Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
27. Penghianat


__ADS_3

Karin terduduk lemas di sebuah halte setelah keluar dari Lapas mengunjungi Mirza. Padahal sebentar lagi dia akan pergi ke stasiun untuk naik kereta yang akan membawanya pergi dari kota ini. namun entah kenapa hati Karin saat ini tak karuan.


Pertemuan terakhirnya dengan Mirza beberapa saat yang lalu begitu menyesakkan dada. Buliran air matanya sejak tadi tak henti-hentinya mengalir. Namun ada satu hal yang membuat hati Karin semakin sesak saat mengingat ucapan Mirza yang terakhir tadi. yaitu mengenai seseorang di masa lalu yang telah menolongnya.


Benar yang dikatakan oleh Mirza tadi kalau tidak masalah, mau siapapun yang menolongnya saat itu. toh selama ini dirinya juga mencintai Mirza dengan sepenuh hatinya. Tapi, tanpa dipungkiri, Karin merasakan ada yang aneh dengan hatinya setelah mendengar kalau ternyata Kavi lah yang dulu menyelamatkannya. Apalagi Karin ingat dengan jelas, kalau dia memang benar-benar jatuh cinta pada sosok pemilik mata hazel itu. mata hazel yang sama-sama dimiliki oleh kakak beradik.


Kepingan ingatan perlahan memenuhi pikiran Karin. dimana selama ini dia juga dekat dengan Kavi. Perhatian Kavi yang sering diberikan untuknya juga membuat hati Karin tampak aneh. Tapi dia tidak menyadarinya. Apalagi waktu itu dengan mudahnya Karin menceritakan awal mula perjalanan cintanya dengan Mirza. Dimana ia mengatakan telah jatuh cinta dengan Mirza pada pandangan pertama, saat pria itu menyelamatkannya dari kecelakaan.


Karin melihat jelas keanehan pada diri Kavi saat itu. pantas saja pria itu seperti tidak terima. Karena pada kenyataannya yang menyelamatkannya bukanlah Mirza.


“Meskipun Kak Kavi yang telah menyelamatkanku, tetap tidak akan ada dampaknya. Lebih baik mulai dari sekarang aku menjauhi semua hal yang berhubungan dengan Mirza.” Gumam Karin sudah membulatkan tekatnya.


Langit tiba-tiba mendung. Karin mengusap air matanya dengan kasar. Dia harus pergi secepatnya, meskipun jadwal keberangkatan keretanya sudah lewat. Setidaknya, dia harus pergi ke stasiun sekarang juga.


Rintikan air hujan sudah mulai turun. Bersamaan itu juga datang sebuah bus dan berhenti tepat di depan halte dimana Karin sedang berdiri. Dengan cepat Karin masuk sebelum hujan semakin deras.


“Selamat tinggal kota penuh kenangan!” gumam Karin dengan air mata yang mulai keluar lagi membasahi pipinya.


***

__ADS_1


Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa sudah setengah tahun Mirza menjadi seorang narapidana dan menjalani masa hukumannya di sebuah Lapas. Selama itu juga Mirza belum bisa melupakan sosok Karin. terlebih setelah pertemuannya yang terakhir saat itu, hati Mirza semakin hancur. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Meskipun selama mendekam di balik jeruji besi keadaannya terlihat baik-baik saja, tapi hatinya tidak sama sekali. Setiap hari dia berharap mendapat kunjungan dari Karin. tapi sayangnya itu sangat mustahil. Itu tandanya ucapan Karin saat itu benar. Bukan hanya kebohongan belaka.


“Za, ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu.” Samuel tiba-tiba datang menghampiri Mirza yang sedang berada di dalam kamarnya.


Mirza mengangguk lalu keluar kamar mencari tempat yang nyaman untuk bicara berdua dengan Samuel. Dan di sini lah mereka berdua berada. Di sebuah kantin Lapas yang terlihat sedang sepi, tak banyak orang di sana.


“Ada apa, Sam?”


“Tadi siang temanku ada yang datang ke sini untuk menjengukku. Dia memberikan informasi seperti yang kamu minta saat itu.” jawab Samuel.


“Usaha kamu yang bergerak di bidang ekpor impor sudah berjalan normal seperti biasanya. Hanya saja nama pemiliknya saat ini berganti dengan nama Deo.” Ucap Samuel.


Mirza terdiam sejenak. Mencoba untuk berpikiran positif terlebih dulu. Mungkin bagi Deo dnegan mengganti nama sementara akan mempermudah urusannya.


“Dan apa kamu tahu, kalau kasus yang menimpamu saat itu juga karena ulah pria yang bernama Deo itu.” lanjut Samuel, seketika membuat Mirza membelalakkan matanya.


“Bagaiaman bisa?” Mirza tidak percaya dengan informasi itu.

__ADS_1


“Perusahaan yang terlibat kasus hukum denganmu masih beroperasi hingga saat ini. termasuk pengiriman barang illegal. Dan pria yang bernama Deo lah yang melancarkan penyelundupan itu. jadi besar kemungkinan kalau saat itu kamu berhasil dijebak oleh Deo.”


Brakkk


Mirza langsung menggebrak meja kantin dengan keras. Matanya memerah menahan amarah saat mendengar kenyataan yang selama ini berusaha ia tampik. Kali ini dia percaya dengan ucapan Samuel. Selain Samuel anak buah seorang mafia yang sering ikut terlibat dalam kasus seperti ini, Mirza juga selama ini merasakan keanehan dari sikap Deo terhadapnya.


Yang membuat Mirza tidak percaya adalah kenapa Deo, teman baiknya bisa sampai melakukan hal itu. tega sekali pria itu yang selama ini sudah ia tolong, justru menusuknya dari belakang. Deo seorang penghianat. Bahkan pria itu sampai membuatnya harus mendekam di balik jeruji besi selama dua tahun.


Amarah dan dendam kini mengalir di seluruh denyut nadi Mirza. Dia mengetatkan rahangnya dengan tangan terkepal kuat. Mirza tidak akan memberikan ampun lagi untuk Deo. Dia sudah tidak sabar untuk keluar dari penjara dan menghabisi pria itu.


“Tenanglah, Za! Waktu kamu di sini masih lama. Sabar, sebaiknya kamu simpan dulu dendam kamu itu!” ujar Samuel memberi saran.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2