Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 31 - Kedatangan papa Byun


__ADS_3

Cklekkk....


"Yerin, BaekHyun."


Aku melihat ke arah pintu. Papa Byun baru saja masuk.


"Eh papa, papa udah pulang kantor?" Tanya pak BaekHyun. Papa Byun mengangguk.


"Yerin, saya dengar kamu baru membeli saham 10% dari perusahaan itu?" Tanya papa Byun. Aku mengangguk.


"Bisa tolong kirimkan ke saya, saya juga akan membelinya, papa kamu sudah menelepon saya tadi, ide mu cukup bagus, saya bangga akan memiliki menantu seperti kamu, ya setidaknya kamu bisa mengerti masalah seperti ini." Ucap papa Byun. Aku tersenyum.


"Papa yang mengajarinya." Ucap ku. Dia mengangguk.


"Ya keluarga Jung selalu mendidik anaknya dengan baik." Ucap papa. Aku mengangguk sambil tersenyum. Papa Byun melihat ke arah pak BaekHyun.


"Jadilah anak yang lebih berguna Baek, jika kamu mau kuliah lagi ambil saja bisnis dan lanjutkan perusahaan papa," Ucap papa Byun. Pak BaekHyun hanya diam dan tidak menjawabnya.


"Yerin, tapi kamu tahu kan kerugiannya kalau sampai saham itu turun seperti yang di perkirakan?" Tanya papa Byun.


"Kita mungkin akan mengalami kerugian dari 100 juta hingga 200 juta, tapi jika memang benar saham itu akan naik drastis, papa tahu sendirikan." Ucapku.


"Ya kurang lebih segitu." Jawab papa.


"Tidak masalah pa, itu uangku sendiri, bukan uang mama atau papa." Ucapku.


"Dari mana kamu mendapatkan uang segitu?" Tanya papa Byun.


"Permainan saham yang lainnya. Aku membeli saat sedang jatuh dan menjual saat sedang naik." Ucapku. Papa Byun tersenyum. "Kamu hebat, masih SMA sudah pintar," puji papa. Aku tersenyum. "Makasih pa." Balasku.


"Bagaimana dengan sekolahmu?" Tanya papa Byun.


"Baik-baik saja, aku masih bisa mengejar pelajaran yang tertinggal." Jawab u.


"Bagus, papa senang mendengarnya, oh ya, masalah pernikahan kalian, sebenarnya papa sudah bicarakan dengan orang tuamu juga, tapi papa takut kamu keberatan dengan ini." Ucap papa. Aku menatapnya.


"Jadi setelah kalian menikah, kita semua berniat memindahkan sekolah Yerin dan pekerjaan Baekhyun. Ini untuk berjaga-jaga saja." Ucap papa. Aku mengerutkan dahiku. Pindah sekolah? Tidak ada yang membicarakan ini denganku.


"Sebenarnya pa, aku keberatan masalah ini, aku akan lulus satu semester lagi, kenapa pindah? Ini tidak akan terbongkar jika tidak dibongkar." Ucapku.


"Ya, papa mengerti, tapi hanya untuk berjaga-jaga saja. Papa juga sudah menyiapkan rumah untuk kalian tinggali nanti" Ucap papa.


Sebentar. Aku menarik nafas dulu. "Apa ini untuk memisahkan BaekHyun?" tanyaku. Pak BaekHyun menatapku tajam. Tapi aku tidak peduli.


"Jadi benar? BaekHyun masih bersama dengan perempuan itu?" Tanya Papa Byun kepada Pak Baekhyun. Aku sudah tidak tahan dengan semuanya.


"Pak BaekHyun, bapak sendiri juga tidak mau menerima perjodohan ini kan? Kenapa harus saya yang menanggungnya sendiri?" Tanyaku.


"Apa maksud kalian?" Tanya papa Byun.


"Pa, aku yakin papa tahu kalau pak BaekHyun masih berpacarankan dengan bu TaeYeon, tenang saja, orang tua saya tidak akan tahu, hanya saja saya yakin papa pasti sudah sangat yakin tentang hal ini, Orang tua saya membenci dia bukan karena masalah ini, tapi masalah yang lebih rumit dari ini, dan aku sudah membuat perjanjian dengan pak BaekHyun pa, jika dia tidak memilih besok malam, aku akan memilih untuk melanjutkan perjodohan ini atau tidak, tidak ada perempuan yang mau di selingkuhi atau pun di duakan, jadi saya harap pak BaekHyun memilih dengan bijak," Ucapku.


Papa Byun menatap pak BaekHyun. "Jangan buat papa kecewa Baek, kamu tahu apa yang akan terjadi, dan jika setelah papa pergi kamu marah dan mengamuk dengan Yerin, itu artinya kamu belum dewasa BaekHyun. Bicarakan ini baik-baik, putuskan dengan kepala dingin, itu baru anak papa."

__ADS_1


Pak BaekHyun mengangguk. "Ya pa, tapi untuk sekali saja, tolong papa hargai pendapat Baek nanti, apapun pilihan Baek pasti Baek akan mempertanggungjawabkannya." Ucap pak BaekHyun. Papa Byun mengangguk.


"Kalau gitu kalian bicaralah baik-baik, papa harus menjemput mama kamu dulu." Ucap papa Byun. Aku mengangguk.


"Hati-hati di jalan pa." Ucapku.


Papa keluar dari kamarku. Pak BaekHyun tidak berbicara sedikitpun. Dia masih diam di tempatnya. Dia menatap tajam ke ara ku. "Kenapa kita tidak bisa akur sebentar saja? Setiap kali kita mengobrol dengan enak, pasti akan ada sesuatu yang menghancurkan semuanya." Tanya pak BaekHyun.


"Itu karena bapak sendiri yang tidak bisa membuat keputusan," Jawabku.


"Menurutmu, jika saya memutuskan TaeYeon, apa yang akan terjadi?" Tanya pak BaekHyun.


"Saya tidak bisa menjawabnya, jika bapak ingin memutuskannya, setidaknya bapak harus bisa meyakinkan diri bapak sendiri kalau dia memang sudah tidak perlu di pertahankan, sebuah hubungan itu di dasari oleh rasa saling percaya dan saling membutuhkan untuk saling melengkapi, Waktu saya putus dengan TaeHyung, saya hanya meyakinkan diri saya kalau saya tidak nyaman lagi di dekat TaeHyung dan putus adalah pilihan terbaik untuk saat itu." Ucapku.


"Ini pertama kali nya saya merasa gagal menjadi orang dewasa." Gumam pak BaekHyun.


"Memang bapak itu sudah gagal dari awal," Balasku dengan santai.


"Memang ya, kamu tuh murid paling ga berakhlak saya di kelas, heran saya kenapa kamu ada di kelas saya," Ucap pak BaekHyun.


"Mana saya tahu, saya juga udah sering tanya, kenapa saya ada di kelas bapak, kayak ga ada guru lain aja." Balas ku.


"Mungkin mereka ga mau ngambil kamu, jadi di buang ke tempat saya." Balas pak BaekHyun lagi.


"Maksud bapak saya anak buangan gitu?" Tanyaku dengan kesal.


"Ya bisa jadi kan," Balasnya pelan.


Aku menyalakan lagu dan memasang earphoneku. Serasa di apartemen saja. Aku menaruh laptopku di pangkuanku dan mulai mengetik. Sebentarnya novel yang aku tulis ini mungkin hanya kegabutanku yang tidak tahu mau ngapain, tapi kalau di pikir-pikir, masih mending tulis aja kan daripada bengang bengong nanti kesurupan malah jadi tambah masalah. Aku mungkin terlalu asyik dengan duniaku sendiri sampai aku tidak sadar kalau pak BaekHyun ada di sebelahku sekarang dan membaca apa yang aku tulis.


"Pak!!!"


"Apa? Saya cuma penasaran, kamu ngetik apaan sih sampe saya panggil ga dengar." Balasnya.


"Ya gimana orang mau dengar, saya pakai earphone, udah bapak minggir sana," Aku mendorongnya menjauh.


"Iya. Iya, saya geser." Pak BaekHyun akhirnya kembali ke atas ranjangnya. "Yer, saya mau tanya, kalau misalnya saya milih kamu, terus ninggalin TaeYeon, kira-kira kamu bisa menuhin kebutuhan saya ga?" tanya pak BaekHyun. Aku terdiam.


"Kebutuhan apa?" Tanyaku datar dan terkesan dingin.


"Kebutuhan fisik dan kewajiban mu sebagai istri saya nanti." Jawabnya dengan pelan dan ragu-ragu.


"Jika bapak meninggalkan pacar bapak, otomatis hubungan kita akan berlangsung jangka panjang, jika bapak menginginkan keturunan saya bisa memberikannya nanti, tapi tidak saat saya masih sekolah atau kuliah, itu semua terserah bapak." Jawabku.


"Jika masalah makanan dan urusan rumah saya yakin kamu bisa melakukannya, tapi jika masalah itu, saya pikir saya terlihat seperti seorang pedofil yang melakukan itu dengan murid saya sendiri." Ucap pak BaekHyun.


"Umur kita berbeda 7 tahun, apa yang bapak harapkan dari itu." Balasku.


"Tidak ada."


"Memang nya bapak sudah buat keputusan?" Tanyaku.


"Belum, saya hanya memastikan saja." Jawabnya.

__ADS_1


"Waktu bapak masih banyak, pikirkan lah dulu, saya tidak ingin menekan bapak untuk menjawabnya sekarang, ini sudah malam, lebih baik kita tidur sekarang." Ucapku sambil melihat jam. Sudah pukul jam 10 malam.


"Kamu tidurlah lebih dulu, masih ada laporan yang harus saya selesaikan." Balas pak BaekHyun. Aku mengangguk. Aku kembali menyimpan laptopku di dalam tas dan meletakan tas itu di bawah ranjangku. Aku menarik selimut dan menutupi tubuhku. Pak BaekHyun mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.


"Saya ga ada kelas besok, tapi bu TaeYeon ada, jadi saya mungkin akan menemani kamu seharian di sini besok." Ucap pak BaekHyun. Aku mengangguk saja. Setidaknya aku tidak sendirian disini besok pagi.


"Terima kasih untuk hari ini, sudah lama saya tidak bersenang-senang seperti tadi." Sambungnya. Aku mengangguk. "Sama-sama pak, saya akan menunggu jawaban bapak besok malam." Ucapku. Dia mengangguk. Pak BaekHyun berjalan ke arahku dan duduk atas ranjangku. Tangan nya menyentuh rambutku. Dia hanya mengelusnya pelan.


"Yer, satu pertanyaan lagi, apa boleh?" Tanyanya. Aku kembali membuka mataku.


"Apa status kita sekarang?" Tanyanya.


"Menurut bapak?" Balasku.


"Tunangan?" Jawabnya dengan ragu-ragu. Aku mengangguk. Itu benar. Aku tunangan pak BaekHyun dan akan menikah dalam waktu kurang dari satu minggu.


"Jadi sebenarnya sekarang ini, status TaeYeon bukan lagi pacar saya?" Tanya pak BaekHyun.


Aku mengangguk. "Dia pacar gelap bapak, sekarang bapak bukan lagi backstreet, tapi bapak selingkuh." Ucapku dengan santai.


"Makasih sudah menjawabnya," Ucap pak BaekHyun.


"Ya pak."


Pak Baekhyun menahanku. "Pak?" Tanyanya.


"Kenapa?" Tanyaku.


"Ini bukan di sekolah Yer, kamu tidak perlu memanggil saya dengan embel-embel pak juga tidak masalah buat saya." Ucapnya.


"Tapi rasanya aneh, saya rasa itu adalah sebuah kebiasaan." Jawabku.


"Kamu boleh memanggil saya dengan apa saja." Ucapnya.


Aku tersenyum. "Kalau gitu saya panggil om BaekHyun." Ledekku. Dia tersenyum miring ke arahku.


"Kamu mau saya jadi om om mesum gitu?" Tanyanya. Tangannya menggelitiki pinggangku sendiri. Aku tertawa dengan sangat keras. Aku sangat geli di bagian situ.


"AAAA.. PAK HENTIKAN!!!... BAEKK!!!" Aku tidak peduli jika suaraku sampai ke luar, aku sangat kegelian.


Pak BaekHyun berhenti. Nafasku terengah-engah.


"Sudah lah, kamu harus tidur, kamu butuh banyak istirahat." Ucapnya.


"Bapak mau saya panggil apa memang nya?" Tanyaku.


"Panggil pak saja tidak apa-apa, saya mungkin nanti yang perlu membiasakan diri di panggil pak oleh istri sendiri." Ucapnya. Aku tersenyum.


"Kak BaekHyun? Atau Mas BaekHyun?" Tanyaku. Dia tersenyum.


"Apa saja," Balasnya.


"Kalau gitu nanti BaekHyun saja." Ucapku. Dia mengangguk sambil tersenyum. Aku memejamkan mataku dan pergi ke alam mimpiku sekarang,

__ADS_1


__ADS_2