaliknya, padalah rumah kami berseberangan. Dia adalah tetangga ku. Itu lah yang aku takutkan BaekHyun dan Sowon akan sering bertengkar nantinya. Semoga saja Pak ChanYeol bisa melerai mereka.