
Aku dan Pak BaekHyun sudah sampai di depan butik itu. Mama dan mama Byun juga sudah berada di sana.
"Halo ma," Sapaku sambil tersenyum.
"Kamu ga bawa tas atau dompet Yer?" Tanya mama. Aku menggeleng.
"Hanya bawa debit, dan ponsel." Jawabku. Mama mengangguk dan mengajakku masuk ke dalam. Pak BaekHyun mengikutiku dari belakang.
"Kamu mau gaun yang kayak gimana?" Tanya mama Byun.
"Yang simpel aja ma." Jawabku. Mama mengangguk dan mulai memilihkan gaun untukku. Aku mencoba gaun pertamaku.
"Kamu suka Yer?" Tanya mama Byun.
Aku menggeleng sedikit. "Aku rasa ini terlalu terbuka ma." Ucapku.
"Coba tanya calon suami kamu di depan." Ucap mama. Sebenarnya aku tidak mau melakukannya, tapi mama memaksaku. Ya sudah aku terpaksa menurut sekarang.
"Emm. Pak, gimana menurut bapak? Mama suruh tanya bapak." Ucapku.
"Terlalu terbuka," Jawabnya. Sudah kuduga. Ini juga yang aku pikirkan. Aku kembali untuk mencoba yang lain.
"Terlalu panjang."
"Tidak cocok."
"Terlalu norak."
"Terlalu simpel."
"Terlalu ketat."
"Terlalu mencolok."
"Kurang pas"
"Jelek, Ganti."
Aku mencoba Dress terakhirku. Lihat saja jika dia masih tidak menyukainya, akan aku hajar dia, aku tidak peduli jika dia adalah wali kelasku atau apa. Aku sangat lelah. Ini sudah gaun ke 10 yang aku coba. Ini akan menjadi gaun terakhir yang aku coba, jika masih jelek juga, dia pilih saja yang terbaik dari 9 gaun yang sudah aku pakai tadi. Aku keluar untuk menunjukkan kepadanya setelah selesai memakainya.
"Pak Baek, saya lelah, jika masih jelek, pilih saja dari yang sebe-"
__ADS_1
"Saya suka yang ini." Dia memotong ucapanku. Aku akhirnya bisa bernafas lega.
"Kalau begitu saya ambil yang ini saja." Ucapku. Mama tersenyum mengangguk. Aku kembali ke ruang ganti untuk kembali memakai pakaian ku.
"Bagaimana dengan bapak?" tanyaku.
"Saya sudah mencari nya," Jawabnya.
"Kapan?" Tanyaku.
"Saat kalian mencari gaun untukmu, Sekarang ayo pergi." Ucap pak BaekHyun. Aku mengerutkan dahiku.
"Kemana?" Tanyaku lagi.
"Kita pergi makan siang, apa perut mu tidak lapar? Kamu belum sarapan kan." Tanya pak BaekHyun. Iya ya, aku belum makan tadi pagi.
"Sebentar, bilang dulu sama mama." Aku melepas genggaman tangan pak BaekHyun dan berlari ke arah mama.
"Ma, aku dan um.- BaekHyun akan pergi makan siang dulu ya." Aku meminta izin mama dulu sebelum pergi. Aku takut mama akan khawatir jika aku pergi tanpa bilang terlebih dahulu.
"Tentu saja sayang," Mama terlihat sangat senang karena aku terlihat akrab dengan pak BaekHyun, padalah kenyataannya tidak begitu. Aku kembali ke pak BaekHyun.
"Kita bayar masing-masing aja." Ucapku. Aku berjalan mendahului pak BaekHyun. Kebetulan di depan butik ada sebuah restoran. Jadi aku tidak perlu jauh-jauh lagi mencari restoran. Aku dan BaekHyun terpaksa duduk di satu meja yang sama karena mama bisa melihat kami dari butik seberang restoran.
"Tidak apa-apa, hanya ingin saja." Jawabku.
"Seseorang pernah memberitahu saya, kalau perempuan berkata tidak apa-apa, artinya kebalikannya." Ucap pak BaekHyun.
"Ekhm.. Maaf sebelum nya pak, bukan saya ingin bersikap tidak sopan, tapi saya akui bapak memang pintar dalam matematika, tapi bapak sangat bodoh dalam urusan perempuan ya pak." Ucapku. Aku tidak tahu aku mendapat keberanian dari mana hingga aku bisa mengatakan itu. Aku baru saja mengatakan kalau pak BaekHyun bodoh. Wah. Sepertinya ini bukan diriku.
"Kalau saya pintar dalam urusan ini, saya tidak mungkin sampai dijodohkan dengan anak bocah seperti kamu Yerin." Jawab nya kesal.
"Jadi secara tidak langsung bapak mengaku kalau bapak bodoh di dalam urusan seperti ini," ucapku. Entah kenapa aku merasa senang jika meledek pak Baekhyun seperti ini.
"Saya yang bayar," ucap pak Baekhyun.
Aku tetap tidak mendengarkannya. Salah satu pelayan menghampiri meja kami, "Ingin pesan apa?" Tanyanya.
Aku tersenyum, apa lebih baik aku mengerjai dia? Mungkin iya.
"Bapak yakin ingin membayar semuanya?" Tanyaku. Dia mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Aku rasa dia tahu apa yang aku pikirkan.
__ADS_1
"Jangan aneh-aneh jung Yerin, pesan yang bisa di habiskan saja," Dia menatapku dengan serius tapi Aku tetap tidak peduli.
"Bapak yang bayar atau saya yang bayar?" Tanyaku sekali lagi. Jarang-jarangkan murid bisa seperti ini kepada gurunya.
"Saya yang bayar, kamu itu masih belum kerja, jangan sok-sok mau bayar sendiri." Ucap Baekhyun kesal.
Aku mengangguk. "Lobster nya 1, kepitingnya 1 porsi, steak salmon yang ini satu porsi, dan minumnya, wine?" Aku mengangkat satu alisku ke arah pak Baekhyun.
"Tidak, minum nya dua air mineral," Bantahnya.
"Saya mau jus," Potongku.
"Baiklah 2 gelas jus.." "Melon." Sambungku Pak BaekHyun mengangguk. "Ya, dua gelas jus melon. dan untuk makanan saya, ramen kepiting saja."
Pelayan itu mencatat pesanan kami. Setelah kepergiannya, pak BaekHyun menatap tajam ke arahku. "Tidak ada minuman beralkohol," Ucapnya.
"Sayakan udah legal," Sahutku.
"Tetap tidak boleh," Balasnya cepat.
Ya sudah jika seperti ini aku mengalah saja, dari pada dia memberitahu orang tua ku nanti, semoga saja dia belum melihat isi kulkas apartemenku. Dia membukan ponselnya dan hanya menatap ke sana. Aku tidak pernah tahu pak BaekHyun tipikal guru yang suka bermain ponsel. Aku masih memandangi nya terus hingga dia memutar sisi ponselnya. Aku yakin dia sedang bermain game.
"Bapak main game?" Tanyaku. Walaupun sudah pasti jawabannya adalah 'ya'.
"Ya, kenapa?" Jawabnya singkat. Jari-jari nya masih saja terus memencet layar ponselnya.
"Sering?" Tanyaku. Dia mengangguk.
Astaga.
Tidak TaeHyung tidak pak BaekHyun, keduanya saja sama. Kenapa semua laki-laki di dunia sangat suka bermain game? Aku membuka ponselku dan mendownload game itu. Aku ingin tahu seberapa seru game itu hingga banyak sekali laki-laki yang memainkannya hingga mengabaikan orang lain di sekitarnya.
Pelayan yang tadi sudah kembali lagi ke meja kami dengan makanan pesananku yang amat banyak ini, "Silahkan di nikmati makan siangnya." Ucapnya sebelum pergi. Aku mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih." Ucapku pada pelayan itu.
"Pak, udah kali main game nya, makan dulu, ramen nya nanti dingin." Tegurku. Pak BaekHyun sama sekali tidak mendengarkan aku. Ya sudahlah, Aku makmumi saja, TaeHyung juga sama seperti ini. Aku membuka lobster panggangku, ada keju di atasnya. Aku memakannya dengan sendok yang sudah di sediakan. Rasanya sangat enak. Aku dengan cepat menghabiskan lobsterku dan beralih ke streakku. Aku akan memakan kepiting nya terakhir.
Bahkan sampai aku selesai makan streak salmonku, pak BaekHyun belum menyentuh ramennya, bahkan belum diaduk. Aku yakin ramen nya akan keras sebentar lagi. Aku baru berniat membuka cangkang kepitingku, aku melihat pak BaekHyun lagi.
Di sekolah dia memang terlihat galak dan tegas, tapi setelah aku mengenalnya di luar Sekolah, dia terlihat seperti anak mama, pantas saja dia sampai di jodohkan denganku. Aku mengambil kuah ramen itu dan menunangkannya ke dalam mangkuk ramen pak BaekHyun. Aku sudah tidak tahan lagi.
Aku mengambil ponselnya dan memberikannya sumpit. "Ponselnya saya kembalikan setelah makan." Ucapku.
__ADS_1
"Yer, apa-apaan sih kamu, balikin ponsel saya sekarang." Dia kesal dan marah. Aku tahu. Tapi aku mengabaikannya. Aku memasukkan ponselnya ke saku jaketku jadi dia tidak akan bisa mengambilnya sendiri.
"Makan dulu baru saya kembaliin." Balasku. Dia mengambil sumpit dan memakan ramennya. Aku sendiri membuka kepitingku dengan perasaan yang amat puas. Ternyata sangat menyenangkan jika melakukan ini. Pak BaekHyun terlihat makan dengan sangat terburu-buru. Aku yakin karena game ini. Sudah pasti.