Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 40 - Malam Bersamanya


__ADS_3

...[ BaekHyun POV ]...


Entahlah, hanya perasaanku saja atau memang aku merasa perbincanganku dengan Yerin tidak pernah seperti anak kecil yang membahas hal yang tidak penting. Selalu masalah uang, masa depan, investasi, dan lain-lain. Berbeda dengan perbincanganku dengan TaeYeon dulu, dia selalu mengajakku membicarakan tentang liburan yang akan datang, tempat-tempat bagus yang akan dikunjungi. Tapi Yerin tidak pernah membahas hal yang menyenangkan seperti itu.


Di sekolah dan diluar, pembicaraannya selalu berbobot, mungkin karena dia anak pemilik perusahaan besar di Korea jadi didikan sejak kecilnya juga berbeda. Dia berteman dekat dengan Sowon, sebenarnya itu jadi masuk akal, orang tua mereka pasti juga menjalin kerja sama, begitu juga dengan orang tuaku.


Sikap Sowon jauh lebih dewasa dari Yerin, tapi Yerin sendiri saja sudah cukup dewasa aku pikir. Jika terlalu dewasa, aku pikir aku akan jenuh dan bosan bersamanya, sedikit perdebatan di dalam hubungan lebih bagus dari pada hubungan yang datar tanpa adanya pertengkaran sama sekali.


Aku cukup nyaman setelah hampir 1 minggu mendekati Yerin. Aku rasa dia juga tidak masalah sekarang. Aku perhatikan dia mulai bisa menerima keadaan ini secara perlahan, dengan aku tidak memaksanya juga.


Ada banyak hal yang tidak pernah aku lihat di dalam diri Yerin selama ini. Sejak dia kelas 10, aku pikir dia hanya anak malas yang tidak akan naik kelas. Tapi dia terus naik dan membuat guru-guru kagum belakangan ini. Aku juga tidak pernah tahu Yerin memiliki banyak bakat yang luar biasa diluar pelajaran sekolahnya. Walaupun dia tidak begitu bagus dalam pelajaran sekolah, aku yakin dia akan sukses kelak. Dia sudah mempersiapkan segalanya sejak remaja.


Dia mengerti cara kerja sebuah bisnis, dia memiliki kemauan yang bahkan itu belum tentu ada dalam diri orang dewasa. Misalnya saja bukunya terus saja ditolak, sampai akhirnya bisa diterima, aku yakin itu bukan proses yang sebentar. Pasti membutuhkan perjuangan dan kerja keras untuk mewujudkan sesuatu.


Aku tidak ingin mengekangnya dalam pernikahan ini, aku tetap akan membiarkannya kuliah, dimana pun dia mau. Aku tidak akan menghalangi cita-citanya.


Aku kembali ke kamarku sendiri dan mengecek ponselku. Tidak ada panggilan ataupun pesan masuk lagi dari TaeYeon hari ini. Aku menghela nafasku dan membaringkan tubuhku di atas kasurku sendiri yang amat besar ini. Hatiku masih sakit karena aku memutuskannya seperti itu. Tapi aku harus. TaeYeon layak mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku.


Aku harap dia bisa cepat melupakan aku dan mencari penggantiku di hatinya. Aku tidak tahu apa dia sedang menangis sekarang? Dia tidak ada di sekolah tadi. Kata Sehun dia tidak masuk seharian, begitu juga kemarin.


Sebenarnya aku masih sedikit khawatir tentang TaeYeon, walaupun kita tidak memiliki hubungan apapun lagi, tetap saja aku akan merasa bersalah jika sesuatu sampai terjadi padanya karena ulahku. Tapi aku takut jika aku menghubunginya, Yerin akan mengetahuinya lalu salah paham tentang itu.


Ini sudah jam 11 lewat, aku tidak tahu apa Yerin sudah tidur atau belum. Tadi dia bilang akan tidur jam sepuluh.


Aku bangun dan memeriksa sendiri ke kamarnya.


Cklekkk...


Lampu kamar nya memang sudah mati, tapi, aku pikir ada yang aneh di sini. Aku masuk perlahan dan menutup pintu.


"Won, ayolah, ceritakan padaku, aku masih penasaran, sepertinya pak BaekHyun sudah keluar,"

__ADS_1


"Apa kamu yakin? jadi tuh, tadi di sekolah, pas aku keluar dari kamar mandi, aku sempat ngelihat pak Sehun sama bu Irene berduaan."


"Terus. Terus?"


"Wah, kamu harus nya liat sendiri, bener-bener."


"Bener-bener apa?" Tanyaku dengan suara tegas.


Yerin melompat dari kasurnya saat mendengar suaraku. Aku menyalakan lampu. Sowon dan Yerin, keduanya terdiam.


"AAAA YERIN!! AKAN KUBUNUH KAMU SAAT KITA BERTEMU NANTI LIHAT SAJA!!."


"SOWON JANGAN TINGGALIN AKU, KELARIN DULU CERITANYA, SAMA CEPET KESINI BANTUIN AKU, PAK BAEKHYUN SEREM DISANA!!!"


"GAAA!!! GA MAU,, URUS AJA SENDIRI, KAN UDAH AKU BILANG BESOK AJA!! NGEYEL SIH, UDAH AH, DAH, SEMOGA SELAMAT!!!"


Sowon mematikan telepon mereka. Aku berjalan mendekati mendekatinya. Dia berusaha bersembunyi di bawah selimutnya.


"Jung Ye-Rin, keluar dari sana." Ucapku dengan nada dingin. Kepala Yerin nongol dari balik selimut sambil memberikan senyuman lebarnya. Aku membalas senyuman lebarnya itu.


"Nanggung pak, saya mau tahu drama pak Sehun dengan bu Irene, Sowon tadi udah nonton live di sekolah." Ucap nya.


Apa-apaan lagi ini? Sehun dan Irene bucin di sekolah sampai jadi tontonan murid-murid, apa dia tidak malu?


"Ga boleh kayak gitu, itu melanggar privasi guru, kalian pacaran aja guru-guru ga nontonin kan?" tanyaku. Aku berusaha mengatakannya selembut mungkin. Dia menunduk. "Maaf pak." Ucapnya.


"Jangan minta maaf ke saya, Sowon yang harus minta maaf ke bu Irene dan Pak Sehun, saya yakin mereka pasti berduaan bukan di tempat ramai dan banyak murid, sekarang tidur, atau saya yang tidurin kamu." Ancamku. Dia menarik selimutnya dan menaruh ponselnya di atas meja belajarnya. Dia dengan cepat mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur.


Aku berjalan ke sebelahnya dan berbaring di sebelahnya. Dia di dalam selimut, aku di luar selimut.


"Cepat tidur, saya akan disini sampai kamu tidur," Ucapku.

__ADS_1


"Bapak ga akan aneh-aneh kan?" Tanyanya karena aku memeluknya dari luar selimut.


"Enggak, cepat tidur," Ucapku. Dia mengangguk dan menutup matanya. Dia berusaha tertidur. Aku hanya memandanginya dari sini tanpa mengganggunya sama sekali.


"Pak," Panggilnya.


Hahh.. Aku pikir dia sudah tertidur.


"Apa Yerin?" jawab ku.


"Apa bu TaeYeon baik-baik saja?" Tanyanya. Kenapa dia bertanya tentang bu TaeYeon?


"Kenapa?" balasku.


"Kata Sowon dia tidak melihat bu TaeYeon masuk sekolah 2 hari ini, dan juga katanya tadi siang dia melihat bu TaeYeon sedang minum di sebuah club, saya takut bu TaeYeon kenapa-kenapa karena bapak mutusin dia dadakan kayak gitu." Ucapnya.


"Yerin, jangan pikirkan dia lagi, lusa kita sudah menikah, lebih baik jangan ada orang ketiga di dalam hubungan ini, Dia akan baik-baik saja, masih banyak laki-laki baik yang mau sama bu TaeYeon." Ucapku.


"Tapi apa bapak bisa menemuinya? Hanya untuk memastikan dia baik-baik saja." Pintanya.


Aku menggeleng. "Tidak Yerin, keputusan saya sudah bulat, saya hanya akan mengurus kamu, dan sekarang tidur lah, jangan buat saya marah dan menghukum kamu di sini, tidak ada siapa-siapa lagi di rumah kita," Ucapku.


Dia menggelengkan kepalanya dan semakin bersembunyi di balik selimut itu. Dia terlihat sangat lucu dan imut walaupun dia sudah kelas 12. Aku mengelus rambutnya. Aku tidak berniat melakukan apapun disini, hanya menemaninya tidur. Karena aku pikir Yerin sudah benar-benar tertidur, aku berniat kembali ke kamarku. Aku juga harus tidur, besok jam pertama aku ada kelas. Sebenarnya kadang aku menyesal juga mengambil jurusan matematika, bayangkan saja, pagi-pagi jam 7 sampai jam 2 siang liatnya angka semua. Pelajaran lain masih ada teori, masih ada kata-kata gitu. Ini yang huruf aja pelit banget. Tapi ya sudah lah, tidak ada yang bisa aku lakukan tentang itu. Memang sudah keputusanku ingin mengambil jurusan matematika.


Aku bangun dari ranjang Yerin secara perlahan dan keluar dari sana. Aku ingin segera kembali ke kasurku.


Drtttt...Drrtttt...


"Aku mabuk, bisa tolong jemput aku di club Pearl, thanks."


Aku menghela nafasku dengan kasar. Kenapa dia bisa mengirimku pesan padalah dia sedang mabuk dan aku tidak memiliki hubungan apa pun lagi dengannya. Tapi aku juga benar-benar tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Kami bukan musuh bebuyutan. Sekarang hanya seorang teman.

__ADS_1


Aku mengambil kunci mobilku dan melajukannya ke bar itu. Semoga saja dia tidak kenapa-napa.


...[ BaekHyun POV END ]...


__ADS_2