Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 24 - Perhatian


__ADS_3

Sebenarnya aku masih terkejut dengan sikap pak Baekhyun tadi. Dia tiba-tiba panik saat aku kesakitan. Ya memang ini bukan yang pertama kali sih. Dia pernah merawatku seharian di UKS minggu lalu. Tapi tidak seperhatian tadi, dan tidak sehangat tadi, saat dia menggenggam tanganku. Rasanya sangat berbeda dari biasanya.


Walaupun baru 3 hari aku dijodohkan dengan pak BaekHyun, sebenarnya sudah ada sedikit perasaanku yang tumbuh untuk pak BaekHyun. Itu semua karena sikapnya kepadaku, dia terlalu manis dan baik kepadaku, seakan-akan dia memberiku harapan untuk menerima dirinya. Tanpa dia melakukan itu semua pun, kita berdua akan tetap berujung di sebuah pernikahan yang sudah direncanakan kedua orang tua kami.


Aku tidak masalah jika harus menikah dengan pak BaekHyun, Dia baik dan tidak kasar, memiliki penghasilan, dan juga sikapnya yang hangat. Umur kami berpaut 7 tahun, tapi dari wajahnya dia tidak terlihat setua itu. Aku bisa berusaha mencintai pak BaekHyun dan melupakan TaeHyung yang menjadi masa lalu ku. Sayang nya itu semua tidak mungkin terjadi. Pak BaekHyun tidak akan mau meninggalkan bu TaeYeon, yang mungkin di tinggalkan adalah aku di sini.


Tidak mungkin pak BaekHyun mempertahankan seseorang yang tidak dia cintai dan melepaskan orang yang sudah benar-benar ada di dalam hatinya. Jika saja dia tidak memiliki bu TaeYeon dan hatinya mau terbuka untukku, mungkin semuanya akan lebih mudah. Tapi karena itulah aku tidak boleh menaruh perasaan apapun kepada pak BaekHyun. Sekecil apa pun itu.


Cklekkk..


"Papa dari mana?" Tanyaku.


"Papa hanya mencari makan untukmu dengan BaekHyun, itu BaekHyun membelikanmu makanan, apa kamu sudah muntah tadi?" tanya papa. Aku mengangguk.


"Perutku masih mual pa, makannya nanti dulu ya." Ucapku. Papa mengangguk.


"Ini makananmu, kalau lapar makan saja." Ucap pak BaekHyun sambil memberikan beberapa roti dan jus kotak kepadaku. "Makasih." Ucapku pelan.


"Pa, kapan aku bisa keluar?" tanyaku. Aku sudah sangat bosan di sini.


"Kamu sabar dulu ya, kata nya kamu harus dirawat 3 hari sebelum boleh pulang, alergimu cukup parah." Jawab papa.


"Ih pa, nanti ketinggalan pelajaran lagi, masuk sekolah aja nilainya jelek terus," Ucapku manyun.


"Wali kelasmu disini, tentang saja," Ucap papa Byun. Aku menatap ke arah pak BaekHyun.


"Nanti mama ngomong ke kepala sekolah kamu, kamu tenang saja, jangan stress sayang, kamu itu sakit karena stres, memang nya kamu mikirin apa sih?" Tanya mama.


"Perjodohan ini." Jawabku pelan. Seketika semua ruangan terdiam.


"Apa kamu masih belum bisa menerimanya Sayang?" Tanya mama Byun.


"Maaf ma, tapi aku sama sekali belum ada perasaan yang muncul, tapi kalau boleh tahu, kenapa kalian semua sangat ingin menikahkan aku dengan BaekHyun, pasti ada alasannya." Ucapku.

__ADS_1


"Itu karena mama sudah berjanji dengan mama BaekHyun saat kami masih kuliah dulu," Ucap mama.


"Saat itu saya hamil kakaknya BaekHyun, dan Mama mu sedang hamil kakaknya kamu, sayangnya anak yang lahir sama-sama laki-laki, tidak lama kemudian, saya hamil BaekHyun, disaat saya melahirkan BaekHyun, saya dengar kabar kalau mama kamu hamil anak perempuan, dari situ lah asal mulanya." Ucap mama Byun.


Aku mendongak ke atas. Berusaha menghembuskan nafas ku dengan pelan. "Tapi kenapa? Kalian semua sudah setuju menjodohkan aku dan BaekHyun padalah kami sendiri belum lahir?" Tanyaku dengan nada sinis.


"Yerin, kamu kenapa? Papa tidak pernah mengajarkan mu untuk bicara dengan nada seperti itu." Ucap papa menahan kemarahannya.


"Aku bukan anak kecil lagi pa, aku tahu rencana kalian, itu sebabnya aku keluar dari rumah dan tinggal sendiri, tapi kalian tetap saja menyeretku masuk ke masalah ini, aku ingin hidup dengan pilihanku sendiri, kenapa itu sangat sulit untuk kalian menurutinya, aku selalu menjadi anak baik di rumah dan di sekolah, aku tidak mengalami masa-masa nakal diremajaku, tapi bukan berarti kalian menganggap aku masih kecil yang belum kenal yang namanya nakal." Ucapku. Mereka diam, terutama papa dan mama pak BaekHyun. Pak BaekHyun hanya menatapku dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Kalau begitu apa maumu sekarang?" Tanya papa.


"Aku mau kalian membatalkan pernikahan ini, aku tidak mau menikah sekarang, aku masih ingin hidup bebas, apa menurut mama, walaupun aku sudah menikah, aku tidak perlu melakukan semua pekerjaan itu? Mungkin BaekHyun akan baik-baik saja, dia malah bisa saja akan terasa sangat terbantu karena tidak hidup sendiri, tapi aku? Aku tidak akan bisa menikmati waktu-waktu ku untuk diriku sendiri, aku harus di rumah mengerjakan semua itu kan? Jika mama memberikan alasan, bisa memakai asisten rumah tangga saja, itu tidak akan menyelesaikan masalah, inti nya aku tidak mau menikah sekarang." Ucapku final.


"Maafkan Yerin, pemikirannya memang masih seperti anak kecil." Ucap mamaku.


"Tidak apa-apa, saya ngerti kok." Balas mama.


"DIAM BAEKHYUN!."


PLAKKK!!!.


Aku yang tadinya memunggungi mereka semua langsung menatap pak BaekHyun. Dia di tampar lagi oleh papanya.


"Ma, pa, bisa tinggalkan aku bersama BaekHyun sebentar?" Tanyaku. Mereka semua keluar, termasuk papa dan mamaku.


"Pak, ke sini sebentar." Ucapku. Pak BaekHyun menatapku. Aku membalas tatapannya.


"Maaf pak, seharusnya bapak tidak perlu mengatakan apa pun, papa tidak akan berani menampar saya, kenapa bapak melakukan itu?" Tanyaku.


"Kamu tidak akan percaya kalau saya juga berusaha menolak ini semua, maaf kalau saya menjadi beban pikiran untuk kamu," Ucapnya.


"Sepertinya kali ini kita sama-sama salah pak." Ucapku sambil terkekeh. Dia tersenyum. "Ya, kita memang anak kurang ajar." Ucapnya sambil terkekeh.

__ADS_1


"Apa bapak pernah mengalami masa-masa nakal saat remaja?" tanyaku.


"Tentu saja pernah, kamu tidak?" Tanya pak BaekHyun. "Seharusnya anak seusia mu itu mulai nakal, tapi saya tidak pernah melihat kamu nakal." lanjutnya.


"Sepertinya cara saya salah, mungkin saya lebih terlihat seperti anak-anak yang kabur dari rumah orang tua nya ketika sedang ada masalah, tapi memang itu yang saya lakukan, pertama kali saya mendengar mama ingin menjodohkan saya itu saat saya masih SMP, hanya saja saya tidak tahu sapa siapa, jadi saat SMA, uang tabungan saya juga sudah cukup untuk membeli apartemen sendiri, jadi saya memutuskan untuk keluar dari rumah dan mencari kerja sampingan sepulang sekolah, saya tidak memiliki waktu untuk hal-hal yang tidak penting, tapi beberapa bulan lalu, mama menyuruh saya pulang dan mereka bilang saya harus kembali ke rumah seminggu 2 kali di hari pekan, jika tidak mereka tidak akan menganggap saya sebagai anak mereka lagi." Ucapku.


"Kamu masih terlalu awal untuk menghidupi dirimu sendiri saat itu kan, pantas saja saya sering melihat kamu pergi ke sebuah toko setiap pulang sekolah, kamu bekerja di sana?" Tanya pak BaekHyun. Aku mengangguk.


"Saya keluar karena tiba-tiba banyak pegawai laki-laki yang masuk dan bekerja di sana, mereka selalu menggoda dan berusaha melecehkan saya, jadi saya keluar dari sana." Ucapku.


"Anak seusiamu saat itu seharusnya tidak mengalami itu semua, seharusnya kalian masih bermain dengan teman-teman seumuranmu," Ucap pak BaekHyun.


Aku mengambil jus kotak itu dan meminumnya dengan sedotan. Perutku terasa lapar.


"Kamu benar-benar tidak memiliki perasaan apapun pada saya?" tanyanya.


"Ada," Jawabku cepat.


"Ada? Sejak kapan? Kata kamu tidak ada perasaan sama sekali." Ucapnya bingung.


"Saya berusaha menggagalkan pernikahan ini, saya tidak ingin menghancurkan hubungan bapak dengan Bu TaeYeon, bapak akan lebih bahagia dengan bu TaeYeon daripada sama saya, bapak sendiri? Masih sama kan?" Tanya ku.


"Entah lah, saya senang jika bersama kamu, tapi saya tetap sayang pada bu TaeYeon." Ucapnya. Aku tahu itu.


"Saya mungkin akan izin sekolah sampai saya boleh pulang nanti, masalah pelajaran saya bisa minta Sowon, kalau ada ulangan atau kuis, ya, nanti susulan aja." Ucapku lemas.


"Pikirkan dirimu untuk sembuh dulu baru pikirkan masalah pelajaran sekolahmu, saya kan wali kelasmu, saya juga bisa lihat kalau murid kelas saya ada yang sakit atau tidak, kamu tenang saja," Ucap pak BaekHyun. Aku mengangguk.


Cklekkk...


"Yerin, kamu harus pindah ke ruangan VIP ya." Papa tiba-tiba masuk ke dalam ruangan IGDku.


Pak BaekHyun bangun dari ranjangku dan berdiri di sana. Papa hanya menatapnya tanpa ekspresi. Tidak lama kemudian suster membawakanku sebuah kursi roda.

__ADS_1


__ADS_2