
Sekolah sudah berakhir, aku sedang menunggu bus yang mengarah ke rumahku. Seharusnya sebentar lagi busnya tiba.
Tinttt...Tinttt...
Aku melihat mobil yang membunyikan klakson itu. Siapa lagi kalau bukan pak BaekHyun. Aku berjalan mendekati mobilnya dengan malas. Dia keluar dari mobil.
"Yerin, masuklah, kita akan bicara di dalam mobil." Ucap pak BaekHyun. Aku melihat ada bu TaeYeon di sebelah kursi pak BaekHyun. Aku tertawa remeh. 'Dasar murahan. Sudah diputusin masih aja dideketin.' batinku.
Aku berjalan masuk dan duduk di kursi belakang. Aku tidak ingin mengatakan apa-apa pada mereka. Entah karena aku terlalu membenci keduanya sekarang hingga aku bahkan malas membuka mulutku.
"Yerin, apa ada yang ingin kamu tanyakan atau katakan pada bu TaeYeon?" Tanya pak BaekHyun.
"Ga ada," Jawabku singkat dan pelan. Aku masih melihat ke arah jalanan dari samping.
"Kenapa kamu marah sama saya? Memangnya apa yang saya lakuin ke kamu? Bukannya seharusnya saya yang marah karena kamu akan menikahi pacar saya." Ucapnya.
"Mantan pacar," Potongku dengan cepat.
"Yer-."
"Kenapa? Bapak juga mau membela bu TaeYeon, kalau gitu bapak turunin saya aja deh disini, saya ga mau pulang sama bapak," Ucapku kesal.
"Yerin, dengerin dulu, kamu kenapa jadi marah-marah sih, tujuan saya kan biar kalian baikan." Ucap pak BaekHyun.
"Pak, berhenti saja disini." Ucapku.
"Tidak," Jawabnya dengan tegas.
"Oke kalau itu mau bapak." Ucapku.
Pak BaekHyun melirik ke arahku dari kaca. "Jangan macam-macam Yerin, kamu tidak punya hak untuk itu," Ucapnya. Aku memasang kedua earphoneku dan tidak mau mendengarkan ocehannya lagi. Aku tidak peduli lagi dengan kedua guru ini. Mereka pasti akan melindungi diri masing-masing.
Pak BaekHyun berhenti di depan rumah kami. Aku cukup salut dia membawa bu TaeYeon ke rumah kami.
Aku keluar dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam. Aku tahu di mana pak BaekHyun menyimpan kunci mobilku. Aku masuk ke kamarku dan mengambil laptop dan jaketku. Aku tidak ingin berada di rumah jika ada bu TaeYeon disini.
__ADS_1
"Mau kemana kamu?" Tanyanya. Aku melihat mereka berdua baru masuk ke dalam. "Silahkan bersenang-senang, saya tidak akan mengganggu kalian." Ucapku.
"Yer, kamu mau ke mana? Jawab dulu pertanyaan saya." Paksanya. Aku menepis tangannya. Aku melewati mereka dan berjalan keluar dari pintu rumah ini. Aku sudah tidak sudi tinggal disini jika bu TaeYeon sudah pernah memasuk dan menginjakkan kakinya disini bersama pak BaekHyun.
Aku berjalan ke arah mobilku. Aku sudah bisa membawa mobil, lagi pula ke perusahaan penerbitan tidak terlalu jauh. Dari pada aku emosi dengan pak BaekHyun dan bu TaeYeon, lebih baik aku memulai karier untuk masa depanku.
Aku masuk ke dalam mobil dan melajukannya keluar dari gerbang rumah. Aku tahu pak BaekHyun sadar kalau aku membawa mobil ini. Tapi aku tidak peduli lagi. Sampai kapan pun, aku tidak akan mau masuk ke dalam mobil itu lagi.
Cuma memerlukan beberapa menit hingga aku sampai ke depan perusahaan ini. Perusahaan yang menerima novelku. Aku melangkah kakiku ke dalam sana dan berjalan ke meja resepsionisnya.
"Saya ingin bertemu dengan Ibu Kim," Ucapku.
"Apa anda sudah membuat janji?" Tanyanya.
"Ya sudah, seharusnya setengah jam yang lalu, tapi saya terlambat." Ucapku.
"Baiklah, silahkan ikut saya ke ruangannya saja, beliau sedang kosong." Ucap resepsionis itu. Aku mengangguk dan mengikutinya masuk ke dalam lift. Aku pikir perusahaan ini sangat besar. Aku mungkin sangat beruntung karena mereka mau menerbitkan novelku.
"Ini ruangannya." Ucapnya. Aku tersenyum ke arahnya. "Terima kasih." Ucapku. Dia mengangguk dan meninggalkanku sendiri disana.
"Silahkan masuk."
Aku masuk setelah mendengar suara dari dalam.
"Permisi Bu Kim." Ucapku. Dia menatapku bingung.
"Selamat sore bu, Perkenalkan, nama saya Jung Yerin," Ucapku. Dia tersenyum lebar mendengarku.
"Selamat Sore, silahkan duduk." Ucapnya. Dia bangun dan pindah ke sofa. Aku mengikutinya.
"Saya pikir kamu sudah besar, apa kamu masih sekolah?" Tanyanya. Aku mengangguk. "Masih, saya kelas 12, sebentar lagi akan lulus." Ucapku. Dia mengangguk.
"Baiklah, jadi langsung saja, saya sudah membaca novelmu, dan beberapa karya tulisanmu, saya sangat tertarik dengan tulisan-tulisanmu, saya tidak mengira itu di tulis oleh seorang anak remaja, jadi saya berniat untuk mengontrakmu, buku-bukumu juga bisa segera terbit dan kemungkinan besar kamu bisa jadi penulis yang terkenal," Ucapnya.
"Terima kasih bu, saya sayang senang mendengarnya." Ucapku.
__ADS_1
"Tapi, ada beberapa syarat di kontrak itu yang harus kamu penuhi agar bisa bergabung dengan kami." Ucapnya. Dia bangun dan mengambil sebuah map.
"Silahkan di baca dulu, jika menurutmu ini merugikan dirimu, kita bisa membicarakannya." Ucapnya. Aku membuka kontrak itu, Semuanya bagus, kecuali satu, nilai rapot SMA ku harus bagus, dan aku juga harus lanjut kuliah jika belum kuliah. Baiklah. Seharusnya aku bisa melakukannya.
"Di sini kuliah jurusan apa saja kan?" tanyaku.
"Untukmu, ya, walaupun karyawan lain biasanya untuk menjadi penulis mereka akan kuliah sastra, memangnya kamu bertujuan kuliah apa?" Tanyanya.
"Saya ingin masuk kedokteran, tapi menulis adalah hobi saya," Ucapku.
"Tidak masalah, saya melihat potensi kamu sudah bagus, kamu bisa mengikuti pelatihan dari sini saja sepertinya sudah cukup nanti, jadi kamu bisa menandatanganinya setelah kamu lulus nanti. Atau setelah kamu selesai kuliah juga boleh, kamu pegang satu, saya pegang satu. Jika suatu saat kamu ingin kembali ke sini, saya akan sangat senang menerimamu disini Yerin, kamu penulis berbakat." Ucapnya.
Dia terlalu memujiku.
"Makasih bu Kim, saya sangat menghargai kebaikan anda, saya akan berusaha mendapatkan rapot yang bagus dan masuk kuliah dengan baik," Ucapku.
"Sekarang fokuslah dulu pada sekolahmu, sebentar lagi kalian ujian kan? Dan masalah buku, kita bisa mencobanya satu dulu, saya punya kontrak sementara, kamu sudah bisa menandatanganinya, ini hanya untuk satu buku saja," Ucapnya. Dia memberiku selembar kertas lagi.
Oke. Kontrak ini sangat menguntungkanku. Aku membaca semuanya dengan teliti. "Baik bu, saya akan menandatanganinya," Ucapku. Aku menandatanganinya.
"Apa kamu membawa filenya?" Tanyanya.
"Ya saya membawanya, tapi saya belum selesai mengeditnya." Ucapku.
"Tidak masalah Yerin, kita disini memiliki editor, tugasnya mengedit tulisanmu dan mengeceknya lagi, tanpa mengubah isinya." Ucapnya. Aku cukup tenang sekarang.
Aku membuka laptopku dan menyalinnya di sebuah USB. "Ini bu," Aku memberikannya. Dia menerimanya.
"Kamu bisa kesini lagi setelah ujianmu selesai untuk melihat bukumu." Ucapnya. Aku mengangguk.
"Makasih banyak bu atas semuanya, saya sangat senang bisa menerbitkan buku saya di sini." Ucapku. Itu memang benar. Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku lagi.
"Sama-sama Yerin, semoga berhasil di ujianmu," Ucapnya.
"Sekali lagi terima kasih, saya permisi dulu bu." Ucapku. Aku berjalan keluar dari ruangannya. Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku sekarang. Aku harus ke apartemenku sekarang. Aku tidak ingin menghancurkan moodku yang sedang sangat bagus ini dengan melihat wajah bu TaeYeon.
__ADS_1
Aku kembali ke dalam mobilku dan mengemudikannya ke apartemenku. Untung saja tidak ada polisi sama sekali di daerah sini. Jadi aku akan aman-aman saja.