
Keesokan paginya Mirza sudah berada di rumah Karin. semalam saat baru saja ia mengaktifkan ponselnya, tiba-tiba sangat terkejut saat membaca pesan yang dikirim oleh kakaknya mengenai kabar Karin yang habis terjatuh.
“Maaf, maafkan aku Sayang! Beberapa hari ini aku sangat sibuk. Sehingga tidak memberi kamu kabar. Bagaimana keadaan kamu sekarang? bagaimana kamu bisa terjatuh?” tanya Mirza bertubi-tubi.
Karin hanya mengulas senyum. Diperhatikan seperti itu oleh kekasihnya, hatinya menghangat. Pria yang telah menghilang beberapa hari kini sudah kembali lagi.
“Kamu tahu nggak, kalau aku sangat merindukan kamu.” Ucap Karin mengalihkan pertanyaan Mirza.
Mirza hanya menghembuskan nafaasnya. Dia menarik Karin ke dalam pelukannya. Rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya karena sadar telah mengacuhkan kekasihnya itu. akhirnya ia tidak ingin tahu jawaban Karin tentang kejadian yang menyebabkan perempuan itu jatuh sampai kakinya terkilir. Pesan yang dikirim oleh kakaknya semalam sudah cukup jelas.
“Kamu hari ini jangan bekerja dulu. Sekerang kamu makan, ya? Aku sudah membelikan kamu makanan.” Ucap Mirza sembari membuka paper bag yang berisi makanan.
Karin hanya mengangguk. Kemudian ia menerima perhatian yang diberikan oleh Mirza. Mirza pun dengan telaten menyuapi kekasihnya. Dia juga menawarkan Karin ke rumah sakit agar lukanya mendapatkan perawatan yang lebih baik, namun sayangnya Karin menolak.
“Nggak perlu, Za! Ini sudah lebih baik. Cukup aku pakai istirahat saja pasti besok sudah sembuh.” ucap Karin.
“Ya sudah kalau begitu. Hari ini aku akan menemani kamu seharian, sebagai gantinya karena beberapa hari yang lalu aku tidak kesini.” Sahut Mirza.
Hingga sampai sore hari Mirza menemani Karin. meskipun demikian, Mirza sama sekali tidak mengganggu waktu istirahat kekasihnya. Dia tetap berdiam diri di ruang tengah saat Karin memilih untuk tidur siang. Karena Mirza juga sambil mengerjakan sesuatu di sana.
Pukul empat sore Mirza pamit pergi dari rumah Karin. dia akan pergi menemui kakaknya untuk meminta maaf sekaligus memberikan penjelasan tentang ketidak hadirannya di kantor selama beberapa hari ini.
__ADS_1
***
Sesampainya di kantor, Mirza langsung masuk ke ruangan kakaknya. Tampak Kavi sedang serius dengan pekerjaannya. Bahkan pria itu tidak menyadari kedatangan Mirza.
“Kak!” panggil Mirza, seketika itu Kavi langsung menoleh ke sumber suara.
“Duduklah!” perintah Kavi.
Mirza duduk di depan meja kerja kakaknya. Sedangkan Kavi masih menyelesaikan sebentar pekerjaannya.
“Maafkan aku, Kak! Beberapa hari ini aku sangat sibuk. Dan terima kasih atas informasinya tentang Karin.” ucap Mirza sambil menundukkan padnagannya.
“Lalu bagaimana keadaan Karin saat ini? apa dia sudah membaik?” tanya Kavi mengabikan ucapan Mirza mengenai kesibukannya.
“Dia sudah membaik. Sejak tadi pagi aku menemaninya.” Jawab Mirza singkat.
“Oh, ya sudah kalau begitu.” Kavi pura-pura cuek, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Kalau melihat sikap kakaknya seperti itu, Mirza sangat yakin kalau kakaknya sedang marah dengannya. tapi dia juga tidak mau disalahkan sepenuhnya.
“AKu tahu kalau Kak Kavi pasti sedang marah denganku karena ketidak hadiranku di kantor beberapa hari ini. Please, Kak tolong mengertilah dengan posisiku saat ini.”
__ADS_1
“Mengerti yang seperti apa, Za? Kalau kamu memang lebih memilih bisnis kamu daripada perusahaan, lebih baik kamu bicara langsung dengan Ayah. Asal kamu tahu, selama beberapa hari ini Ayah terus menghubungiku dan menanyakan kamu. Aku sampai berkata bohong pada Ayah dan mengatakan kalau kamu setiap hari ikut membantuku. Sekarang, kamu datang untuk meminta maaf. Mau berapa kali kamu meminta maaf, tapi kamu tidak bisa memilih salah satu. Lebih baik kamu bicara sendiri dengan Ayah.” Tutur Kavi panjang lebar meluapkan semua kekesalannya.
“Kak Kavi bisa bicara seperti itu tanpa tahu apa yang sedang aku lalui selama ini. coba saja kakak jadi aku. membangun usaha dari nol itu sangat tidak mudah, Kak. Ah, aku lupa kalau kakak memang sejak awal sudah memilih posisi yang enak dan nyaman. Sekarang bisa dengan mudah memintaku untuk memilih salah satu. Walaupun aku memilih perusahaan, tetap saja posisiku kalah daripada Kakak.”
“Mirza cukup!! Kamu ini bicara apa?”
Kavi benar-benar emosi. Dia tidak menyangka kalau adiknya sampai bicara seperti itu. matanya sudah memerah, dengan tangan terkepal kuat. Kavi berusaha mati-matian menahan emosinya terhadap Mirza.
Sedangkan Mirza sendiri nyalinya langsung menciut saat mendengar bentakan dari kakaknya. Tidak sepatutnya da bicara seperti itu. namun tak bisa dipungkiri kalau ucapan Deo tempo hari ada benarnya. Dan hal itu membuatnya cukup lega, meski setelah itu dia tidak berani menatap wajah kakaknya.
“Terserah kamu mau pilih yang mana. Percuma juga aku bicara panjang lebar kalau pikiran kamu sangat picik seperti itu. lebih baik temui Ayah, dan bicaralah langsung dengan beliau kalau kamu lebih memilih bisnismu.” Pungkas Kavi lalu membereskan pekerjaannya. Setelah itu dia keluar dari ruangannya dan meninggalkan Mirza yang masih terdiam di tempat duduknya.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1