
Kavi langsung pergi ke kantor setelah mengantar Karin ke hotel. Dia sengaja memberikan Karin waktu untuk istirahat. Sedangkan dirinya sudah dikejar oleh deadline pekerjaan, jadi mau tidak mau harus ke kantor sekarang juga.
Sean yang baru saja melihat Kavibaru datang dengan wajah terlihat lelah, seketika itu dia merasa iba. Sean jelas tahu kalau Kavi baru saja tiba dari luar kota. Dan begitu tiba, Kavi langsung menuju kantor.
Itulah yang membuat Sean sejak dulu bangga dan percaya dengan Kavi. Selain Kavi sangat ulet dengan pekerjaan yang dilakoninya, anaknya itu juga sangat berkompeten dalam urusan bisnis. Bukan untuk membandingkan dengan adiknya yang saat ini statusnya menjadi seorang narapidana, namun memang kenyataannya seperti itu.
Sean terkadang ingat dengan masa kecil Kavi dan Mirza dulu. Kavi yang sejak dalam kandungan Mamanya tidak pernah sama sekali mendapat perhatian darinya. Karena memang saat itu ujian berat tengah menerpa rumah tangga Sean dan Lidia. (Cerita Sean Lidia ada di novel author dengan judul “Suami Kedua” ya guys hehehe…).
Jadi mungkin itu yang menyebabkan sosok Kavi sebagai orang yang sangat mandiri dan juga tegas. Karena perjalanan hidupnya yang kurang baik sejak masih dalam kandungan. Terlebih setelah Kavi dilahirkan, Mamanya mengalami koma. Lengkap sudah penderitaan Kavi karena kurangnya kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Di saat Kavi sudah mendapatkan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya, tepat di saat badai rumah tangganya sudah berlalu, Sean dan Lidia diberi anugrah terindah dari Tuhan yaitu hamil lagi yang sekarang jadilah Mirza.
Lalu di saat kelahiran Mirza dulu, Sean tidak ingin anaknya itu kekurangan kasih sayang darinya seperti sebelumnya. Hingga semua yang diinginkan oleh Mirza semasa kecil selalu ia berikan. Namun bukan berarti dia menjadi orang tua yang pilih kasih terhadap anak-anaknya. hanya saja Kavi memang tidak pernah meminta hal yang aneh-aneh.
Sejenak Sean berpikir. Apakah kesalahan yang dilakukan Mirza saat ini juga akibat pola asuhnya yang salah. Karena terlalu sering memanjakan anak itu, hingga menjadikan Mirza sebagai sosok anak yang keras kepala dan suka berbuat sesuai keinginannya sendiri.
“Ayah? Kenapa melamun?” tanya Kavi yang sejak tadi melihat sang ayah diam terpaku semenjak kedatangannya.
“Ehm, nggak apa-apa. Bagaimana urusan kamu? Sudah selesai?” tanya Sean mengalihkan peerhatian.
“Sudah. Semuanya sudah beres, Yah!” jawab Kavi dengan yakin.
__ADS_1
“Ayah memang sudah tidak meragukan kemampuan kamu lagi. meskipun kamu sekarang menjadi CEO di kantor pusat, tetap pikirkan diri kamu juga, Kav!” ucap Sean sembari menepuk pundak Kavi.
“Apa maksud Ayah?” tanya Kavi tak mengerti.
“Pikirkan masa depanmu! Usia kamu sudah cukup matang. Carilah seseorang pendamping hidup yang akan setia menemani sampai masa tua kamu nanti.” jawab Sean yang sekarang membuat Kavi mengerti.
Kavi tidak banyak memnjawab ucapan Ayahnya. Dia mengangguk lalu pamit masuk ke ruangannya terlebih dulu.
Kini Kavi sudah duduk di kursi kerjanya. Sebelum memulai pekerjaannya, Kavi teringat dengan ucapan Ayahnya baru saja. pendamping hidup? Memang sekarang statusnya sudah tidak single lagi. karena dia sudah memiliki kekasih yaitu Karin. tapi Kavi masih belum ingin mengenalkan Karin pada kedua orang tuanya dulu. Karena Sean dan Lidia tentu saja sangat mengenal Karin dengan baik, tapi Kavi masih belum ingin melihat bagaimana reaksi kedua orang tuanya jika yang menjadi kekasihnya saat ini adalah perempuan yang pernah menjadi kekasih adiknya. Biarlah ia menikmati momen indah bersama Karin tanpa orang lain mengetahuinya lebih dulu. Jika waktunya tiba, Kavi akan meminta restu pada Ayah dan Mamanya untuk meminang Karin.
***
Sementara itu Mirza saat ini sedang duduk termenung seorang diri. Malam ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Lebih tepatnya terbangun setelah bermimpi tentang seseorang yang penah singgaj di hatinya.
Mendadak Mirza menjadi gelisah. Mungkinkah Karin sudah bahagia sekarang. kenapa dia sangat menyesal karena telah menyia-nyiakan sosok perempuan baik hati seperti Karin.
Sebenarnya Mirza bisa saja meminta bantuan pada teman Samuel untuk melihat keadaan Karin saat ini. tapi Mirza tidak melakukannya. Biarlah untuk urusan hatinya ia atasi sendiri. Mungkin setelah nanti bebas, dia akan menemui Karin lalu meminta maaf pada perempuan itu. kemudian mengajak Karin melanjutkan hubungan yang sempat kandas.
“Aku sangat yakin kalau Karin masih mencintaiku.” Gumam Mirza percaya diri.
Tak lama kemudian ia kembali merebahkan tubuhnya. Memejamkan matanya kembali berharap segera menemui kantuknya. Ternyata tetap tidak bisa. Bayang-bayang senyum bahagia Karin masih terus menghantuinya. Mirza mendadak cemas dan khawatir kalau mantan kekasihnya itu sudah bahagia dengan yang lain.
__ADS_1
“Tidak!!” teriak Mirza frustasi sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Sontak saja teriakan Mirza itu membangunkan teman sekamarnya. Samuel berusaha biasa saja saat terbangun karena teriakan Mirza. Sedangkan dua temannya yang lainnyan jelas marah karena tidurnya terganggu.
“Berengsek! Bisa nggak kamu tidur dengan tenang tanpa harus berbuat ulah?” umpat salah satu teman kamar Mirza dengan mata memerah.
Mirza sama sekali tidak merasa bersalah. Dia diam saja seolah tidak menganggap ucapan temannya itu.
Bugh
Tiba-tiba saja sebuah pukulan melayang tepat pada rahang Mirza yang berasal dari salah satu teman kamarnya yang lain yang terganggu ulah Mirza.
“Jangan mentang-mentang kamu anak orang kaya, dan bisa berbuat seenaknya sendiri di sini!” umpat pria itu lagi hendak menambah pukulannya pada Mirza.
“Sudah! Maafkan Mirza! Mungkin dia tadi sedang mimpi buruk. Lebih baik kalian kembali tidur.” Ucap Samuel yang menengahi pertengkaran tengah malam itu.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!