Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 38 - Hanya berdua di Rumah


__ADS_3

Mama, dan papa sudah pulang setelah makan siang tadi. Sekarang tinggal aku dan pak BaekHyun di rumah ini. Sebenarnya walaupun aku hanya berduaan dengan Pak BaekHyun, aku tidak pernah memikirkan dia akan melakukan hal yang aneh-aneh kepadaku, atau melakukan hal yang mungkin akan membuatku tidak nyaman. Mungkin karena statusnya masih sebagai guru jadi dia masih menjaga sikapnya.


"Yerin, kamu ga mau keliling-keliling rumah dulu gitu?" Tanya pak BaekHyun. Aku pikir dia mungkin baru saja selesai membereskan kamarnya. Kami sudah sepakat untuk tidur di kamar yang berbeda, untuk alasan keselamatan mahkotaku. Pak Baekhyun berjalan mendekatiku dan menopang tubuhnya dari belakang sadaran sofa. Dia menatapku dari belakang sofa.


Dia mungkin melihatku yang dari tadi hanya berbaring di atas sofa sambil menonton drama Korea di TV ruang tamu. Aku sangat suka posisi ini, TV nya besar dan juga sofanya nyaman. Belum lagi disini tempat yang terkena AC, jadi ini mungkin akan menjadi tempat favoritku di seluruh rumah ini. Walaupun aku bahkan belum melihat setengah isi dari rumah ini.


"Nanti aja pak, rumahnya ga bakal ke mana-mana juga." Ucapku dengan seluruh kemageranku.


"Kalau gitu setidaknya beresin dulu baju-baju kamu, jangan nonton mulu, baju-baju seragam kamu udah saya masukin, sisanya kamu sendiri saja," Ucap pak BaekHyun.


"Kenapa ga sekalian?" Tanyaku. Aku tetap tidak memalingkan wajahku dari layar TV itu. Aku tidak ingin melewatkan satu adegan pun.


"Saya ga mau ngurusin daleman kamu juga, sudah sana cepat." Pak BaekHyun menarik kakiku hingga kakiku menyentuh lantai.


"Ga mau pak, ih.. nanti dulu." Aku menarik naik kakiku lagi ke atas sofa. Pak Baekhyun menghela nafasnya dengan kasar.


"Murid-murid yang lain masih pada di sekolah belajar, nih anak malah nonton drama Korea mulu, coba aja kalau di sekolah, bohong banget kalau kamu ga saya suruh bersihin gudang sekolah." Ucapnya kesal. Aku tidak peduli, selama aku sedang menonton drama Korea tidak ada yang bisa menghentikan aktivitas ku.


"Terserah kamu saya, saya mau ke sekolah sebentar ambil tugas-tugas murid lain, saya balik kamu belum bergeser dari sofa itu lihat saja nanti." Ancam pak BaekHyun. Dia mengambil kunci mobilnya lalu keluar dari pintu. Aku tidak takut dengan ancamannya. Pak Baekhyun memang sudah sering mengancamku juga kan. Dan dia juga tidak jarang melakukan apa yang dia bilang.


Dia sudah keluar sekarang, aku di rumah sendirian. Rumah yang sangat besar ini. Tapi aku masih sangat enggan untuk bergerak. Posisi ini sangat nyaman dan dramaku sedang seru. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkan ini semua dan mulai beres-beres? Jadi aku kembali fokus dengan dramaku.


Drtttt...


"Bangunlah sekarang atau hukuman menantimu."


Kenapa pak BaekHyun terus saja menggangguku. "Saya akan bereskan nanti malam pak, bapak tidak perlu mencemaskan hal itu." Balasku.


Cklekkk...


"Saya serius Yerin, matikan TV nya sekarang dan masuk ke kamarmu, bereskan semuanya, kamu harus mengejar ketinggalan pelajaranmu."


Pak BaekHyun sudah kembali? Itu sangat cepat. Apa dia mengebut? Pak BaekHyun mengambil remot TV-nya dan mematikan dramaku.


"Huaa.. Bapak jahat, saya lagi nonton pak." Rengekku. Kakiku menendang-nendang sofa.


"Jung Yerin, Masuk ke kamarmu dan bereskan barang-barangmu sebelum saya sendiri yang akan menyeretmu ke sana." Ucap pak BaekHyun dengan suara tegas. Ah aku benci saat dia seperti itu. Aku tidak bisa melawannya lagi. Dengan perasaan amat sangat terpaksa, aku melangkahkan kakiku meninggalkan posisi nyamanku disana dan masuk ke kamar baruku. Mataku langsung tertuju ke seluruh ruangan ini. Aku sangat menyukainya. Seluruh temboknya diwarnai dengan perpaduan pink pastel dengan putih begitu juga beberapa barangku.


Koperku sudah terbuka di atas ranjang. Baju-bajuku sudah di dalam lemariku. Tinggal dalamanku. Aku membawa semuanya ke lemari yang lebih kecil dan memasukkan semuanya kesana. Lalu dengan buku-bukuku, pak BaekHyun sudah menatanya dengan rapi di dekat meja belajarku. Laptopku dan barang lainnya sudah berada di atas meja.

__ADS_1


"Apa kamu sudah selesai?" Tanya pak BaekHyun. Dia sedang berdiri di ambang pintu.


"Ya." Jawabku singkat. Mata ku tertuju pada beberapa lembar kertas yang ada di tangannya.


"Bangunlah, jangan tidur terus. Ini quiz dan ulangan susulanmu, kapan kamu mau mengerjakannya?" Tanya pak BaekHyun. Dia mungkin sudah tahu aku memperhatikan kertas itu dari pada dirinya. Tapi aku masih tidak tahu kenapa dia selalu melihatku di saat aku sedang bermalas-malasan. Seharusnya dia melihatku saat sedang mengerjakan sesuatu, bukan setelah aku mengerjakan sesuatu dan sedang beristirahat sebentar.


"Saya bahkan belum belajar apa-apa," Jawabku. Aku masih berada di posisiku. Berbaring di atas ranjang sambil menatapnya.


"Kalau gitu mulailah belajar sekarang, ini akan semakin banyak jika kamu tidak kunjung masuk sekolah juga." Katanya.


"Saya tahu itu." Balasku.


Aku bangun dari ranjang ini dan berjalan ke arah meja belajar. "Atau ga, bapak temenin saja aja di sini," Ucapku.


"Maksud kamu? Saya masih banyak koreksian Yer."


"Percuma pak saya belajar atau tidak, nilainya bakal sama, mending bapak di sini, ngawasin saya kerjain, jadi saya ga dituduh nyontek lagi." Ucapku. Pak BaekHyun masuk dan menaruh kertas-kertas itu di atas mejaku. Tepat di hadapanku. Aku tidak tahu pelajaran 3 hari bisa sebanyak ini.


"Jangan mulai dulu sebelum saya kembali." Ucapnya. Pak BaekHyun keluar dari kamarku dan aku tidak tahu dia kemana. Tidak sampai 5 menit, pak BaekHyun kembali dengan setumpuk buku.


"Kamu kerjain, saya koreksi, adil?" Tanyanya.


Aku mengangguk. "Cukup adil." Gumamku.


"Semua guru sama saja, ga modal pen merah. Heran saya." Gumamku.


"Kita tuh bukan ga modal, tapi selalu hilang di kantor guru, saya juga ga tau kemana, kadang hilang kadang nemu banyak di meja." Sahutnya. Aku menggeleng. Ternyata ga murid ga guru sama aja. Banyak maling pen di sekolah.


Aku mulai membuka halaman pertamanya. Kimia, oke, Aku sudah belajar ini dengan Sowon. Soal, masukin rumus, hitung. Aku mencari kalkulator. Angkanya sangat jelek.


"Pak, pinjam kalkulator." Pintaku.


"Buat apa?" tanyanya.


"Buat tanam sayur pak," Jawabku. Dia mengerutkan dahinya.


"Ya buat hitunglah pak, kimia kan boleh pakai kalkulator, pinjam sebentar, kalkulator saya ketinggalan di apartemen." Ucapku.


"Serius kimia boleh pakai kalkulator?" Tanyanya dengan nada ragu-ragu.

__ADS_1


"Iya, bapak tanya aja ke gurunya, orang angkanya ga normal." Jawabku. Dia memberikan kalkulatornya, "Gantian sama saya juga, saya juga lagi butuh." Ucap pak BaekHyun.


"Bapak kan guru mat, kenapa pakai kalkulator?" Tanyaku.


"Karena saya juga manusia yang mau hidup lebih mudah, kalau ada kalkulator kenapa harus ngitung manual." Jawabnya dengan kesal.


"Ya udah pak, santai aja kali, saya cuma bercanda." Aku kembali fokus dengan pekerjaanku. Setelah selesai satu nomor, aku mengembalikan kalkulator itu ke pak BaekHyun lagi. Dan aku kembali meminjamnya di nomor selanjutnya. Padalah aku bisa sih menggunakan kalkulator Hp, tapi rasanya ga seru kalau ga bikin Pak BaekHyun emosi gitu. Biar ga bosan aja kerjain soal-soal di depanku ini.


"Pak, ini kimia, udah ya, sekarang," Aku memberikan kertas kimianya ke pak BaekHyun. Dia mengambilnya dan melihat apa aku sudah mengisi semuanya.


"Yerin," Panggilnya.


"Ya?" Aku sedang mengerjakan tugas bahasa inggrisku.


"[2,5]² [1,25] / [1,25]² kenapa bisa 6,25?" Tanya pak BaekHyun.


"Memang berapa?" Tanyaku.


"5 Yerin, kamu ini kenapa? Udah pakai kalkulator masih aja salah." Pak Baekhyun memijat dahinya sendiri. Aku mengambil kertas itu lagi dan membenarkan jawabanku. Pantas saja dari tadi aneh banget hitungannya.


"Bapak tolong cek-in aja sekalian hitungannya, kalau teorinya saya yakin bener." Ucapku. Pak BaekHyun menggeleng sambil mengacak-acak rambutnya. Dia duduk di kasurku sedangkan aku di meja belajarku. Jarak nya sangat dekat antara meja belajar dan ranjangku.


"Makasih pak BaekHyun." Ucapku dengan manis.


"Murid kalau manis begitu sama guru mah ada maunya," Gumam pak BaekHyun saat melihat wajahku. Aku tersenyum. "Tentu saja pak," Ucapku lagi.


"Itu, pangkat 0 tuh berapa? Jangan bikin saya malu, pangkat nol itu satu, bisa-bisanya salah semua." Pak BaekHyun mengembalikan kertasku.


"Masa sih? Saya tahunya pangkat 0 itu ya 0," Tanyaku.


"Mana ada kayak gitu, memang di kali apa, udah sana benerin semua, sekarang saya tahu dari mana semua nilai jelek kamu, jangan-jangan fisika juga gini lagi?" Pak BaekHyun melirikku.


"Ya saya ga bisa pangkat-pangkatan, gimana mau bisa orang bapak jelasin nya marah-marah di kelas, pas, sin cos tan juga, jadi saya juga ga bisa," Ucapku.


"Nanti saya ajarin, malu-maluin aja, udah kelas 12 masih ga bisa."


"Ya kalau saya bisa ga bakal salah semua kayak gini pak."


"Terserah kamu, cepet benerin itu, masih banyak, tadi saya ada kasih PR mate ke kelas kamu, kamu juga harus kerjain."

__ADS_1


Aku menatapnya. "Ih bapak mah, saya aja belum selesai ini udah di tambah lagi." Protesku.


"Udah ga usah banyak protes, kerjain aja, udah mau ujian kalian." Pak BaekHyun kembali mengoreksinya dan tidak melihatku lagi. Ya sudah terserahlah. Mau aku protes seapa juga ga bakal di hapus tugasnya.


__ADS_2