
...[ BaekHyun POV ]...
Aku mandi dengan sabun dan sampo Yerin, jujur saja ini benar-benar terasa seperti dia bukan muridku lagi. Aku tidak tahu mamanya membawakan dia berapa banyak handuknya, karena dia tidak mungkin memakai handuk yang sudah aku pakai. Aku keluar dari kamar mandi setelah selesai.
"Makasih." Ucapku. Dia mengangguk dan memasukkan semuanya kembali ke dalam tas itu, tas dimana aku melihat sesuatu yang seharusnya tidak aku lihat. Yerin membiarkan handuk itu dan menggantungnya disisi ranjang.
"Bapak nanti kalau pulang, bisa berangkat bareng Sowon aja ga ke sini, tapi sebelum itu, bapak bisa tolongin saya ga? Bapak ke apartemen saya sama Sowon, bawain buku pelajaran saya hari ini dan besok, sekalian alat tulis dan laptop saya pak." Pintanya.
Ih. Udah nyusahin, nyuruh lagi. Sabar Baek.
"Ribet bangun sih kamu, saya pulang mau sama bu TaeYeon nanti, bukan sama Sowon." Ucapku. Iyalah, satu sekolah bisa melihatku jika pulang bareng Sowon. Nanti kita bisa disangka ada apa-apa sampe pulang bareng. Belum lagi bingung jelasinnya sama Taeyeon gimana nanti.
"Ya sudah, tidak usah pak, biar Sowon sendiri saja, bapak pergi saja, udah hampir jam 6."
"Kamu marah?" tanyaku.
"Ya, sekarang bapak keluar saja."
Aku tahu dia marah, dia menjawabnya dengan sangat jujur, aku membereskan semua barang-barangku. "Jangan marah, saya minta maaf." Ucap ku.
"Bapak ga tahu kan salahnya di mana, sekarang bapak pergi saja, saya sedang tidak ingin melihat bapak." Ucapnya.
Salah lagi. Salah lagi. Kayaknya salah ngomong mulu deh didepan cewek. Heran sendiri kadang. Tadi kayaknya ketawa-ketawa aja. Tiba-tiba bisa marah. Di tanya marah apa enggak, jawabnya jujur banget lagi, to the point. Tapi jadi nyesek banget dah. Mendingan dia jawab enggak aja. Kayak masih bisa di pikir-pikir dulu gitu salahnya dimana. Ga langsung jawab Ya. Kesannya kayak cowok tuh udah yang pasti salah, tapi kita ga tahu salahnya dimana. Mungkin itu alasannya cewek pada ga suka jawab ya kalau di tanya 'kamu marah ya?' 'Kamu bete ya?'. Dengar jawabanya, nyesek banget gitu dah.
Terus kalau udah minta maaf, pasti di bilang, "Kamu ga tahu kan salah kamu tuh dimana, jangan minta maaf kalau ga tahu salahnya."
Aku keluar dari sana dan masuk ke mobilku sendiri. Ya aku harus pulang dulu, ganti baju, baru jemput TaeYeon di rumahnya. Dia pasti mencariku semalam. Aku menolak semua panggilannya dan mengabaikan pesannya. Dia pasti akan sangat marah saat melihatku nanti.
Tapi semalam itu benar-benar tidak mungkin aku mengangkat telepon dari TaeYeon saat semuanya ada disana. Itu sama saja dengan bunuh diri.
Aku sudah sampai rumah. Aku langsung mengganti pakaian dan mengambil buku-bukuku untuk hari ini. Aku cepat-cepat kembali ke dalam mobil untuk menjemput TaeYeon.
Aku dengan cepat sampai didepan rumah Taeyeon dia kebetulan sekali baru keluar dari rumahnya.
Dia langsung masuk ke dalam mobilku, duduk dan memakai sabuk pengamannya.
"Yeon, akan aku jelaskan nanti oke?" Ucapku. Dia memegang kepalanya dan mengangguk.
__ADS_1
Aku menjalankan mobilku ke arah sekolah. "Kemana saja kamu kemarin?" Tanya TaeYeon.
"Aku di rumah sakit," jawabku. Dia menatapku dengan tatapan bingung. "Siapa yang sakit?" Tanyanya.
"Bukan aku, tapi Yerin, aku membawanya ke rumah sakit dan dia mengalami alergi makanan sekaligus keracunan makanan." Ucapku. Aku harap dia tidak marah. Dia diam.
"Kamu akan ke sana lagi nanti?" Tanyanya. Aku mengangguk. Aku tidak ingin berbohong dengannya, dia mungkin tidak akan mempercayaiku sekali aku berbohong kepadanya.
"Aku ikut, aku tidak punya alasan untuk membencinya, dia masih murid kita kan, aku yakin dia juga tidak mencintaimu dan terpaksa di jodohkan juga, sama sepertimu," ucap TaeYeon. Aku tersenyum senang. Aku pikir dia akan marah dan membenci Yerin. Ternyata tidak.
"Apa Sowon juga bisa ikut nanti pulang sekolah?" Tanyaku. Jika kalian semua ingin tahu, aku bertanya itu, jantungku berdegup dengan sangat kencang. Aku harap aku masih hidup setelah ini.
"Kenapa? Yerin yang memintanya?" Tanya TaeYeon. Aku mengangguk pelan.
"Boleh saja, kenapa tidak, mereka murid kita, tenang saja Baek, aku percaya padamu, kamu tidak mungkin menyukai muridmu sendiri," jawab Taeyeon. Aku bisa bernafas lega sekarang.
"Ayo turun, kita harus masuk." Ucapku. TaeYeon mengangguk. Aku keluar dan mengunci mobilku. TaeYeon sudah masuk dari tadi. Aku sekarang menyusulnya masuk. Tapi sebelum ke kantor guru, aku harus menemui Sowon dulu.
"Sowon." Panggilku. Untung saja dia sudah datang. Dia bangun dari mejanya dan berjalan keluar kelas.
"Kenapa pak? Eh, bapak ga marah kan tentang semalam? Maap banget pak, cuma bercanda." Ucapnya. Aku ingin sekali mengerjainya, tapi aku bukan anak kecil lagi. Ya sudahlah.
"Ga mau ah, saya mau pergi sendiri aja, nanti saya malah liat bapak bucin sama bu TaeYeon, kirain saya ga tahu apa, saya ga mau jadi nyamuk, cukup jadi nyamuk di tengah TaeHyung sama Yerin." Ucapnya.
"Kamu pikir saya bakal pacaran sama bu TaeYeon di depan murid apa, udah ikut aja, jangan tambah ribet saya." Ucapku.
"Ya, ya, nanti saya ambilin, dia nitip apa aja?" Tanyanya.
"Katanya buku pelajaran hari ini dan besok, alat tulis dia, sama laptop dia." Jawabku. Sowon mengangguk.
"Ya sudah, nanti saya ambil ke apartemennya." Ucapnya.
"Baiklah," Aku pergi ke kantor guru meninggalkan Sowon di depan kelasnya.
...*****...
Hari ini sekolah berjalan seperti biasa. Sekarang semuanya sudah selesai. TaeYeon dan Sowon sedang menungguku mengambil mobil. Aku menjemput mereka berdua. TaeYeon duduk di sebelahku dan Sowon duduk dibelakang.
__ADS_1
"Kita ke apartemen Yerin dulu baru kita ke rumah sakit." Ucapku.
Mereka berdua hanya mengangguk saja dengan menatap ponsel mereka masing-masing. Aku harus sabar. Semakin banyak perempuan, artinya aku akan semakin banyak salah. Itulah prinsip baruku.
Aku berhenti di depan apartemen Yerin. Sowon turun lebih dulu dan aku mengikutinya dari belakang. TaeYeon tidak mau turun dan memilih untuk menunggu di mobil. Aku tidak masalah dengan itu. Sekarang aku sedang berada di lift bersama Sowon. Dia sama sekali tidak banyak bicara. Setelah pintu lift terbuka, Sowon langsung berjalan mendahuluiku. Dia memencet pin apartemennya dan masuk ke dalam. Aku mengikutinya hingga ke dalam kamar Yerin.
Aku melihat Sowon kebingungan mencari tas Yerin. Aku membuka lemarinya. "Ini tasnya." Ucapku.
"Kok bapak bisa tahu?" tanyanya. "Bapak pernah ke sini ya?"
Aku mengangguk. "Saya ini calon suaminya, ya wajar saja, tapi kamu tenang saja, saya tidak akan macam-macam dengan Yerin, saya juga sadar dia masih SMA." Ucapku.
Sowon kembali memasukkan buku-buku Yerin ke dalam dan juga laptopnya. Sowon seperti mencari sesuatu. "Cari apa lagi?" Tanyaku.
"Bapak, minggir dulu." Sowon tiba-tiba mendorongku menjauh dari lemari. Astaga. Apa semua murid kurang ajar jika di luar sekolah? Tapi aku memang harus ekstra sabar dengan semuanya. Sowon keluar dari kamar Yerin dan kembali dengan map coklat itu. Aku tahu persis apa isinya.
Dia membuka itu. "Pak, saya mau tanya, mereka bilang ini soal ujiannya, tapi, ada yang aneh gitu pak." Ucap Sowon sambil menerawang kertas itu. Dia memberikannya kepadaku.
Aku mencoba menerawang kertas itu. Aku terkejut ketika ada sesuatu yang bisa terbaca. "Matilah Kamu Yerin!!." Aku melihat soal-soal itu lagi. Ini memang soal ujian, tapi apa ada orang yang sengaja ingin melukai Yerin? Tapi kenapa? Apa mungkin ada yang tahu kalau Yerin mendapat bocoran soal?
"Yerin belum lihat kan pak?" tanya Sowon. Aku menggeleng.
"Bagus." Gumamnya.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Ini bukan yang pertama kali, dia pernah mendapatkannya sebelum ini, tapi dia juga tidak membacanya, saya menyobek kertas itu sebelum dia melihatnya." Jawabnya.
"Pernah juga? Kapan?" Tanyaku.
"Beberapa bulan yang lalu, ada seseorang yang memberikan kertas berisi tulisan dari darah, 'Yerin, Matilah kamu!' Saya takut Yerin akan trauma dan ketakutan jika melihatnya, jadi saya menyobek dan membuang kertas itu." Jawabnya.
"Dimana?" Tanyaku.
"Di kelas pak." Jawabnya.
"Kalau gitu nanti saya coba selidiki, kamu bawa ini dulu, kamu pegang dulu saja, siapa tahu ini bisa jadi barang bukti." Ucapku. Dia memasukkan kertas itu ke dalam tasnya. Aku membawa tas Yerin karena Sowon pasti sudah berat membawa tasnya sendiri.
__ADS_1
Aku dan Sowon mengunci pintu apartemen Yerin dan kembali ke mobil lagi.
...[ BaekHyun POV END ]...