Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
45. Dalam Bahaya


__ADS_3

“Maafkan Kavi sebelumnya, Ma, Yah! Perempuan yang menjadi kekasih Kavi adalah Karin.” ucap Kavi dengan menundukkan kepalanya.


“A,-ppphhh”


Lidia yang terkejut mulutnya langsung dibekap oleh Sean. Tentu saja Kavi tidak tahu. Karena sejak tadi dia masih menundukkan kepalanya. Lalu Sean memberi kode pada sang istri dengan gelengan pelan. Seperti yang sudah menjadi keputusan Sean, kalau ia sebagai orang tua tidak akan ikut campur urusan percintaan anak-anak mereka. Kavi sudah cukup dewasa yang tentunya mana yang baik dan mana yang buruk. Apalagi masalah hati itu tidak bisa dipaksakan. Biar sekalipun perempuan yang telah menjadi kekasih Kavi sekarang adalah mantan dari adiknya, Sean yakin kalau Kavi pasti akan tahu apa resikonya dan yakin bisa mengatasinya.


Lidia akhirnya diam dan pasrah. walau sebenarnya ada yang mengganjal di hatinya. Terlebih saat Mirza nanti bebas dari hukumannya. Entah bagaimana perasaan Mirza saat tahu mantan kekasihnya sudah menjadi milik sang kakak.


Sedangkan Kavi yang sejak tadi menundukkan kepalanya menunggu reaksi kedua orang tuanya yang tak kunjung ia dengar, akhirnya ia memberanikan diri mengangkat kepalanya dan menatap kedua orang tuanya.


“Ayah sangat percaya dengan kamu. Apapun pilihan kamu dan keputusan kamu, Ayah yakin kamu sudah memikirkannya matang-matang. Ayah juga tidak berhak ikut campur tentang urusan percintaan kamu.” Ucap Sean dengan bijak.


Kavi benar-benar lega mendengar jawaban Ayahnya. Setidaknya dia sudah mengantongi restu dari sang Ayah kalau Karin yang menjadi kekasihnya. Namun tiba-tiba tatapan Kavi tertuju pada Mamanya. Tatapan yang sangat sulit diartikan oleh Kavi. Ada sedikit ketakutan dalam hati Kavi kalau Mamanya tidak setuju.


Sean menyenggol istrinya yang sejak tadi diam.


“Mama juga sependapat dengan Ayah kamu. Namun ada satu pesan dari Mama yang harus kamu ingat, Kav.” Ujar Lidia menjeda kalimatnya sejenak.


“Bagaimana pun reaksi Mirza nanti, Mama harap kalian berdua masih tetap berhubungan baik. Mama tidak ingin kalian berseteru karena masalah perempuan.” Lanjut Lidia menatap intens mata Kavi.


Entahlah, Lidia sulit menerima keadaan ini. dia juga sudah tahu tentang sosok Karin. perempuan baik-baik, sangat sopan terhadap orang tua. Sebelumnya Lidia juga kecewa ssat mengetahui kalau Mirza memutuskan Karin. wanita itu seperti tidak rela kehilangan sosok perempuan seperti Karin. namun sekarang, ia mengetahui fakta kalau Karin telah dimiliki oleh Kavi, kakak dari Mirza.


Kavi sendiri juga seakan tahu apa yang mengganjal hati Mamanya. Tapi, lagi-lagi ia berpikir secara rasional. Kalau urusan hati tak seorang pun bisa menentukan. Lagi pula Mirza sudah jelas-jelas memutuskan Karin. mungkin nanti Mirza hanya terkejut saja saat mengetahuinya. Dan itu pun hanya sesaat.

__ADS_1


“Baik, Ma. Kavi akan memegang teguh nasehat dari Mama. terima kasih banyak, Ma, Yah.” Ucap Kavi dengan senyum bahagia menatap kedua orang tuanya.


Setelah itu Lidia terlihat biasa saja. justru wanita itu sangat antusias menanyakan tentang awal mula perjalanan cinta Kavi dan Karin. padahal Kavi adalah tipe orang yang susah untuk menjelaskan hal-hal sedetail itu. apalagi tentang perjalanan cintanya untuk yang pertama kalinya.


Kavi hanya menggaruk temgkuknya yang tidak gatal. Belum juga ia menjawab satu pertanyaan Mamanya, tapi Lidia sudah menambahi beberapa pertanyaan lagi. jelas saja Kavi merasa pusing.


“Sudahlah, Sayang! Kamu ini banyak sekali pertanyaannya. Kamu lihat tuh wajah kebingungan Kavi. Kebiasaan!” cibir Sean di akhir kalimat.


“Aku kan hanya ingin tahu. Ya sudah kalau begitu kapan kamu membawa Karin ke sini? Mama sangat kangen dengan Karin. sudah lama tidak bertemu.” Jawab Lidia menyadari kesalahannya.


“Secepatnya, Ma. Nanti Kavi akan kasih tahu Karin.” jawab Kavi antusias.


***


Mobil Kavi sudah berhenti di depan restaurant. Ia juga sudah menghubungi Karin kalau menunggunya di depan. Tapi sayangnya Karin belum membaca pesan itu.


Harusnya Karin keluar dari restaurant pukul lima. Tapi sudah lima belas menit Kavi menunggu, perempuan itu tak kunjung keluar. Akhirnya Kavi memutuskan untuk masuk dan menanyakan pada salah satu teman kerja Karin.


“Permisi, Mbak! Apa pelayan atas nama Karin sudah pulang?” tanya Kavi dengan sopan.


Perempuan yang ditanya itu tak lantas menjawab. Dia justru menelisik penampilan Kavi yang sangat rapi lalu wajahnya yang rupawan. Kemudian ia berpikir kalau pria yang ada di depannya itu adalah pria yang menjadi langganan Karin.


“Mbak?” Kavi sampai melambaikan tangannya di depan muka perempuan itu.

__ADS_1


“Nggak ada. Mungkin sudah dijemput langganannya yang lain kali. Anda kurang gerak cepat.” Jawab perempuan itu dengan sinis.


Kavi jelas marah meskipun tidak tahu pasti kemana arah pembicaraan perempuan di depannya itu.


“Mbak, saya tanya baik-baik. Kalau anda tidak tahu nggak perlu dijawab seperti itu.” geram Kavi dengan suara tegas.


“Arghhhh…….! Tolong lepaskan!”


Samar-sama Kavi mendengar suara teriakan perempuan yang tidak asing baginya. Sedangkan pelayan restaurant yang ditanyain Kavi tadi wajahnya tampak sangat cemas setelah mendengar teriakan Karin di ruangan khusus pelayan.


Kavi segera berlari menuju sumber suara. Tidak peduli pelayan tadi mencegahnya. Karena firasatnya berkata kalau Karin sedang dalam bahaya.


“Karin!!” teriak Kavi saat melihat kekasihnya sedang duduk meringkuk dengan tubuh basah kuyup.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


 


__ADS_2