Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
54. Takut Kehilangan


__ADS_3

“Za? Sejak kapan kamu di situ?” tanya Kavi terkejut.


Kavi berusaha bersikap tenang walaupun dia sangat cemas dengan keberadaan Mirza yang tiba-tiba muncul di ruangan ini. bagaimana kalau Mirza mendengarkan semua obrolannya dengan Karin.


“Memangnya kenapa? Takut aku ganggu ya, Kak mesra-mesraannya?” seloroh Mirza seperti mendapat hiburan baru.


Pasalnya sejak dulu Mirza tidak pernah sekalipun melihat kakaknya dekat dengan perempuan. Kehidupan kakaknya sejak dulu hanya kerja, kerja, dan kerja. Namun mendengar Kavi bicara mesra seperti tadi, Mirza bisa memastikan kalau kakaknya sudah memiliki tambatan hati.


“Bukan begitu. Ah sudahlah, lupakan saja! kamu dari mana sejak tadi Mama mencari kamu?” ucap Kavi mengalihkan pembicaraan.


“Dari rumah teman. Eh, kenalin dong, Kak siapa cewek Kak Kavi? Penasaran nih.” Goda Mirza yang masih penasaran dengan kekasih kakaknya.


“Nggak pentin. Sudah sana, masuk kamar!” jawab Kavi dan berlalu begitu saja meninggalkan Mirza.


Hati Kavi lega karena sepertinya Mirza tidak mendengar semua obrolannya dengan Karin. mulai sekarang ia akan lebih berhati-hati lagi. bukannya dia takut mengakui Karin sebagai kekasihnya di depan Mirza. Namun Kavi belum siap saja. yang pasti suatu saat nanti ia akan memberitahukan semuanya pada Mirza.


***


Keesokan paginya Sean beserta istri dan anak-anaknya sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama sebelum menjalani rutinitasnya hari ini. dan hari ini juga Mirza mulai bekerja di kantor cabang. Yang awalnya memang ia lah yang menjabat sebagai CEOnya. Namun untuk pertama kalinya ia akan membantu Ayahnya dulu. Setidaknya ia bisa menarik simpati semua rekan bisnis ayahnya dulu dan karyawannya.


“Semalam kamu pulang jam berapa, Za?” tanya Lidia di tengah-tengah kegiatan makannya.


“Jam setengah dua belas, Ma.” Jawab Mirza setelah itu menundukkan kepalanya. Ia khawatir Ayahnya membahas ucapannya semalam.


“Pantesan, Mama nunggu kamu tapi nggak pulang-pulang. memang pergi kemana?” entah kenapa Lidia sangat ingin tahu kemana Mirza semalam pergi, sampai pulang larut malam.


“Bertemu teman lama saja kok, Ma. Sama nyari Karin.”


Deg

__ADS_1


Ketiga orang yang ada di meja makan itu terdiam seketika mendengar ucapan Mirza. Mereka juga bingung menanggapi ucapan Mirza yang tiba-tiba dan sangat mengejutkan. Terutama Kavi.


“Bukannya kalian sudah putus?,-“


“Bukankah Ayah semalam sudah mengatakan pada kamu, Za? Fokuslah dengan perusahaan dulu. Selama ini waktu kamu sudah terbuang banyak. Perbaiki diri kamu dengan membuat perusahaan cabang semakin maju.” Sahut Sean tak ingin membahas masalah perasaan anak-anaknya.


Kavi hanya diam saja. dia juga bisa bernafas lega karena secara tidak langsung, kedua orang tuanya terlihat sedang melindunginya.


“Iya, Yah. Mirza memang sudah putus. Tapi Mirza hanya ingin tahu kabarnya saja. apa salahnya menjalin hubungan baik dengan mantan kekasih. Terlebih kita sudah lama saling mengenal. kita putus juga hanya karena keadaan.” Jawab Mirza panjang lebar.


Kavi mengerutkan keningnya mendengar jawaban adiknya yang membahas tentang Karin. mengapa Mirza bilang kalau putusnya hubungannya dengan Karin karena keadaan? Bukannya Karin dulu bilang kalau Mirza lah yang memutuskan hubungan itu.


“Sudah! Lanjutkan kembali sarapan kalian! Ayah dan Mama tidak mau ikut campur mengenai hal itu.” pungkas Sean dengan tegas.


Usai sarapan, mereka bergegas melakukan rutinitas masing-masing. Tinggal Lidia saja yang masih stay di rumah. Kavi berangkat ke kantor dengan mobilnya sendiri, sedangkan Mirza satu mobil dengan Ayahnya menuju kantor cabang yang sedikit lebih jauh dari kantor pusat yang dipimpin oleh Kavi.


***


“Selamat pagi, Kak?” sapa Karin yang sudah duduk di samping Kavi.


Kavi tersenyum menatap ke arah Karin sebelum melajukan mobilnya. Wajah ceria Karin yang selalu membuat hari-harinya semakin berwarna membuat Kavi sangat takut untuk kehilangan perempuan itu. apalagi teringat dengan ucapan Mirza semalam.


“Kenapa diam saja sih, Kak?” tanya Karin yang melihat aneh pada Kavi.


“Nggak apa-apa.” Jawab Kavi singkat.


“Semalam Mirza mencari keberadaan kamu, Rin!” lanjut Kavi dengan pikiran kalut.


“Memangnya kenapa dia mencariku, Kak?” tanya Karin menatap heran pada Kavi.

__ADS_1


Kavi menghembuskan nafasnya pelan. Ia menepikan sejenak mobilnya. Ia ingin bicara dengan Karin mengenai Mirza.


“Aku sangat takut kehilangan kamu, Karin! Mirza semalam mencari kamu, karena aku yakin dia ingin memperbaiki hubungan kalian. bagaimana kalau itu benar terjadi?” tanya Kavi sambil memegang kedua tangan Karin.


“Kak, bukankah sudah aku bilang kalau aku mencintai Kakak. Jangan berpikiran buruk dulu! Mungkin nMirza hanya ingin bertanya kabar. Kak Kavi jangan khawatir aku akan kembali dengan dia. Bukankah Mirza sendiri dulu yang memutuskan hubungan itu dan memintaku agar hidup bahagia bersamanya.” Jawab Karin berusaha menghilangkan kegelisahan hati Kavi.


“Terima kasih, Rin. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilangan kamu.” Jawab Kavi lalu meninggalkan kecupan singkat pada punggung tangan Karin. setelah itu Kavi kembali melajukan mobilnya mengantar Karin bekerja.


Sedangkan Mirza yang baru saja sampai kantor, ia menyapa seluruh karyawannya dengan ramah. Mereka membalasnya dengan ramah pula. entah itu ramah dari hati mereka atau hanya dibuat-buat karena ada Sean yang sedang berada di samping Mirza.


Mirza memasuki ruangan CEO bersama Sean. Hari ini Sean hanya memberikan pekerjaan ringan pada Mirza. Untuk urusan meeting dengan beberapa kliennya, Sean masih belum menyuruh Mirza.


“Kerjakan semuanya! Nanti kalau sudah selesai, kamu langsung konfirmasi pada Eva.” Ucap Sean sebelum keluar dari ruangan Mirza.


Drt drt drt


Belum sempat Mirza menjawab ucapan Ayahnya, tiba-tiba saja ponselnya berdering, ada panggilan dari Samuel.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


 

__ADS_1


__ADS_2