Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 16 - Makan Bareng


__ADS_3

Aku tidak tahu pak BaekHyun habis dari mana, tapi aku bertemu dengannya di persimpangan lampu merah tadi setelah TaeHyung pulang. Awalnya aku ingin pulang ke apartemen sendiri, tapi kebetulan pak BaekHyun lewat dan dia juga menyuruhku masuk. Lumayan irit ongkos pulang kan.


Tapi saat aku masuk ke mobilnya, mataku langsung tertuju pada sudut bibir pak BaekHyun yang berdarah, entah karena pukulan atau tamparan. Yang pasti bibirnya itu sedikit sobek. Aku bertanya padanya tapi dari jawabannya aku pikir papanya yang melakukan ini.


Setelah tadi papa membawaku pulang dari halte, papa menelepon seseorang, suaranya seperti seorang pria, aku tidak berpikir kalau papa akan menelepon papa pak Baekhyun. Tapi setelah mendengar jawaban pak BaekHyun, aku sangat yakin papa melaporkan ini kepada papa Byun.


Pak BaekHyun tidak mengajakku berbicara sama sekali jika tidak aku tanya. Aku rasa dia memang sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun padaku. Malah aku pikir dia sangat tidak menginginkan pernikahan ini dan juga diri ku. Dia mengantarku hingga ke basement apartemenku.


"Pak, ayo masuk dulu." Ajakku. Memang ini tidak terdengar seperti diriku, tapi anggap saja aku ingin membalas sesuatu pada pak BaekHyun.


"Tidak usah, saya ada urusan setelah ini." Jawabnya.


"Sebentar saja pak, saya tunggu bapak di atas." Aku keluar lebih dulu dan masuk ke dalam lift. Aku tahu dia tidak mau menerimaku, aku sendiri juga belum bisa menerima kalau wali kelasku akan menjadi suamiku sebentar lagi. Aku melangkah kan kakiku masuk ke dalam apartemenku. Aku menaruh buku-bukuku kembali ke meja belajarku. Semua PR matematikaku sudah selesai berkat bantuan Sowon. Kali ini aku mengerjakannya sendiri, dia cukup membantuku tadi.


Aku harap pak BaekHyun tidak mencurigaiku lagi besok. Aku pikir materi nya susah, ternyata jika sudah mengerti konsepnya tidak sesulit itu. Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan saat pelajaran sampai-sampai aku tidak tahu apa-apa.


Cklekkk...


Aku melihat ke arah pintuku yang terbuka. Aku tersenyum melihat pak BaekHyun sudah masuk. "Saya ambil kotak obat sebentar pak." Ucapku. Dia mengangguk. Kotak obatnya ada di kamar, jadi aku kembali ke kamar sebentar untuk mengambilnya. "Kenapa kamu suruh saya naik?" Tanyanya. Aku sama sekali tidak sadar kalau dia mengikutiku hingga ke kamar.


"Bapak diam saja dulu," Ucapku. Dia tidak mendengarkanku. Bukannya diam, pak BaekHyun malah berjalan ke arah meja belajarku dan mengambil bukuku. Dia membuka buku mateku.


"Kamu menyalin jawaban Sowon?" Tanyanya.


Seketika emosiku naik lagi. Aku melempar bantal yang ada di atas ranjangku ke arah pak BaekHyun. Dia sama sekali tidak siap dengan seranganku.


"Bapak itu ya, kenapa ga pernah ngajarin cara gampang nya, saya pusing tahu ga pelajaran bapak ngajar belibet-libet muter-muter ujung-ujungnya jawabannya 0," Ucapku kesal. Pak BaekHyun terkekeh.


"Kalau begitu nanti pas ujian kalian kerjainnya cepet banget, jadi saya ajarin cara yang panjang aja biar agak lama kerjainnya." Balasnya dengan enteng.


"Jadi ini kamu kerjain sendiri?" Tanyanya lagi.


"Ya iyalah, memang Sowon mau kasih jawabannya gitu aja? Sowon itu tidak mengenal sistem berbagi, tapi dia tahunya barter." kataku. Pak BaekHyun menaikkan satu alisnya dengan tatapan ingin tahu.

__ADS_1


"Kamu memberitahu tentang kita?" Tebak pak BaekHyun. Aku mengangguk sambil menyiapkan antiseptik dan kapas. Pak BaekHyun masih mematung di sana. Aku berjalan ke arah pak BaekHyun dan mendorong nya dengan pelan agar duduk di kursi belajarku.


Jarang-jarang aku bisa begini kan sama guru. Aku mengambil antiseptik itu dan membersihkan luka pak BaekHyun.


Pak BaekHyun sambil melihat jawab-jawabanku. "No 2 salah," Ucap nya. Aku menekan lukanya dengan kapas.


"Aww. Aww... Shh.. Yer.." Pak BaekHyun dengan cepat menepis tanganku dari bibirnya.


"Apa-apaan sih, sakit tahu." Ucap melihat ke kaca di kamarku.


"Jangan bahas itu dulu pak, besok juga saya kumpul," Aku mengambil bukuku dan melemparnya ke kasur. Aku menempelkan plester ke bagian luka pak BaekHyun.


"Sudah," Aku memberitahunya lalu membuang kapas yang tadi aku gunakan.


"Yer, apa hubunganmu dengan TaeHyung?" tanya pak BaekHyun.


"Katanya bapak ada urusan, bapak ga jadi pergi?" Tanyaku. Aku mengambil tas sekolahku di sebelah ranjang sekalian dengan buku mateku yang tadi aku lempar lalu memasukkan buku-buku pelajaran untuk besok. "Permisi pak." Ucapku. Dia mundur sedikit. Aku tidak bisa mengambil buku-bukuku jika pak BaekHyun menghalanginya.


"Mate, Biologi, Fisika, inggris, musik, dan Sejarah." Aku mengeceknya sekali lagi untuk memastikan tidak ada pelajaran yang kurang ataupun yang salah. Aku tidak tahu kenapa pak BaekHyun belum pergi juga. Katanya dia ada urusan.


"Kamu belum menjawab pertanyaan saya." Balasnya.


"Saya, Sowon dan TaeHyung adalah teman sejak kami SD, selebihnya pasti bapak bisa menyimpulkannya sendiri." Ucapku.


"Kalian terlihat lebih dari sekedar teman." Ucap pak BaekHyun.


Pak BaekHyun pasti sudah lebih berpengalaman denganku masalah putus dengan pacar. "Dia mantan saya," Ucapku. Aku berjalan menjauh darinya. Aku menyiapkan seragam untuk besok, jadi aku tidak perlu mencarinya lagi besok.


Entah kenapa di kepalaku memikirkan sesuatu yang sangat ingin aku tanya kan pada pak BaekHyun. "Bapak punya kakak ya?" Tanyaku. Dia mengangguk. "Tante Byun menceritakan semuanya pada saya, tapi kenapa bapak ga mau kuliah di luar negeri saja?" tanyaku.


"Saya lebih suka di sini," Jawabnya.


"Terus kata tante Byun, kakak bapak bakal pulang ke sini, beberapa hari lagi." Ucapku.

__ADS_1


"Saya tidak tahu itu, kenapa mama bilang ke kamu doank sedangkan saya tidak?" Aku tidak tahu bagaimana perasaannya. Aku sama sekali tidak tahu kalau pak BaekHyun tidak di beritahu secara langsung.


"Saya tidak tahu pak, tadi mama bapak sendiri yang bilang ke saya," Jawabku. Tapi aku heran sama pak BaekHyun, "Bapak ga jadi keluar? Tadi bapak bilang ada urusan," Ucapku kesal. Nanti kalau urusannya berantakan aku lagi yang di salahin gara-gara suruh mampir ke apartemen.


"Saya sudah batalkan." Jawabnya.


Jangan bilang pak BaekHyun bakal nginep di sini malam ini? "Bapak ga pulang? Ini udah malam pak."


Dia menggeleng. "Saya pulang setelah kita makan malam." Ucapnya. Aku bangun dari kasurku. Jika dia bilang seperti itu mah aku akan masak dari tadi.


"Kamu mau ke mana?" Tanya pak BaekHyun.


"Bapak ga mau makan?" Balasku.


"Ya mau lah, saya juga lapar,"


"Ya udah tunggu sebentar, saya masak dulu." Ucapku kesal. Sudah tahu mau bikin makan malam, masih tanya lagi mau ke mana. Dia mengangguk. Aku keluar lebih dulu untuk masak. Untung saja masih ada bahan makanan di kulkas. Aku tidak tahu harus memasak apa. Aku juga tidak tahu pak BaekHyun sukanya makan apa. Yang pasti pak BaekHyun mau makan nasi. Aku memasak nasi untuk dua porsi saja.


Aku membuka freezer-ku. Ada cumi. Aku pikir tumis cumi juga boleh. Aku mencairkan cuminya sebentar sambil memotong sayur-sayurannya.


"Kamu buat apa?" Tanya pak BaekHyun.


"Cumi tumis." Jawabku singkat. Aku memasukkan semua sedikit minyak lalu cum dan semua sayuran yang aku buat. Kemudian aku menambahkan bumbu-bumbunya dan juga kecap. Ini tidak terlalu susah jika sudah terbiasa. Walaupun ini pertama kalinya aku memasak cumi di tumis seperti ini. Semoga saja rasanya tidak aneh.


Aku menyendok nasi setelah itu matang dan cumi tumisku. Aku menaruh di depan pak BaekHyun. Aku juga ikut duduk di sebelahnya


"Selamat makan pak." Ucapku. Aku menyendok cumi itu dan menaruhnya di piringku. Aku sengaja menggunakan satu piring yang besar di sana. Aku tidak ingin mencuci banyak piring lagi. Pak BaekHyun mengambil sayurnya dengan sendok yang sudah aku sediakan khusus untuk mengambil lauknya lalu meletakannya di piringnya sendiri.


Dia mencoba satu suap. "Masakkanmu enak." puji pak BaekHyun. Aku tidak meresponnya, Aku hanya ingin cepat kembali ke kasurku lalu beristirahat. Aku terus memasukkan makananku ke dalam mulutku lalu mengunyahnya. Untung saja rasanya tidak buruk.


Lagi-lagi aku selesai lebih dulu. Aku berjalan keluar dari dapur tapi pak BaekHyun menahan tanganku untuk tidak melakukan itu. "Temani saja makan, apa kamu akan selalu seperti ini sampai nanti? Setelah kamu makan kamu akan meninggalkan saja makan sendiri?" Tanyanya.


"Bapak bisa makan sendiri, kenapa harus saya temani? Saya lelah pak," Ucapku.

__ADS_1


"Saya ga suka makan sendiri, biasa Bu TaeYeon yang menemani saya, tapi sekarang saya mau kamu yang temenin saya di sini." Ucapnya. Entah kenapa aku sangat tidak suka mendengar namanya.


"Bapak makan saja sendiri. Jika sudah selesai taruh saja di tempat cucian, saya akan mencuci nya besok pagi, hati-hati di jalan pak, selamat malam." Ucapku. Aku kembali ke kamarku dan tidak mau memikirkan pak BaekHyun lagi. Sekarang waktunya aku untuk me time dan istirahat.


__ADS_2