
Aku bangun dan melihat Pak BaekHyun sudah di kamarku. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan sepagi ini di kamar ku.
"Selamat pagi Yerin." Sapanya.
"Selamat pagi juga pak, bapak kenapa disini pagi-pagi?" Tanyaku.
"Apa kamu mau jalan-jalan hari ini?" Tanyanya.
Jalan-jalan?
"Kemana?" Tanyaku.
"Minum dulu susu ini, lalu kamu mandi, setelah itu kita antar Sowon dulu ke apartemen kamu, baru kita pergi jalan-jalan." Ucap pak Baekhyun sambil tersenyum.
Aku mengangguk. Dia sudah merencanakan semuanya . Aku meminum susuku dan pak BaekHyun berjalan ke luar dari kamarku. Setelah susuku habis, aku mandi seperti yang disuruh pak BaekHyun. Menurutku pernikahan ini tidak begitu buruk juga.
Aku keluar setelah selesai mandi dan mencari pak BaekHyun. Dia tidak ada dimana-mana, mungkin pak BaekHyun masih di kamarnya.
Tokkk.. Tokkk.. Tokkk....
"Pak Baek," Panggilku.
"Masuk Yer, kenapa?" Tanyanya. Dia sedang duduk di meja kerjanya sambil membuka laptopnya.
"Pak, jadi kita mau ke mana?" Tanyaku.
"Kamu mau kemana? Nanti kita naik-,"
"Maaf pak, saya potong sebentar, boleh saya mengatakan sesuatu?" Tanyaku.
Pak BaekHyun membalik kursinya jadi menghadapku yang sedang duduk dipinggir kasurnya. "Ada apa?"
Aku tidak tahu apa aku benar-benar harus bertanya ini? Tapi aku juga tidak tahan jika aku tidak membicarakannya. "Bisa bapak ganti mobil?" Tanyaku.
"Memangnya ada apa dengan mobil saya yang lama?" Tanyanya.
"Saya tidak suka, tempat duduk di sebelah bapak, wangi parfum bu TaeYeon sangat menyengat disana, saya enek pak, kalau bapak tidak keberatan, apa bapak bisa ganti mobil? kalau bapak tidak mau, kita pakai mobil saya saja untuk pergi-pergian, saya tidak mau naik mobil bapak lagi." Ucapku. Tolong jangan marah. Tolong jarang marah. Aku mohon jangan marah.
Dia mengangguk. "Baiklah, nanti saya akan ganti mobil, jika ada apa-apa, kamu bisa bicarakan saja, tidak perlu takut," Dia bangun dan mengelus rambutku. "Saya ini suami kamu sekarang Yer, dan apa kamu tidak mau mengganti panggilan saya?" Tanyanya.
"Bapak mau di panggil apa? Om?" Ledekku.
Pak BaekHyun mendorongku hingga aku berbaring di atas ranjangnya. Tangannya memegang kedua tanganku.
"Pak BaekHyun, jangan lakukan itu." Aku memperingatinya. Dia malah menatap ku dengan tatapan menantang.
Tidak. Tidak.
"AAAAA... SOWON!!!! TOLONG AKUUU!!!." Teriakku. Karena kebetulan disini ada Sowon.
"Coba saja panggil Sowon, kamar saya kedap suara, dan saya tidak akan berhenti sampai minta maaf dulu," Ucap pak BaekHyun. Pak BaekHyun malah semakin senang menggelitiki pinggangku.
"YA.. YAA. SAYA MINTA MAAF PAK... AAAAA!!!"
Pak BaekHyun menghentikannya. Aku mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
"Jangan pernah panggil saya Om, saya sendiri jijik mendengarnya," Ucap pak BaekHyun.
"Terus? Panggil apa? Mas Baek? Kak Baek?" Tanya ku. Aku rasa mulutku tidak akan terbiasa memanggilnya mas seperti itu.
Dia menggeleng. "Lalu?" Tanya ku.
__ADS_1
"Panggil nama saja, tapi di sekolah tetap panggil pak, nanti kamu disangka murid kurang ajar panggil guru dengan nama." Ucapnya.
"BaekHyun?" Tanyaku dengan hati-hati. Mulutku terasa sangat kering rasanya. Aku benar-benar merasa seperti sangat kurang ajar sekarang. Dia adalah guruku, aku tetap menganggapnya begitu, rasanya sangat sulit mengubah kebiasaan selama 2 setengah tahun ini.
Tokkk... Tokkk.... Tokkk...
"Itu pasti Sowon, ayo bangun, kita berangkat sekarang." Ucapnya.
"Biar saya yang menyetir." Ucapku.
Dia tersenyum dan menggeleng. "Tidak bisa, saya yang mengemudi." Balasnya.
"Kunci mobilnya ada sama saya," Ucapku lagi.
Dia mengalah. "Baiklah, kamu mengemudi sampai apartemen, setelah itu kita tukaran, setuju?" Tanyanya.
Aku mengangguk. "Baiklah," Balasku. Aku keluar dari sana dan langsung menemukan Sowon yang cemberut di depan kamar pak BaekHyun. Um. Maksudku kamar BaekHyun.
"Aku tidak tahu bagaimana kalian bisa sebahagia ini padalah kalian di jodohkan, aku saja sampai kabur dari rumah." Ucap Sowon.
BaekHyun muncul di belakangku. "Ayo kita pergi, Yerin akan mengantarmu ke apartemennya dulu," Ajaknya. Sowon mengangguk.
"Kalian punya berapa mobil?" Tanya Sowon.
"2, aku satu dan, um, satu lagi punyanya." Ucapku.
Sowon menghentikan langkahku. "Sekarang kamu panggil pak BaekHyun apa? Aku penasaran loh," Ucapnya. Aku melirik BaekHyun yang sedang menatap kami berdua.
"BaekHyun," Jawabku dengan sangat pelan.
"Wah, aku tidak menyangka kalian benar-benar baik-baik saja, kalau begitu bagaimana dengan,-"
"Mobilku, ayo masuk." Ajakku. Aku duduk di kursi pengemudi, pak BaekHyun di sebelahku dan Sowon di belakang.
"Jadi nyamuk lagi." Gumam Sowon.
Aku tersenyum. "Makanya, udah terima aja dijodohin, ga usah kabur-kabur, lagian sih, ya ga heran mama kamu jodohin kamu, orang ga pernah pacaran sama sekali, mungkin aja pada mikir kamu tuh lesbi Won," Ucapku. Sowon terlihat kesal dan melempar boneka yang ada dibelakang.
Aku tertawa melihat kekesalan Sowon. "Udah jalan aja," Ucapnya kesal.
"Ih nyuruh, udah di kasih pinjam apartemen, di anterin, nyuruh lagi, tarik lagi di apartemennya" Ucapku tidak terima.
"Eh jangan donk, pinjam dulu ya sahabatku yang baik, biaya sewanya nanti jangan mahal-mahal ya," Sowon memajukan tubuhnya dan tersenyum ke arahku. Aku memukul wajahnya dengan boneka yang tadi dia lempar.
"2 juta sebulan." Ucapku.
"Ha? Yer, serius," Tanyanya.
"Ya, dua juta per bulan atau tidak usah?" Tanyaku.
"Oke. Oke, dua juta per bulan." Gumam Sowon sambil tersenyum ke arahku. Itu adalah senyuman terpaksa. Dia kembali ke tempat duduk nya di belakang.
"Yerin, Yerin, bahkan sahabat sendiri juga kamu peras." Gumam BaekHyun.
Aku menatap nya. "Atau kamu mau bayarin buat Sowon?" Tanyaku.
Dia menatap ke arahku. "Ngapain saya bayarin dia, bayar sendiri aja," Jawab BaekHyun dengan cepat. Aku tertawa pelan. Semua nya sudah beres, aku menyalakan mobil dan menginjak pedal gasnya.
*****
Aku sudah sampai di depan lobi apartemenku.
__ADS_1
"Won, turun disini aja, aku masih mau pergi lagi." Ucapku. Aku rasa tidak perlu masuk basement, lagi pula cuma turunin Sowon doank.
"Oke Yer, makasih ya, nanti aku transfer biaya sewanya, bulan ini hitung setengah ya, kan baru setengah bulan." Tawarnya.
"Iya, setengah harga, sudah sana, jangan merusak apa pun," Ucapku. Dia mengangguk.
"Yerin, turun, gantian saya yang bawa." Ucap BaekHyun. Aku turun dari mobil dan bertukar posisi dengannya.
"Jadi kita ke mana?" Tanyaku.
"Kita ke taman hiburan, kebetulan baru buka kan," Ucapnya.
"Boleh, tapi apa ga salah? Kita ke sana pas saya udah mau ujian nih?" Tanyaku.
"Ga apa-apa lah, kan kamu bisa belajar besok," Jawab BaekHyun.
"Emm.. Saya ga boleh panggil bapak aja?" Tanyaku sekali lagi. Dia menggeleng.
"Nanti orang pikir kamu itu anak saya, bukan istri saya, saya ga setua itu sampe udah punya anak segede kamu." Ucapnya. Aku tertawa pelan.
"Baiklah, saya akan berusaha mengubahnya, walaupun terasa aneh menyebutkan nama doank, BaekHyun, em, Baek-Hyun, BaekHyun, BaekHyun?"
"Berhenti melakukan itu Yerin, kamu kayak anak kecil lagi belajar ngomong aja, ga usah buru-buru, pelan-pelan aja, nanti juga ke biasa," Ucapnya. Aku mengangguk.
"Baekkie," Ucapku. Dia langsung menatap ku dengan cepat.
"Jangan panggil seperti itu." Ucapnya dengan tegas.
"Kenapa? Baekkie cukup bagus tau." Balasku. Aku sengaja memancing emosinya.
"Jangan, pokoknya jangan, hanya mama saya yang boleh memanggil saya begitu." Ucapnya.
"Oke Baekkie," Ucapku.
"Yerin, jangan buat saya marah, kamu akan menyesal nanti." Ucapnya.
"Benarkah? Waktu itu saja kamu marah, terus ujung-ujungnya khawatir di UKS." Ucapku.
"Itu berbeda cerita, jangan di ungkit lagi." Ucapnya.
"Baek, kita ga usah lama-lama di sana ya," Ucapku.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Saya sedang tidak ingin berada di luar lama-lama," Ucapku.
"Saya ikutin kamu aja," Balasnya.
"Um. Baek, kita mau coba pake aku kamu aja ga? Rasanya terlalu formal kayaknya," Ucapku.
"Aku kamu? Tapi di sekolah tetap kayak biasa ya,"
Aku mengangguk.
"Kalau begitu mulai sekarang, kamu panggil aku BaekHyun, dan kita pake aku kamu, di luar sekolah, di dalam sekolah, tetap panggil pak BaekHyun, dan pakai saya, bukan aku, mengerti?" Tanyanya.
"Aku ngerti, aku bukan anak kecil yang harus diajarin kayak gituan." Ucapku.
"Iya. Iya, Ayo turun, kita dah sampe." Ajak BaekHyun.
Aku membuka sabuk pengamanku dan keluar dari mobil. BaekHyun mengunci mobil dan menggenggam tanganku. "Ayo kita masuk." Ajaknya. Aku tersenyum dan mengangguk. Aku rasa ini tidak terlalu buruk. BaekHyun juga cukup perhatian dan baik denganku, aku rasa aku akan segera terbiasa dengan semua ini.
__ADS_1