
"Yerin, ayo bangun dari sana, kamu itu udah sembuh, masih aja tiduran mulu."
Aku melihat pak BaekHyun yang sudah selesai memindahkan semua barang-barangku ke mobilnya dan aku sendiri masih pw tiduran disini.
"Lagi enak pak," Ucapku.
Pak BaekHyun menarik tanganku yang sedang bermain ponsel. "Ayo cepet, atau saya gendong nih ke mobil." ancamnya. Aku menatapnya. Dia tidak mungkin berani melakukan itu.
"Saya serius Yerin, saya hitung sampai 3, kalau ga bangun saya gendong kamu ke mobil."
Aku masih ingin lihat bagaimana reaksi ya. Aku diam saja sambil melanjutkan aktivitasku. "Satu."
Aku masih cuek. "Dua."
Masih cuek juga. "Yerin saya serius," Ucapnya sekali lagi. Memang dari tampangnya pak BaekHyun lagi kesal sih.
"Tiga." / "BAPAK!!!!."
Pak BaekHyun menurunkanku dari gendongannya setelah aku berteriak. "Udah saya bilang saya serius, cepet jalan sendiri." Ocehnya. Aku mengambil jaketku dan memasukkan ponselku ke dalam jaketku. Pak BaekHyun tidak merangkulku atau menggandengku sama sekali karena aku memasukkan kedua tanganku ke saku jaketku sendiri.
Akhirnya aku sampai di parkiran. Selama dua hari pak BaekHyun tidak mengajar dan hanya menemaniku di rumah sakit. Jika dipikir-pikir, tanpa pak BaekHyun pasti aku akan sangat kesepian jika sendirian doank di sana, tapi karena ada pak BaekHyun, aku jadi ada teman berantemnya.
"Yerin, ini untukmu." Pak BaekHyun memberikan ku sebuah coklat. "Saya dengar kamu suka coklat," Sambungnya. Aku tahu, pak BaekHyun pasti bertanya dari Sowon, hanya Sowon yang tahu coklat kesukaanku.
"Sowon." Gumamku pelan. Aku mengambilnya dari tangan pak BaekHyun. "Makasih pak." Ucapku.
"Anggap saja itu hadiah kecil dari saya karena kamu sudah sembuh," Ucapnya. Aku mengangguk. Jika masalah coklat ini, aku tidak bisa menolak untuk memakannya. Pak BaekHyun mulai menjalankan mobil ya keluar dari tempat parkir rumah sakit. Dan aku sendiri, aku menikmati coklatku sekarang.
"Bapak mau?" Tanyaku. Pak BaekHyun menggeleng. Kita sedang di lampu merah, jadi tidak berbahayakan kalau aku sedikit menjahili pak BaekHyun. Sebuah ide pun muncul di kepalaku. Aku tidak tahu pak BaekHyun akan suka atau tidak coklat ini, tapi aku mengambil sedikit coklat itu di tanganku dan memeperkannya ke bibir pak BaekHyun. Dia menatapku dengan tatapan kaget.
Dia menjilat bibirnya yang terkena coklat itu. "Yerin, jangan jahil di mobil." Ucapnya kesal.
"Enak ga pak?" Tanyaku.
"Iya. Iya enak, kamu kayak anak kecil aja harus dijawab gitu." Ucap pak BaekHyun. Aku tersenyum sendiri karena berhasil membuat pak BaekHyun kesal lagi.
Aku menghabiskan semua coklat itu dan membuang bungkusnya di tempat sampah mobil. Aku pikir rumahnya akan jauh, ternyata rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku sendiri.
"Ayo turun." Ajak pak BaekHyun. Aku turun dari sana. Kali ini aku merasa tangan pak BaekHyun menggenggam tanganku. "Jangan pikir rumah ini orang tua saya yang beli, ya memang mereka sih yang milih, tapi yang bayar tetap saya tahu," Bisiknya.
__ADS_1
Aku tersenyum. "Kenapa bapak ngomong ke saya masalah siapa yang beli? Antara bapak ga ikhlas atau bapak minta saya gantiin juga duitnya?" Tanyaku dengan nada bercanda.
"Kalau bisa bayar 50 50 Yer," Sambungnya. Aku menyikut perutnya. "Akh.. Sakit tahu." Ucapnya sambil memegang perutnya.
"Jangan lebay pak, saya pakai tenaga cewek, masa segitu aja sakit." Ucapku. Aku meninggalkan pak BaekHyun diluar sana. Dia mengejarku dan kembali menggenggam tanganku.
"Hanya bercanda Yer, Jangan main tinggalin aja donk." Ucapnya.
"Baiklah," Jawabku.
Aku melihat ke taman rumah ini. "Saya rasa ini terlalu berlebihan." Ucapku.
"Menurut saya biayanya juga terlalu berlebihan." Sahutnya. Aku menatapnya. Lagi-lagi masalah uang. Aku masuk ke dalam rumah itu. "Yerin, selamat datang di rumah kalian." Sambut mama dengan sangat senang. Aku memeluk mama.
"Ma, memangnya bener, rumahnya beli pakai uang Pak BaekHyun?" Tanyaku.
"Kok sebutnya masih pak sih? Yang romantis donk, kan kalian sebentar lagi menikah," Ucap mama.
"Lusa sayang." Sambung papa.
Iya aku baru sadar, lusa aku akan menikah. Kenapa jadi secepat ini. Pak BaekHyun masuk ke rumah itu.
"Memang benar Yer, sofa ini saja, harganya sebanding dengan sebuah mobil," Ucap papa. Aku melotot tidak percaya. Memang nya pak BaekHyun sanggup bayar? Memangnya seberapa besar penghasilan pak BaekHyun hingga bisa membeli rumah dan barang-barang semahal itu? Itu yang menjadi pertanyaanku.
"Ma, mama sudah masak?" Tanyaku.
"Belum, kenapa? Apa kamu sudah lapar?" Tanya mama.
"Enggak ma, biar aku yang masak hari ini, kata nya ada yang mau makan masakan aku." Ucapku sambil melirik ke arah pak BaekHyun. Mama tersenyum.
"Ya sudah, boleh saja, tapi jangan kelelahan ya, kamu baru sembuh, mama sudah siapkan semua bahannya di kulkas," Ucap mama. Aku mengangguk dan melangkahkan kaki ku ke arah dapur. Jujur saya aku sangat terpukau dengan rumah ini. Rumah ini bahkan jauh lebih besar dari pada rumah mama dan papa.
Aku sudah sampai di dapurnya, bahkan aku tidak tahu ini dapur rumah atau dapur restoran, semua nya sangat lengkap disini.
"Kamu suka rumahnya?" Tanya pak BaekHyun tiba-tiba. Aku berbalik dan menghadapnya.
"Ini rumah yang besar dan mewah." Ucapku. Dia mengangguk. "Pak, boleh saya tanya sesuatu?" Tanyaku.
"Apa?"
__ADS_1
"Dari mana uang sebanyak itu? Gaji gurukan tidak sebesar itu." Tanyaku.
"Sebenarnya papa memberikan saya black card miliknya, dan itu kartu yang saya gunakan untuk membeli mobil kamu dan rumah ini." Jawabnya.
"Kalau begitu itu bukan uang bapak, ga usah bangga." Balasku.
"Tapi itukan jatah saya yang dipakai buat keperluan bersama, jadi sekarang kamu mau masak apa?" Tanyanya.
"Nasi pakai garam." Jawabku.
"Masa Nasi pakai garam doank, udah alat masak lengkap juga,"
Aku membuka kulkas. Bahan makanan juga sudah lengkap semua. "Bapak ada request mau makan apa?" tanyaku.
Terlihat dia senang mendengar pertanyaanku. "Saya mau coba steak buatan kamu." Jawab pak BaekHyun.
"Steak? Salmon? Sapi?" Tanyaku.
"Salmon deh, lagi pengen ikan saya." Jawabnya dengan cepat. Aku mengeluarkan 4 potong salmon.
"Pak, bapak tunggu aja di depan, nanti jadi saya panggil." Ucapku. Dia menggeleng.
"Saya mau lihat kamu masak aja disini." Jawabnya.
Ya sudahlah, aku biarkan saja. Aku mulai mengeluarkan daging salmon itu dan membumbuinya dengan bumbu andalanku. Aku memasukkannya ke dalam panggangan lalu menyetel timer disana. Selanjutnya aku membuat sayuran pendampingnya. Aku menyiapkan air di panci lalu memarut jagung, memotong wortel menjadi kotak kecil-kecil dan buncis pendek-pendek. Aku memasukkannya ke air mendidih yang sudah aku siapkan tadi. Lalu saus untuk steaknya.
"Bapak suka mushroom atau BBQ?" Tanyaku.
"BBQ saja," Jawabnya. Aku langsung membuka bungkusan saus BBQ dan memasak sausnya. Salmonku sudah matang.
"Pak, bisa tolong panggilkan mama dan papa, salmonnya udah matang." Ucapku . Pak BaekHyun keluar untuk memanggil mama dan papaku. Aku menyiapkan 4 piring dan meletakan salmonnya satu piring satu. Aku menata sayuran tadi dan juga menyiram steak itu dengan saus yang sudah aku buat. Akhirnya jadi juga.
Aku menatanya di atas meja. Mama, papa dan pak BaekHyun sudah berada di ruang makan. "Steak salmon? Mama kamu sudah lama tidak membuatnya, tahu aja papa lagi pengen." Ucap papa.
"Itu pesanan BaekHyun pa," Ucapku.
Papa menatap Pak BaekHyun. "Selera kita sama." Bisiknya. Papa tersenyum, dibalas senyuman juga oleh pak BaekHyun.
"Cepat di makan, nanti keburu dingin." Ucap mama.
__ADS_1
"Selamat makan." Ucapku. Aku sendiri juga lapar. Aku duduk diantara papa dan pak BaekHyun. Mungkin kebiasaan dari kecil, papa selalu berada diantara aku dan mama, dan biasanya sebelahku adalah kak Farrel, tapi sekarang dan seterusnya, mungkin sebelahku akan menjadi pak BaekHyun.