
...[ BaekHyun POV ]...
Aku pikir dia akan keluar membeli makan. Aku cukup kagum karena mengetahui dia bisa memasak dan masakannya enak. Aku pikir dia tidak bisa melakukan apa pun kecuali membuat masalah dan mendapatkan nilai jelek di sekolah.
Tapi jika aku sadar, Yerin terlihat jauh lebih dewasa diluar dari pada di dalam sekolah. Dia juga tidak terlihat seperti gadis seusianya. Biasanya mereka akan lebih suka nongkrong dengan teman-temannya dimana, tapi Yerin lebih suka berada di dalam apartemennya.
Itu bagus karena setidaknya calon istriku bukan tipe perempuan nakal. Walaupun dia hanya akan menjadi istriku selama beberapa bulan tetap saja, aku tidak ingin memiliki kenangan pernikahan yang buruk.
Walaupun begitu, aku rasa dia juga tidak suka dengan TaeYeon. Alasan pertama mungkin karena TaeYeon juga tidak suka dengan Yerin, yang kedua, karena orang tuaku sudah menceritakan sesuatu yang tidak aku ketahui tentang TaeYeon kepada Yerin.
Awalnya makanannya terasa enak, tapi setelah aku makan sendiri rasanya aku tidak ingin makan lagi. Tapi aku sedang berada di tempat Yerin, tidak mungkin aku menyisakan makanan seperti ini. Terpaksa aku menghabiskan semuanya. Selesai makan aku mencucinya. Walaupun Yerin bilang untuk menaruhnya saja, tapi mama selalu bilang, setelah makan di tempat orang harus mencucinya sendiri. Aku sudah dididik seperti itu dari kecil jadi rasanya tidak tenang jika membiarkannya begitu saja.
Selesai mencucinya, aku menaruh piring itu kembali di atas rak. Sekarang aku butuh minum. Yerin tidak memberiku minum. Dia tidak niat kasih makan ya? habis makan ga di sediain minum apa-apa.
Aku berjalan ke kamarnya untuk bertanya di mana minumnya. Tapi saat aku membuka pintu kamarku, yang aku dengar hanya suara isakan kecil. Aku tidak membuka lebar pintu kamar nya tapi aku masih bisa melihat Yerin sedang berbaring di atas ranjangnya. Aku sangat yakin dia sedang menangis. Tapi kenapa ada suara laki-laki.
"Kak, kakak kapan pulang? Kakak harus bisa bantuin aku."
'Memangnya kamu kenapa Yerin? Ada yang nyakitin kamu? Atau kamu putus dengan TaeHyung?'
"Enggak kak. Hikss.. Mama jodohin aku."
'Sama siapa?'
"Wali kelasku sendiri." Jawabnya sambil terus terisak.
'Adik kakak yang cantik, jangan nangis ya, kakak ga di sana buat tenangin kamu, jangan nangis dulu, kakak usahain pulang secepatnya oke?'
"Janji ya kak,"
'Janji Yerin, Sudah jangan nangis lagi, kalau nangis kakak ga mau pulang loh.'
__ADS_1
"Iya... iya aku ga nangis lagi, kalau pulang bawain coklat yang banyak ya."
'Siap tuan putri.'
"Selamat malam kak, jaga diri disana ya."
'Kamu juga Yerin, Selamat malam, mimpi indah adik kakak yang cantik.'
Dia menutup ponselnya lalu menenggelamkan kepalanya di bantal. Aku bisa mendengar isakan kecil yang teredam bantal. Aku tidak tahu perjodohan ini benar-benar membuat Yerin hancur sehancur-hancurnya.
Aku berjalan masuk ke dalam kamarnya. Jika dia memarahiku atau memukulku aku rasa itu memang wajar dia lakukan. "Yerin." Aku duduk di sebelahnya.
"Kenapa bapak masih di sini? Bukankah saya sudah bilang bapak bisa pergi setelah makan?" Ucapnya. Suaranya gemetar.
"Jangan menangis, saya tahu kamu tidak bisa menerima perjodohan ini, tapi jangan menangis, ini hanya sementara, semuanya akan kembali seperti semula," Ucapku. Dia memindahkan tubuhnya memunggungiku.
"Bapak itu hanya wali kelas saja, bapak tidak berhak mengatur saya untuk tidak menangis," Ucapnya. Jujur saja perasaanku sedikit terluka karena dia seperti mengatakannya tanpa perasaan. Yerin tidak menganggapku lebih dari sekedar gurunya.
"Walaupun begitu, tidak ada laki-laki yang bisa melihat perempuan menangis seperti itu." Balasku.
"Sebaiknya bapak pulang sekarang, saya mau ganti baju tidur." Ucapnya.
"Memang nya kenapa? Ganti saja," Ucapku.
"Saya bukan anak kecil yang masih polos dan tidak mengerti apa-apa, apa bapak tidak pernah menginap di rumah bu TaeYeon?" Tanyanya kesal. Kenapa dia tiba-tiba kesal? Apa aku mengatakan hal yang salah?
"Pernah, beberapa kali." Jawabku.
"Bapak sudah pernah melakukan 'itu' dengan bu TaeYeon?" Tanyanya. Aku terkejut karena dia bertanya seperti itu. Secara status dia masih muridku. Apa wajar murid bertanya seperti itu kepada gurunya?
"Kenapa kamu harus tahu?" Tanyaku.
__ADS_1
"Jika ya, siapa tahu bu TaeYeon hamil anak bapak dan saya tidak perlu menikah dengan bapak, semuanya akan beres dengan sendiri nya." Ucapnya dengan sangat mudah.
"Sayangnya saya bukan tipe laki-laki seperti itu." Ucapku.
"Siapa tahu saja bapak pernah minum dengan bu TaeYeon dan tidak sengaja melakukannya? Bukankah guru-guru sering melakukannya? Minum di akhir semester setelah murid-murid selesai ujian." Yerin langsung membalasnya dengan cepat.
"Ya Tuhan Yerin, kamu berpikir sampai sana? Tidak, Bu TaeYeon tidak akan hamil anak saya." Kenapa dia begitu bersikeras kalau TaeYeon bisa saja hamil anakku. Tapi seharusnya jika TaeYeon hamil anakku itu sudah setahun yang lalu. Buktinya sampai sekarang tidak terjadi apa-apa kan.
Dia masuk ke kamar mandi dan keluar dengan baju tidurnya. "Terserah bapak mau gimana, minggir pak, saya mau tidur," Ucapnya. Dia naik ke atas ranjang dan berbaring di sana. Mengabaikan aku yang ada di sebelahnya.
Dia mematikan lampu kamar nya dan menyalakan lampu tidur nya yang lebih redup. "Jangan melakukan hal yang aneh-aneh saat saya tidur atau saya akan melaporkannya kepada papa." Ucap nya. Aku menyerah jika seperti ini. Dia benar-benar mengabaikan aku sekarang.
Aku bangun dan mengambil tasnya. Aku membawanya ke meja makan dan membuka buku pelajarannya. Aku melihat buku catatan fisikanya. Aku menggelengkan kepalaku. Di sana tertulis, PR halaman 201 no 1-50, tapi dia tidak mengerjakannya. Harus aku apa kan lagi dia. Kenapa sangat sulit untuk Yerin mengerjakan semua PR yang di berikan. Dia mau lulus dengan nilai berapa?
Aku membuka buku cetaknya dan mengambil sebuah kertas. Untuk kali ini saja. Aku menuliskan semua cara dan jawabannya dari no 1 hingga nomor 50. Aku juga memberikan penjelasan untuk semua jawabannya.
Walaupun aku mengambil jurusan matematika, tapi saat sekolah aku juga suka pelajaran fisika, jadi menurutku ini tidak terlalu sulit dan matematika juga dasar dari fisika. Setelah selesai memberikan semua jawabannya Aku menyelipkan kertas itu di buku catatannya. Semoga saja besok dia tidak lupa menyalinnya saat jam istirahat. Aku yakin dia akan kena masalah besar dengan Irene. Irene termasuk guru yang cukup galak kepada muridnya tapi sangat bucin dengan Sehun.
Aku membuka buku biologinya. Ada catatan-catatan kecil di pinggir setiap halaman. Aku pikir dia benar-benar suka pelajaran biologi dari pada semua pelajaran lainnya. Kebetulan ada sticky note di tasnya.
Aku mengambil satu dan menuliskan 'Kamu lupa mengerjakan PR fisika mu, sudah saya kerjakan, untuk kali ini saja, jangan lupa di salin ke buku tulis mu besok pagi sebelum sekolah atau saat jam istirahat kalau tidak mau di marahi bu Irene.'.
Aku menempelkannya di depan tasnya. Kebangetan jika dia sampai tidak membaca ini.
Aku membawa kembali tasnya ke dalam kamar Yerin. Ada dengkuran kecil yang halus keluar dari mulut Yerin. Ini pertama kali aku melihat Yerin tidur dengan sangat tenang. Mungkin disini akulah biang masalah untuknya. Tapi aku tidak bisa melakukan apapun untuk membereskannya.
Aku melihat ke arah ponselnya. Aku tidak tahu kenapa dia tidak pernah mengunci ponsel miliknya. Rata-rata manusia di dunia ini akan mengunci ponselnya agar tidak di lihat orang lain. Tapi dia terlihat tidak peduli dengan itu. Jempolku membuka aplikasi alarmnya. Jam 6?? Dia akan terlambat lagi besok. Aku jamin itu. Aku mempercepat alarm nya. Jam 5. 30. Oke ini lebih baik. Aku meletakan ponselnya di tempat yang sama sebelum aku mengambilnya.
"Selamat malam Yerin." Aku mengatakan itu dalam hati. Aku mengelus rambut nya pelan. Dia calon istriku. Mungkin aku terlalu jahat jika aku hanya menikahi dia beberapa bulan lalu menceraikannya, di tambah aku masih berpacaran dengan TaeYeon di saat aku sudah memiliki istri.
Tapi aku harus bagaimana? Aku belum memiliki perasaan apapun pada Yerin sekeras apapun aku mencobanya, walaupun sikapnya manis kepadaku, tapi hatiku tetap hanya terbuka untuk TaeYeon. Aku tahu aku ini egois, Yerin tidak punya pacar, Aku tahu mereka berdua memang sudah putus beberapa bulan yang lalu. Tapi aku tidak bisa memutuskan TaeYeon semudah Yerin memutuskan TaeHyung. Itu terasa sangat sulit untukku.
__ADS_1
Sudahlah. Semakin aku di sini batinku semakin berdebat dengan diriku sendiri. Aku keluar dari apartemen Yerin dan kembali ke mobilku. Aku harus kembali ke rumahku.
...[ BaekHyun POV END ]...