Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 33 - Good Mood


__ADS_3

Setelah aku dan pak BaekHyun selesai makan, aku kembali membuka laptopku. Aku membuka email. Aku masih benar-benar tidak percaya ini. Tulisanku di terima disana.


"Yerin, berhenti tersenyum, saya jadi takut sama kamu." Ucap pak BaekHyun.


Entah kenapa aku jadi ingin mengerjainya lagi. "Om, bisa tolong ambilin minum aku ga om?" Pintaku dengan menirukan suara anak kecil. Pak BaekHyun menatapku dengan tatapan jijik.


"Otak kamu kayak nya konslet deh?" Pak BaekHyun memberikan sekotak jus kepadaku.


"Ih om kok gitu sih, aku kan lagi senang om." Ucapku. Pak BaekHyun merinding mendengarku dengan suara seperti itu.


"Hahaha, bapak lucu banget sih, pantas aja bu TaeYeon betah sama bapak." Ucapku sambil tertawa.


"Iyalah, nanti kamu juga bakal betah sama saya." Ucapnya dengan penuh rasa percaya diri.


"Enggak juga tuh," Aku berbaring sebentar.


"Kapan bisa keluar dari sini, bosan banget." Gumamku.


"Kamu baru juga dua hari, besok kan udah boleh pulang." Ucap pak BaekHyun.


"Tapi kan lama, Sowon, masih 3 jam lagi.." Aku merengek di atas kasur itu.


Pak BaekHyun bangun dan memindahkan laptopku. Dia duduk di dekatku. "Yerin, jangan gitu, nanti kamu jatuh" Dia menarik tanganku hingga aku kembali ke posisi dudukku.


"Yerin, saya mau tanya nih, kalau misalnya saya tetap milih sama bu TaeYeon, kira-kira kamu bakal ngapain?" Tanya pak BaekHyun.


"Karena udah seperti ini, ya lanjut kuliah lah, memang ngapain lagi?" Tanyaku.


"Jadi kalau kamu menikah dengan saya sekarang, kamu ga lanjut kuliah?" Tanya pak BaekHyun.


"Ga mungkin saya kuliah, saya ga akan kuliah disini pak, memang kalau saya jadi istri bapak, bapak sanggup gitu saya tinggal 4-6 tahun buat kuliah di luar negeri?" Tanyaku.


"Ya kan selama ini juga saya tinggal sendiri," Balasnya.


"Bapak tinggal milih saja, saya atau Bu TaeYeon, Saya akan terima keputusan bapak, apapun itu. Seharusnya bapak lebih bisa memilih daripada saya." Ucapku. Dia hanya diam menatapku.


"Secara umur, saya lebih tua dari kamu, tapi dalam bersikap, kamu lebih dewasa daripada saya." Ucap pak BaekHyun.


"Kalau gitu bapak pilih saya sesuai kata hati bapak, percuma bapak bersama saya kalau bapak tidak bisa menerima saya, ada nya itu cuma menyiksa kita berdua nanti," Ucapku.

__ADS_1


"Saya cintanya cuma ke bu TaeYeon, tapi entah kenapa saya berpikir kamu lebih bisa membantu saya nanti." Ucapnya. Aku tidak tahu apa aku bisa membantunya. Pak BaekHyun saja masih tidak tahu apa yang aku lakukan ketika di rumah mama dan papa. Jangankan aku bisa mandiri, bangun tidur saja kadang ga langsung mandi.


"Pak, saya mau tidur siang aja deh, ngantuk bahas beginian mulu sama bapak," Ucapku.


"Yer, kamu ga tau seberapa pusingnya saya mikirin ini doank semalaman ga tidur, nih ya, dengarin saya, kalau saya pilih kamu, saya takut nyakitin perasaan TaeYeon yang udah pacaran sama saya 5 tahun dan saya tinggal nikah aja gitu tiba-tiba, tapi kalau saya milih dia, saya ga bakal hidup lagi di dunia ini, pasti saya udah habis dicincang sama papa saya," Ucap Pak BaekHyun. Tidak sengaja satu tawaku lepas keluar.


"Yah dia malah ketawa, saya serius," Ucapnya.


"Oke. oke, pertama, saya ga mau di duain, mendingan saya di tinggalin dari pada di duain, yang kedua, saya ga akan rela bagi suami saya ke siapa pun nanti. Entah itu bapak atau orang lain, yang ketiga, kalau pilihan bapak itu ya bapak sendiri yang menanggung risikonya, bukan saya." Ucapku.


Pak BaekHyun bersandar ke belakang tembok. "Apa hidupku tidak bisa lebih sulit lagi dari ini?" Gumam pak BaekHyun.


"Bisa saja, jika saat bapak sedang di dekatku dan terlihat manis lalu bu TaeYeon datang dan melihat itu, mungkin saja dia tidak akan memaafkan bapak, lalu dia akan memberitahu satu sekolah tentang hubungan kita, dan papa bapak menghabisi bapak, dan saya di bawa pergi papa saya keluar negeri, cukup buruk kan." Ucapku.


Pak BaekHyun menatapku dengan tatapan takut. "Kenapa kamu bisa berpikir senegatif itu, Saya tidak akan pernah berpikir seperti itu sampai kapanpun." Ucapnya.


Aku mengangkat kedua bahu sambil memainkan selimutku. "Entah lah, karena hidup ini tidak selalu berujung happy ending, terkadang itu berakhir dengan sangat buruk," Balasku.


Pak BaekHyun menggeleng. "Apa yang sudah kamu alami sampai kamu bisa berpikir seperti itu? Saya hanya berharap semua hal negatif itu tidak akan pernah terjadi." Tuturnya.


"Mungkin karena saya sudah berusaha hidup sendiri sejak SMA awal, ditolak kerja berapa kali, tidak ada penghasilan selama berbulan-bulan, disekolah juga tidak begitu bagus, buku saya sudah ditolak sebanyak 9 kali sejak saya masih SMP, semua itu tidak berujung baik, kecuali buku saya, karena di percobaan ke sepuluh akhirnya diterima juga." Ucapku sambil meminum jusku.


"Sudah saya bilang, tidak semua akan berakhir bahagia, tapi mungkin juga saya salah, ini belum ujung, ini masih proses, mungkin saya bisa mengikuti pola pikir positif bapak, siapa tahu ini akan berujung bahagia?" Ucapku. Pak BaekHyun tersenyum. "Mungkin proses itu memang semenyakitkan itu." Gumam pak BaekHyun.


"Tidak ada proses yang enak pak, yang enak hanya hasil dari proses kita nanti." Ucapku.


"Sudahlah Yer, topik pembicaraan ini terlalu berat untuk saya bicarakan dengan kamu, jangan stress, semakin lama kamu sembuh, semakin lama juga saya bisa bebas keluar dari sini." Ucapnya. Aku terkekeh.


"Kalau gitu saya ingin mengurung bapak terus disini, ini cukup menyenangkan." Ucapku. Pak BaekHyun menatap ku dengan kesal.


"Saya yang bosan lihat kamu doank, malah bu TaeYeon bawel banget lagi, tuh liat aja, masa ada 55 miss call," Pak BaekHyun memperlihatkan ponselnya. Aku terkekeh.


"Posesif." Gumamku sambil kembali menghabiskan jusku. Pak BaekHyun melirik ke arahku dan tersenyum.


"Saya yakin kamu juga akan melakukan yang sama setelah kita menikah nanti." Ucapnya. Aku menggeleng. "Untuk apa?" Tanyaku.


"Agar saya tidak di ambil orang?" Jawab pak BaekHyun.


"Pede banget." Gumamku. "Memang siapa yang mau ambil bapak? Di jodohin aja saya terpaksa, mana mau saya sama bapak, ganteng juga enggak." Ucapku Pak BaekHyun mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Saya ga ganteng aja siswi-siswi di sekolah pada mengerumuni saya terus, gimana kalau saya ganteng? Mungkin saya ga boleh keluar kali dari rumah nanti." Ucapnya dengan kesal dan ada nada tidak terima saat dia mengatakannya.


Aku menunduk dan tersenyum. "Saya bercanda pak, jangan segitunya, bapak ganteng kok," Ucapku.


Pak BaekHyun diam. Aku tertawa melihat ekspresi wajahnya. "Pak, jangan gitu.. Hahaha, bu TaeYeon ga pernah muji bapak ya?" Tanyaku sambil tertawa.


Dia menggeleng. "Enggak, ga pernah sekali pun." Jawabnya.


Oke kali ini aku serius, aku cukup terkejut dengan itu. Aku saja dulu pernah memuji TaeHyung sesekali, tapi pak BaekHyun sama sekali tidak pernah? "Tidak pernah? Sama sekali?" Tanyaku lagi.


Dia mengangguk. "Saya ga tahu kenapa, dia ga pernah melakukan hal seperti itu," Ucapnya. Aku menarik tangannya. "Menurut saya bapak baik, lembut, kadang lucu, asyik juga di ajak bercanda sama murid, kalau masalah fisik memang relatif sih, jadi saya ga bisa bilang bapak jelek juga." Ucapku.


Aku terkejut ketika pak BaekHyun memelukku. Aku tidak mengharapkan ini. "Saya lebih nyaman sama kamu dari pada sama TaeYeon, apa yang harus saya lakukan sekarang?" Bisiknya. Aku masih syok. Apa aku tidak salah dengar?


"Kenapa pak?" Tanyaku sekali lagi. Pak BaekHyun belum melepas pelukannya.


"Saya lebih nyaman sama kamu, saya senang saat bersama kamu, ada perasaan yang tidak pernah saya rasakan ketika bersama TaeYeon, kenapa? Apa yang membuatnya seperti ini?" Tanyanya. Aku tidak tahu, apa aku dan pak BaekHyun merasakan hal yang sama? Aku juga merasa nyaman di dekatnya dari pada di dekat TaeHyung dulu.


"Jangan bertanya pada saya pak, itu perasaan bapak, hanya bapak yang menentukannya," Jawabku. Dia melepas pelukannya.


"Ya saya pikir kamu mungkin lebih tahu masalah ini dari pada saya," Balasnya.


"Saya tidak mungkin mengatakan 'Putuskan pacar bapak' atau 'Tinggalkan saja dia, kan bapak masih punya saya', itu terlalu jahat untuk dikatakan, saya juga tidak ingin mengatur bapak, jadi bapak bisa memutuskannya sendiri." Ucapku.


"Kenapa semakin saya berbicara dengan kamu, saya merasa kamu semakin terdengar dewasa, padalah di kelas kamu itu biang masalah kelas saya." Ucap pak BaekHyun.


"Kalau ga ada masalah hidup ini flat aja pak, jadi saya membuat warna di kelas bapak dengan menjadi biang masalah kelas." Ucapku dengan sangat bangga. Pak BaekHyun menggeleng tapi tangan nya mengelus rambutku.


"Kamu tuh calon istri saya, tapi saya berasa kamu udah jadi istri saya, saya suka masakan kamu, saya nyaman di dekat kamu, kita bertengkar tapi cepat menyelesaikan masalah, saya tidak bisa mengatakan itu semua tentang TaeYeon," Ucapnya.


"Bapak sebut dia tanpa embel-embel di depan saya?" Tanyaku.


"Biarkan saja, lagi pula ini bukan di sekolah, tapi saya serius, jika saya bertengkar dengan TaeYeon, itu butuh waktu berminggu-minggu untuk berbaikan, kenapa sama kamu sangat cepat?" Tanya pak BaekHyun.


"Itu karena marah terlalu lama sama saja seperti anak kecil, mereka tidak mengerti apa-apa, untuk apa marah lama-lama? Lebih baik menyelesaikannya dengan bicara atau melakukan sesuatu daripada diam dan terus memendam amarah itu, malah bikin tambah beban hidup sendiri pak." Ucapku.


"Berapa lama lagi waktu saya?" Tanya pak BaekHyun.


Aku melihat ke arah jam, ini sudah jam 5 sore. Sowon tidak ke sini. "Waktu bapak 3 jam lagi, tapi saya heran Sowon tidak kesini hari ini." Ucapku. Aku mengambil ponselku. Ternyata Sowon sudah mengirim pesan suara padaku. Aku membuka pesan suara itu...

__ADS_1


__ADS_2