Perseteruan 2 Calon Pewaris

Perseteruan 2 Calon Pewaris
79. Melepaskan Semuanya


__ADS_3

Beberapa saat kemudian lampu indikasi di ruangan operasi itu sudah mati. Itu tandanya tindakan operasi sudah selesai. namun di ruang operasi sebelahnya masih belum selesai. dengan harap-harap cemas, Sean dan Lidia menunggu kabar tentang anak-anaknya.


Dokter keluar dari ruangan operasi dimana Kavi berada. Sean dan Lidia langsung menghampiri dokter.


“Dok, bagaimana keadaan anak saya?”


“Operasi berjalan lancar. Pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya. Namun setelah ini akan dipindahkan ke ruangan ICU terlebih dulu selama dalam masa pemulihan sekaligus pemantauan.” Jawab Dokter seketika membuat Sean dan Lidia lega.


Tak lama kemudian beberapa perawat mendorong brankar Kavi untuk memindahkannya ke ruang ICU. Lidia kembali menangis saat melihat putranya terbaring dengan mata terpejam seperti sekarang ini. meskipun keadaan Kavi menurut dokter sudah melewati masa kritisnya, namun masih ada rasa sakit di hatinya karena Mirza masih belum selesai menjalani operasinya. wanita paruh baya itu berharap keadaan Mirza juga sama seperti kakaknya.


Sean mengajak istrinya duduk kembali menunggu hasil operasi Mirza. Tuan Kyler juga masih berada di sana. Bagaimana pun juga pria itu berhutang budi pada Kavi. Karena Kavi dia dan istrinya bisa selamat dari bahaya dan bisa bertemu lagi dengan putrinya.


Tuan Kyler sedikit banyak tahu tentang kejadian yang menimpa Kavi dan adiknya. Meskipun Karin tadi hanya memberikan keterangan yang tidak lengkap. Pria itu juga tidak ingin bertanya banyak pada putrinya. Apalagi Karin tadi sempat shock saat Samuel hampir membunuhnya. Beruntung sekali dia datang tepat waktu dan segera menyelamatkan Karin.


“Bersabarlah, Tuan! Saya yakin anak-anak anda akan selamat. Mereka semua anak-anak hebat. Walau saya tidak mengenal dekat.” Ucap Tuan Kyler.


“Terima kasih, Tuan.”


Beberapa saat kemudian Mirza selesai menjalani operasinya. dokter keluar dari ruangan itu dnegan raut muka yang tak biasa. Berbeda dengan dokter yang keluar dari ruangan operasi Kavi tadi.


“Operasi berjalan dengan lancar. Ada beberapa tulang yang cedera. Pasien juga sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja sampai saat ini pasien belum sadar. Setelah ini kami akan memindahkannya ke ruangan ICU agar lebih mudah memantau perkembangannya.” Tutur dokter panjang lebar.


Malam harinya Kavi sudah sadar. Meskipun masih butuh pemnatuan intensif oleh tim dokter, setidaknya pria itu sudah bisa mengulas senyumnya saat melihat Mama dan Ayahnya.

__ADS_1


“Apa ada yang kamu keluhkan, Kav?” tanya Lidia.


Kavi menjawabnya dengan gelengan kepala. Sungguh ia ingin tahu bagaimana keadaan adiknya. Selama menjalani masa operasi tadi, alam bawah sadar Kavi tampak mengkhawatirkan keadaan Mirza. Dia tidak ingat apapun lagi setelah matanya terpejam siring dengan genggaman tangannya pada Mirza terlepas. Dia berharap adiknya masih hidup.


“Ma, Mirza mana?”


“Sudah, jangan memikirkan yang macam-macam dulu. Fokuslah dnegan kesembuhan kamu dulu. Jangan khawatir, Mirza baik-baik saja. dia berada di ruangan sebelah kamu.” Sahut Sean dengan cepat, karena Lidia tidak sanggup mengatakan pada Kavi karena pada kenyataannya sampai sekarang Mirza masih enggan membuka matanya.


Kavi sangat lega mendengar jawaban ayahnya. Setidaknya nyawa sang adik selamat meskipun ia gagal menyelamatkannya.


***


Selama tiga hari berada di ruangan ICU, akhirnya Kavi sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Pria itu hanya menunggu masa pemulihan saja terhadap luka di perutnya pasca operasi. Namun kelegaan dihati Kavi saat baru saja keluar dari ruangan ICU itu hanya sementara. Karena ia mendengar kabar kalau Mirza sampai saat ini masih belum sadarkan diri atau dengan kata lain koma.


“Nanti saja, ya. Tunggu Ayah kamu.” Lidia terpaksa menunda keinginan Kavi, karena dirinya sendiri tidak kuat menyaksikan anak bungsunya terbaring lemah di dalam ruanag ICU.


Kavi hanya mengangguk. Wajahnya sendu mengingat perkelahiannya dnegan Mirza beberapa waktu yang lalu. Hanya karena wanita tahta, ia sampai bertarung hebat dengan adiknya sendiri. Walau semua itu bukan keinginannya.


Kavi berjanji akan melepaskan semuanya demi adiknya. Termasuk melepas Karin, wanita yang sangat dicintainya. Karena ingat dengan ucapan Mirza terakhir sebelum jatuh tadi, kalau Mirza sangat mencintai Karin. begitu juga dengan jabatan tinggi di perusahaan. Ia akan menyerahkan semuanya pada Mirza.


***


Sementara itu saat ini Karin sedang berada di sebuah rumah mewah milik kedua orang tuanya. Rumah yang telah lama keberadaannya disembunyikan dari para musuh Kyler.

__ADS_1


Sejak pertama kali bertemu dengan orang tua kandungnya tadi, Karin sangat bahagia. Meskipun dia sama sekali belum pernah melihat dan bertemu dengan mereka, setidaknya dengan adanya ikatan darah diantara mereka, Karin bisa merasakan kehadiran orang tua yang sesungguhnya yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.


Hanna sejak tadi selalu berada di dekat putrinya. Wanita itu tidak ingin melewatkan sedikitpun kebersamaannya dengan Karin. sedangkan Kyler masih belum pulang setelah tadi berpamitan untuk pergi melihat keadaan Kavi.


“Sayang, apa kamu tidak ingin menjenguk Nak Kavi?” tanya Hanna pada putrinya.


Karin terdiam sejenak. Entahlah, meskipun Kavi sudah melamarnya, namun Karin sama sekali tidak bahagia. Terebih setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri mengenai perkelahian dua bersaudara yang memperebutkan dirinya. Meskipun tidak dapat dipungkiri kalau Karin ingin sekali tahu keadaan Kavi.


“Nanti saja, Ma. Hati Karin masih belum cukup kuat untuk bertemu Kak Kavi.” Jawab Karin.


“Ya sudah. Mama tahu bagaimana perasaan kamu saat ini. asal Mama tidak ingin melihat anak Mama yang cantik ini bersedih.


Karin mengangguk lalu memeluk Mamanya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2