Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 20 - Pulang Sekolah


__ADS_3

Sekolah hari ini benar-benar tidak terasa. Sepertinya baru saja tadi aku sampai di kelas dan sekarang sudah berakhir lagi. Ini adalah satu-satunya hari di mana aku menikmati waktu-waktu ku di dalam kelas. Ulangan Biologiku juga aku mengerjakan dengan sangat baik. Aku yakin akan mendapat nilai bagus untuk itu. Aku sudah menguasai materinya dengan sungguh-sungguh.


Itu yang pertama, kedua, hari ini Bu Irene memujiku karena aku mengerjakan semua tugasnya dengan baik. Dia bilang ada perubahan yang baik di dalam diriku. Aku sangat senang mendengarnya walaupun itu bukan murni hasil pemikiranku. Tapi tetap saja, di puji saja aku sudah bangga.


Lalu yang terakhir, pada waktu pelajaran Sejarah, Pak Chen tidak masuk karena istrinya ingin melahirkan, aku sangat senang karena tidak ada pelajaran dan tidak ada tugas di jam terakhir.


Aku harap tidak ada yang menghancurkan hari bahagiaku hari ini. Ini benar-benar bisa menjadi hari terbaikku di SMA ini. Setidaknya aku memiliki satu hari dimana aku menyukai hari itu. Aku melihat ke arah jam di kelas. 5 menit lagi akan bel. Kita semua bisa pulang.


Cklekkk..


"Yerin, bisa ikut saya sebentar," Ucap pak BaekHyun yang tiba-tiba masuk ke kelas. Aku lupa aku harus menemuinya sepulang sekolah. Semoga saja dia hanya sebentar jadi aku bisa pulang tepat waktu.


"Hasil ulanganmu hari ini bagus, sebagai hadiahmu, kamu bisa memilih, apa hari ini kamu ingin bertemu dengan saya atau tidak? Jika tidak mau saya tidak akan mengganggu kamu hari ini," Ucapnya.


"Maksud bapak, bapak tidak akan ikut campur dengan urusan saya di sisa hari ini?" Tanya ku. Dia mengangguk.


"Kalau begitu saya terima hadiah saya dengan senang hati." Ucap ku. Pak BaekHyun mengangguk. "Jika orang tua mu bertanya, katakan ini kesepakatan kita, Saya tidak mau di gampar lagi." Sambung nya. Aku mengangguk senang.


"Tenang saja pak, saya akan mengatakannya kalau di tanya, Terima kasih untuk bantuannya pak, saya kembali ke kelas dulu sebelum bel, 1 menit lagi bel, jangan ada yang melihat kita di depan seperti ini pak, Selamat siang." Ucapku. Pak BaekHyun tersenyum dan mengangguk. Aku kembali berlari ke arah kelasku.


"Sowon, ayo hari ini kita jalan-jalan." Ajakku.


"Ke mana? Si 'ono' ga ikut kan?" tanya Sowon. Aku melepaskan tangannya. "Tentu saja tidak." Jawabku. Dia mengangguk senang.


"Ayo kita hunting makanan hari ini." Ajak TaeHyung.


"Ide bagus, kita pulang dulu ganti baju, nanti ketemu di rumah Sowon aja, biar nanti kita naik mobil dia." Ucapku. Sowon terlihat kesal karena aku mengatakannya seakan-akan semua itu milikku.


"Ya sudahlah, kumpul di rumahku." Ucapnya dengan terpaksa. Aku dan TaeHyung tertawa melihat Sowon yang terlihat sangat pasrah.


Bel sudah berbunyi dan semua murid berlari keluar dari kelas. Termasuk aku dan Sowon. Aku berlari ke halte bus karena busnya sudah sampai dan aku tidak perlu menunggu lagi. Aku masuk ke apartemenku dengan perasaan bahagia. Aku benar-benar sangat senang hari ini.


Aku rasa kita akan makan diluar saja setelah ini. Aku masuk ke kamar dan mengganti pakaianku. Aku hanya membawa dompet dan ponselku seperti biasa. Semua aku masukan ke dalam saku jaketku. Aku tidak pernah suka membawa tas-tas kecil, menurutku itu malah menyusahkan. Aku melihat ponselku sebelum memasukkannya ke dalam jaketku.


Ada pesan dari mama. Aku membukanya. "Yerin, nanti malam kita ada makan malam lagi bersama dengan keluarga Byun, sekitar jam 7 malam, kita akan membahas tanggal pernikahan kalian, mama harap kamu bisa datang nanti, Sowon memberitahu mama kalian akan pergi jalan-jalan sebentar, bersenang-senanglah."


Makan malam? Bersama Keluarga Byun lagi? Padalah hari ini perjanjiannya aku tidak akan bertemu dengan pak BaekHyun. Kenapa sekarang rasanya sangat sulit untuk tidak bertemu dengan guru yang satu itu.

__ADS_1


Masa bodo lah. Yang penting sekarang aku mau jalan-jalan dulu. Mumpung moodku sedang sangat bagus


Aku turun dengan lift dan berjalan ke halte lagi. Rumah Sowon juga tidak jauh dari sekolah, jadi aku biasanya naik bus, di perhentian kedua aku harus turun di sana.


Kemarin saat aku ke sini, Pak BaekHyun yang mengantarku. Hari ini, untuk sekarang masih tidak ada dia. Aku akan menikmati waktu-waktuku tanpa pak BaekHyun di sekitarku.


"SOWON!!!."


"YA SEBENTAR!!." Sowon keluar dengan pakaian yang sudah rapi.


"Mana TaeHyung?" Tanyaku.


"Entahlah, dia belum datang dari tadi." Jawab Sowon.


"Mungkin dia tidak ikut ayo kita pergi duluan, hunting makanan," Ajakku. Aku menarik tangan Sowon agar dia berjalan lebih cepat.


"Hei, bukannya kata mamamu kalian ada acara makan malam? Sama siapa? Pak BaekHyun?" Tanya Sowon.


"Shtt.. Kecilkan suaramu, astaga." Aku menutup mulutnya. Bagaimana jika ada orang yang mendengarnya? Untung aku sabar dengan kelakuan sahabatku yang satu ini.


"Sudahlah cepat," Aku menariknya masuk ke dalam mobilnya sendiri.


"Lama banget sih." TaeHyung baru saja sampai.


"Ga liat apa orang habis lari begini." Memang sangat terlihat dia habis berlari. Tapi memangnya TaeHyung tidak bawa motor sendiri? Biasanya dia selalu membawa motornya ke mana pun.


"Motor kamu dimana?" Tanyaku.


"Bengkel, bannya bocor." Jawabnya. Aku mengangguk. Tiba-tiba Sowon mendorong kami berdua masuk ke dalam mobil. Dia duduk di sebelah sopirnya dan aku duduk di belakang dengan TaeHyung.


"Jadi kita mau ke mana?" Tanya sopir Sowon. Sowon melihat ke arahku dan TaeHyung.


"Mau makan di pinggir jalan aja? Sudah lama kita ga hunting makanan di sana." Jawabku. TaeHyung mengangguk.


"Boleh juga, ayo kita ke sana." Balas TaeHyung.


"Pak kita ke bazar yang baru buka aja di sekitar sini." Ucapnya.

__ADS_1


"Baik non." Jawabnya. Mobil pun berjalan. TaeHyung terus melihat ke ponselnya. Entah kenapa tiba-tiba semua terasa canggung. Bahkan Sowon sesekali melihat ke arahku dan memberiku kode untuk mengajak TaeHyung mengobrol. Tapi aku tidak tahu harus memulai dari mana.


"Tae, kamu tumben diam main Hp terus, biasanya rusuh." Ucapku.


"Em?" Dia melihatku dan tersenyum. "Tidak kok, hanya penasaran saja kenapa banyak yang sedang memainkan game ini." Ucapnya. Dia mengeluarkan game itu walaupun belum selesai. "Aku pikir game ini biasa saja, tapi mungkin orang-orang memainkannya saat game ini sedang booming saja." Lanjutnya.


"Biasanya seperti itu, makanan dan pakaian juga, jika sudah lewat masanya peminatnya tidak akan sebanyak saat sedang booming." Jawabku. Dia mengangguk.


"Kita sudah sampai, ayo turun manteman." Sowon turun lebih dulu. Aku melihat sekelilingku. Ini sangat dekat dengan sekolah juga. Aku tidak tahu di sini sedang ada bazar.


"Ayo Yer." TaeHyung menggandeng tanganku. Aku terkejut ketika dia melakukan ini. Sowon melihat ke arah kami.


"Tolong pengertiannya, aku jomblo manteman." Ucap Sowon. Aku terkekeh.


"Lebih baik jangan, kasihan Sowon." Aku melepas tangannya dari tanganku. Dia mengangguk. "Maaf." Gumamnya. Aku berjalan lebih dulu mencari makanan disana dengan Sowon. TaeHyung mengikuti kami dari belakang. Dia terlihat tidak terlalu cerita hari ini seperti hari biasanya.


"TaeHyung, Sini, jagain Yerin bentar ya, aku mau ke toilet dulu." Ucap Sowon. TaeHyung tersenyum dan mengangguk. Aku kembali memakan cumi gorengku. Sowon juga menghilang di dalam kerumunan itu. Sekarang tinggal aku dan TaeHyung.


"Yer, apa kita bisa bicara sebentar?" Tanyanya. Aku mengangguk. Dia membawaku ke tempat yang lebih sepi dengan tempat duduk disana. Kami duduk di pinggir jalan.


"Apa kamu sudah punya pasangan baru?" Tanyanya.


Aku hampir saja tersedak cumiku sendiri. "Kenapa memang nya?" Tanyaku.


"Aku masih mencintai mu Yer, apa kita tidak bisa balikan? Kita putus baik-baik saat itu, aku juga tidak tahu kenapa kami memutus hubungan kita seperti itu, Aku berusaha mencari perempuan lain untuk melupakanmu tapi itu sama sekali tidak membaik, yang ada malah aku selalu membayangkan mereka adalah dirimu, Aku rasa aku tidak bisa hidup tanpamu Yer." Dia memegang tanganku. Rasanya sama seperti saat kita masih pacaran dulu.


"Maaf Tae, aku tidak bisa," Aku melepas tangannya dengan perlahan.


"Kenapa?" Tanyanya. Matanya seperti menginginkan sebuah harapan. Tapi sayang aku tidak bisa memberikan itu, aku akan segera menikah dengan pak BaekHyun. Aku tidak ingin mengkhianatinya walaupun ini semua di dasari oleh perjodohan itu. Bagaimana pun dia tetap akan menjadi suamiku nanti.


"Itu karena-"


"Yerin, TaeHyung, kalian di sini? Aku cariin ke mana-mana tahunya lagi bucin di sini." Sowon mengambil cumiku tanpa seizinku. Untung saja dia sahabatku. Jika tidak sudah aku tampol dia.


"Iya, kita cuma ngobrol-ngobrol doank, mau lanjut lagi huntingnya?" Tanya TaeHyung. Aku mengangguk.


"Yerin..." Seseorang memanggilku.

__ADS_1


Aku menengok ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Sowon dan TaeHyung juga melakukan hal yang sama. Aku yakin aku mendengar sesuatu. Buktinya Sowon dan Taehyung juga mendengarnya.


__ADS_2