
Malam itu juga Sean dan Kavi langsung pergi ke kantor polisi. Bahkan mereka tidak sempat menyelesaikan makan malamnya hanya karena kabar buruk tentang Mirza.
Sesampainya di kantor polisi, Sean dan Kavi langsung menemui Mirza yang saat ini berada di ruang tahanan.
Sean mencoba untuk tenang saat bertanya pada Mirza mengenai masalah yang menjeratnya saat ini. mirza mengatakan kalau dirinya ditangkap polisi karena ikut andil dalam penggelapan barang illegal yang akan dikirim ke luar negeri. salah satunya penyelundupan narkoba ke dalam sebuah kapal yang hendak pergi ke luar negeri. Mirza bersalah karena namanya tercantum dalam surat ijin pengiriman barang illegal itu.
Entahlah, kemarin dia memang sedang penat saat membuat beberapa laporan. Bahkan otaknya tidak bisa berpikir dengan jernih. Hingga saat ini ia berada di kantor polisi setelah tadi diamankan di pelabuhan.
“Bagaimana bisa ini terjadi, Za? Apa kamu tidak teliti lebih dulu barang apa saja yang hendak keluar pelabuhan?” Tanya Sean dengan wajah memerah.
Sean menahan amarahnya. Tidak hanya kesal pada Mirza, tapi dia juga tidak yakin kalau bisa membantu anaknya itu bebas. Menurut hasil Analisanya, setelah mendengar penjelasan Mirza, rasanya akan sulit jika Sean bisa menyelesaikan masalah itu. lebih baik dia tunggu dulu hasil penyidikan polisi dan terus mengikuti sidangnya.
“Maaf, Yah!” hanya itu yang mampu Mirza katakan.
Sean kemudian menghubungi rekan pengacaranya untuk membantu mengatasi masalah anaknya. memang sangat sulit bagi Sean untuk menangani kasus ini sendirian. Karena pihak kepolisian lebih dulu turun tangan, mau tidak mau ia harus tetap patuh dengan hukum dan mengikuti prosedurnya.
Sedangkan Kavi yang sejak tadi diam, kini duduk di sebelah adiknya. Mencoba untuk menguatkan dan memberikan semangat pada Mirza. Namun sayangnya kehadirannya seperti tidak diinginkan Mirza.
“Kamu yang sabar, Za! Aku dan Ayah tidak mungkin diam saja. pasti akan menolongmu.” Ucap Kavi.
“Lebih baik kamu nggak usah banyak bicara deh, Kak!” jawab Mirza dengan suara lirih namun tegas. Dia tidak mau sampai ayahnya mendengar.
Kavi hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan. Tidak menyangka jika reaksi adiknya seperti itu.
__ADS_1
Sean sudah selesai menghubungi pengacaranya. Rencananya besok dia akan langsung bertemu pengacara itu. dan malam ini Mirza harus mendekam sementara di kantor polisi sampai menunggu hasil sidang nanti.
“Ayah akan pulang. kamu tunggu saja, besok akan ada pengacara yang akan membantu menangani kasusmu. Dan Ayah harap dengan kejadian imi kamu bisa introspeksi diri. Lebih penting siapa, keluarga atau teman?” ucap Sean cukup menohok.
Pasalnya sampai saat ini Deo belum juga datang menemui Mirza. Harusnya jika seorang teman yang baik, akan segera datang menemui Mirza saat ini juga.
Mirza hanya menundukkan kepalanya tanpa berani menjawab ataupun menatap wajah Sean. Karena sudah bisa dipastikan kalau saat ini Ayahnya sangat marah. Setelah itu, tanpa mengucapkan apapun Sean dan Kavi pergi meninggalkan Mirza.
Baru saja Sean dan Kavi keluar, mereka berdua berpapasan dengan Karin yang tampak panik mendengar kabar tentang Mirza yang ditangkap polisi.
Kavi tahu jelas gurat kesedihan di wajah Karin saat ini. lalu ia membiarkan Karin masuk untuk menemui Mirza. Setelah itu ia meminta Ayahnya untuk pulang lebih dulu. Dia beralasan ada urusan lain.
“Lalu kamu nanti bagaimana pulangnya?” tanya Sean.
Setelah Sean pulang, Kavi sengaja duduk di sebuah kursi untuk menunggu Karin. entahlah, dia seperti tidak tega saja saat melihat wajah sedih Karin tadi. setidaknya dia ingin bertemu Karin untuk menguatkan perempuan itu. bagaimanapun juga Karin sudah seperti adiknya sendiri.
Cukup lama Kavi menunggu Karin yang tak kunjung keluar. Akhirnya beberapa saat kemudian, Kavi melihat seorang perempuan sedang berjalan sambil menundukkan kepalanya. Dan jangan lupakan isakan yang masih terdengar dari bibirnya. siapa lagi kalau bukan Karin.
“Karin!”
Grep
Karin mendengar suara Kavi. Dia segera memeluk pria itu dan menangis tersedu dalam pelukan Kavi. Kavi yanga merasa aneh dengan sikap Karin, dia berusaha untuk mengurai pelukan perempuan itu.
__ADS_1
“Sudah jangan bersedih. Aku dan Ayah pasti akan membantu Mirza bebas.” Ucap Kavi.
Karin masih terisak. lalu dia kembali memeluk Kavi. Entah apa yang membuat Karin sedih, hingga dia sangat membutuhkan sandaran.
Mendengar suara isakan Karin, Kavi pun akhirnya membiarkan Karin seperti ini. mungkin perempuan itu sangat sedih dan tidak menyangka kalau kekasihnya mendapat masalah besar seperti ini. sungguh besar sekali cinta Karin pada Mirza. Sampai membuat Karin sesedih itu.
“Maaf! Maaf, Kak!” Karin mengurai pelukannya setelah sadar kalau sejak tadi ia menangis dalam pelukan Kavi.
“Nggak apa-apa. Aku tahu apa yang kamu rasakan saat ini. tenang saja, aku pasti akan membantu adikku keluar dari masalah ini.” ucap Kavi berusaha menenangkan Karin.
Namun sayangnya Karin menjawab dengan gelengan kepala. Entah apa maksudnya.
Tanpa mereka berdua sadari, tak jauh dari tempat itu ada seseorang yang melihat dan menyaksikan itu semua, dimana Kavi berpelukan dengan Karin.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1