Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 15 - Kena Marah


__ADS_3

...[ BaekHyun POV ]...


"Ma, Pa?" Aku masuk ke rumah dan semuanya terlihat lebih sepi dari biasanya.


"BaekHyun, masuk ke ruang kerja papa."


Aku tidak tahu dari mana papa muncul tapi tiba-tiba saja sudah ada di belakangku.


"Ya pa," Aku berjalan ke ruang kerjanya. Biasanya jika aku di suruh ke ruang kerjanya pasti dia ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting.


Biasanya.


Aku masuk ke ruang kerja papa, di sana sudah ada mama juga.


"Duduk Baek." Ucap mama. Aku duduk di sofa di hadapan papa.


"Kamu dari mana?" Tanya papa.


"Rapat pa." Jawabku.


"Rapat di mana?" Tanya papa lagi. Kenapa aku merasa seperti maling yang baru saja tertangkap warga.


"Langsung saja pa, ada apa sebenarnya?" Tanyaku.


"Kamu menemui perempuan itu lagi kan?" Tanya papa.


"Tidak, kan sudah Baek bilang, Baek pergi rapat."


PLAKKKK!!!


"Jawab yang jujur, papa tidak pernah mengajari anak papa untuk berbohong." Aku terkejut ketika papa bangun dan langsung menamparku. Pipiku terasa panas sekarang.


"Apa maksud papa?" Tanyaku.


"Jawab yang benar, kamu dari mana? Menemui perempuan itu lagi?" Tanya papa.

__ADS_1


"Rapat pa."


PLAKKK!!!


"Shh." Aku meringis pelan. Papa menamparku lagi di tempat yang sama. Rasanya lebih sakit daripada yang pertama.


"Pa, sudah pa, tenang dulu. Sabar." Mama berusaha menenangkan papa. Sekarang aku yakin, pasti papa sudah melihat mobilku di depan rumah TaeYeon tadi.


"Ma, anak kita ini bakal bikin kita malu, gimana kalau keluarga Jung sampai tahu," Ucap papa.


"Ya pa, mama ngerti, tapi kan kita bisa ngomong pelan-pelan, jangan main fisik dulu pa."


"Jadi gimana? Keputusan di tangan kamu BaekHyun, kamu bisa saja terus mengencani perempuan itu, tapi sampai kamu dan Yerin tidak jadi menikah, jangan harap kamu bisa kembali ke sini lagi." Ucap papa.


"Kenapa kalian begitu menginginkan aku menikah dengan Yerin? Aku tidak mencintainya, Aku mencintai TaeYeon, memangnya apa yang TaeYeon lakukan hingga kalian begitu membencinya?"


Papa menatap tajam ke arahku. "Itu karena keluarganya, kamu tidak tahu apa-apa kan tentang keluarganya," Papa seperti menantangku.


"Bukankah orang tuanya juga terjun ke bidang yang sama seperti kalian?" Aku sangat yakin dengan itu, tapi melihat ekspresi kedua orang tuaku, aku menjadi tidak yakin, apa mereka lebih tahu dariku? "Itu ah dia katakan." Kataku pelan.


"Terserah kamu saja Baek, papa tidak mau tahu kamu gimana sama perempuan itu, tapi kalau sampai Yerin batal menikah dengan kamu dan orang tuanya memutus hubungan dengan papa, jangan harap kamu papa anggap sebagai bagian dari keluarga ini lagi, dan jangan berharap kamu bisa menikmati semua fasilitas keluarga ini lagi, papa sudah memperingatimu sejak awal."


Papa menatap tajam ke arahku. "Kakak kamu itu jauh lebih sukses dari kamu, dia bisa membangun perusahaannya sendiri di luar negeri, dia bisa sukses disana, sedangkan kamu? Papa sudah bilang berkali-kali, lanjutkan saja perusahaan papa dan kamu bisa hidup sendiri, tapi sifat kamu saja masih seperti anak kecil," Entah berapa lama lagi papa melihatku sebagai anak kecil. Tujuanku tidak mengambilnya agar papa bisa melihat aku juga bisa mandiri seperti kak Jae, Tapi papa semakin membenciku setiap harinya.


"Apa papa sudah selesai?" Tanyaku.


"Kenapa? kamu ingin menemui perempuan itu lagi?" Tanya papa dengan nada sinis.


"Bagi papa hanya perusahaan dan harga diri papa yang penting, perasaanku, pendapatku semua tidak penting bagi papa, sudah cukup sabar aku tinggal bersama kali selama ini, papa tidak pernah membiarkan aku memilih sekolahku sendiri, papa juga tidak membiarkan aku memilih kampusku sendiri, bahkan sekarang, papa tidak membiarkan aku memilih calon istriku sendiri, lalu papa akan terus mengekang aku seperti ini? Atau jangan-jangan papa juga akan memilihkan anak untukku nanti?" Tanyaku.


"BaekHyun, cukup, keluarlah dulu, biarkan papamu tenang dulu." Aku keluar begitu mama menyuruhnya. Aku hanya mau mendengarkan perkataan mama. Hanya mama yang ada di pihakku.


Aku keluar dan berjalan ke mobilku. Aku melihat ke kaca spion mobilku, sudut bibirku berdarah. Aku tidak tahu itu sampai aku melihatnya. Mungkin karena aku terlalu emosi hingga aku tidak tahu kalau bibirku sobek. Aku pikir aku akan kembali ke rumah TaeYeon untuk menginap. Urusanku dengan papa sudah selesai.


Saat di lampu merah, aku tidak sengaja melihat Yerin bersama TaeHyung disana. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan, tapi Yerin terlihat sangat senang bersama TaeHyung. Mungkin memang perjodohan ini tidak seharusnya di lakukan. Aku rasa kami berdua memiliki pasangan masing-masing yang bisa membuat kami bahagia. Aku yakin Yerin tidak bahagia dengan perjodohan ini. Begitu juga dengan diriku.

__ADS_1


Sekeras apa pun aku menolak, dan sekeras apa pun Yerin menolak, orang tua kami pasti tidak akan mendengarkannya. Aku selalu berharap diriku adalah kak JaeHyun, papa dan mama selalu membelanya, dia bebas melakukan apa saja tanpa terkekang. Sedangkan aku, mereka sangat protektif kepadaku karena aku anak terakhir. Mereka terus saja melihatku sebagai anak kecil padahal sekarang umurku sudah 25 tahun sebentar lagi 26 tahun. Itu bukan anak-anak atau remaja lagi.


Aku sudah bisa membuat keputusan untuk diriku sendiri. Tapi tidak ada yang mau menerima keputusanku. Lampu merah sudah berganti menjadi hijau. Aku menancapkan gas nya melewati Yerin dan TaeHyung di sana. Aku tanpa sengaja melihat mereka berpelukan. Sedekat itukah mereka?


TaeHyung pergi lebih dulu dan Yerin disana sendirian. Apa aku jahat jika aku langsung pergi dan berpura-pura tidak melihatnya? Akal sehatku dan hatiku keduanya kali ini selaras. Aku membuka kaca mobil u.


"Yerin, Masuk lah, Saya akan antar kamu pulang." Ucapku. Dia mengangguk dan langsung masuk ke mobilku. Dia duduk di sebelahku dan memakai sabuk pengamannya.


Dia menatapku. "Bapak berantem?" Tanyanya.


"Menurut kamu saya seberandal itu?" Tanyaku.


"Lalu siapa yang memukul bapak?" Tanyanya. Tatapan mata nya terlihat khawatir. Kenapa dia khawatir kepadaku. Perjodohan ini hanya sementara.


"Bukan apa-apa, cuma papa sedikit emosi saja tadi." Jawabku. Dia mengangguk.


"Ke apartemen saya pak." Ucapnya. Aku menginjak gas dan menuju ke apartemennya. Sepertinya TaeYeon bisa menunggu sebentar. Aku hanya akan mengantarnya pulang lalu pergi lagi. Ini seharusnya tidak akan terlalu lama.


"Pak?" Panggilnya. Aku berdehem tanpa melihatnya.


"Apa bapak dimarahi karena saya?" Tanyanya dengan suara pelan.


Aku tidak mungkin berkata ya secara langsung, tapi kenyataannya itu memang benar. Jika bukan karena dia, aku tidak mungkin sampai digampar oleh papa.


"Bisa di bilang begitu." Jawabku.


Dia menundukkan kepalanya. "Maaf pak, seharusnya tadi saya kembali ke apartemen saja." Ucapnya.


"Kenapa? Bukannya orang tua kamu yang jemput?" Tanyaku.


"Enggak, saya tadi di halte sendirian, terus kebetulan papa lewat sana, dia suruh saya ikut dia pulang, dia tanya, bapak ke mana, saya bilang ga tahu, tadi cuma nganter doank." Dia menjelaskannya.


"Ya sudah ga usah di bahas lagi, cowok kalau berdarah dikit mah biasa," Ucapku.


Dia menatap lurus ke depan, "Sekali lagi maaf pak." Ucapnya. Kali ini terdengar dia lebih tulus.

__ADS_1


"Saya maafkan Yer, sekarang berhenti minta maaf" Balasku. Aku tidak ingin dia terus menyalahkan dirinya sendiri kalau dia tidak tahu apa yang membuat papa sampai menamparku seperti ini.


...[ BaekHyun POV END ]...


__ADS_2