
...[ BaekHyun POV ]...
Aku sangat marah kepada Yerin. Aku kecewa dengannya. Aku ingin membantunya dengan cara yang benar, tapi apa yang dia lakukan selama ini? Bisa-bisa nya dia mencuri soal-soal ujian itu.
Aku tidak habis pikir dengan apa yang dia pikirkan. Seharusnya dia belajar yang benar jika memang ingin dapat nilai bagus. Aku memarahinya tadi, aku memang tidak pernah memarahi muridku seperti itu, tidak sampai aku tahu kejadian ini bisa terjadi.
Tapi ada satu yang aku yakin untuk sekarang. Soal ujian itu sudah menyebar ke murid lain juga, jika Yerin yang tidak mengambilnya sendiri, artinya ada seseorang yang mengambil soal-soal itu. Aku berhenti di pinggir jalan sebentar.
"Selamat malam pak, ini saya pak BaekHyun, Saya ingin memastikan sesuatu, apa ada kebocoran soal di ruangan kepala Sekolah?"
'Tidak ada, sejak kemarin tidak ada murid yang diperbolehkan masuk ke ruang kepala sekolah, memang nya ada apa pak BaekHyun? Apa ada kebocoran soal ujian lagi?'
"Lagi?"
'Beberapa bulan belakangan ini, ada beberapa guru yang mengaku kalau soal-soal ulangan mereka bocor, hingga semua murid mendapatkan nilai bagus, tapi itu malah membuat saya khawatir, bagaimana mereka masuk kuliah nanti.'
"Baik pak kalau begitu, maaf mengganggu waktu bapak, selamat malam pak."
Aku mematikan panggilan itu. Lagi?
Aku mencari kontak Sowon. "Selamat malam Sowon."
'Pak BaekHyun? Ada apa pak?'
"Dari mana kamu mendapatkan soal itu?" Aku bertanya to the point saja.
'Maaf sebelumnya pak, tapi apa bapak bisa tolong jangan sebarkan saya yang memberitahu bapak? Saya takut mereka akan membenci saya pak.'
"Baiklah, dari mana kamu mendapatkan soal-soal itu?"
'Sebenarnya saya juga tidak yakin pasti pak, tapi saya baru kali ini menemukannya di laci meja bapak kemarin pulang sekolah, laci meja yang di kelas, ya sudah saya bawa pulang saja, kebetulan saya pikir Yerin menginginkannya jadi saya berikan,'
"Kamu tahu isinya mata pelajaran apa saja?"
'Tidak pak, saya tidak membutuhkan itu untuk lulus.'
"Bagus, apa kamu bisa mencari tahu dari mana atau siapa yang mendapatkannya?"
'Itu dari kelas sebelah pak, saya sudah mencari tahu nya lebih dulu sebelum bapak memintanya, bapak tahu kan beberapa anak yang bermasalah beberapa hari lalu, mereka dibawa ke ruang kepala sekolah,'
"Ya, ada apa dengan mereka?"
'Mereka yang mendapatkan soal-soal itu, dan soal nya bukan Yerin yang minta pak, dia tidak pernah memakai bocoran sejak dulu, ini yang pertama kali dan dia langsung ketahuan, sepertinya lebih baik saya tidak mengerjai nya seperti itu tadi, saya tidak tahu dia sedang bersama bapak, dan kalau boleh saya tahu, kenapa Yerin bersama bapak? Di jam segini pak?'
"Kamu minta penjelasan nya sama teman kamu bukan sama saya."
__ADS_1
'Bapak pelit info sekali, ya sudah pak, saya tutup ya, saya mau makan malam.'
"Ya, terima kasih Sowon."
Sepertinya aku berlebihan dengan Yerin tadi, aku meninggalkannya begitu saja dan tidak bertanya apapun kepadanya. Papa pasti bisa membunuhku jika Yerin sampai mati kelaparan di sana. Kita kan belum makan malam. Seharusnya aku membawanya ke rumah mama dan papa agar bisa makan malam bersama.
Aku tidak tahu apa dia mau makan nasi goreng atau tidak, tapi aku akan membeli 2 bungkus.
"Pak, nasi goreng nya 2, tolong satu pedas satu tidak usah." Pesanku. Aku menunggu saat nasi goreng nya sedang di buat. Aku kembali membuka ponselku. Aku pikir murid sekarang pasti bermain Instagram. Aku mencari akun Yerin, siapa tahu ada.
Dan benar saja ada, Aku membuka akun miliknya dan melihat foto-fotonya. Sepertinya dia dekat dengan Taehyung, ada cukup banyak foto mereka berdua di sini.
"Mas, ini nasi gorengnya."
Penjual itu memberikan satu kantong kepadaku. "Ini pak uang nya, terima kasih."
Aku kembali ke dalam mobil. Walaupun dia salah, aku mungkin akan tetap minta maaf karena terlalu membentaknya tadi. Aku harap dia tidak sampai menangis. Setelah aku sampai kembali di apartemennya. Aku baru sadar. Aku tidak tahu kode apartemennya.
"Yerin, buka pintu nya."
Aku berusaha mengetuk nya tapi dia tetap tidak membukakannya. Aku sempat berpikir, apa lebih baik aku menelpon mama nya dan bertanya? Tapi nanti dia akan mengira aku dan dia bertengkar hebat. Tapi memang itu yang terjadi.
Drttt... Drttt..
'Halo BaekHyun? Kamu di mana? Kami semua sudah menunggu mu, kata Yerin dia sedang di apartemennya, kenapa kamu tidak membawanya ke sini? Mana Yerin nya, mama mau ngomong sama dia juga.'
"Ma, aku terkunci di luar, bisa mama tolong tangan kan kode apartemen Yerin?"
'Sebentar,'
'Kode nya, 1908, jangan bertengkar, jangan buat Yerin nangis atau mama juga akan membuat mu nangis,'
"Ma, aku bukan anak kecil lagi, sudah ya ma, aku dan Yerin akan makan malam di apartemen Yerin,"
'Ya sudah kalau begitu.'
Aku langsung memencet pin kamar Yerin setelah mama mematikan sambungan teleponnya. Yerin masih di tempat yang sama. Dia meringkuk di atas sofa. Mata ku tertuju ke map coklat yang belum dia sentuh itu.
"Keluarlah, saya tidak ingin bapak ada di sini." Ucapnya. Mata nya terlihat sembab, sudah pasti dia menangis.
"Ayo kita makan malam dulu," ajakku. Dia bangun dari sofa itu dan mengambil map itu. Aku masih melihat ke mana dia membawanya. Yerin berjalan lalu membuang map itu ke tempat sampah. "Jika bapak berpikir saya selalu melakukan ini, bapak salah, saya cuma ingin memberitahu bapak itu, jika sudah selesai bapak bisa pergi." Dia melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya. Kali ini aku harus mencegahnya.
"Yerin, makan dulu baru kamu masuk ke kamar." Ucapku. Dia menggeleng.
"Tidak lapar," Jawabnya singkat.
__ADS_1
"Yerin, maaf saya terlalu membentak kamu tadi, jangan marah, ayo kita makan dulu, jika orang tua kita tahu ini saya pasti tidak akan ada di sini lagi, ya? Kita makan dulu sebentar baru saya pergi."
Dia berbalik dan melangkahkan kaki nya ke meja makan.
Drttt... Drttt.. Drttt....
Dia mengangkat teleponnya. "Halo ma." "Ya aku baik-baik saja," "Tidak, kami hanya sedikit berbeda pendapat." Dia menatapku. Suara nya serak seperti habis menangis. Aku tidak mengerti kenapa dia masih melindungiku. Berbeda pendapat? Itu bahasa yang sangat halus untuk menggantikan kata membentak. "Tidak ma, BaekHyun bersama ku sekarang." Dia memanggil ku dengan nama langsung? "Ya ma, baik, besok Yer akan ke rumah mama." Dia menatap ku lagi.
Dia melangkahkan kakinya ke arah dapur dan keluar dengan dua piring bersih. Dia kembali lagi ke dapur setelah menaruh piring itu di atas meja makan. Yerin keluar lagi dengan 2 gelas air.
"Saya tidak ingin membuang waktu lagi." Ucap nya. Dia meminta nasi goreng yang ada di tanganku. Aku memberikannya. Dia memindahkannya ke piring dan memberikannya kepadaku. Aku duduk di hadapannya. Jujur saja ini adalah Yerin yang sangat berbeda dengan Yerin yang di sekolah. Aku merasa sikapnya lebih dewasa di sini daripada di sekolah.
Yerin makan tanpa berbicara. "Makasih," Ucapku.
"Untuk?" Dia bertanya.
"Melindungi saya tadi," Jawabku. Dia mengangguk dan melanjutkan makannya. Yerin makan jauh lebih cepat dariku. Dia sudah habis sedangkan aku masih setengah piring. Dia berdiri dan mencuci piringnya. "Jika sudah selesai taruh saja di sink, saya akan mencuci nya nanti." Ucapnya. Dia berjalan keluar dari ruang makan. Aku pikir dia masih sedih.
Aku menyelesaikan makan ku dengan cepat. Apartemen Yerin selalu rapi. Bahkan cucian piring saja tidak di tumpuk. Aku mencuci piringku sendiri karena aku merasa tidak enak jika Yerin juga harus mencuci piringku. Dia belum sah menjadi istriku sekarang.
Selesai dengan urusan makanku, aku ingin berpamitan dengan Yerin.
Tokk.. Tokk..
"Yer." Aku terkejut karena dia tidak mengunci pintunya. Aku melihatnya sedang duduk di meja belajarnya.
"Em. Yer, saya."
"Bapak bisa pulang sekarang." Ucapnya. Dia tidak melihat ke arahku sama sekali.
"Boleh saya masuk?" Tanyaku. Dia menatapku. Aku masuk ke dalam karena dia tidak melarangnya. Aku mendekati nya dan melihat apa yang sedang dia lakukan. Yerin langsung menutup laptop nya ketika aku ingin melihatnya. Aku sempat melihatnya, itu formulir.
"Itu formulir?" Tanyaku.
"Kita hanya menikah untuk sementara kan?" Tanyanya. Aku mengangguk. "Bagus."
"Pak, apa bapak bisa pulang sekarang? Saya ingin istirahat." Ucapnya. Pandanganku terus mengarah ke buku-buku yang ada di meja belajar Yerin. Itu bukan buku pelajaran.
"Kamu ingin menjadi seorang Dokter?" Tanyaku. Aku mengambil salah satu bukunya. Dia bangun dari kursi nya dan pindah ke ranjangnya. "Terserah bapak ingin menertawakan saya atau apa," balasnya. Dia berbaring di ranjang nya dan menarik selimutnya.
"Tidak, saya yakin kamu bisa melakukannya." Jawabku. Sebagai seorang guru aku memang harus mendorongnya seperti itu, aku cukup terkejut karena dia sudah membaca buku-buku itu. Aku pikir dia tidak suka belajar, tapi sepertinya dia hanya akan belajar hal yang dia sukai.
"Kalau begitu selamat malam, besok saya akan menjemput kamu lagi untuk fitting baju." Ucapku. Dia mengangguk. Aku mematikan lampu kamarnya dan menyalakan lampu tidurnya. Ini memang sudah malam. Aku juga harus pulang.
Setelah aku di dalam mobil, aku mengeluarkan ponselku dari kantong celanaku. Astaga. Apa-apaan TaeYeon, 20 panggilan masuk?
__ADS_1
Aku membaca pesan-pesan TaeYeon. "Maaf aku sedang sibuk hari ini, kita ketemu besok sore di rumahmu." Aku membalas pesannya. Sekarang aku harus pulang. Kepalaku sudah sakit hari ini berurusan dengan Yerin sepanjang hari.
...[ BaekHyun POV END ]...