
“Kamu ini bicara apa sih, Za? Kamu jangan berburuk sangka dengan Ayah dan Mama. sejak dulu kedua orang tua kita sangat adil pada anak-anaknya.” Kavi tidak terima dengan ucapan adiknya.
“Sudahlah, Kak! Aku malas bertemu dengan Kak Kavi. Terus saja membela diri. Aku yakin dengan keadaanku seperti ini pasti terbesit rasa bahagia dalam hati kakak. Sudah nikmati saja masa kejayaan kakak dengan kasih sayang Mama dan Ayah.” Jawab Mirza dan segera berdiri hendak meninggalkan Kavi.
Dengan cepat Kavi mencekal lengan adiknya. Dia jelas marah, namun masih tahu tempat dan berusaha meredam emosinya sendiri.
“Semarah apapun kamu padaku, aku sama sekali tidak ada niatan seperti yang kamu tuduhkan, Za. Maaf kalau kedatanganku membuatmu semakin tidak nyaman. Aku pulang, tapi kamu jangan masuk dulu. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu.” Ucap Kavi lalu ia pergi meninggalkan Mirza.
Dada Kavi bergemuruh hebat mengingat ucapan Mirza baru saja. bagaimana jika kedua orang tuanya tahu. Dia tidak bisa membayangkan semarah apa ayahnya pada adiknya itu.
Kavi hampir melupakan Karin yang masih duduk di luar menunggu giliran untuk bertemu dengan Mirza. Hingga panggilan perempuan itu membuat Kavi sadar dari lamunannya.
“Ah, maaf Rin! Kamu masuklah! Aku tunggu di luar.” Ucap Kavi.
“Kalau Kak Kavi pulang lebih dulu nggak apa-apa. Biar nanti aku pulang naik taksi saja.” ucap Karin merasa tidak enak.
“Sudah, kamu masuk sana! Aku tunggu di mobil.” Ujar Kavi dan bergegas meninggalkan Karin.
Setelah itu Karin langsung masuk untuk menemui Mirza. Begitu banyaknya penghuni lapas yang sedang bertemu dengan sanak keluarganya, membuat Karin sedikit kesusahan mencari Mirza. Tak lama kemudian tatapannya tertuju pada seorang pria yang sedang duduk di sebuah kursi jauh dari keramaian orang-orang. Dari postur tubuhnya Karin sangat hafal kalau itu adalah kekasihnya.
“Za, kamu apa kabar?” tanya Karin yang sudah duduk di depan Mirza.
“Baik.” Jawab Mirza dengan singkat tanpa melihat mata Karin.
__ADS_1
“Aku ikut sedih mendengar putusan pengadilan itu, Za. Semoga kamu sabar menjalani hukuman ini. aku akan selalu ada di sampingmu. Jangan khawatir.” Ucap Karin berharap Mirza melupakan perkataannya beberapa waktu yang lalu.
Mirza yang sejak tadi tidak melihat Karin, perlahan ia menarik nafasnya dalam sebelum bicara serius dengan Karin. karena sudah bisa dipastikan kalau ucapannya akan menyakiti hati Karin.
“Rin, maafkan aku. aku tidak mengubah keputus-“
“Bagaimana pun kondisi kamu saat ini, aku akan tetap berada di sampingmu. Menguatkanmu, Za! Aku yakin kalau emosi kamu sedang tidak stabil.” Sahut Karin dengan cepat.
Karin jelas tahu apa yang akan diucapkan oleh kekasihnya itu. namun dia tidak ingin mendengarnya. Dia menolak ucapan Mirza yang kembali membahas hubungannya yang telah usai.
“Kamu jaga diri baik-baik, Za! Aku akan sering datang ke sini mengunjungimu.” Ucap Karin lalu bergegas pergi meninggalkan Mirza.
Dengan cepat Mirza menahan langkah Karin. dia tidak bisa diam seperti ini terus. Secepatnya akan meluruskan ucapannya pada Karin. walau tidak bisa dipungkiri hatinya juga akan terluka dengan keputusannya ini. tapi memberikan harapan indah pada perempuan baik seperti Karin di saat dirinya sedang mendekam dalam penjara bukanlah pilihan yang baik.
Grep
Dalam pelukan Mirza, ia merasakan tubuh bergetar Karin diiringi dengan isakan lirih. Mirza juga merasakan kesedihan itu.
“Karin, maafkan aku.” ucap Mirza setelah mengurai pelukannya.
“Aku benar-benar ingin hubungan kita ini selesai. aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu dengan kondisiku seperti ini. kamu juga tidak pantas mendapatkan pria narapidana seperti aku ini. masa depanmu masih panjang.” Lanjut Mirza dengan menatap dalam mata Karin yang sejak tadi meneteskan air mata.
Karin terus terisak. dia bahkan tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Hatinya hancur saat Mirza benar-benar ingin mengakhiri hubugannya.
__ADS_1
“Tenang saja, kita masih bisa berhubungan baik. Hanya status kita saja yang berubah. Aku yakin di luaran sana pasti ada laki-laki baik yang pantas menjadi kekasihmu.” Ucap Mirza.
“Tega kamu, Za!” Karin kembali jatuh dalam pelukan Mirza. Dia memukul kecil dada Mirza seakan tidak terima dengan keputusan pria itu.
“Tolong Karin, mengertilah! Aku tidak ingin membuat hidupmu menderita. Terima kasih atas cinta yang kamu berikan selama ini. selamat tinggal Karin!” ucap Mirza mengurai pelukannya lalu pergi meninggalkan Karin yang menangis.
Karin tidak peduli dengan tatapan pengunjung dan napi lainnya. Dia terduduk di lantai dengan air mata yang tidak behenti mengalir.
Jam kunjungan yang sudah habis menyadarkan Karin. dia segera beranjak pergi meninggalkan rutan itu.
Kini Karin sudah keluar. Dia berjalan dengan tatapan kosong. Dia juga melupakan Kavi yang sejak tadi menunggunya di mobil. Untung saja Kavi melihat Karin, jadi dengan cepat ia menyalakan mesin mobilnya dan menghampiri perempuan itu.
Tin tin
Karin masih terus berjalan mengabaikan bunyi klakson mobil di belakangnya. Kavi pun mau tak mau harus keluar dan menghampiri Karin dan mengajaknya pulang.
“Karin? kamu baik-baik saja?” tanya Kavi terkejut dengan wajah sembab Karin. bahkan tubuh perempuan itu masih terasa bergetar saat Kavi memegang lengannya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!