
Hari ini hari terakhir Kavi melakukan kunjungan di perusahaan cabang. Nanti malam juga ia langsung terbang pulang agar besoknya bisa beraktivitas kembali di kantor pusat, tentunya dengan beberapa jadwal meeting yang sudah siap menantti.
Kavi ingin menyelesaiakn pekerjaannya hari ini dengan cepat. Setelah itu ia akan menemui Karin sekaligus berpamitan untuk pulang. dan satu hal lagi, dia nanti akan mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya terhadap perempuan itu. seperti yang dikatakan oleh Orion semalam, lebih baik diungkapkan secepatnya walau jawabannya tidak sesuai dengan keinginan hati.
Tepat jam empat sore Kavi sudah menyelesaikan pekerjaannya. Tinggal revisi sedikit hasil meeting terakhirnya tadi. dan itu menjadi tugas Orion. Sedangkan Kavi bergegas pergi untuk menemui Karin.
“Tuan, tunggu!” panggil Orion sontak menghentikan langkah Kavi.
“Apa anda akan menemui perempuan pujaan hati anda?” tanya Orion to do point.
Kavi bingung sekaligus malu menjawabnya. Namun ia berusaha menunjukkan wajah tenangnya.
“Apa ada pekerjaan yang belum kamu mengerti?” tanya Kavi mengalihkan pembicaraan.
“Tidak ada, Tuan. Maksud saya, apakah anda akan menemuinya hanya dengan tangan kosong?” tanya Orion semakin membuat Kavi bingung.
“Lalu?”
“Anda bisa membawa barang kesukaannya. Misalnya bunga, coklat, atau apa gitu.” Jawab Orion.
Kavi diam memikirkan ucapan Orion. Apa memang harus seperti itu. bahkan sesuatu yang menjadi kesukaan Karin saja Kavi tidak tahu. Dan apakah hal itu juga sangat penting. Baginya yang terpenting adalah ungkapan perasaannya.
“Sudah, lanjutkan saja pekerjaan kamu! Jangan sampai ada yang ketinggalan saat kita pulang nanti.” jawab Kavi lalu pergi meninggalkan Orion.
Kavi tidak pergi ke rumah Karin. saat ini dirinya sedang duduk di bangku taman tak jauh dari rumah Karin dan masih dekat juga dengan kawasan hotel tempatnya menginap.
__ADS_1
Beberapa saat yang lalu Kavi mengirim pesan pada Karin untuk menemuinya di taman ini. biarkan saja Karin ataupun orang lain beranggapan kalau dirinya bukan pria romantis karena memilih tempat yang seperti ini untuk mengungkapkan perasaannya.
Kavi melirik jam di tangannya. sudah lebih dari dua puluh lima menit dia menunggu Karin, tapi perempuan itu tak kunjung datang. Karin sudah membaca pesannya, tapi dia tidak membalas. Sedangkan pukul tujuh nanti Kavi harus pergi ke bandara.
Pukul setengah tujuh Kavi masih setia duduk di bangku taman itu. masih belum juga ada tanda-tanda Karin datang. mungkinkah perempuan itu sengaja tidak ingin lagi menemuinya. Belum berjuang tapi sudah mendapatkan sinyal penolakan.
Ting
“Tuan, sebentar lagi kita akan ke bandara. Kenapa Tuan belum berada di hotel?”
Pesan dari Orion membuat Kavi menghela nafasnya dalam. Ternyata memang Karin tidak ingin menemuinya. Akhirnya Kavi meninggalkan taman itu dengan perasaan yang sangat sulit untuk digambarkan. Sedih, kecewa, namun tidak tahu harus menyalahkan siapa.
“Kak Kavi!”
Kavi yang baru saja berjalan beberapa langkah terpaksa berhenti saat mendengar suara seseorang yang sejak tadi ia tunggu. Kavi menoleh pada Karin yang sedang berdiri tak jauh darinya. Lalu ia berjalan mendekati perempuan itu.
Sebenarnya sejak tadi Karin juga berada di rumah tidak ngapa-ngapain. Setelah membaca pesan yang dari Kavi, dia bingung mau menemui pria itu atau tidak. Karin takut dengan perasaannya sendiri. Dia takut jatih cinta pada pria yang sudah dia anggap seperti kakaknya sendiri. Apalagi pria itu adalah kakak dari mantan kekasihnya.
Cukup lama Karin berpikir. Sampai berjam-jam. Dia memutuskan untuk tidak menemui Kavi. Namun di sudut hatinya yang terdalam, dia ingin menemui pria itu. akhirnya setelah berjam-jam Karin memutuskan untuk pergi ke taman. Dia tidak peduli jika Kavi sudah tidak ada di sana.
“Nggak apa-apa. Maaf juga sudah mengganggu waktu kamu. Aku hanya ingin bilang kalau malam ini juga aku akan pulang.” jawab Kavi.
Kedua pasang mata itu saling menatap. Karin tidak mengerti dengan tatapan Kavi seperti itu. bibirnya juga kelu saat Kavi berpamitan akan pulang. pantaskah dia menahan pria itu untuk pergi?
“I..ia, Kak. Hati-hati.” Jawab Karin.
__ADS_1
“Rin, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan pada kamu sebelum aku pulang.” ucap Kavi membuat jantung Karin semakin tak karuan.
Kavi memberanikan diri memegang kedua tangan Karin. menggenggam lembut jemari perempuan itu. Karin sama sekali tidak menolaknya.
“Sebelumnya aku minta maaf, Rin. Entah setelah ini kamu mau marah atau membenciku, aku tidak peduli. Yang terpenting aku sudah mengatakannya dengan jujur.” Ucap Kavi menjeda sejenak kalimatnya.
“Aku mencintaimu, Karin.” ucap Kavi dengan mantap dan tatapannya begitu lembut mengarah tepat pada netra Karin.
Karin langsung melepas tangan Kavi yang sejak tadi menggenggamnya. Ternyata dugaannya benar. Kavi mengungkapkan perasaannya. Sedangkan Kavi yang mendapati reaksi Karin seperti ini, dia mencoba berbesar hati kalau kemungkinan besar Karin menolaknya.
“Tenang saja, aku tidak berharap balasan dari kamu, Rin. Tapi yang perlu kamu tahu, aku berkata dengan jujur.” Ucap Kavi.
“Tapi, Kak-“
“Sstt… jangan bicara apapun! Setelah ini, aku berharap kamu tidak membenciku atau menhindariku. Kamu bisa tetap menganggapku sebagai kakak kamu. Maafkan aku. jaga diri kamu baik-baik, Rin! Aku pulang.” ucap Kavi dengan meletakkan jari telunjuknya pada bibir Karin. setelah itu ia memaksakan senyum dan mengacak gemas rambut Karin.
Biarkan saja Karin berpikir ini terlalu cepat. Karena memang semua orang tidak akan ada yang bisa menebak kapan datangnya cinta, begitu juga perginya.
Karin menatap nanar punggung Kavi yang berjalan semakin menjauh. Ingin berlari menggapai pria itu tapi hatinya masih bimbang.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!