Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
53. Tidak Terima


__ADS_3

Mirza saat ini masih berdiam diri di dalam mobilnya. Mobilnya itu masih berada di depan rumah kontrakan Karin. sejak tadi ia memikirkan ucapan orang yang ia temui tadi.


“Oalah Mas, rumah itu sudah lama tidak ada yang menempati. Terlebih sejak suami dari wanita yang tinggal di rumah ini meninggal dunia.”


Mirza tidak bisa berpikir dengan jernih. Apakah wanita yang ditinggal suaminya meninggal dunia itu Karin. benarkah Karin sudah menikah. secepat itu kah perempuan itu melupakan dirinya. Atau ada sesuatu hal yang membuat Karin harus menikah dengan pria lain, namun mereka tidak berjodoh akhirnya suaminya meninggal.


Namun sekali lagi Mirza masih menepis dugaan buruk itu. tiba-tiba saja terlintas ide cemerlang untuk mengetahui kabar tentang Karin. yaitu datang ke restaurant cepat saji yang buka dua puluh empat jam. Mirza yakin, dari sanalah ia akan mendapat informasi tentang mantan kekasihnya itu.


Mirza melajukan mobilnya menuju restaurant. Tidak butuh waktu lama, akhirnya ia sampai. Lalu ia turun dari mobil dan masuk ke sana. Sekilas ia membuang pandangannya untuk melihat beberapa orang pelayan restaurant yang ia kenal. Namun semuanya telah berubah. Tak ada satupun dari pelayan itu dia kenali. Semuanya wajah baru. Namun Mirza tak kehilangan akal. Ia pun menemui salah satu pelayan.


“Permisi, Mbak? Apa di sini ada karyawan yang bernama Karin?” tanya Mirza.


Wanita itu sepertinya orang baru, karena terlihat raut wajahnya yang bingung. Kemudian ia memanggil salah satu temannya untuk bertanya tentang karyawan yang bernama Karin.


“Karyawan yang bernama Karin sudah lama resign dari sini, Mas. Justru saya yang menggantikannya.” Jawab karyawan yang lain.


“Sudah berapa lama Mbka kalau boleh tahu?”


“Satu tahun lebih sepertinya. Saya dulu masuk ke sini karena menggantikan posisi dia.” Jawabnya.


“O begitu ya, Mbak? Terima kasih banyak atas informasinya. Kalau boleh tahu, apa Mbak tahu kemana dia sekarang?”

__ADS_1


“Ya nggak tahu, Mas. Saya saja nggak kenal, dan nggak tahu wajahnya seperti apa. Tapi, dulu juga pernah ada seseorang yang mencarinya.”


Mirza semakin penasaran mendengar kalimat terakhir perempuan itu. mungkin itu adalah sebuah petunjuk baginya tentang keberadaan Karin.


“Benarkah? Apa Mbak tahu siapa? Laki-laki atau perempuan?” tanya Mirza penasaran.


Perempuan itu sedang mengingat-ingat sesuatu.


“Seorang laki-laki. Wajahnya blasteran mirip sekali dengan Mas. Dia juga menanyakan hal yang sama seperti Mas. Yaitu tentang Karin. ya sudah kalau begitu, Mas. Saya permisi dulu mau bekerja.” Jawabnya dan segera pergi meninggalkan Mirza yang masih terdiam.


Siapa laki-laki yang mencari Karin. apalagi wajahnya mirip dengannya. selama menjalin hubungan dengan Karin, Mirza sangat tahu kalau mantan kekasihnya itu tidak pernah dekat dengan siapapun. Dia juga tidak punya saudara.


Mirza akhirnya keluar dari restaurant itu dengan menyisakan rasa penasaran yang sangat dalam. Dia mengemudikan mobilnya pulang. tubuhnya dan pikirannya lelah karena pencariannya terhadap Karin tak membuahkan hasil. Mungkin besok lagi ia akan mencarinya.


“Kamu dari mana saja, jam segini baru pulang?” tiba-tiba terdengar suara bariton menghentikan langkah Mirza yang hendak menaiki tangga.


“Mulai besok, kamu harus kembali ke kantor. ingat, kamu punya tanggung jawab besar. Kurangi aktivitasmu yang tidak penting di malam hari.” Ucap Sean dengan nada tegas.


Mirza kesusahan menelan salivanya. Dia belum siap jika harus kembali lagi ke perusahaan. Terlebih dengan statusnya sebagai mantan narapidana. Bagaimana nanti tanggapan karyawan Ayahnya. Namun untuk menolak pun Mirza tidak berani. Akhirnya ia memilih menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya menuju kamar.


“Ayah juga minta kamu untuk tidak lagi mengurus bisnis kamu yang dulu. Fokuslah pada perusahaan. Kasihan Kakak kamu yang sejak dulu bekerja di perusahaan.” Lanjut Sean, setelah itu ia langsung meninggalkan Mirza masuk ke ruang kerjanya.

__ADS_1


Rahang Mirza mengeras. Kenapa ia mendadak sakit hatinya saat mendengar kalimat terakhir yang dilontarkan ayahnya. Kenapa Ayahnya selalu membandingkan dirinya dengan Kakaknya. Padahal selama di dalam Lapas, ia sudah kembali menjalin hubungan baik dengan kakaknya, karena melihat usaha keras sang Kakak yang selama ini banyak membantu di perusahaan. Terutama membantu di kantor cabang yang seharusnya ia yang memimpin.


Namun mendengar ucapan Ayahnya baru saja, seketika darah Mirza mendidih penuh amarah. Dia tidak terima dibandingkan dengan sang Kakak yang jelas memiliki karakter yang berbeda. Dalam hatinya juga timbul rasa benci pada sang Kakak yang selalu dianggap anak emas oleh Ayahnya.


Dengan langkah tegas, Mirza berjalan memasuki kamarnya. Mungkin suasana hatinya malam ini sedang tidak baik. Jadi lebih baik ia segera beristirahat agar tubuh dan pikirannya lebih baik. Atau ucapan Ayahnya baru saja besok sudah tidak ia anggap penting lagi.


“Iya. kamu juga segeralah tidur! Jangan sering begadang! Aku mencintaimu.”


Langkah Mirza terhenti saat mendengar suara seseorang di ruang santai lantai dua. Suara siapa lagi kalau bukan kakaknya. Karena di lantai dua hanya dihuni oleh dirinya dan Kavi.


Mendengar suara sang Kakak yang sedang bicara melalui sambungan telepon dan dari ucapan yang Mirza tangkap, sepertinya kakaknya kini sudah mempunyai kekasih. Tiba-tiba saja sebuah senyuman terbit dari bibirnya. mengetahui sang Kakak akhirnya memiliki kekasih, membuat hati Mirza ikut senang.


“Wah, sudah punya cewek nih ceritanya?” celetuk Mirza menghampiri Kavi.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2