Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
77. Semakin Sengit


__ADS_3

Kavi mencoba untuk fokus dengan pekerjaannya. Dia tidak mempedulikan dulu sikap Mirza yang akhir-akhir ini sudah berubah. Atau memang sejak dulu Mirza sudah membencinya. Namun Kavi berniat akan menyelesaikannya dengan baik-baik dengan Mirza. Mendengarkan apa yang diinginkan Mirza selama ini.


Kemarin Kavi sudah menemui Karin di apartemen. Dia sangat merindukan kekasihnya itu selama ditinggal bepergian beberapa hari. Namun Kavi belum ingin memberitahu Karin tentang kabar orang tuanya yang sudah selamat. Karena memang Tuan Kyler belum memberikan mandat pada Kavi untuk memberitahu Karin.


Kavi juga sudah merencanakan sesuatu untuk Karin saat nanti kekasihnya itu akan bertemu dengan kedua orang tuanya.


***


Siang ini sedang memimpin meeting dengan beberapa investor. Termasuk Sean dan juga Mirza ikut hadir di sana. Seperti biasa, Kavi yang pembawaannya sangat tenang dan bijaksana, ia memimpin jalannya meeting dengan lancar.


Mereka meeting untuk membahas kekacuan yang terjadi di kantor pusat beberapa waktu yang lalu. Karena dari adanya kejadian itu, beberapa investor mengalami kerugian. Namun Kavi bersedia mengganti rugi semua itu. beberapa investor menerima. Beberapa ada yang ikhlas karena mereka sadar kalau tidak semua usaha itu berjalan dengan lancar. Pasti ada kendalanya atu bahkan membuat mereka mengalami kerugian. Namun juga ada beberapa orang yang tidak terima dan menyalahkan Kavi.


“Saya rasa anda benar-benar lalai sebagai seorang CEO, Tuan Kavi. Ini bukan masalah ganti rugi yang akan anda bayar pada kami. Tapi ini tentang kepercayaan. Saya yang sudah sangat percaya dengan kemampuan Tuan Kavi, dengan adanya kekacauan itu, mohon maaf, rasa percaya saya pada anda berkurang.” Ucap salah satu investor.


“Mohon tenang dulu, Tuan Albert. Kami benar-benar minta maaf atas kekacuan yang sedang terjadi. Kami harap anda masih bisa bekerjasama dengan perusahaan kami.” Sahut Mirza mendahului Kavi.


Kavi tidak mengerti kenapa Mirza yang tiba-tiba menyahut ucapan Tuan Albert. Apa rencana Mirza terhadapnya. Namun Kavi diam saja, melihat apa yang akan dikatakan lagi oleh adiknya.


“Ya, Tuan Mirza. Justru saya sekarang sangat salut dengan anda. anda yang lebih muda usianya dari Tuan Kavi, justru lebih kompeten anda dalam mengatasi masalah ini.” ucap Tuan Albert.


Sean yang menyadari suasana sudah tidak lagi kondusif, karena meeting yang digelar saat ini membahas masalah kerjasama, kenapa jadi membandingkan kinerja dua anaknya. akhirnya Sean pun ikut angkat bicara.


“Tuan Sean, mohon untuk dipertimbangkan lagi. saya pikir Tuan Mirza lah yang lebih pantas menjabat CEO di kantor pusat daripada Tuan Kavi.” Lanjut Tuan Albert sebelum Sean bicara.


“Mohon maaf semuanya. Saya rasa meeting ini sudah tidak kondusif lagi. dan saya akan mengakhiri meeting hari ini. kita bahas lagi lanjutannya besok dan akan dijadwalkan ulang. Terima kasih atas kehadiarannta, dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.” Pungkas Sean menutup meeting siang hari itu.


Satu per satu peserta meeting keluar dari ruangan itu. begitu juga dengan Mirza yang keluar dengan menatap remeh pada kakaknya. Sean benar-benar tidak mengerti dengan sikap kedua anaknya yang seperti saling bermusuhan.


“Ada apa ini sebenarnya, Kav?” tanya Sean.


“Nggak ada apa-apa, Yah. Kami berdua baik-baik saja. ya sudah, Kavi ijin keluar dulu.” Pamit Kavi tak ingin membawa Ayahnya ikut campur ke dalam masalahnya dengan Mirza.


***


Weekend ini Kavi akan mengajak Karin keluar untuk makan malam. Karin yang sudah lama tidak pernah keluar dari apartemen merasa sangat senang akhirnya bisa menghirup udara bebas di luaran sana. Kavi juga sudah mengatakan kalau dia pasti aman.

__ADS_1


“Kita mau kemana sih, Kak?” tanya Karin penasaran saat sedang dalam mobil.


“Rahasia.” Jawab Kavi semakin membuat Karin penasaran.


Beberapa saat kemudian mobil Kavi sudah tiba di sebuah restaurant mewah yang cukup terkenal di kota. Namun Kavi tidak membawa Karin masuk ke dalam ruangan VVIP restaurant itu, melainkan mengajak Karin menuju rooftop hotel yang masih dalam satu lingkup dengan restaurant tersebut.


“Kenapa kita ke sini, Kak?” tanya Karin bingung saat berada dalam lift yang akan membawanya menuju lantai paling atas hotel.


Kavi hanya mengulas senyum tipis sebagai jawabannya. Dia terus menggandeng tangan Karin hingga tiba di rooftop hotel, dimana di sana sudah tersedia meja makan lengkap dengan hidangan makan malam yang begitu romantis.


Karin sangat terkejut melihat perlakuan manis Kavi. Matanya berkaca-kaca menatap pria yang sedang berdiri di sampingnya itu.


“Apa kamu suka?”


“Terima kasih, Kak!” mata Karin berkaca-kaca karena sangat terharu.


Setelah itu Kavi mengajak Karin menuju meja makan dan segera menikmati makan malam mereka yang sangat romantis itu.


Mereka berdua menikmati makanan itu dengan perasaan yang bahagia. Bahkan Karin kesusahan menelan makanannya karena masih terharu dengan perlakuan manis kekasihnya itu.


Karin menutup mulutnya terkejut saat Kavi membuka kotak bludru itu. matanya berkaca-kaca tak tahan menahan tangis harunya.


Ya, Kavi memang akan melamar Karin bersamaan dengan kedatangan Tuan Kyler dan Nyonya Hanna yang sebentar lagi akan datang. Kavi ingin memberi kejutan berlipat pada Karin. melamar perempuan itu lalu mempertemukannya dengan kedua orang tuanya.


“Karina, Will You Marry Me?” ucap Kavi dengan tatapan mata yang tak lepas dari mata indah Karin.


Karin menjawabnya dengan anggukan kepala. Air matanya terus mengalir karena sangat bahagia. Setelah itu Kavi menyematkan cincin itu di jari manis Karin, dan meninggalkan kecupan singkat pada punggung tangan Karin.


“Aku sangat mencintaimu, Karin.”


“Aku jug,-“


“Woww!!!! Hebat sekali kalian yang selama ini sudah menusukku dari belakang!” ucap Mirza tiba-tiba.


Kavi dan Karin sangat terkejut saat melihat kehadiran Mirza di sana. Apalagi saat ini tatapan Mirza penuh dengan kebencian yang tertuju pada Kavi.

__ADS_1


“Puas kamu berengsek? Setelah merebut posisi di perusahaan, kini kamu merebut wanitaku, hah?” ucap Mirza menggebu-gebu.


Mirza mendekati Kavi lalu tanpa aba-aba memberikan pukulan tepat pada rahang Kavi.


Bugh


“Arghhhh!” Karin berteriak ketakutan.


“Sampai kapanpun aku tidak akan membiarkan wanitaku jatuh ke dalam pelukanmu.”


Bugh


Mirza kembali memukul Kavi. Setelah itu Kavi segera bangkit dan ingin menjelaskan semua kesalah pahaman itu pada Mirza.


“Za, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan.” Ucap Kavi sambil menghindari pukulan Mirza.


“Aku tidak percaya lagi dengan ucapanmu, KAVI!! Kamu bukanlah saudaraku! Kamu baj***an!”


Perkelahian antara kakak beradik itu tidak terelakkan lagi. Karin terus menangis dan berteriak memohon agar Kavi dan Mirza berhenti.


Sementara itu tak jauh dari rooftop, ada seseorang yang sejak tadi mengawasi perkelahian dua kakak beradik itu yang semakin sengit.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


 


 

__ADS_1


__ADS_2