Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 4 - Lelah


__ADS_3

Aku sudah selesai menulis surat permintaan maaf nya. Sekarang aku tinggal menyelesaikan 10 lembar kalimat itu. Pak BaekHyun masih menunggu ku di sini. Dia sama sekali tidak meninggalkan ku sendirian. Aku sudah bilang pada nya kalau aku baik-baik saja dan tidak masalah jika di tinggal sendirian.


Tapi jawaban Pak BaekHyun adalah, "Saya tidak ingin kamu kabur dari sini, saya juga tidak percaya kamu akan diam di sini dan menulis sendiri, bisa saja kamu akan menyuruh orang lain untuk menulis nya. Jadi saya mau melihat sendiri kamu yang menulis semua itu." Ya memang membohongi guru tidak semudah itu.


"Pak," Aku memanggil pak BaekHyun.


Aku melihat nya sedang fokus mengoreksi PR murid kelas ku.


Pak BaekHyun sama sekali tidak menyahuti ku. "Pak BaekHyun." Aku memanggil nya sekali lagi.


"Apa Yerin?" Tanya nya.


"Saya ingin ke toilet." Ucap ku. Dia mengangguk. Aku melihat ke arah infusan ku. Kapan ini akan habis.


Aku bangun dan mengangkat infusan ku dari tempat nya agar aku bisa ke toilet. "Kamu mau ke mana?" Tanya Pak BaekHyun.


Bukankah tadi dia bilang aku boleh ke toilet? "Saya mau ke toilet pak." Jawab ku sekali lagi.


"Bukan toilet di depan, toilet itu." Pak BaekHyun menunjuk ke arah toilet UKS.


"Toilet nya ga enak pak, saya mau ke toilet biasa aja." Ucap ku.


"Di sana atau kamu tidak boleh ke toilet?" Tanya pak BaekHyun. Aku menghela nafas ku dengan kasar. Kenapa dia terus saja memberiku pilihan yang keduanya tidak aku suka.


Aku terpaksa masuk ke toilet UKS dan buang air di sana. Selesai buang air, aku kembali ke luar dan duduk di atas ranjang UKS lagi. "Sudah?" Tanya Pak BaekHyun. Aku mengangguk dan kembali mengambil kertas itu. Masih ada 9 lembar lagi yang harus aku tulis. Aku pegal jika harus menunduk terus. Aku membawa kertas itu ke meja di dekat Pak BaekHyun.


Dia melihat ku pindah tapi dia tidak membuka suaranya. Bagus lah. Aku sedang tidak ingin banyak berdebat dengan wali kelas ku yang satu ini.

__ADS_1


"Kenapa pindah?" Tanya nya.


Ya Tuhan.


Baru saja aku senang karena dia tidak bertanya.


"Saya tidak terbiasa tulis di atas ranjang," Ucap ku. Dia mengangguk. Aku kembali menulis kalimat itu.


9 lembar lagi. Aku memberikan satu lembar yang sudah selesai ke pak BaekHyun.


"Tulis yang rapi, yang berantakan akan saya suruh tulis ulang," Ucap Pak BaekHyun. Kenapa guru ini sangat menyebalkan. Dia sangat senang menyiksa ku seperti ini. walaupun kepala dan perut ku sudah tidak sakit lagi, tapi sekarang tangan ku yang sakit.


Aku memaksakan tangan ku untuk tetap menulis lagi. Semakin cepat semakin bagus.


"Gunakan ini, jika kamu kenapa-kenapa lagi, saya yang salah." Pak BaekHyun memberikan ku semacam sarung tangan tapi bentuk nya aneh menurut ku. Aku tidak tahu bagaimana cara memakainya.


Aku baru menyelesaikan satu halaman lagi dan membalik halaman nya. Jujur saja tangan ku sudah hampir mati rasa, kertas folio bergaris ini sangat kecil garis nya, jadi kalimatnya akan lebih banyak. Pak BaekHyun melihat ponsel nya.


"Ini sudah jam 12, kamu mau makan lagi?" Tanya pak BaekHyun. Aku menggelengkan kepala ku. Aku sudah kenyang melihat 8 lembar kertas kosong di depan ku yang harus aku tulis.


"Apa kamu marah dengan Saya?" Tanya Pak BaekHyun. Aku berhenti menulis sebentar ketika mendengar pertanyaan Pak BaekHyun.


"Saya tahu kamu benci banget juga kan sama saya, tapi saya ngelakuin ini semua biar kamu jadi disiplin, saya tahu kamu bukan hanya nyontek di pelajaran saja, tapi di pelajaran fisika, kimia, biologi, saya sudah mendapat banyak laporan dari guru lain, Apa alasan kamu milih jurusan MIPA?" Tanya Pak BaekHyun.


"Saya ingin mengejar cita-cita saya," Jawab ku, mungkin dari suara ku terdengar aku kurang begitu yakin dengan jawaban ku sendiri.


"Kalau begitu lakukan, kamu tidak akan bisa melakukannya dengan sikap kamu yang seperti ini." Ucap pak BaekHyun.

__ADS_1


"Tapi saya tidak yakin kalau saya bisa, saya pikir mungkin saya salah satu murid yang salah jurusan." Sambungku.


"Kenapa?" Tanya pak BaekHyun lagi. Dia terlihat tidak setuju dengan ucapan ku.


"Saya sendiri tidak yakin dengan diri saya, sejak kelas sepuluh saya memang tidak bisa banyak pelajaran di MIPA, mungkin karena saya salah jurusan, mungkin juga kemampuan saya bukan di MIPA." Jawab ku.


"Semua itu bukan masalah mampu atau tidak, tapi kamu yang masih kurang berusaha, jika kamu sadar, pelajaran matematika sama saja seperti pelajaran anak SD, hanya saja rumus nya lebih panjang, ujung-ujung nya kamu hanya akan mengulang angka 0-9 juga kan. Tapi karena yang mengajar matematika saja, kamu jadi tidak mau belajar, saya tahu kamu lebih suka pelajaran pak ChanYeol kan. Saya sering mendengar kalian membicarakannya di kantin." Ucap Pak BaekHyun. Suaranya sedikit berbeda menurut ku.


"Semua murid pasti begitu pak, Pak ChanYeol mengajar hal yang menurut kita tidak rumit dan tidak memerlukan keseriusan, sedangkan matematika, fisika, biologi, kimia, menurut semua murid itu adalah mata pelajaran serius. Jadi kita juga menganggap guru-guru yang mengajar itu serius, itu sebab nya kita tidak pernah bercanda dengan bapak ataupun guru-guru lain. Berbeda dengan guru olahraga, guru musik, guru prakarya, ya murid-murid akan lebih sering bercanda dengan mereka." Ucap ku.


"Saya tidak tahu kamu bisa mengatakan hal seperti itu Yerin." Ucap pak BaekHyun. Aku menahan senyuman ku mendengarnya.


"Ya saya sebenarnya bukan berniat tidak memperhatikan pelajaran bapak, tapi sejak awal saya memang tidak pernah mengerti dasarnya, jadi sampai sekarang, sekeras apa pun saya coba mengikuti pelajaran bapak, ujung-ujung nya saya tambah bingung." Ucap ku.


"Lalu kenapa kamu tidak bertanya?" Tanya pak BaekHyun.


"Itulah masalah saya, saya tidak bisa bertanya, saya juga tidak tahu harus mulai dari mana." Jawab ku.


"Yerin, lihat saya, Kalau saya ajarkan dari awal, apa kamu bisa mengikuti pelajaran dengan benar?" tanya pak BaekHyun.


Aku menatapnya. "Saya tidak tahu, tapi mungkin saya bisa lebih mengerti cara hitung nya." Jawab Yerin.


"Kalau begitu, saya akan buatkan jadwal kamu, setiap hari akan ada kelas tambahan dengan saya dan guru-guru lain sepulang sekolah, kamu tidak boleh komplain masalah ini, kelas tambahan ini hanya untuk mata pelajaran yang nilaimu jelek, tidak semua pelajaran." Ucap pak BaekHyun.


Aku melongo mendengarnya. Jadi aku harus belajar lebih lama begitu? "Setiap hari pak? Apa tidak bisa saya yang datang ke gurunya saja?" Tanya ku.


Pak BaekHyun menggeleng. "Kamu tidak akan datang, sudah lakukan saja, setiap kamu membolos kelas tambahan, akan ada saksi untuk kamu." Ucap Pak BaekHyun.

__ADS_1


Aku tidak percaya ini. Seperti nya aku salah bicara, atau aku terlalu banyak bicara. Semua salah mulut ku ini.


__ADS_2