
Mirza saat ini sedang berada di rumah sakit. Tadi saat sedang dalam perjalanan dia mendapat kabar kalau Deo dilarikan ke rumah sakit setelah sempat beradu pukul dengan seseorang yang masih belum Mirza ketahui.
Sesampainya di rumah sakit, Mirza langsung memasuki ruangan dimana Deo sedang tergolek lemah dengan wajah penuh lebam.
“De, ada apa ini sebenarnya?” tanya Mirza khawatir.
Deo yang masih merasakan sakit di sekujur tubuhnya, ditambah ada rasa kesal pada Mirza memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Mirza.
“Nanti aku akan menjelaskan semuanya. Aku mau istirahat dulu.” Jawab Deo.
Mirza hanya mengangguk. Menghembuskan nafasnya pelan, setelah itu duduk di salah satu sofa yang ada di ruang rawat Deo.
Jujur saja Mirza merasa sangat bersalah pada Deo. Selama ini Deo lah yang selalu mengambil alih pekerjaannya. Terlebih semenjak ia masuk ke perusahaan ayahnya.
Walau sebagian besar modal bisnis yang dikembangkan oleh Mirza dan Deo itu adalah dari Mirza, tetap saja Mirza tidak bisa bersikap seperti bos pada temannya. Kalau sudah seperti ini dia benar-benar bingung. Apakah bisa dia melepas usaha yang sudah dia bangun itu. ya, walaupun secara perlahan.
***
Sementara itu saat ini Kavi sedang mengantar Karin pulang. mereka kini sedang berada di dalam mobil. Dengan Karin duduk tepat di samping Kavi.
Tadi Karin sudah menolak tawaran Kavi yang akan mengantarnya pulang. namun rupanya Kavi tidak menerima penolakan itu. akhirnya Karin hanya bisa pasrah.
Kavi tidak lantas mengantar Karin pulang. dia meminta Karin untuk menunggunya dulu sampai makanannya habis. Apalagi masakan Karin sangat enak, Kavi pun menghabiskan smeua makanan yang tersisa.
__ADS_1
“Kak!” panggil Karin yang sejak tadi diam membisu.
“Ya? Ada apa, Rin?”
“Maaf yang tadi? aku kira tadi itu Mirza.” Ucap Karin.
“Oh, yang tadi. nggak apa-apa. Santai saja, Rin!” jawab Kavi.
“Tapi kamu juga belum dapat jawabannya kan? Apa mau aku jawab langsung sekarang juga?” lanjut Kavi menahan senyumnya.
“Eh, nggak usah Kak! Lupain saja.” wajah Karin langsung memerah.
Sesampainya di depan rumah kontrakan Karin, mobil Kavi berhenti. Karin langsung keluar dan mengucapkan terima kasih pada Kavi. Sayangnya dia berkata tanpa berani menatap mata Kavi secara langsung, karena masih sangat malu dengan kejadian tadi.
“Rin!” panggil Kavi saat Karin hendak menutup pintu mobilnya.
“Kamu baik-baiksaja, Rin?” tanya Kavi sambil melambaikan tangannya di depan wajah Karin yang saat ini sedang melamun namun tatapannya tertuju pada dirinya.
“Eh, Maaf Kak! Maaf..maaf…!” ucap Karin merasa menjadi manusia paling bodooh sedunia.
“Terima kasih makanannya tadi. masakanmu sangat enak. Aku sangat suka.” Ucap Kavi jujur adanya.
Wajah Karin yang awalnya sudah memerah, setelah mendengar kalimat pujian dari Kavi, kini menjadi semakin salah tingkah. Tapi dia tidak boleh besar kepala dulu. Bukankah hal itu sudah biasa, karena Mirza juga pernah mengatakan kalau masakannya juga enak.
__ADS_1
“Sama-sama, Kak! Ya sudah, aku masuk dulu.” Ucap Karin beringsut meninggalkan Kavi karena tidak tahan jika terus berdekatan dengan pria itu.
Setelah memastikan Karin masuk ke dalam rumahnya, Kavi kembali melajukan mobilnya. Kali ini ia tidak pulang ke rumahnya. Melainkan pergi ke sebuah café milik salah satu temannya. Karena hanya tempat itu yang biasa Kavi pakai untuk menghabiskan waktu liburnya.
Sepanjang perjalanan menuju café, Kavi tak henti-hentinya mengulas senyuman. Apakah itu efek setelah bertemu dengan Karin baru saja. tidak. Kavi menggelengkan kepalanya pelan. Dia langsung membuang pikiran buruk itu. dia kemudian kembali fokus ke jalanan yang sebentar lagi tiba di café milik temannya.
***
“Bagaimana keadaan Deo saat ini?” tanya seseorang melalui sambungan telepon.
“…..”
“Ya sudah, pantau terus keadaannya. Dan laporkan padaku. syukurlah kalau dia baik-baik saja.” pungkasnya sebelum mengakhiri panggilannya.
Pria paruh baya itu kembali menghisap cerutunya. Ada rasa sesal dalam dirinya setelah menyuruh seseorang untuk memukuli keponakannya sendiri sampai babak belur. Bukan tanpa alasan pria itu sampai menyuruh seseorang untuk memukuli Deo. Tapi Deo sendiri lah yang memintanya. Entah, atas dasar apa Deo kemarin datang kepadanya dan meminta bantuan pada orang-orangnya untuk memukulinya. Deo juga meminta pada orang suruhannya agar berlagak seperti musuhnya dan berniat ingin menghancurkan usahanya. Tanpa mau bertanya lebih detail lagi, Gilang hanya mengiyakan saja. dan tadi pagi ia mengirim beberapa anak buahnya untuk datang ke tempat dimana Deo berada sesuai dengan perintahnya.
Gilang bersyukur kalau anak buahnya tidak memberikan luka serius pada keponakannya. Meskipun saat ini Deo sedang dirawat di rumah sakit, dia yakin kalau itu hanyalah trik yang sedang dimainkan oleh keponakannya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!