Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 7 - Satu Mobil


__ADS_3

Karena aku sudah menyetujui nya, sekarang aku terjebak di dalam mobil yang sama bersama Pak BaekHyun. Mamanya dan mamaku memaksa kami untuk pergi jalan-jalan hanya berdua. Aku sangat mengharapkan ini tidak terjadi sejak awal. Pantas saja dari kemarin kelakuan pak BaekHyun kepadaku sangat aneh.


"Pak, apa masalah yang bapak maksud adalah masalah perjodohan ini?" Tanya ku dengan nada datar.


"Ya, kamu sudah tahu sekarang kan." Jawab nya. Dia masih fokus mengemudi. Ini kedua kalinya aku ada di dalam mobil ini.


"Hancur sudah masa depanku." Gumam ku pada diri ku sendiri.


"Kamu tidak perlu khawatir, saya tidak akan meminta kamu melakukan kewajibanmu yang satu itu, tidak perlu memikirkan sampai sana, jika perlu kita akan pisah kamar saja," Ucap Pak BaekHyun.


"Aku setuju dengan pisah kamar," Ucapku.


"Aku?" Tanyanya.


"Mama mu sudah meminta ku untuk tidak terlalu formal." Jawabku. Dia mengangguk.


"Baiklah, Saya tidak keberatan selama kamu masih sopan." Ucapnya.


Aku mengangguk. Tiba-tiba di kepala ku muncul seseorang. "Bagaimana dengan bu TaeYeon?" tanya ku.


"Saya tetap akan berpacaran dengan nya. Hubungan kita tidak akan lama Yerin, saya akan berusaha menceraikanmu beberapa bulan setelah kita menikah." Ucap nya.


Cerai? Setelah beberapa bulan?


"Bapak tidak menganggap pernikahan ini main-main kan?" Tanya ku.


"Yerin, kamu itu masih terlalu kecil. Kamu masih belum mengerti mengenai urusan pernikahan," Ucap pak BaekHyun.


"Kalau begitu saya tarik kembali ucapan saya, Saya akan berusaha menganggap tidak ada apa-apa di antara kita. Dan apa bapak bisa turunkan saya di dekat sini saja? Saya ingin kembali ke apartemen." Ucap ku.


"Tidak, saya harus bilang apa ke mama saya nanti," Ucapnya.


"Itu urusan bapak, bukan urusan saya." Jawabku.


Drttt... Drtttt....


Pak BaekHyun melihat layar ponselnya sekilas lalu memberikan ponsel nya pada ku. "Yerin, tolong bacakan, saya sedang menyetir." Ucapnya.


Aku mengambil ponsel nya. "Baek, Besok kamu dan Yerin sudah harus fitting baju untuk pernikahan kalian, mama sudah siapkan butiknya kalian tinggal ke sana, mama dan calon mama mertuamu akan pergi ke mall sebentar, kalau kamu mau menyusullah kesini." Aku membacakannya dengan cukup jelas kan.


"Berikan ponsel saya kembali." Ucap nya. Aku langsung memberikannya. Aku juga tidak berniat melihat ponsel itu lama-lama. Dari wallpaper nya saja sudah rumus. Dasar gila matematika.


"Besok saya akan jemput kamu jam 9 buat fitting baju." Ucapnya. Aku berdehem untuk menjawabnya.

__ADS_1


"Jangan sampai pihak sekolah tahu tentang ini, saya tidak mau di keluarkan." Ucapku.


"Tidak akan ada yang tahu tentang ini." Balasnya.


"Siapa tahu Bu TaeYeon akan membenci saya dan berusaha mengeluarkan saya dari sekolah." Ucapku pelan.


"Dia tidak seperti itu Yerin, dia juga guru, bu TaeYeon tidak akan melakukan hal seperti itu." Aku rasa pak BaekHyun sudah pasti akan membela bu TaeYeon dari pada diriku.


Ya sudah lah. Aku hanya bisa menerima nasibku sendiri yang amat buruk ini. "Ya sudah, bisa antarkan saya ke apartemen sebentar? Saya mau ganti baju." Ucapku.


"Memang nya kenapa dengan baju itu? Kamu cantik kok." Ucap nya.


Aku tidak akan meleleh hanya dengan satu pujian.


"Saya mau ganti kaos dan celana dulu." Jawabku. Akhirnya pak BaekHyun mengalah dan mengantarku ke apartemenku.


"Bapak tunggu di mobil saja, saya mau naik sebentar." Ucapku.


Aku pikir dia tidak menjawabku karena dia memang sudah mengerti, tapi kenyataannya. Dia tetap keluar dari mobil dan mengikutiku ke masuk ke dalam lift.


"Kenapa kamu memilih tinggal di apartemen sendirian? Bukankah lebih enak tinggal di rumah kamu sendiri?" Tanyanya.


"Saya ingin belajar mandiri," Jawabku singkat.


Sudahlah. Tidak akan ada habisnya berdebat dengan pak BaekHyun.


Begitu pintu lift terbuka, aku segera keluar dan berjalan ke arah pintu apartemenku.


"Ini apartemenmu?" Tanyanya.


"Tidak, ini apartemen orang lain, saya ingin merampok apartemen ini dulu." Jawabku. Pak BaekHyun langsung melotot tidak percaya.


Aku membuka pintu itu dengan sidik jariku. "Tentu saja ini apartemen saya." Aku masuk dan meninggalkannya di depan.


Untung saja apartemenku sedang rapi, jika tidak aku juga akan malu kalau pak BaekHyun ikut masuk ke sini.


"Bapak tunggu di luar dulu, saya mau ganti baju, jangan coba-coba mengintip ke dalam." Aku memperingatinya.


"Yerin, saya ini manusia terpelajar, bukan laki-laki mesum tidak tahu diri." Balasnya.


"Siapa tahu bapak seperti itu." Balasku lagi dengan suara pelan. Aku masuk ke kamarku dan membawa baju gantiku ke dalam kamar mandi. Jujur saja, aku sangat tidak suka memakai Dress. Saat memakai dress, aku harus benar-benar bersikap feminin, tidak bisa mengengkang, jalan juga harus hati-hati, belum lagi terkadang rok ku bisa terangkat jika ada angin yang cukup kencang.


Aku tetap tidak mengikat rambutku, ini hanya jalan-jalan, jadi tidak perlu ku kuncir juga tidak masalah. Sekarang aku memakai kaos polos dan celana jeans.

__ADS_1


"Kamu serius?" Tanya pak BaekHyun ketika melihatku.


"Ini lebih nyaman dari pada tadi pak." Jawabku. Dia menggeleng.


"Bahkan kamu terlihat lebih feminin dengan seragam sekolahmu." Gumam Pak BaekHyun.


Terserah apa katanya lah. "Bapak mau minum apa?" Tanyaku. Walaupun aku terpaksa menerima nya di dalam apartemenku ini, setidaknya aku juga harus memiliki sopan santun dengan menawari tamuku minum kan.


"Tidak usah," Jawabnya.


Aku tetap memberikannya susu strawberry karena hanya tersisa itu di kulkasku.


"Susu?" Tanyanya. Aku mengangguk.


"Sangat tidak biasa," Gumamnya.


Aku pikir tadi dia bilang dia tidak usah, tapi susunya tetap di minum juga sampai habis di depanku. "Bapak minum susu kayak anak kecil yang sedang kehausan." Ucapku, sebenarnya lebih ke arah meledeknya.


"Saya haus." Jawabnya dengan sangat jujur. Ya aku bisa melihatnya dengan sangat jelas.


"Tadi bapak bilang tidak usah," Aku mengungkitnya lagi.


"Tadi nya saya pikir kita bisa mencari minum di mall saja," Ucapnya.


"Ya sudah pak, kita tidak jadi berangkat? Kasihan tante Byun menunggu kita." Ucapku.


"Kamu ini sebenarnya mau panggil mama atau tante sih?" Tanya Pak BaekHyun.


Aku mengambil gelas yang sudah di pakai oleh Pak BaekHyun lalu mencuci nya. "Terserah saya mau panggil apa, kalau di depan dia saya akan panggil mama, kalau tidak, tetap tante." Jawab ku.


Dia bangun dan melihat-lihat sekeliling apartemenku. "Untung saja kamu bisa mengurus rumah," Ucapnya.


Aku sudah selesai mencuci dari tadi dan hanya menunggu pak BaekHyun puas melihat-lihat isi apartemenku.


"Pak, kenapa bapak mau menjadi guru padalah bapak kan bisa jadi CEO." Tanyaku. Dia diam dan menatapku.


"Kamu sendiri kenapa kamu mau tinggal sendiri dan mengurus semua nya sendiri sedangkan kamu bisa tinggal bersantai di rumah orang tua mu dan menikmati semua fasilitas yang ada di sana." Tanyanya.


"Itu berbeda dua pertanyaan yang sangat berbeda, saya tinggal di sini karena ada hal yang ingin saya hindari di rumah," Ucapku.


"Saya menolak itu karena itu bukan hasil saya, itu semua adalah milik papa saya, dia yang sukses bukan saya, saya juga ingin sukses dengan cara saya sendiri." Balasnya.


Drtttt... Drttt...

__ADS_1


"Sebentar," Pak BaekHyun keluar sebentar untuk mengangkat telepon itu. Aku mengambil tasku dan membawanya bersamaku.


__ADS_2