
Kavi hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Dia sebanranya cukup paham kenapa Karin buru-buru masuk ke kamar mandi. tentunya perempuan itu tidak nyaman dengan pakaian tidur yang digunakan saat ada orang lain yang melihatnya. Sungguh Kavi sangat salut dengan perempuan seperti Karin yang berusaha menjaga kehormatannya.
Kini Kavi duduk di sofa yang ada di kamar itu. jemarinya mengetik pesan pada pihak hotel untuk membawakan makanan ke kamar Karin. Kavi yakin kalau kekasihnya itu belum sarapan. Jadi lebih baik memesankannya di sini, daripada harus makan di luar.
Karin yang sedang berada di dalam kamar mandi, tepatnya sudah menyelesaikan mandinya, dia dibuat terkejut saat baru sadar kalau tadi dia tidak membawa baju ganti ke kamar mandi. sedangkan di sini hanya ada handuk saja.
Perempuan itu kebingungan. Kalau berdiam diri di kamar mandi juga tidak mungkin. Namun untuk keluar di saat ada Kavi sedang menunggunya juga tidak mungkin.
Tok tok tok
Ketukan pintu kamar mandi membuat Karin terkesiap. Siapa lagi kalau bukan Kavi. Karena hanya ada Kavi yang berada di dalam kamarnya.
“Karin? kamu mandi apa membatik sih?” tanya Kavi yang sejak tadi menunggu Karin tak kunjung keluar kamar mandi.
“Ini sudah selesai dari tadi. tapi bisa nggak kalau Kak Kavi keluar kamar dulu.” Jawab Karin dengan sedikit membuka pintu agar suaranya bisa didengar oleh Kavi.
“Kenapa?” tanya Kavi heran. Pria itu mencondongkan tubuhnya dekat pintu.
“Aku lupa bawa baju ganti, Kak. Please, Kak!” mohon Karin yang sudah merasa tidak nyaman karena kelamaan di kamar mandi.
Akhirnya Kavi mengiyakan. Keluar sebentar memberikan waktu kekasihnya untuk ganti baju. Karena memang kamar hotel yang ditempati Karin tidak begitu luas dan tidak ada balkonnya.
Setelah sepuluh menit menunggu, Karin membuka pintu kamarnya dan mempersilakan Kavi masuk. Bertepatan dengan pelayan hotel membawa nampan berisi makanan.
“Maaf Kak membuatmu menunggu lama.” Ucap Karin merasa tak enak.
__ADS_1
“Nggak apa. Lebih baik kamu makan dulu, setelah ini kita pergi.” Ujar Kavi lalu memberikan waktu pada Karin untuk sarapan dulu.
Selesai makan, Kavi langsung mengajak Karin keluar hotel. Mereka berdua segera menuju alamat dimana apartemen untuk Karin berada.
Kavi tadi sudah mencari sebuah apartemen sederhana melalui ponsel pintarnya. Kavi sengaja mencarikan apartemen yang sederhana. Walau bisa saja ia mencari yang mewah dan elit. Hanya saja pasti Karin akan menolaknya. Akhirnya ia mencari yang sederhana namun keamanannya terjamin.
Tidak membutuhkan waktu lama, Karin terlihat cocok dan nyaman dengan pilihan apartemen yang ditunjukkan oleh Kavi. Setelah itu mereka berdua kembali ke hotel untuk membereskan pakaian Karin sekalian check out.
Cukup lama dan melelahkan kegiatan Kavi dan Karin hari ini. bahkan setelah samapi apartemen, Karin langsung menata beberapa pakaiannya ke dalam lemari. Sekaligus membersihkan sesuatu yang butuh dibersihkan. Kavi juga tidak tinggal diam. pria itu tampak bersemangat sekali saat membantu kekasihnya.
“Kak Kavi istirahat saja dulu! Pasti capek, kan?” ucap Karin saat melihat wajah lelah Kavi.
“Ya sudah, aku rebahan di sofa ini saja.” jawab Kavi karena memang dia kelelahan.
Belum sampai lima menit, Karin sudah mendengar dengkuran halus Kavi. Dia hanya menyunggingkan senyumnya. Kemudian ia melanjutkan kegiatannya.
“Sudah bangun, Kak?” tanya Karin yang baru saja keluar dari kamar.
Kavi sangat terpana pada sosok bidadari yang baru saja keluar kamar itu. penampilan Karin benar-benar sangat cantik dan fresh. Ditambah dengan rambut yang sedikit basah. Berulang kali Kavi mengucek matanya. berharap yang dilihatnya itu bukanlah mimpi.
“Kenapa sih, Kak?” tanya Karin bingung sendiri melihat sikap kekasihnya.
Bukannya menjawab, Kavi justru berdiri menghampiri Karin. tangannya terulur menyentuh wajah Karin dengan tatapan mendamba.
Karin juga terpaku dengan perbuatan Kavi saat ini. dia juga terpesona oleh wajah tampan Kavi dari jarak dekat seperti ini.
__ADS_1
Perlahan Kavi mencondongkan wajahnya mendekati wajah Karin. memiringkan kepalanya agar bisa menjangkau bibir tipis Karin yang menggoda itu.
Menyadari hembusan hangat nafas Kavi, Karin segera mendorong tubuh Kavi. Hingga pria itu jatuh terduduk di sofa.
“Maaf… Maafkan aku, Kak!” ucap Karin sangat bersalah sekaligus gugup.
Entah kenapa saat Kavi hendak menciumnya tadi, dia merasa sangat bersalah pada pria itu. Karin teringat dengan masa lalunya dengan Mirza. Salahkah dia menolak ciuman Kavi gara-gara teringat Mirza yang sudah menodai bibirnya lebih dulu.
Kavi sama sekali tidak bereaksi. Mendapat perlakuan seperti itu membuat Kavi tahu kalau Karin menolak ciumannya mungkin karena hati perempuan itu belum sepenuhnya untuk dirinya.
“Kak, sekali lagi maafkan aku.” sekali lagi Karin meminta maaf.
“Nggak apa-apa. Ini sudah sore ternyata. Lebih baik aku pulang saja dulu. Kamu baik-baik ya di sini.” pamit Kavi tiba-tiba.
Kavi meninggalkan Karin keluar dari unit apartemen itu tanpa berkata apa-apa lagi. begitu juga Karin. bahkan ia membiarkan Kavi pulang begitu saja tanpa memberikan penjelasan apapun.
Kavi diam termenung dalam mobilnya. Dia masih berada di basement apartemen Karin. yang ada dalam benak Kavi saat ini adalah penolakan Karin atas ciumannya tadi. apa salah jika dirinya mencium kekasihnya. Atau memang Karin belum bisa melupakan masa lalunya. Jadi ungkapan perasaan cintanya terhadap Karin selama ini terlalu cepat.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!