
...[ BaekHyun POV ]...
Aku tidak tahu kalau TaeYeon akan datang menghampiriku hari ini. Tapi setidaknya seharusnya dia bisa lebih sopan di depan Yerin dan Sowon. Bagaimana pun dia itu adalah guru. Di gugu dan di tiru, bukan memberikan contoh tidak sopan seperti tadi.
Aku mengikutinya dari belakang. Dia membawaku ke taman rumah sakit ini di mana tidak banyak orang yang keluar di jam segini. Udaranya juga cukup dingin. Aku melihat jam, sudah pukul 7.20. Pukul 8 aku harus memberikan jawabanku kepada Yerin. Aku tidak bisa membiarkan dia memilih sendiri.
"Ada apa?" tanyaku. TaeYeon tidak bicara. Dia hanya berdiri di hadapanku tanpa membuka mulutnya sama sekali.
"Kenapa kamu ke sini malam-mal,"
PLAKKK!!!
"Dasar cowok tidak tahu diri," Ucapnya. Dia menangis saat itu juga. Aku tidak mengerti. Apa dia melihat sesuatu? Atau mengetahui sesuatu?
"Kamu tidak memberiku kabar seharian, aku khawatir, dan kamu malah seharian bersenang-senang dengan Yerin?" Ucapnya.
"Dia sakit Yeon, aku harus merawatnya," Jawab ku.
"Kenapa? Apa kamu mulai jatuh cinta dengan dia? Dan mulai melupakan aku? Disini itu aku pacar kamu Baek, bukan dia, dia itu cuma orang ketiga di hubungan kita yang bakal merusak rencana kita. Kenapa kamu membiarkan dia masuk ke tengah-tengah hubungan kita gitu aja? Kita sudah menjalin hubungan ini selama 5 tahun, bahkan sebelum kamu mengenal dia. Jangan rusak kepercayaanku BaekHyun."
Aku memeluknya. Aku tahu aku ini laki-laki egois. Aku ingin memiliki kedua perempuan ini sekaligus, tapi aku sadar kalau keduanya, Yerin dan Taeyeon tidak mau di dua kan. Mereka berdua sebenarnya memaksa ku untuk memilih salah satu di antara mereka.
Tapi rasanya itu sangat sulit, Mereka berdua memiliki kelebihan yang aku butuhkan. Yerin bisa menjadi segalanya untukku, tetapi hatiku masih belum mencintai Yerin, aku hanya merasa nyaman di dekatnya, saat bersamanya. Tapi TaeYeon, dia memiliki hatiku, tapi banyak yang dia tidak bisa lakukan tapi Yerin bisa melakukannya.
Aku tahu tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tapi jika aku disuruh memilih salah satu, rasanya sangat sulit. Ini bukan keputusan jangka pendek, ini menyangkut masa depanku untuk seterusnya.
"Lalu kamu mau aku gimana?" tanyaku.
TaeYeon melepaskan pelukanku. "PIlih aku atau dia? Jawab sekarang." Ucapnya.
"Kamu kenapa Tae? Ayolah.."
"Jawab sekarang Byun BaekHyun, pilih aku atau Jung Yerin?" Tanyanya sekali lagi. Dia bahkan tidak memberikan aku berpikir. Yerin masih memberikan aku waktu berpikir 24 jam, tapi tidak dengan TaeYeon. Dia selalu memintaku melakukan semuanya dengan terburu-buru. Dia tidak pernah memberikan aku waktu berpikir.
"Kenapa? Apa kamu tidak percaya kalau aku akan menceraikannya?" Tanyaku.
Dia menatapku dengan penuh rasa kebencian. Batinku tertawa. Dia sudah membenciku ternyata. tatapannya berbeda dari biasanya.
"Ya, aku tidak percaya dengan ucapanmu itu." Jawab TaeYeon.
"Menurutmu kenapa aku akan memilih Yerin? Kamu menyadarinya kalau Yerin jauh lebih baik dari dirimu?" Tanyaku. Aku tahu ini cukup untuk menamparnya.
__ADS_1
"Jadi kamu memilih Yerin?" Tanya TaeYeon.
Aku menarik nafas sebentar.
"Ya, aku akan lebih memilih Yerin yang lebih bersifat dewasa daripada kamu TaeYeon, lagi pula aku juga tidak bisa menolak perjodohan ini lagi," Jawabku. Dia tertawa meremehkan aku.
"Kalau begitu sekarang kamu mau apa?" Tanyanya menantangku.
Sulit untuk mengatakan ini, tapi aku benar-benar harus berpikir rasional. TaeYeon sudah bukan orang yang dulu lagi, mungkin dulu aku di butakan oleh cinta, tapi sejak ada Yerin, aku bisa melihat semuanya, TaeYeon tidak sebaik yang aku pikirkan. Dia membenciku, entah apa yang membuatnya terus berpikir aku akan bertahan dengannya.
"Aku mau kita putus sekarang juga." Ucapku dengan tegas.
TaeYeon tersenyum. "Aku sudah menduganya sejak awal, kamu pasti akan memutuskan aku dan memilih Yerin, itu sudah pasti, tapi aku akan memastikan satu hal, kamu akan kembali lagi kepadaku suatu saat nanti BaekHyun, ingat perkataanku baik-baik, kamu tidak akan bisa jauh dariku, kamu akan mengemis memintaku kembali ke kehidupanmu, ada yang Yerin tidak bisa berikan, tapi aku bisa," Ucapnya. Dia pergi meninggalkanku di sana. Sendirian. Aku tidak percaya aku benar-benar memutuskan TaeYeon.
Aku berjalan kembali ke kamar Yerin, Waktu ku sudah habis, aku terlambat 2 menit. Aku membuka kamarnya. Dia masih mengetik di laptopnya itu. Aku duduk di belakangnya dan memeluknya dari belakang.
"Saya memutuskan TaeYeon," Bisikku. Dia berhenti mengetik. Tatapannya menjadi kosong. Aku tidak tahu apa ini pilihan yang tepat atau tidak. Tapi kata hatiku mengatakan aku harus melakukan ini semua.
Yerin melepaskan tangan ku dari tubuhnya. "Kenapa?" Tanyanya.
"Dia meminta saya memilih antara kamu dan dia, dia membenci saya, TaeYeon bukanlah dirinya nya yang dulu lagi, jadi saya memilih kamu," Jawabku. Dia menutup laptop dan menaruhnya sembarangan. Tangannya menarik tanganku agar aku berada di hadapannya.
"Kenapa? Apa kamu tidak senang saya lebih memilih kamu? Ada alasannya saya memilih memutuskan hubungan dengan dia, kamu tidak tahu seberapa sering kami bertengkar hebat, kamu tidak akan tahu seberapa sulitnya mempertahankan hubungan dengan orang yang kamu cintai, walaupun dengan sikapnya yang seperti itu, jika saya memilih dia, saya juga tidak tahu akan bagaimana kedepannya, mungkin saya akan terus bertengkar dengannya setiap hari, tapi tidak dengan kamu, saya lebih nyaman bersama kamu, ada banyak hal yang tidak pernah saya alami dengan TaeYeon walaupun kami berpacaran selama 5 tahun, dan aku menemukan itu saat denganmu walaupun baru beberapa hari, saya bahagia sama kamu Yerin, apa itu salah?" Tanyaku.
Yerin menarikku ke pelukannya. "Saya tidak tahu itu yang bapak rasakan selama ini dengan bu TaeYeon, saya pikir kalian bahagia, kalian terlihat seperti pasangan yang sempurna tanpa masalah sedikit pun, saya tidak tahu bapak merasa seperti itu dan bahkan nyaman hanya karena perlakuan-perlakuan sederhana yang saya berikan," Ucapnya.
"Itu memang benar, saya nyaman dan bahagia sama kamu walaupun kita hanya bercanda, dan dengan sedikit perdebatan, itu akan lebih baik," Ucapku.
"Bapak telah 2 menit tadi, bapak tahu kan?" Ucapnya.
"Ya saya sadar, saya minta maaf untuk itu," Ucapku. Dia menatapku.
"Yang terlambat harus di hukum pak." Bisiknya. Aku tersenyum melihat nya tersenyum nakal. Aku tidak pernah melihat senyuman itu.
"Saya ini wali kelas kamu Yerin, kamu tidak bisa menghukum saya." Ucapku dengan bangga.
"Bapak yakin?" tanyanya sambil membuka ponselku. Aku mengecek kantongku sendiri. Bagaimana ponselku ada sama Yerin?
"Hei, Kembalikan ponsel saya." Aku berusaha mengambilnya, tapi Yerin tetap tidak memberikannya.
"Tunggu dulu pak, sebentar, saya mau mengecek sesuatu." Ucapnya. Dia mengutak-atik ponselku. Astaga anak ini.
__ADS_1
"Pak BaekHyun. Diam di sana." Ucapnya dengan tegas. Dan kenapa aku menurut? Di mana harga dirimu BaekHyun.
Dia membuka ponselku dan mengecek riwayat internetku. "Untuk apa Yer?" tanyaku.
"Saya ingin melihat, apa bapak pernah menonton film dewasa atau video dewasa," Ucapnya dengan santai sambil terus mengescroll layar Hp-ku.
"Tidak ada di sana Yerin, memang nya kenapa? Kamu tidak boleh menontonnya, umurmu belum cukup." Ucapku. Dia mengembalikan ponselku. Tapi dia tersenyum ke arahku.
"Pinjam laptop bapak kalau gitu." Ucapnya.
"Tidak, kerjaan saya disana semua, ga ada." Ucapku.
"Ayolah pak, sekali saja," Ucap nya. Aku tidak akan memberikannya, jika dia iseng, bisa saja dia menghapus semua soal ujian matematikanya. Aku bisa mati berdiri jika harus membuat ulang semua soal itu.
"Ga ada, sudah sana, kamu ini nakal banget sih," Ucapku. Aku memukul pantatnya sekali. Dia tertawa saat melihatku kesal. Aku juga tertawa. Sebenarnya aku senang mendengar suara tawa Yerin. Suara tawanya membuatku juga merasa senang. Ini yang aku maksud, aku nyaman bersamanya jika seperti ini
"Jadi sekarang, apa kita bisa resmi bertunangan?" Tanyaku.
"Kita memang sudah bertunangan sejak 4 hari yang lalu pak," Jawabnya. Sekarang posisi Yerin berbaring di sana dan aku duduk di sebelah kaki ya.
"Sudah malam, kamu harus tidur," Ucapku. Dia menggeleng.
"Saya mau selesaiin satu bab lagi," Dia duduk dan mengambil laptopnya. Aku menarik laptopnya sebelum dia menyalakannya.
"Bisa di selesaikan besok Yerin, sekarang tidur," Ucapku tegas. Dia cemberut tapi dia tetap berbaring dan menatapku.
Aku mengelus rambutnya. "Saya masih tidak menyangka kamu bisa jadi calon istri saya," Ucapku.
"Saya juga, tapi apa bapak sudah tahu perjodohan ini waktu bapak panggil saya ke kantor guru dan suruh saya kerjain remedial dadakan itu?" Tanyanya. Aku mengangguk.
"Sebenarnya itu alasan saya marah denganmu secara tiba-tiba, saya saat itu masih tidak bisa meninggalkan TaeYeon tapi saya di jodohkan denganmu, Awalnya saya pikir saya bisa meluapkannya ke dirimu, ternyata itu tidak membantu sama sekali." Ucapku.
"Saya takut saat waktu itu bapak menyobek kertas ulangan saya di depan saya seperit itu, saat itu saya tidak tahu kenapa bapak segitu marahnya dengan saya, saya pikir bapak benar-benar membenci saya," Ucapnya.
"Saya tidak membenci kamu, seorang guru tidak bisa membenci muridnya sendiri, saya minta maaf kalau waktu itu saya keterlaluan sama kamu." Ucapku, aku menyesal melakukan itu.
"Saya sudah memaafkan bapak, saya tahu saya juga salah," Ucapnya.
"Sekarang tidur, kamu butuh istirahat." Ucapku. Dia mengangguk. Aku menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya. Aku harap aku bisa cepat mencintainya. Aku sudah nyaman dengan dia, dia sudah berusaha menerimaku aku tahu dia sudah mencintaiku, setidaknya aku bisa membalasnya dengan memberinya perasaan yang sama.
...[ BaekHyun POV END ]...
__ADS_1