
Mamanya dan mamaku sedang mengobrol dipojok ruangan entah membahas sesuatu, papanya sedang duduk di sebelah Yerin. Aku pikir Yerin mungkin lebih dekat ke papanya dari pada mamanya. Sedangkan papaku sendiri duduk di sebelahku sambil terus menatap tajam ke arahku. Entah aku tidak tahu sampai berapa lama dia akan seperti ini kepadaku. Jujur saja aku takut dengannya. Aku bahkan tidak berani banyak bergerak karena takut mengganggu papa. Mau bagaimana pun dia tetap papaku.
"Pa, hari ini aku dapat bagus loh di sekolah." Ucap Yerin dengan papanya.
Papanya duduk di sebelahnya. "Benarkah? Apa itu bukan hasil menyontek lagi?" Tanyanya.
"Ish papa ma, Biologi aku dapat 98, hasil kerja sendiri, murni 100 persen." Ucapnya dengan bangga. Ya sebenarnya bukan hanya dia yang bangga, aku juga bangga ketika anak murid kelasku ada yang berubah. Dari awalnya terus mendapat nilai jelek jadi bagus. Setidaknya ada perubahan kearah yang positif.
"Bagus donk, papa bangga deh," Yerin memeluk papanya.
"Dia juga mendapat 100 di fisika dan 95 di matematika." Sambungku. Papa nya menatapku. "Wah, anak papa jadi pintar sekarang. Nanti jika kamu sudah sembuh, ayo kita jalan-jalan." Ucap papanya.
"Iya, sudah lama aku tidak jalan-jalan sama papa." Jawabnya.
"BaekHyun juga mau ikut?" Tanya papanya.
"Ikut apa pa?" Tanyaku. Apa yang aku lewatkan?
"Ikut jalan-jalan, ayo kita ke luar negeri bersama-sama, 2 hari mungkin sudah cukup." Ucapnya. Papa mengangguk. "Ide bagus bro," Jawab papa.
Aku tidak pernah melihat papa seperti itu. Yerin tersenyum ke arahku. Senyuman tulus kali ini. Tidak ada kebencian ataupun kemarahan lagi di matanya. Aku setidaknya lebih tenang sekarang karena papa tidak setegang tadi.
"Akhhh..." Yerin kembali meringis memegang perutnya sendiri. Seisi ruangan menjadi panik.
"Yerin," Entah aku tidak tahu aku kenapa, tapi aku spontan berlari ke arahnya dan membantunya berbaring kembali ke kasur. Aku memencet bel agar dokter atau suster cepat ke sini.
"Ada keluhan apa?" Tanya suster yang baru saja sampai.
__ADS_1
"Perutnya kembali sakit," Ucapku.
"Baiklah, saya panggilkan dokter sebentar." Ucapnya. Aku mengelus rambut Yerin dengan lembut agar dia bisa tenang. "Tahan sebentar Yer, " Ucapku. Dia tidak membalasnya. Aku memegang tangannya agar dia tidak mencengkeram perutnya sendiri, dia bisa melukai dirinya. Dia meremas tanganku dengan kencang. Aku tahu rasanya pasti sangat sakit.
Dokter itu masuk dan langsung memeriksa Yerin. Papanya mundur dan duduk di sebelah papaku. Aku masih di sini menggenggam tangan Yerin.
"Obat nya tidak bekerja, dia harus mengeluarkan makanannya dulu, alerginya akan terus kambuh jika seperti ini. Dia bisa mencoba memuntahkannya dulu jika sudah tidak bisa kami terpaksa mengoperasinya, sepertinya alerginya cukup parah." Ucap Dokter itu. "Apa tidak bisa di berikan obat pereda nyeri dulu dok?" Tanyaku.
"Bisa, sebentar saya berikan." Ucapnya. Dia memasukkan obat itu ke dalam infusan Yerin. Beberapa menit kemudian, Yerin sudah berhenti meringis, dia juga sudah melepaskan tanganku. Rasanya tanganku keram dan sakit.
"Yerin," Panggilku.
"Ya?" Jawabnya lemas.
"Apa kamu bisa memuntahkan makananmu?" Tanyaku. Dia tidak menjawabnya.
"BaekHyun, bisa kita bicara sebentar?" Tanya papa Yerin.
"Ya pa." Jawabku. Dia bangun dan mengajakku ke kantin rumah sakit. "Semua nya sudah makan malam kecuali kamu, apa kamu ingin makan sesuatu?" Tanyanya.
"Tidak usah pa, jika saya lapar saya akan membelinya sendiri." Balasku.
"Tidak apa-apa, tidak usah sungkan, ada yang ingin saya bicarakan juga dengan kamu." Ucapnya. Apa lagi ini? Apa dia akan marah karena aku menyentuh putrinya seenak jidat seperti tadi? Kenapa sangat banyak hal yang membuatku khawatir.
"Saya akan membeli makan dulu," Ucapku. Dia mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepadaku.
"Rumah sakit ini milik saya, kamu tidak perlu membayar untuk makan di sini, sekalian belikan untuk Yerin, dia pasti lapar setelah memuntahkan makanannya." Ucap papanya. Aku sedikit terkejut mendengarnya, rumah sakit ini sangat besar, ini punya keluarga Yerin? Seberapa kaya keluarganya itu. Sekarang aku tahu alasan dia hanya berteman dengan Sowon.
__ADS_1
Dia memberikan kartu itu kepadaku, aku berjalan ke arah penjual di sana dan melihat-lihat. Aku tidak tahu Yerin suka makan apa. Roti saja aku tidak tahu dia suka rasa apa. Kita sama sekali tidak dekat.
Ya sudah aku beli saja rasa yang umum. Aku kembali ke tempat papa Yerin duduk di sana.
"BaekHyun, kamu tahu kan Yerin adalah anak perempuan saya satu-satunya." Dia memulai percakapan ini. "Iya pa." Jawabku.
"Saya tidak mau jika kamu sampai membuat Yerin sedih apa lagi sampai menyakitinya, saya tidak akan memaafkan kamu jika kamu sampai melakukannya, entah itu sengaja atau tidak, Saya sudah susah payah membuatnya bahagia sampai sekarang, jika saya melihat Yerin menangis karena kamu, atau kamu sudah tidak mau bersamanya, katakan pada saya, saya akan membawa Yerin kembali," Ucap papanya.
Itu semua akan terjadi, aku tidak bisa mengatakan hatiku bukan berada bersama Yerin, tapi bersama perempuan lain yang sudah menjadi pacarku dan pengisi hatiku selama 5 tahun terakhir. Yerin baru muncul setelah aku sudah memiliki pacar sendiri. Itu jadi wajar saja jika aku masih belum mencintainya. Lagi pula aku hanya mengenalnya melalui hubungan guru dan murid, mana mungkin kami bisa saling suka.
"BaekHyun, apa kamu benar-benar tulus menerima perjodohan ini?" Tanya papanya.
"Sebenarnya saya masih belum memiliki perasaan apa pun dengan Yerin, tapi saya berusaha untuk tidak membuatnya sedih atau menangis didekat saya, saya tidak tahu untuk ke depannya akan gimana," Jawabku.
"Kamu sudah memiliki pacar sendiri?" Tanyanya.
Apa yang harus aku katakan, jika aku menjawab ya, dia pasti akan menarik semua perjodohan ini, jika aku jawab tidak, aku harus berbohong tentang segalanya termasuk TaeYeon. Entah kenapa aku semakin tidak bisa menolak perjodohan ini. Papa benar-benar menyeramkan tahu.
"Sudah atau belum BaekHyun?" Tanya papa Yerin.
"Belum pa," Jawabku sambil tersenyum. Papanya mengangguk. "Saya kira kamu sudah memiliki pacar sendiri, itu akan cukup membebanimu dengan pernikahan ini jika kamu sudah memiliki pacar sendiri." Ucap nya. Dia meneguk minuman yang dia beli sendiri.
Aku bersandar pada kursi itu. Nafsu makanku hilang, yang tadinya lapar menjadi tidak lapar lagi. Aku tidak tahu apa keputusan yang aku buat benar atau tidak untuk kedepannya. Yang di katakan papanya memang benar. Ini sangat sulit untuk menerima perjodohan ini dengan diriku yang sudah memiliki pacar sendiri.
"Ayo kita naik, mereka mungkin sedang menunggu kita." Ucapnya. Aku mengangguk dan membawa roti itu bersamaku. Awalnya aku ingin membeli nasi, hanya saja aku pikir Yerin pasti tidak mau makan makanan berat sekarang. Mungkin perutnya juga masih sakit. Jadi aku membeli makanan yang ringan saja.
...[ Baekhyun POV END ]...
__ADS_1